The Naked Traveler

Penerbit : C l Publishing (PT Bentang Pustaka)
Tahun Terbit : Juli 2009, cet ke-10
Jumlah Halaman : xii+282 hal

Satu tahun buku ini nangkring saja di rak buku tanpa predikat khatam. Saya mendapatkannya gratis dari Bentang Pustaka, bersama 2 buku lain, karena hoki di Sail Your Hopes Competition II yang diadakan Facebook Bentang. Buku ini selalu tersisih oleh buku lain untuk segera saya baca. Saya selalu under estimate duluan, gak asik ah, buku traveling pelit foto. Kalaupun ada, black n white. Saya kan suka liat foto-foto segar jepetran para backpacker. Satu dua catatan saja, sudah.

Gak tau kenapa, pagi ini pengen aja baca. Seru ternyata. Saya sering terkikik membaca pengalaman-pengalaman Trinity. Oaalaaah, tahulah saya kenapa buku ini kurang foto. Buku ini lebih banyak bercerita pengalaman-pengalaman seru yang personal dibanding tentang tempat-tempat yang dikunjunginya. Mungkin itu. Lucunya, Trinity selalu punya istilah-istilah konyol, seperti ‘bagaikan pantat dan kentut-saling mencinta dan membenci pada saat yang sama’ untuk rasa cintanya pada si Kumbang mobilnya.

*foto dari Goodreads

Esai dan Prosa

Penerbit: Dian Rakyat
Tahun : 1996, cet ke-2
Tebal : 77 hal

Akhirnya, setelah 6 tahun buku ini ngendon di rak, hari ini saya bisa melahapnya habis! Enam tahun, kalau bisa bicara, buku ini mungkin akan merana sekian lama tanpa perhatian. Buku ini saya beli ketika masih kuliah, hanya empat ribu rupiah saja, harga yang murah meriah untuk buku sastra di jaman sekarang. Empat ribu rupiah sekarang dapat apa? Saya takjub dengan buku kecil tipis ini, murah banget untuk karya sebesar ini.

Akhirnya, saya bisa bilang bersyukur menemukan buku ini. Asyik juga, gumam saya setelah melewati halaman demi halamannya. Buku ini berisi 18 esai kesusasteraan dan prosa liris yang kebanyakan diambil dari Pujangga Baru dan Panji Pustaka. Termasuk di dalamnya adalah 3 timbangan buku: Rindu Dendam karya J.E. Tatengkeng, buku karya M. Natsir berbahasa Belanda tentang hak-hak perempuan Islam, dan sebuah kitab tentang asas-asas Islam yang oleh Amir Hamzah disebut seperti pendahuluan Al-Quran yang sedang dicetak. Dua buku yang ditimbang tak bisa saya sebut judulnya sebab judul buku maupun judul timbangannya berbahasa Belanda, mana judul bukunya saya tak bisa mengira-ira. Satu pidato Amir Hamzah tentang “Pustaka Melayu” menjadi penutup buku yang dibuka dengan kata pengantar oleh Sutan Takdir Alisjahbana.

Kalau bagi Sutan Takdir prosa lirisnya yang paling menarik, bagi saya malah sebaliknya, esai-esai sastranya yang mengesankan. Saya paling tertarik dengan “Kesusasteraan” yang dibagi dalam enam tulisan. Esai ini membicarakan tentang kesusasteraan Indonesia dengan segala pengaruh kesusasteraan dari tanah luar, mulai dari India, Tionghoa, Arab, hingga Ajam-Parsi. Amir Hamzah membahas bagaimana perkembangan sastra-sastra dari tanah tersebut beserta karya-karya besar yang lahir. Kenapa prosa lirisnya tidak lebih menarik buat saya karena tidak mudah memahami rangkaian kata apik dengan bahasa Melayu. Kalimat demi kalimat tak bisa begitu saja tercerna otak saya yang masih asing dengan bahasa Melayu.

Akhirnya, sekelumit tentang sejarah sastra saya dapatkan dari buku ini. Ada hal baru yang saya dapatkan, tentang puisi lama bernama pantun. Ternyata banyak hal menarik yang tak pernah saya ketahui sebelumnya. Menarik!

Menjadi Ibu di Mata Penyair Oka Rusmini

“Bagiku kehadiran anak,mengurus,dan mendidik dari detik per detik adalah award tertinggi dari Tuhan untuk kehidupanku,” kata Oka Rusmini dalam sebuah wawancara di harian Kedaulatan Rakyat (Minggu, 23 Oktober 2005).


