Sebuah Buku, Sebuah Inspirasi, Sebuah Batu Loncatan

Dulu sekali… saya pernah punya cita-cita kerja kantoran, jadi bankir atau akuntan  [hmmm… sebatas mimpi kerja begituan], pokoknya kerja kantoran. Duduk  di bangku SMU, saya begitu menyenangi pelajaran akuntansi dan berharap kelak saya akan menekuninya. Harapan itu mendadak luntur karena satu novel NH Dini berjudul Pertemuan Dua Hati.

Bermula  di kelas dua SMU,  ketika guru bahasa Indonesia begitu gencar memperkenalkan sastra, saya menggemari  karya-karya NH Dini, kemudian  berlanjut sampai masa-masa awal kuliah. Bapak Widi, beliaulah yang membuka lebar jendela pengetahuan sastra. Sastra itu memanusiakan manusia, ujarnya selalu, begitu lekat dalam ingatan. Kesadaran sebagai manusia bisa tumbuh dari membaca sebuah karya sastra. Tersurat atau tersirat, ada hikmah dan  pencerahan termaktub di dalamnya. Beliau selalu menyinggung karya-karya sastra master piece dari pengarang-pengarang yang dimiliki Indonesia: Belenggu karya Arjmin Pane, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Kemarau dan Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka, Atheis karya  Achdiat Kartamihardja, karya-karya Balai Pustaka yang lain, juga majalah sastra Horison yang sering dibawanya ke kelas. Sedikit yang diungkapnya menimbulkan rasa ingin tahu. Saya ingin menyelaminya sendiri, mendapatkan lebih dari yang diceritakan guru. Maka perpustakaan menjadi ruang yang asyik untuk diakrabi meskipun untuk ukuran perpustakaan sekolah, perpus itu masih terbilang kecil. Ruang bukunya mungil memang, tapi saya tak bisa menafikan ruang yang selalu disebut pak Widi sebagai jantung sekolah. Setiap istirahat, tak hanya meminjam mengembalikan buku-buku sastra yang menjadi koleksi perpus, saya juga selalu menantikan cerita bersambung berjudul “Area-X” dari majalah Horison yang ditulis seorang siswi SMU Taruna Nusantara Magelang. Pada tanggal-tanggal majalah Horison terbit, begitu bel tanda istirahat berbunyi, saya selalu mengambur ke perpustakaan, takut majalah itu sudah jatuh ke tangan orang lain.

Perpustakaan, kendati kecil dan seadanya, telah saya kenal sebelum masuk TK. Keluarga sepupu yang memiliki beberapa koleksi buku membuka perpustakaan atau istilah yang dipakai waktu itu persewaan buku untuk anak-anak sekitar rumah. Ada satu buku yang selalu saya pegang dan membuka-bukanya selalu. Buku tentang cita-cita itu jadi favorit. Gambarnya lucu, bocah imut dan ipel-ipel. Ada yang berpakaian dokter, guru, dan beragam profesi lain. Lekat dalam  ingatan, saya selalu nembung untuk pinjam, tapi setiap kali itu pula selalu dijawab, “Dibaca di sini aja Dek.” Mungkin kalau saya bawa pulangpun, saya toh hanya melihat-lihat saja seperti di rumah sepupu karena belum bisa membaca dan masih terlalu kecil untuk menjadi member persewaan itu. Barangkali itu alasan kenapa saya tak pernah diijinkan meminjam dibawa pulang.

Perpustakaan sepupu tak berumur panjang. Sebabnya, banyak penyewa yang tak bertanggung jawab mengembalikan lagi buku yang dipinjamnya. Setelah tutup, saudara-saudara saya beralih menjadi peminjam di persewaan buku yang terkenal di daerah saya kala itu, Era namanya. Hingga duduk dibangku SD bahkan SMP kalau tidak salah ingat, persewaan buku itu masih hidup. Novel Wiro Sableng menjadi favorit kakak, saudara, dan teman-teman kecil saya. Anehnya, saya sama sekali tak tertarik untuk ikut membacanya.

Meskipun di rumah tidak ada akses buku sama sekali, namun lingkungan yang kental dengan budaya baca terus melingkupi saya. Keluarga kerabat yang anak-anaknya sepantaran dengan saya memiliki beberapa majalah remaja yang bisa menjadi alternatif bacaan kala itu. Yang paling menggembirakan adalah kedatangan seorang siswi baru di kelas 5 SD, seorang putri camat baru di kecamatan saya. Ia  memiilki koleksi buku yang raknya menempel di kamar tidurnya. Beruntung sekali, saya bisa menjadi anggota kelompok belajar siswa yang terbilang pejabat di desa itu. Saya turut menikmati koleksi-koleksi bukunya, komik berseri Pansy, majalah Donal Bebek dan Paman Gober, serial Trio Detektif, Lima Sekawan, dan STOP.  Novel petualangan dan detekif-detektif itu begitu saya gemari sampai-sampai waktu itu saya dan satu teman dekat  memiliki obsesi menjadi penulis cerita detektif semacam itu. Iseng-iseng, jadilah satu judul cerita sederhana, tertulis rapi dengan pena ketika saya duduk di kelas 6 SD dan  masih saya simpan hingga kini.