Award dari Tuhan itu bernama Pasha Renaisans. Bagaimana sang bunda meresapi pengalamannya memiliki Pasha, sejak ia berada di rahim tertuang dalam puisinya berjudul “Pasha”. Tak ada yang bisa dengan benar-benar menggambarkan bagaimana rasa melahirkan dan memiliki anak, kalau bukan perempuan itu sendiri.

PASHA

Tak ada lelaki memiliki mata seindah matamu. Aku mabuk,dan selalu hampir mati setiap kausentuh tubuhku dengan nyala yang meluap kaualirkan,setiap kau mencengkram tubuhku dengan aroma matamu. Kadang kulihat hujan rintik-rintik. Kadang kulihat badai topan mengamuk begitu dahsyat. Kadang kau ingin memakanku mentah-mentah.

Tak ada lelaki memiliki bau tubuh liar dan panas seperti tubuhmu. Aku hampir gila setiap satu keping keringat memotong kulit tubuhku. Tetesannya menyumbat seluruh pori-pori wujud perempuanku.Aku tak bisa bernafas, karena kau pegang nafasku. Aku masih ingat bau amis itu, ketiga tiga orang lelaki merobek perutku dan mengambi tubuhmu paksa dari tubuhku. Darah itu ikut. Cairan tubuhku terkuras. Kau mulai menjerit . kulihat air bening berenang di retina matamu. Jam berapa ini? Udara dingin. Dan tubuhku yang telanjang kaubiarkan beku. Bau tubuh siapa ini? Membuat tubuhku menjadi liar.

Tak ada lelaki memliki kulit setajam kulitmu. Tahukah kau aku sering mengiris kulitku, berharap bisa memaksukan tubuhmu kembali ke dalam tubuhku.  Aku ingin menanam kembali tubuhmu , karena aku takut kau akan lupa kulitku. Cukupkah delapan bulan sebelas hari kau mengenalku? Aku tahu diam-diam kau makan tulang-belulangku. Mungkin juga kausedot darah di kaki kecilku. Nyeri it uterus menguntitiku. Bahkan aku sempat melihat air liur menetes di mulutnya yang besar. Kulitmu yang tajam seperti keju kecil yang sering kaukunyah sore hari. Kaukah itu? Lelaki yang pernah kubenakan dalam rahimku.

 2003


Khawatir, cemas, takut, tentu tak lepas dari keseharian seorang ibu: melihat dunia dan bumi yang carut marut dengan berbagai persoalan, berbagai kasus dan berita yang menguncangkan perasaan. Oka Rusmini menyebutnya sebagai sebuah masa ketika dunia rajin membunuh anaknya sendiri (dalam “Menjelang Kata”, kata pengantar untuk PandoraI). Tak ketinggalan cuaca dan musim yang tak lagi bersahabat. Tapi tetap saja dari berbagai carut marut itu terselip sebuah harap untuk buah hatinya. Kekhawatiran seperti itu bisa dipahami, kalau kita membaca “Spora”

SPORA

Apa arti sebuah garis, Anakku? Ketika kau mengenggam pensil, aku melihat sebuah dunia perlahan tersibak di kakimu. Matamu yang bulat tak mengerjap. Menatapku dengan ratusan belati Tanya.
Di luar, cuaca sering buruk. Hujan dan angin bertikaman. Asap beracun merobek nafas, menguliti tubuh. Kecemasan merendam seluruh wujudku.
Kau mulai menejelma jadi manusia. Detak jantungmu mengeja hidup. Tapi aku kian menjelma jadi perempuan penakut. Makin pandai menelan bongakahan biji mata yang menatapku dengan asing.
Dari jalanan, orang-orang menebarkan bau anyir. Aku mual. Sanak-kerabat mencangkuli masa lalu. Mengerat otakku. Bersekutu memasukkanku ke peti mati. Mereka tanyakan kulit Tuhanku!
Negeri macam apa ini, Anankku? Orang-orang begitu pintar membangun menara. Mengurai sejarah, menguliti ilmu pengetahuan, merapal mantra. Mereka berceloteh tentang kebesaran, kejayaan, dan kemasyuran, sembari terus membakar pulau tempat leluhur mereka tenggelam hilang. Buih kata-kata mereka melukai sepotong kakiku.
Kini kau mulai jatuh –cinta pada angka dan aksara. Kauputar pensilmu, kadang kautusukkan di kulit bukumu. Negeri apakah yang kelak menyentuhmu? Siapakah yang akan menemanimu ketika aku tiada? Sepa akan mengajakmu bicara? Berbincang tentang warna kulit Tuhan, cara menyentuh dan mengenalNya? Tentang jalan bercecabang para pencari cinta ilahi?
Anakku, kelak bila telah kaukuasai angka dan aksara, belajarlah mengenal cinta. Pahamilah dengan seluruh pikiran dan detak aliran darahmu. Pahami arti duka, luka, dan derita di luar tempurungg akumu. Rasakan keindahan cinta pohon-pohon rindang yang tiada pernah lelah melindungimu dari cakar matahari. Cintai dirimu, hidupmu,sesamamu. Jaga mulutmu, tingkahmu, dan pikiranmu.
Bangunlah, Anakku,matahair mulai mengupas kuntum bunga kecombrangku. Tidakkah kaulihat daunnya membelai kaca jendela kamar tidur? Jerang tubuhmu. Jelang harimu.
Dunia baru menungggumu.
                                                          