Di kelas 2 SMP, teman saya pindah lagi ke Muntilan mengikuti tugas ayahnya. Satu akses buku terputus. Tinggal satu teman yang juga memiliki koleksi komik disamping perpustakaan sekolah dengan koleksi buku diluar buku paket pelajaran yang begitu minim. Hasrat membaca itu terpuaskan kembali setelah masuk dunia SMU, mengenal perpustakaan yang sedikit lebih banyak koleksinya dan memiliki seorang guru yang yang membukakan kaki langit dunia sastra.

***

Pak Widi kerap menugaskan kami membaca karya sastra dan mendiskusikannya, dari buku paket ataupun dari majalah Horison. Kecintaan beliau pada sastra ingin ditularkan kepada anak didiknya. Puncaknya adalah penugasan membuat resensi sebuah buku sastra. Tugas yang bagi sebagian siswa disambut dengan keluhan saya terima dengan senang hati. Saya memilih sebuah karya yang di buku paket dicuplik dan pernah sedikit disinggung oleh beliau. Penasaran dengan konflik yang ditonjolkan,  Kemarau karya A.A Navis menjadi buku yang saya ulas. Tak pernah menyangka, tugas itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Setelah semua siswa maju ke depan kelas untuk mempresentasikannya–tanpa teks–, pak Widi mengumumkan peraih nilai tertinggi. Waw, saya terkejut ketika beliau menyebut nama saya. Takjub sebab saya merasa belepotan ketika berbicara di depan kelas kendatipun saya tidak begitu mempedulikannya.

Tugas penulisan resensi berlalu. Buku-buku sastra tetap saya lahap. Selain A.A Navis, satu pengarang yang mencuri hati saya adalah NH. Dini. Perkenalan saya dengan perempuan penulis itu terjadi ketika SMP. Kakak saya membawa pulang satu novel dari perpustakaan sekolah yang nantinya juga menjadi tempat belajar saya. Saya terpesona dengan eksplorasi bahasa yang ditulis NH Dini dalam novel tentang seorang indo keturunan Belanda yang memutuskan untuk meninggalkan Indonesia lantaran kegagalannya menjalin asmara dengan laki-laki Jawa. Keberangkatan, tak hanya detail cerita dan  konfliknya, masalah-masalah kecil yang dekat keseharian justru meninggalkan kesan tersendiri bagi saya.

Satu novel kemudian disusul novel-novel lain setelah saya mengukuti jejak kakak melanjutkan belajar di SMU 2 Magelang. Keberangkatan disusul dengan Padang Ilalang di Belakang Rumah, Langit dan Bumi Sahabat Kami, Sekayu, Kuncup Berseri, Tanah Baru Tanah Air Kedua, La Barka, Hati yang Damai, dan Pada Sebuah Kapal.                         Hampir semua karya NH Dini yang dimiliki perpustakaan sudah saya tuntaskan, rasanya ada yang kurang kalau tidak membaca buku Pertemuan Dua Hati. Novel  bersampul hijau yang pernah diulas  teman sekelas dalam tugas penulisan resensi itu pun segera berpindah dari rak perpus ke tangan. Sebenarnya, saya tidak begitu respek ketika  teman saya mengupas karya itu. Presentasinya saya ikuti tanpa antusias. Apanya yang menarik, pikir saya.  Tentang guru dan siswa SD?  Saya belum melihat permasalahan yang membangkitkan rasa ingin tahu.

Gambar

Siapa sangka, Pertemuan Dua Hati,  berhasil mengubah mindset saya setelah saya membacanya sendiri. Sebuah titik tertoreh, mempengaruhi diri saya untuk menjadi apa kelak. Pertemuan Dua Hati mengetengahkan tema pendidikan, khususnya di sekolah dasar. Seorang guru bernama Bu Suci  harus menghadapi seorang siswa dengan segala problematika di rumah yang berimbas pada belajarnya di sekolah. Tanpa mendapat dukungan dari guru-guru lain, ia berjuang merebut hati Waskito. Lika-liku perjuangan bu Suci nyatanya begitu menarik saya ikuti. Lebih dari itu, sosok bu Suci rasanya juga begitu dekat.