 2005
                                                            ***
“Pasha” dan “Spora” adalah dua dari 40 sajak dalam Pandora. Ke-40 sajak itu merupakan biograri tubuh yang ditulis Oka Rusmini dalam kurun 1999—2008. Dalam “Sebuah Menu Bernama Tubuh”, catatan penutup untuk buku itu, Yos Rizal Suriaji menyebut deretan sajak itu sebaga metamorphosis tubuh. Sajak-sajak itu terurut secara sistematis, dari “Ulat”, “Kepompong”, “Kupu-Kupu”,1967. Perasaan dan pengalamnnya memiliki reward dari Tuhan ada dalam “Pasha”, “Den Haag”, “Lelakiku”,”Spora”. Dalam “11 Juli”, tanggal kelahirannya, Oka bertanya Seperti apa rasanya menjadi ibu?  . kemudian ada sajak untuk dua lelaki tercintanya, Arif Bagus Prasetya dan Pasha Renaissans: “Halimun”. “Jejak” menjadi sejak penutup untuk biografi tubuhnya.

Tulisan ini hanyalah sekelumit catatan untuk dua sajak yang sudah selesai say abaca. Pandora belum usai saya baca seutuhnya. Membaca dua kumpulan puisi selalu membutuhkan waktu yang tidak singkat buat saya. Satu puisi saja tidak selesai sekali baca. Keterbatasan kemampuan membaca puisi menjadikan  hal
ini sebagai sebuah proses. Toh meskipun banyak puisi yang belum bisa saya pahami makna keseluruhan maupun kata tiap lariknya, karya itu tetap bisa saya nikmati. Teman yang memberikan buku ini pernah bilang, Biarkan puisi itu tetep misterius. Yups, setiap kata punya misterinya sendiri-sendiri.

Terima kasih tak terkira  untuk sohib saya yang mengirimkan buku ini. Kami sama menyukai karya-karya Oka Rusmini, namun belum saling tahu ketika sohib saya mengirimkan buku itu, kami baru tahu saat ia sms mengirim buku—belum disebut judul dan pengarangnya–, dilanjutkan mengobrol sampai pad pembicaraan tentang puisi dan saya menuebut Pattiwangi karya Oka Rusmini, eh tak dinyana buku yang dikirimnya karya Oka: surprised! Tak sabar menunggu pak pos datang mengantarnya dan ketika hari itu tiba dan membuka amplop coklat, waw…bukunya so beautiful. Buku itu berkulit hard cover warna hitam dengan ilustrasi “Gravitation”, lukisan indah karya Wolfgang Widmoser*. Sebuah kiriman yang eksklusif!

*Wolfgang Widmoser: Lahir 1954 di Munich, Jerman.  Mempelajari teknik lukisan Renaissance dengan Profesor Ernst Fuchs di Wina 1973-78. . Sejak 1974 ia telah pameran di Eropa, Asia dan Australia. . Dia telah tinggal di Italia dan Indonesia sejak tahun 1980. (http://www.michellechin.net/artists/wolfgang.html)

Heidi

“Buat Sayekti,

Semoga buku ini membuatmu lebih indah memandang dunia,”

begitu pesan yang ditulis mbak Nesia Andriana (http://nesiari.multiply.com) di lembar pertama buku Heidi [terima kasih buat mbak Nesia yang mengirimkan buku ini jauh-jauh dari Jakarta].