             Bu guru Suci mengubah opini saya bahwa kerja di kantor itu enak. Apa yang dirasakan bu Suci mempengaruhi saya, bahwa  ia tak pernah betah terjebak  kerja di sebuah ruangan dan bertemu beberapa orang saja setiap harinya, betapa bosan setiap hari menghadapi pekerjaan yang itu-itu saja. Saya kemudian berefleksi dari bu Suci. Tak jauh beda dengan bu Suci, saya pun tipe orang yang mudah bosan. Benar kata bu Suci, saya tidak akan suka kerja di ‘kantor’, rasanya akan lebih dinamis kerja di lapangan. Bu Suci yang mengajar di SD  menghadapi berbagai tingkah anak-anak yang tak tertebak  setiap harinya, terlebih ia menghadapi siswa bermasalah, Waskito, yang selalu berubah perangainya,  menguras pikiran dan tenaganya. Pengalaman menghadapi satu siswa itu begitu mendebarkan namun dinamis. Novel itu menjadi awal mula ketertarikan saya pada dunia pendidikan, meskipun belum sedikitpun terbesit keinginan menjadi seeorang guru. Belum, karena saya waktu itu punya cita-cita baru yang kemudian berubah karena satu alasan ketika kuliah. Namun begitu, sosok bu Suci sebagai guru yang berhasil menaklukan hati Waskito, terus membekas dalam diri saya. Pendekatan-pendekatan psikologis yang dilakukan bu Suci sebagai seorang guru sangat inspiratif. Sosok bu Suci dengan kelembutan di balik ketegasannya dan pengabdiannya sebagai pendidik telah mengendap dalam memori saya. Kisahnya terus bergaung, betapa mulia bisa berbagi menjadi seperti sosok bu Suci.

Ajakan sastra yang mempertemukan pengalaman kita dengan pengalaman yang ada dalam teks itu sendiri rupanya saya alami sungguh-sungguh. Bisa saya pahami bahwa perjumpaan saya dengan karya sastra memang melibatkan harapan, gambaran, dan fantasi.[1] Pengalaman-pengalaman bu Suci yang saya temui kemudian saya refleksikan dengan keadaan diri saya sendiri, dengan apa yang ada pada diri saya sehingga dari sana kemudian tumbuh harapan baru, gambaran yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dan inilah saya sekarang, menjadi seorang tenaga pengajar di sekolah memang bukan impian saya. Profesi ini masuk dalam plan B yang saya tulis di diary ketika lulus kuliah, meskipun saya tidak menulisnya sebagai GURU namun saya tulis dekat dengan dunia anak-anak–seperti bu Suci kan? Bu Suci menjadi referensi bagi saya ketika saya memilah-milah bidang pekerjaan apa yang akan saya masukkan dalam plan A maupun B.  N.H Dini, disamping telah merekomendasikan satu bidang pekerjaan,  agaknya juga telah berhasil memperkenalkan saya pada dunia pendidikan yang sebenarnya lewat bu Suci. Ia memberikan satu pengalaman batin, menapaki satu-satu harapan demi harapan dalam hidup, menjadi jalan untuk mewujudkan harapan di plan A.

 

 

 


[1] Sindhunata, “Ambil dan Bacalah” dalam Bukuku Kakiku, Gramedia, Jakarta, 2004, hal. 348

*foto hasil googling

**tulisan yang diikutkan dalam satu event beberapa tahun silam tapi tak ada kabar

 

[Diary Janitra] Janitra dan Buku

Kami berdua sepakat untuk memperkenalkan buku pada Janitra sejak dini, mulai dari membacakan buku cerita padanya maupun memberikannya buku–buku balita– untuk dipegang, diraba-raba, dan dilihat gambarnya. Jauh sebelum saya menikah saya sudah mulai mengumpulkan buku-buku anak.

Belakangan ketika bapaknya membaca, Janitra terlihat “ngrusuhi” pengen pinjam buku yang dibaca bapaknya, saya berikan saja buku balita yang tebal dan tidak mudah sobek. Dia terlihat antusias dengan buku yang dipegangnya :) )

Gambar

 

Gambar

 

Gambar

Gambar

Waktu Demi Waktu

the hoursKalau baca The Hours karya Michael Cunningham pasti tak mau berhenti,pengen lanjut lanjut dan lanjut. Yang pernah nonton filmnya pasti tahu [hiks,belum nonton!]. Film yang dibintangi oleh Nicole Kidman,Meryl Streep,dan Julianne Moore itu meraih Piala Oscar (Academy Award) dan Golden Globe. Sedangkan novelnya sendiri memenangkan Pulitzer Prize untuk fiksi 1999 dan PEN/Faulkner Award 1999, dan GLBT Award.

Novel itu berbicara tentang suara 3 wanita 3 zaman,waktu demi waktu:Virginia Wolf,Laura Brown,dan Clarissa Vaughan(Mrs.Dalloway). Cunningham menggambarkan ketiga tokoh itu seakurat mungkin. Tak main-main sebab ia mengambil sejumlah sumber diantaranya biografi dan diary Virginia Wolf.

Penerjemahan novel itu memuaskan sebab bahasanya indah,mengajak pembaca menjelajahi pikiran dan perasaan wanita,yang paling pribadi sekalipun. Saya mendapati berbagai lintasan pikiran dan perasaan tiga wanita itu sering saya alami. Apakah memang seperti itu perempuan berpikir? Apakah memang seperti itu perempuan merasa?