Tak berlebihan, Heidi mengajarkan apa dipesankan pada saya. Heidi, seorang bocah periang, berhasil mengubah kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dengan keceriaaannya musim dingin di pegunungan Alpen terasa sangat cepat bagi kakek dan keluarga Peter,kebekuan mencair oleh kehangatan sikap seorang Heidi. Sedangkan musim semi dan panas lebih indah dari yang sudah-sudah.

Heidi sangat takjub dan menikmati lingkungan barunya: tempat tidur di loteng yang beralaskan jerami,tepat menghadap lembah dengan pemandangan indah, mendengar desir angin, padang rumput yang tenang, dan yang paling mengesankan adalah api senja:”itu cara matahari mengucapkan selamat malam kepada gunung-gunung. Dia memancarkan sinarnya yang indah ke atas gunung-gunung itu supaya mereka tidak melupakannya sampai dia datang lagi keesokan paginya.”(hal 44)

Kehadiran Heidi di rumah kakek tak pernah disangka. Ia datang diantar Dete, tante yang merawat sejak ortunya tiada. Heidi berhasil membuktikan stigma negatif orang-orang terhadap kakek salah, bahwa kakek seorang yang memusuhi Tuhan dan manusia (hal.11). Heidi tidak berbuat apa-apa,hanya saja kesahajaan sikapnyalah yang mencairkan sikap beku kakek. Satu hal yang tidak berubah adalah, kekolotannya untuk bersikeras tidak memperbolehkan Heidi sekolah.

Kebahagiaan kakek dan keluarga Peter tidak lama. Tiba-tiba saja Heidi terenggut dari kehidupan mereka. Dete membawanya pergi ke Frankurt.

Bahagiakah Heidi di Frankurt? Selama di sana, Heidi menanggung kepedihan sendiri, kesedihan yang mengganjal di kerongkongan dengan wajah murung hingga yang terparah berjalan dalam tidur. Meski begitu, kejadian-kejadian di Frankurt memberikan banyak pencerahan bagi gadis kecil yang ditularkannya kepada orang-orang di sekitarnya. Petualangan Heidi sekembalinya dari Frankurt terasa lebih seru dan mengharukan.

Bukan hanya orang-orang di sekitar Heidi yang merasakan aura ceria Heidi. Sepanjang membaca, saya turut merasakannya. Anak-anak hingga orang tua layak membaca buku ini. Johanna Spyri menggali berbagai sisi psikologis seorang anak; bagaimana tumbuh kembangnya secara alamiah,dan bagaimana memandang dunia dari kacamata seorang bocah lincah. Lihatlah pula bagaimana metode belajar menyenangkan ala Heidi yang membawa keajaiban bagi Peter yang sebelumnya mengalami kesulitan membaca.

Tidak berlebihan kalau buku ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa, terjual lebih dari 50 juta eksemplar di seluruh dunia, difilmkan belasan kali, dibuat serial TV dan radio, bahkan sukses dalam bentuk komik. Harapan penulis agar ia hanya dikenal lewat karya-karyanya–menolak membuat autobiografi– terbukti lewat Heidi.

Buku dan Cantik

Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!”

Sok tahu banget kan?

Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan.

Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter.

Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget)

Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik?

Ada!

Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah.

Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen.

Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca?

Yogya, 2 Feb 2006

Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H

Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.

repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantik



akhir catatan:

Selamat Hari Buku Nasional
22 Mei

Teruslah membaca Indonesia!!!

[repost] Dalam Rumah Kaca

Karena [ternyata] semalam postingan yang niatnya satu tulisan terpecah karena keterbatasan karakter dalam hp, maka 2 tulisan itu saya satukan

Rumah Kaca: Akhir Tragis Seorang Minke

Perjalanan sejauh 675 km itu seperti menembus lorong waktu. Melintasi ruang waktu yang berbeda jauh dengan posisi saya sekarang. Beliau mengajak saya melihat bagaimana sepak terjang para nasionalis pioner seperti Wardi, Tjipto, Douwager, Siti Soendari, Mas Marco, dan akhir tragis seorang Raden Mas Minke.

Di suatu jarak, saya terguncang antara mundur dan maju dalam rentang waktu yang berbeda. Perjalanan bersama beliau di masa lalu membawa saya maju, pada masa ketika saya duduk di kelas berseragam putih abu-abu.
“Tidak benar kalau Budi Utomo adalah organisasi nasional yang pertama,” ujar guru sejarah SMU saya, tegas.
“Budi utomo belum bersifat nasionalis. Anggota-anggotanya belum menembus batas segala suku bangsa, para priyayi Jawa.”
Tiada komentar. Yang kami tahu, buku-buku sejarah yang kami baca menuliskan yang sebaliknya. Kami tak bisa membantah karena memang kami belum tahu apa-apa,manggut-manggut saja menerima ‘dongeng’ dari guru sejarah kami.
“Oo…jadi, buku sejarah yang kami baca salah ya?” itu saja yang ada di benak, selain kagum. Kok Bapak tahu sih?
“Lha, lalu organisasi nasional pertama itu apa?” tanya saya waktu itu dalam benak. Tanpa kronologi cerita yang lengkap-maklum Sejarah hanya dijatah 2 jam pelajaran dalam satu minggu-, guru sejarah menjawab pertanyaan saya, yang pasti juga menjadi pertanyaan teman-teman. Saya belum percaya 100% ketika pak Herman,guru saya, menyebutkan organisasi itu.


Setahun dua tahun kemudian, saya baru percaya sepenuhnya cerita guru saya ketika duduk di bangku kuliah. Ada sesal dan pengandaian, kenapa saya baru mengenal Pram sekarang? Tidak dulu ketika pak Herman berbicara tentang bapak-bapak para perintis bangsa itu. Saya mempercayai sepenuhnya dongeng itu ketika beliau mengajak saya menjelajah Bumi Manusia, mengenalkan saya pada Anak Semua Bangsa, menyusuri Jejak Langkah, dan bertahun-tahun kemudian,cukup lama jaraknya, malam-malam belakangan ini hingga tuntas tadi sore, memasuki Rumah Kaca.

Tentang rasa sesal itu, dan perkenalan saya dengan organisasi pertama itu, saya pernah menulisnya di buku harian,

31 Agustus 2006, Kamis malam

Biru langit, membaca buku Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer aku jadi tahu sejarah pendirian organisasi pada masa kolonial, bagaimana awal terbentuknya organisasi yang pertama di Indonesia, terutama organisasi Budi Utomo yang dalam sejarah disebut sebagai organisasi pertama di Indonesia.
Ada sedikit sesal dan pengandaian:coba aku baca buku-bukunya Pram sejak SMP, aku akan mengerti sejarah Indonesia sejak awal. Aku akan lebih tahu perjuangan anak bangsa pada masa kolonial, dan bagaimana organisasi Budi Utomo itu. Organisasi Budi Utomo bukan organisasi pertama yang didirikan oleh pribumi dan memiliki banyak kelemahan. Organisasi itu belum mengatasi semua golongan yang ada di Hindia sebab organisasi itu hanya untuk orang Jawa. Ironisnya, bahasa yang digunakan adalah bahasa Belanda dan sentuhan kebudayaan Jawa sama sekali tidak ada dalam organisasi itu. Hal ini seperti yang diutarakan pak Herman, guru sejarah SMUku.

Apa yang saya catat di buku harian, saya temukan kembali di Rumah Kaca,
“Boedi Moeljo sebagai pendiri sekolah-sekolah dasar dengan nama yang sama, katanya adalah sebuah organisasi orang-orang Jawa tapi justru tidak memasukkan bahasa Jawa dalam kurikulumnya. Sebaliknya sejak kelas satu sampai tujuh murid-muridnya diajar menggunakan bahasa Belanda, sebagaimana berlaku pada H.I.S., E.L.S. dan H.S.C. Gubermen telah membangun H.C.S untuk anak-anak Tionghoa. Tapi apakah yang telah dilakukannya untuk Pribumi? Tak ada! Padahal itulah justru menjadi kewajiban Gubermen untuk mendirikannya. Tapi mengapa sejak 1909 yang membangunkan sekolah dasar gaya Eropa untuk Pribumi justru Boedi Moeljo? Mengapa Boedi Moeljo mengambil alih kewajiban yang sebenarnya harus dilakukan Gubermen?” (hal.451)
“Kasihan itu anggota-anggota yang telah membayar uang pangkal seringgit dan iuran setiap bulan. Anak-anak mereka tidak dituntun ke arah cinta pada bangsa,tapi pada kantor-kantor Gubermen! Kasihan! Sungguh-sungguh kasihan.” (hal 451–452).

***

Minke. Saya mengenal nama itu ketika beliau mengajak saya menjelajah Bumi Manusia. Saya bertanya-tanya, sangat penasaran, siapakah sosok Minke sebenarnya, sosok yang dalam Rumah Kaca diceritakan seperti ini: “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat tak terduga yang bisa timbul pada samudra, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya. Bukankah dia sendiri pernah menulis:jangan sepelekan kemampuan satu pribadi? Tak berlebih-lebihan bila aku katakan:pribadi di sampingku ini juga punya kekuatan dahsyat seperti samudra,seperti gunung berapi. Sekiranya ia bukan manusia alam, sekiranya ia menyadari kekuatannya, mungkin juga Hindia akan memiliki seorang presiden bangsa Asia sesudah Sun Yat Sen dan Aquinaldo.( hal 549).