*foto dari google

Menikmati 3 Cangkir Teh dari Korphe, Yukkkk…

[Catatan ini boleh dibilang sudah usang. Buku yang saya bicarakan pun bukan buku keluaran anyar, meskipun saya menulis catatan ini begitu selesai membacanya Agustus tahun lalu, hanya saja tersimpan tak tersentuh-daripada mubazir saya posting aja sekarang-. Nggak papalah, semoga tetap bermanfaat, syukur-syukur bisa jadi bahan pertimbangan teman-teman seandainya nemu buku ini di toko buku atau perpustakaan. Selamat menikmati 3 cangkir teh…]

Judul buku : Three Cups of Tea
Penulis : Greg Mortenson dan David Oliver Relin
Penerjemah : Dian Guci
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
Cetakan : September 2008 (cet.1)
Tebal : 630 hlm.

“Di Pakistan dan Afganistan, kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis;pada cangkir pertama engkau masih orang asing, cangkir kedua engkau teman;dan cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap berbuat apapun-bahkan untuk mati-“ ungkap Haji Ali, kepala desa Korphe, pegunungan Karakoram, Pakistan.

Greg Mortenson meskipun seorang angrezi, orang kulit putih asing, namun ia sudah termasuk yang terakhir di mata keluarga Haji Ali, bahkan di lingkungan warga desa. Pendaki gunung asal Amerika itu pada mulanya gagal ketika menaklukan puncak gunung tertinggi ke-2 sedunia di Himalaya. Setelah tersesat, mengalami keletiahan luar biasa, dan berjalan kaki tertatih-tatih turun gunung selama 7 hari, ia sampai di desa Korphe. Di rumah Haji Ali, Mortenson dirawat dengan penuh perhatian dan diperlakukan teramat istimewa.
Selama tinggal di Korphe, ia mendapati bagaimana anak-anak bersekolah. Begitu memprihatinkan. Karenanya, timbul niat di hatinya untuk mendirikan sekolah. Janjinya ia ungkapkan kepada Haji Ali. Bagaimana ‘petualangan’ Mortenson dalam memenuhi janji tersebut disajikan dengan gamblang dalam buku ini. Tak hanya di Korphe, selama dekade berikutnya Mortenson membangun puluhan sekolah, terutama untuk anak-anak perempuan di Pakistan dan Afganistan. Usahanya mengharuskan ia bolak-balik Amerika—Pakistan&Afganistan dan rela meninggalkan keluarganya.

Dalam perjalanannya, Mortenson punya alasan lebih untuk mendirikan sekolah di daerah lahirnya Taliban tersebut, terlebih setelah peristiwa 11/9: tidak saja memerangi kebodahan tapi juga terorisme. Menurutnya, terorisme tidak terjadi lantaran segelintir orang di suatu tempat seperti Pakistan dan Afganistan tahu-tahu memutuskan membenci Amerika. Hal ini terjadi karena anak-anak tidak ditawari masa depan yang cukup baik agar mereka memilki alasan untuk hidup daripada mati.
Selain alasan tersebut, Greg Mortenson merasa sangat gelisah dengan pembangunan masdrasah-madrasah Wahabi. Dalam buku berjudul Taliban yang ditulis Ahmed Rashid,wartawan yang berbasis di Lahore, dipaparkan bahwa murid-murid dari madrasah ini adalah mereka yang tidak memiliki akar dan gelisah, pengangguran, serta secara ekonomi kekurangan, dan sangat sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki pengetahuan umum. Mereka menyukai perang karena perang adalah satu-satunya lapangan pekerjaan yang sesuai untuk mereka. (hal 455—456)

Kerja keras selama satu dekade, membuat tercengang seorang mantan editor majalah Outside, Kevin Fedarko, suatu pagi. Fedarko datang bersama Mortenson ke Korphe untuk melaporkan sebuah cerita yang ingin diterbitkannya dalam Outside berjudul “The Coldest War”. Suatu yang jauh di luar kebiasaan terjadi di desa Korphe. Seorang gadis penuh rasa percaya diri menyeruak masuk ke arena rapat desa. Dia langung bergabung,melewati sekitar 30 pria yang tengah bersila di atas bantal seraya menyerutup the, menghadap Greg Moretenson. Jehan, gadis cantik itu menginterupsi rapat tetua desa dan langsung berbicara kepada Mortenson untuk menagih sebuah janji, janji untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter.

Sangat beralasan bila jurnalis itu menganggap kejadian yang dilihatnya sangat luar biasa. Di sebuah kampong Islam konservatif, gadis itu telah mendobrak 16 lapis tradisi sekaligus. Dia telah lulus sekolah, merupakan wanita terdidik pertama di lembah Braldu berpenghuni tiga ribu jiwa. Ia tanpa takut-takut masuk di tengah-tengah lingkaran pria, duduk di hadapan Greg Mortenson dan memberikan hasil pelajarannya yang paling revolusioner: sebuah proposal yang ditulis dalam bahasa Inggris, untuk memperbaiki kehidupannya dan kehidupan masyarakat desanya.

Greg Mortenson dan kisahnya memberikan inspirasi bagi misi kemanusiaan. Buku ini menjadi buku terlaris New York Times. Petualangan di pekarangan Taliban itu dipaparkan dengan detail sehingga pembaca bisa memperoleh wawasan mengenai kebudayaan dua negara tersebut. Gambaran mengenai tokoh-tokoh pendukung misi Mortenson semakin nyata dengan sisipan beberapa foto. Hanya satu hal yang kadang membuat saya terganggu ketika membaca yaitu perpindahan situasi dalam ruang dan waktu yang sangat tiba-tiba sehingga seperti dipaksa meloncat begitu jauh. Namun selebihnya, Three Cup of Tea is inspiring book.