Separuh rasa penasaran saya terjawab di suatu sore ketika menyimak siaran Seputar Indonesia di RCTI. Ya, saya begitu bahagia menyimak berita itu sampai-sampai segera mencatatnya di buku harian. Sayang sekali, belakangan ngubek-ubek semua buku harian catatan itu tidak saya temukan (jadi berandai-andai, coba buku harian saya dilengkapi mesin pencari semacam google,hehe). Seputar Indonesia memberikan sebuah laporan tentang tokoh pers pertama di Indonesia, seorang jurnalis yang tidak dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, kalau boleh dibilang dilupakan! Nama itu sebenarnya tak begitu asing, Tirto Adi Suryo. Nama surat kabar yang dipimpinnya, Medan Prijaji- nama belakangnya mohon maaf kalau salah karena cat ga ketemu- seketika mengingatkan saya pada Minke! Dialah pendiri Syarikat Islam dan penerbitan Medan. Cocok sekali. Feel saya mengatakan, Minke adalah Tirto Adi Suryo. Raden Mas Tirto Adi Suryo adalah Raden Mas Minke.

Mulai saat itu, saya menganggap dua orang itu adalah satu sosok. Tapi, tanpa bukti otentik, saya tak berani bilang dengan keyakinan penuh. Sampai beberapa bulan lalu, dengan teman kantor yang juga penggemar Pram, saya mengobrol tentang beliau, sekaligus waktu itu akhirnya PD pinjam Rumah Kaca,hehe. Teman saya yang memang pelahap buku itu membenarkan anggapan saya. Di Rumah Kaca ini pula, saya temukan kebenaran itu. Beliau yang tak pernah menyebut nama asli Raden Mas Minke di 3 buku sebelumya, di tetralogi terakhir ini belia
u menyebutnya, hanya saja dengan inisial: T.A.S!

T.A.S yang di tiga buku sebelumnya diceritakan dengan begitu berjaya- 2 yang pertama atau tiga ya? Sudah lama dan sayang tak tercatat jadi lupa-, di Rumah Kaca ia temui segala keironisan dari bangsanya. Terbuang dan ketika kembali, ia tak lagi menemukan bangsanya sebagai ‘rumahnya’. Tangan seorang pribumi yang mengabdi pada kolonial tidak saja merumahkacan segala gerak-geriknya tetapi semua aktivis pergerakan penerusnya. Sayang, ketika kembali kesunyian yang menyergapnya.
“Tentulah pada malam seorang diri di sebuah dangau itu ia mengenangkan segala-galanya yang sudah lewat. Dan betapa kedekut Tanah Air dan bangsanya pada dirinya. Ia yang begitu terkenal lima tahun yang lalu, kini sudah terlupakan, terlempar seperti sepotong gombal di pojokan. Ia yang hidup dan bisa hidup hanya dari memimpin domba-dombanya. Sekarang tak seekor domba pun akan dipimpinnya.”(hal 576)

Ia yang merupakan tokoh pers pertama, di masa akhir hidupnya justru tak tercatat: “Bahwa kepulangannya ke Jawa tidak pernah diketahui oleh pers adalah berkat pengekanganku yang cukup ketat. Ia tak boleh menarik perhatian umum lagi. Ia harus tetap terpisah dari anak-sulungnya, dunia jurnalistik. Sungguh satu ironi, seorang pelopor pers pribumi yang tidak mendapatkan tempat dalam pers pada salah satu bagian terpenting dalam hidupnya. Oetosan Hindia, koran Syarikat yang terbit di Surabaya sama sekali tidak tahu menahu tentang kedatangannya.“(hal 589)

Hampir menangis saya menyimak akhir hidup R.M. Minke. Berpuluh tahun lalu R.M Minke wafat tapi rasa kehilangan itu saya rasakan begitu dalam. Tercekat dan tidak siap saya membaca bagian akhir hidupnya: “Begitulah akhir hidup guruku, meninggalkan pada dunia hanya bekas-bekas jejak dan langkahnya. Ia pergi dalam kesepian–ia yang sudah dilupakan, dilupakan sudah sejak hidupnya. Ia seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Tak pernah terjadi yang demikian di Eropa. Mungkin bisa terjadi dan telah terjadi hanya di Hindia, di mana tulang belukang pun dengan cepatnya dihancurkan oleh kelembaban. Bagaimana pun masih baik dan masih beruntung pemimpin yang dilupakan oleh pengikut daripada seorang penipu yang jadi pemimpin yang berhasil mendapat banyak pengikut.“(hal.594)