Mgl, 23 Agustus 2009. 23:00.

Torey Heyden, Pertama Mengenalnya…

Mereka Bukan Anakku mengisahkan pengalaman Torey Heyden, seorang ahli psikologi anak dalam menangani empat siswa bermasalah di kelas pendampingan. Siswa pertama adalah Lori, gadis cilik yang menderita kerusakan otak akibat penyiksaan yang diterima dari orang tuanya. Lori mengalami kesulitan membaca yang sangat parah. Beruntung ia dan saudara kembarnya kemudian mendapatkan orang tua angkat yang sangat baik. Kedua, Boo, laki-laki kecil keturunan negro, penderita Autis. Selain mengalami kesulitan berbicara Boo suka berputar-putar di kelas sembari melepas pakaian yang dikenakannya selapis demi selapis. Siswa ketiga ialah Tomaso, siswa super brutal akibat kekerasan kedua orang tua yang sering dilihatnya. Ayahnya meninggal secara mengenaskan di depan matanya. Kematian ayahnya membawa Tomaso berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Malangnya, Tomaso tak pernah mendapatkan keteduhan dari keluarga yang mengasuhnya. Ia tak pernah memiliki figur seorang ayah. Dampaknya begitu luar biasa, Tomaso hidup dalam imaji bahwa ayahnya masih ada.Siswa terakhir adalah Claudia, gadis 12 tahun yang hamil di luar nikah. Permasalahan tentu akan muncul ketika ia melahirkan bayinya.
Teramat rumit menghadapi empat siswa bermasalah itu, namun karena sudah menjadi bagian dari hidup Torey, dia curahkan segenap dirinya untuk anak-anak itu. Berbagai konflik dengan keempat anak itu, sesama guru, maupun dengan kekasihnya menjadi keseharian Torey. Dia kerap bertengkar denga kekasihnya, Joc, karena menurut Joc hidup Torey terlalu dibayangi anak-anak. Begitu lekat dunia anak didik dengan hidupnya hingga konflik dengan Joc berakhir dengan perpisahan.

Mata saya terbuka membaca novel itu, saya yang sering mengeluh menghadapi anak-anak banyak belajar dari Torey: bahwa memang seperti itulah dunia pendidikan anak dengan segala corak persoalannya. Pengalamanku tak ada apa-apanya dibanding pengalaman Torey, begitu pikir saya selalu sepanjang baca. Beragam konflik batin sebagai seorang pendidik saya temukan dalam buku ini, begitu dekat dengan dunia yang sedang saya hadapi. Dari Torey saya banyak bercermin dan berusaha menguatkan diri, menemukan saya dan dunia saya. Saya suka novel ini. Komentar saya setelah membaca: kenapa saya baru kenal Torey sekarang? SEbelumnya saya baru sekedar kenal nama dan nove-novenya yang bertebaran di toko buku seperti Sheila.

foto dari google

Dwilogi Padang Bulan– Cinta dalam Gelas

Dwilogi ini tepatnya menjadi sekuel tetralogi Laskar Pelangi (udah tetralogi masih disekuel :D). Buku yang diformat bolak-balik ini masih memaparkan antropologi masyarkat Malayu, muatan yang selalu saya sukai dari buku-buku Hirata. Membaca buku ini, justru yang saya dapatkan adalah Andrea Hirata sendiri adalah tipikal orang Melayu seperti yang saya serap dari Padang Bulan: nglantur, banyak omong. Yeah, ini yang saya dapatkan dari dwologi yang pertama, padahal novel ini cuma ingin menyampaikan kelanjutan cinta Ikal dan A Ling.

Buat saya lebih menarik Cinta dalam Gelas. Tiga kata itu mewakili satu kata: kopi! Cinta dalam Gelas lebih berisi soal ‘ buku besar peminum kopi dan buku besar catur’ sebab dua hal itu, kopi dan catur, yang dibidik Hirata dalam dwilogi kedua. Kopi dan catur begitu berkaitan dengan masyarakat Melayu tentu saja. Orang Melayu suka nongkrong di kedai kopi sambil bermain catur. Tradisi barangkali, mereka tak bisa lepas dari kopi. Begitupun catur, ada pertandingan catur yang digelar di kedai-kedai kopi. Nha, soal pertandingan catur ini pula yang menarik. Ada filosofi catur ala Hirata, selain filosofi peminum kopi yang membuat saya terkikik-kikik sendiri. Menarik sekali filosofi itu (saya tidak tahu soal catur, entah filosofi itu sudah menjadi milik dunia catur entah racikan Hirata sendiri, yang jelas teramat menarik buat saya—yang tak bisa main catur dan buta dunia catur– dan para pecinta catur pastinya). Catur menjadi bingkai cerita dari kisah tokoh sentral yang dijadikan sebagai judul tetralogi terakhir yang terbit sebelumnya: Maryamah Karpov. Bagaimana nama itu tersemat pada diri tokoh itu, lika-liku hidup dan pertandingan catur yang diikuti Maryamah diracik apik Hirata dalam novel itu.

foto pinjam dari Google

Kangen Enid Blyton

Siapa tak kenal Enid Blyton, penulis wanita kelahiran Dulwich, London, 11 Agustus 1897? Enid Blyton merupakan pengarang yang namanya tercatat dalam daftar UNESCO 1975 sebagai penulis wanita kedua di dunia yang buku-bukunya paling banyak diterjemahkan–yang pertama siapa ya?–. Berkat kegemarannya membaca sejak kecil, ia berhasil menulis sekitar 700 buku dan beberapa diantaranya telah diterjemahkan dalam 3400 bahasa. Buku pertamanya, Child Whisper, terbit di tahun 1922. Usia 18 tahun ia telah menerbitkan puisi dan cerpen, namun karya-karya berupa cerita anak baru lahir setelah ia menjadi guru. Ia meninggal pada usia 81 namun namanya tetap bersemayam di hati anak-anak seluruh dunia.

Tiba-tiba malam ini saya kangen Enid Blyton. Saya mengenalnya ketika SD. Semua buku Lima Sekawan di rak buku teman saya sudah saya libas, selain semua serial STOP dan Trio Detektif. Untuk ukuran anak-anak waktu itu dan masyarakat di sekitar saya, koleksi teman saya di perpustakaan keluarganya termasuk lengkap, maklum di putri seorang camat, terbilang pejabat lah di desa. Banyak seri yang saya baca, kalau disuruh nyebutin judulnya, ah sudah hilang dari ingatan, cuma ingat Kereta Hantu-kalau tak salah-. Waktu itu saya sedang gandrung-gandrungnya dengan serial petualangan dan detektif. Ada satu lagi yang saya kenal selain Lima Sekawan yaitu Pasukan Mau Tahu. Semua buku itu benar-benar membuat bahagia, petualangan mereka mengajak imajinasi bocah saya mengembara bersama mereka. Meskipun semua buku tersebut bercerita tentang penyelidikan sebuah kasus yang menantang segala rasa ingin tahu, tapi Lima Sekawan berbeda dengan TD, STOP. Trio Detektif lebih kental dengan strategi penyelidikan yang menonjolkan kejeniusan otak, terutama Jupiter Jones, sedangkan Lima Sekawan mengedepankan petualangan di alam. Saya seperti terlibat dalam perkemahan atau jalan-jalan yang mereka lakukan.

Satu lagi karya Enid Blyton yang terekam dalam memori saya, Si Badung. Dulu, saya dibuat kagum dengan segala tingkah laki-laki kecil itu. Kenakalannya menggemaskan dan menghibur jiwa kanak-kanak saya. Si Badung saya temukan di rumah saudara sepupu yang pernah memiliki perpustakaan kecil.

Malam ini tiba-tiba kangen mereka tapi tak ada obatnya. Tak ada satupun karyanya yang saya miliki, sayang sekali. Entah, Si Badung sekarang berada di mana, mengingat buku-buku di tempat saudara tak ketahuan lagi jejaknya, sayang seribu sayang.

*sedikit info tentang Enid Blyton dan foto saya dapatkan dari wikipedia dan sini

Backpacking Hemat ke Australia

Penerbit: Backpacker Dunia Publishing, Oktober 2009 (Cet. Ke-1 )
Tebal Buku: xii+210 halm
ISBN: 978-602-95725-0-6

Buku ini merupakan catatan perjalanan Elok Dyah Messwati memutari benua Australia dalam tiga kali kunjungan. Pertama, datang ke Sydney karena tugas kantor untuk mengikuti Pertemuan Regional Tingkat Menteri Asia Pasifik (Indonesia datang juga) tentang HIV/AIDS Juli 2007. Kedua, lagi-lagi ke Sydney untuk mengikuti World Youth Day (WYD) Juli 2008. Mimpinya adalah bisa bertemu Paus Benedict XVI yang hadir dalam pertemuan itu. Ketiga kalinya, backpackeran dalam rangka cuti besar. Perjalanan yang ketiga kalinya ini lebih panjang dan tentu kaya pengalaman. Elok mengelilingi Perth, Adelaide, Melbourne, Canberra, Sydney, Brisbane, Gold Coast, dan Darwin.

Mulai dari tempat-tempat menarik yang dikunjunginya (lengkap dengan fotonya), pengalaman, rute perjalanan, sampai harga tiket (transportasi dan akomodasi) tersaji secara runut. Tanpa memisahkan jurnal dan tips (panduan), Elok secara langsung sudah berbagi panduan traveling hemat di jurnal perjalanannya seperti memilih rute penerbangan dan memesannya, akses trasnsportasi dan tiketnya, penggunaan Travel Pass untuk menghemat biaya perjalanan, pemilihan tempat belanha, makan, dan hangout yang murah, dan yang terpenting…, di mana travelholic bisa tinggal dan menginap.