Biar dunia melupakanmu, tapi saya telah mencatat namamu dalam hidup saya! Terima kasih kepada Pramoedya Ananta Toer yang memperkenalkan saya pada sosok luar biasa itu. Tak terlupakan juga, guru sejarah SMU 2 Magelang, bapak Herman.

Kamis, 20 Mei 2010, 22:10.

foto dari : http://khatulistiwa.net/allrecomend.php?c=92&p=1298

Dead Poet Society, Sebuah Catatan dari Dunia Pendidikan

Dead Poet Society ( berdasarkan film Tom Schulman [Touch Stone Picture, 1989] )
Penerjemah :Septina Ferniati
Penerbit :Jalasutra Yogya, cet IV 2007

Sepanjang membaca novel ini, kesan saya biasa-biasa saja, bahkan bosan. Karenanya, saya butuh waktu berbulan-bulan untuk menuntaskannya. Padahal bahasa novel itu tak terbilang berat, sangat biasa tanpa metafor-metafor. Tapi, di lembar-lembar terakhir, greget novel itu menyentuh saya dan mencapai puncak di endingnya. Bagian ini yang meninggalkan jejak, ketika semua siswa seluruh kelas(dimulai oleh Meeks anggota Dead Poet) berdiri di atas meja memberikan penghormatan terakhir pada pak Keating, dengan hormat yang hening. Hari itu adalah hari terakhir pak Keating berada di Academy Welton karena dipecat. Pak Keating dianggap bertanggung jawab atas kematian (bunuh diri) Neil, anggota Dead Poet Society.

Neil bunuh diri setelah sukses mementaskan sandiwara A Midsummer Night’s Dream. Neil satu aktor yang paling banyak mendapat pujian. Dunia akting dan puisi ( termasuk Dead Poet Society) yang dicintainya mendapat tantangan dari ayah dan keluarganya. Sebelum pentas, ayahnya melarang dan mengancamnya untuk menghentikan kegiatannya. Neil tak peduli,nekat pentas. Ayahnya mengancam akan menarik Neil dari Welton dan memindahkannya ke Sekolah Militer Braden. Keluarga Neil memasukkannya ke Academy Welton dengan harapan menjadi seorang dokter. Academy Welton merupakan sekolah swasta yang lulusannya sebagian besar bisa menembus perguruan tinggi ternama. Mimpi ayah Neil agar ia meneruskan ke Harvard dan menjadi seorang dokter harus tercapai. Neil tidak diberinya kesempatan menentukan sendiri masa depannya. Termasuk segala kegiatan yang disukai Neil dilarangnya. Di sekolah ini, Neil dan teman-temannya mengenal perkumpulan Dead Poet dari pak Keating, guru bahasa Inggrisnya.

Di malam ketika teman-tamannya Dead Poet Society berkumpul di gua tempat mereka biasa berkumpul dam membaca puisi, Neil justru menarik pucuk pistol yang diambil dari meja kerja ayahnya. Malam itu ayah ibunya terbangun karena mendengar suara yang memecah malam. Mereka menyaksikan Neil terbaring di atas lantai berkubang dalam genangan darah.

Atas peristiwa itu, pak Keating dianggap menyalahgunakan posisinya sebagai guru. Ia dianggap mendorong Neil dan teman-temannya untuk membentuk perkumpulan Dead Poet dan memanfaatkannya sebagai sumber inspirasi pada perilaku nekat dan kesenangan diri sendiri. Ia juga dituduh mendorong Neil Perry untuk mengikuti obsesi berkating. Hal-hal itu melawan pesan-pesan eksplisit dari orang tua Neil (hal. 218).

Oia, dari awal ngomongin Dead Poet tapi belum diulas apa itu Dead Poet. Dead Poet sebenarnya adalah perkumpulan rahasia yang dibuat untuk menghisap sumsum kehidupan. Kelompok itu berkumpul di gua tua dan membaca puisi-puisi Shelley, Thoreau, Whitman, maupun puisi karya siswa sendiri. Pertemuan terakhir mestinya 15 tahun lalu, jadi kelompok itu sudah lama mati. Neil cs lah yang menghidupkan kembali kelompok itu dengan dukungan pak Keating yang di kelas banyak memperkenalkan sastra.