Yang mengagumkan buat saya untuk diserap adalah konsep hostpitality exchange. Elok seringkali mendapat kemudahan berkat keikitsertaannya dalam Hostpitality Club. Semua tempat yang diinapinya begitu homy dengan host yang welcome, open minded, dan sangat bersahabat. Konsep ini penuh kekeluargaan, bukan sekedar menginap gratis namun juga bertukar mengenai kisah hidup, pengalaman, berbagi perjalanan, dan kebiasaan sesama travelholic (hal. 183).

Satu yang kurang buat saya sebagai penyuka etnografi—muatan yang seringkali ada dalam catatan backpacker–, saat stay dengan local people, berinteraksi dengan mereka yang dikatakannya memperkaya perjalanannya, elok kurang menjabarkan pengamatannya terhadap kehidupan/ keseharian masyarakat lokal.

trims buat mbak Arie (http://srisariningdiyah.multiply.com) atas hadiah buku ini :))
foto dari :http://elokdyah.multiply.com

SANG PENCERAH: Novelisasi Kehidupan K.H Ahmad Dahlan & Perjuangannya Mendirikan Muhamadiyah

Penerbit: Mizan, Juli, cet ke-2
Tebal : 480 hal

Kalau ada lebih banyak lagi novel sejarah semacam Sang Pencerah, maka mempelajari sejarah akan terasa lebih menyenangkan dan mengena. Belajar sejarah toh bukan hanya menghafalkan nama tokoh, peristiwa monumental yang melekat padanya beserta tanggal dan tahunnya, tapi bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dan inspirasi dari perjalanan tokoh tersebut. Membaca novel akan berbeda dengan membaca buku teks sejarag. Alur cerita novel mampu membawa kita larut memasuki kehidupan tokoh, menyimak pemikiran dan gagasan-gagasan besar sepanjang perjuangan dan perjalanan hidupnya. Demikian halnya dengan Sang Pencerah.

Meskipun bagi saya alur novel ini sangat sederhana dan cara bercerita Akmal biasa saja, tapi muatan sejarah serta pesan-pesan dakwah di dalamnya menjadi nilai lebih di mata saya. Mulanya, halaman demi halaman saya baca hanya karena tuntutan novel ini harus saya selesaikan, artinya bukan atas dorongan rasa penasaran karena terjebak alur yang menghanyutkan. Bukan. Namun begitu konflik demi konflik yang menjadi kerikil bagi perjuangan dakwah Ahmad Dahlan bermunculan sampai kemudian berdiri Muhamadiyah,saya mulai terhanyut. Ada hikmah dan inspirasi menyusup dalam berbagai peristiwa tersebut.

Di luar pesan dan inspirasi Sang Pencerah, ada hal yang begitu mengganggu yaitu perpindahan sudut pandang aku dari Ahmad Dahlan ke Nyai Walidah di bab 4 (“Kisah Walidah”). Hanya satu bab ketika penulis memperkenalkan sosok Walidah. Sebenarnya perpindahan semacam itu pernah saya jumpai dalam novel N.H Dini, Pada Sebuah Kapal. Bedanya, dalam novel Dini, proporsinya imbang, novel memang dibagi dua bagian, PENARI dan PELAUT, masing-masing dengan sudut pandang aku:Sri dan Michel . Pembaca akan menyelami jalan pikiran Sri maupun Michel . Nha, kalau dalam Sang Pencerah, perpindahan itu kesannya tempelan. Aneh saja bagi saya.

foto nyulik dari Penerbit Mizan

Totto Chan’s Children

Penerjemah : Ribkah Sukito
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juli 2010, cet ke-2
Tebal Buku : 328 hal.

Sukses dengan memoar masa kecilnya, Totto Chan: Gadis di Jendela, Tetsuko Kuroyanagi kembali hadir lewat buku Totto Chan’s Children: A Goodwil Journey to the Children of the World. Kali ini Totto Chan berkeliling dunia sebagai duta UNICEE, berkunjung ke berbagai negara yang mengalami berbagai permasalahan: kelaparan dan kekeringan, kemiskinan, konflik antarsuku, pemberontakan,pembantaian. Perjalanan yang dicatat dalam buku ini dilakukan dalam rentang tahun 1984 hingga 1996 meliputi negara Tanzania, Nigeria, India, Mozambik, Kamboja&Vietnam, Angola, Bangladesh, Irak,Etiopia, Sudan, Rwanda, Haiti,dan Bosnia-Hergezovina.

Di negara-negara Afrika seperti Tanzania dan Nigeria anak-anak meninggal akibat kelaparan, kekeringan,lingkungan yang tidak sehat, kurangnya vaknisasi, tertular penyakit atau menderita diare. Anak-anak kecil harus berjalan 4,8 kilometer atau 9,6 km untuk mendapatkan air. Di klinik kecil di Tanzania yang dikunjungi Miss Kuroyanagi, anak-anak yang sakit kekurangan gizi dan terpisah dari orang tua,menangispun tak sanggup sebab mereka tak punya tenaga untuk menangis (hal 31).

Di India pun, negara yang diakui oleh Miss Kuroyanagi sebagai negara eksotis yang memiliki kebudayaan kaya, sejarah panjang, dan maharaja kaya raya terkenal, juga sari dengan keindahan dan keanggunannya, terdapat banyak anak-anak miskin meninggal akibat kekurangan gizi. (hal.82)

Yang paling membuat saya bergidik ngeri adalah nasib anak-anak yang tumbuh di daerah konflik: perang gerilya, perang antarsuku, pemberontakan dan pembantaian.

Satu foto memperlihatkan Miss Kuroyanagi diantara tumpukan sembilan ribu tengkorak korban pembunuhan rezim Pol Pot di Kamboja. Selama kekuasaan rezim itu, seluruh Rumah Sakit yang berjumlah 800 juga ikut dihancurkan. Para dokter dibunuh. Satu-satunya rumah sakit anak sedang dibangun saat kunjungan. Kondisinya serba terbatas sehingga ada prioritas penanganan pasien yang memiliki kesempatan tinggi untuk sembuh. Tingkat kematian bayi di Kamboja sangat tinggi.(hal 107-108).

Tak jauh dari Kamboja, di Vietnam racun yang dipakai tentara Amerika selama perang dan bom yang tidak meledak saat perang tapi meledak sesudahnya memiliki andil besar terhadap kebutaan yang di derita lima ribu anak yang tinggal di Ho Chi Minh City. Faktor lainnya adalah kekurangan gizi. Anak-anak di usia sekolah harus bekerja setiap hari untuk membantu perekonomian keluarga, menjaga adik, atau membantu pekerjaan rumah sehingga mereka tak bisa bersekolah pada pagi hari melainkan malam hari.( hal. 117)

Dalam situasi perang atau pemberontakan, anak-anak selalu menjadi korban atau egoisme orang-orang dewasa. Di Angola, anak-anak kecil diikat dengan tali di pohon untuk dipotong tangannya dengan golok. Bayi dipotong kaki dan tangannya setelah orang tua mereka dibunuh tentara gerilya di depan mata. Anak-anak itu ditinggalkan sampai mati. Mereka yang bertahan hidup tumbuh sebagai yatim piatu yang cacat (hal.140). Di Irak, anak-anak dijadikan alat pendeteksi ranjau darat oleh orang-orang yang tak mempunyai alat pendeteksi ranjau. Anak-anak yatim piatu dibujuk berjalan di depan mereka sehingga mereka akan tewas jika menginjak ranjau sedangkan orang-orang dewasa bisa mengambil jalur lain dan selamat. Anak-anak itu dengan kepolosannya merasa bangga karena berjalan di depan untuk mengetes jalan (hal.189).

Orang-orang dewasa pada saat perang saudara di Bosnia-Herzegovina sengaja mempelajari psikologis anak hanya untuk membunuhnya. Sebuah bom ditaruh dalam boneka ketika rumah kosong ditinggalkan untuk menyelamatkan diri sehingga ketika pemiliknya kembali dan memeluknya, bom itu meledak. Bom juga dibentuk seperti cone es krim yang disebar di tanah dan seperti coklat paskah berbentuk telur serta dibungkus kertas perak.(hal.292-293)

Berbeda dengan negara-negara lain, di Rwanda pembantaian bukan dilakukan oleh tentara gerilya atau orang lain namun oleh kerabat mereka sendiri. Pada mulanya adalah perang antarkelompok etnis, suku Huto dan Tutsi. Pada akhirnya, pembantaian memicu perang saudara. Orang-orang hidup dalam ketakutan akan pembalasan dendam. Begitu mengerikan situasi di Rwanda sehingga di majalah Time, seorang pendeta setempat berkata: Tak ada iblis di neraka, mereka semua ada di Rwanda. (hal.244)

Sama dengan Miss Kuroyanagi, ketika membaca buku ini, sayapun tak habis pikir, bagaimana bisa seseorang memiliki kebencian yang begitu besarnya?
Anak-anak di negara yang dikunjunginya tak hanya mengalami kelaparan akibat kekeringan, kekurangan, atau kemiskinan, namun jaga lapar akan cinta. Yang menyedihkan adalah luka-luka psikologis yang mereka derita. Apakah bisa disembuhkan?

Membaca buku ini, tak hanya wawasan mengenai negara-negara yang kunjungi Totto Chan yang bertambah, namun mata hatipun akan terbuka. Betapa keras hidup anak-anak itu, tapi mereka bertahan. Luar biasa. Foto-foto yang melengkapi buku itu sangat jelas memperlihatkannya.

Beruntung sekali saya mendapatkan buku ini. Terima kasih banyak untuk teman saya Ario Fanie (http://mfanies.multiply.com) yang mengirimkannya cuma-cuma bersama CD serial Nodame dan buku-buku serial Little House. Lega setelah menyelesaikan buku ini, tapi. . . masih 4 buku lain menunggu. Oia, tak menyangka juga reviewnya [resume kalee. . .] bisa sepanjang ini 😀

*foto dari Gramedia Shop