Sepanjang membaca, saya bertanya-tanya, mana sih bagian yang cerita yang katanya menarik? Apakah karena puisi bertebaran dalam novel ini? Saya menantikan greget cerita, bukan hanya puisi-puisi dari penulis yang belum saya kenal sebelumnya. Rasa penasaran itu baru terjawab pada bagian konflik Neil dan keluarganya dan berakhir tragis. Kesan mendalam itu saya dapatkan, betapa orang tua kadang tidak memberikan hak memilih untuk anaknya, tidak memberikan kesempatan pada anaknya untuk berbicara dan berargumentasi, bahkan memberikan kesempatan aktualisasi diri. Baginya, yang terbaik buat anaknya adalah seperti harapannya sendiri.

Tamat membaca novel ini, saya membayangkan filmnya. Pasti akan suka. Sayang belum nonton. Penasaran. Kalau biasanya saya lebih terkesan novel dengan visualisasi menurut imajinasi sendiri dari pada film adaptasi. Kali ini kebalikan, novel yang diadaptasi dari film itu saya bayangkan akan kalah dari filmnya. Penyajian dari novel itu kurang greget sehingga bosan dan sering-sering loncat membacanya.

*foto dari http://www.amartapura.com/view_book.php?id=08030001&bookid=12059

Tentang Alice in Wonderland

Ternyata hanya butuh waktu sesore untuk menyelesaikan buku tipis itu. Separuh rasa penasaran terjawab.

Ketika ada kabar bahwa Alice in Wonderland mau dibuat film,saya penasaran. Saya sudah lupa bagaimana cerita Alice. Yang saya ingat hanya seorang gadis kecil dengan roknya yang khas dan kelinci yang berlari-lari. Selang berbulan-bulan, ngobrol dengan mbak kalau waktu kecil dulu sering dengerin Alice dari kaset di rumah budhe. Berangsur-angsur gambar jaman doeloe it berkelebat. Sampai kemudian, saya membaca review filmnya dari rumah tetangga. Konon Alice dijodohkan dengan seorang bernama Hamish. Di pesta yang diadakan keluarga Hamish itulah Alice melihat kelinci berompi dan menggunakan jam. Dari situlah Alice kemudian-melarikan diri?- masuk ke lubang mengikuti kelinci dan sampai di Wonderland. Saya heran, perasaan Alice itu cerita anak, kok dijodohkan segala? Saya tambah penasaran dengan ceritanya. Beruntung, saya menemukan buku itu di Social Agency waktu main ke Yogya. Langsung saya ambil tanpa pikir panjang. Tapi. . .bacanya tertunda-tunda terus.

Saya ingin segera tahu cerita Alice, jadi sore itu saya prioritaskan membacanya. Karena tipis-175 hal- pasti cepat selesai cepat lega dan mengurangi utang membaca buku.

Selama membaca,pelan-pelan gambar-gambar dari TV yang saya lihat dulu sekali melintas, seperti kereta api lewat. Keping-keping mozaik Alice itu berjatuhan, meski tidak utuh. Dalam kerjapan mata, saya paling ingat adegan ratu dan raja kartu-kerajaan yang penghuni/karakternya kartu-kartu– yang bermain kriket (ga ngerti dengan permainan ini).

Yeah, cerita itu murni tentang khayalan kanak-kanak, dari awal hingga akhir seperti kartun yang saya tonton waktu bocah. Alice khas anak-anak: penuh ingin tahu, suka berbicara sendiri dalam hati atau bergumam sambil berkhayal, suka menyela cerita, dan banyak bertanya!

Alice sampai ke Wonderland karena mengikuti seekor kelinci berjas yang mengeluarkan jam dari kantong jas panjangnya. Ia mengikuti kelinci itu ke lubangnya,turun menyusul hingga jatuh ke sumur yang sangat dalam. Ketika ia sampai di sebuah lorong dengan banyak pintu terkunci, ia menemukan sebuah kunci emas mungil. Ia menemukan pintu yang cocok dengan kunci itu, sebuah jalan menuju taman terindah yang pernah ada,tapi jalan itu tak lebih besar dari lubang tikus. Berhasilkah Alice masuk? Alice minum sesuatu dari botol yang betuliskan MINUM AKU. Tubuhnya menyusut kecil tapi sialnya dia tidak bisa masuk karena hal-hal yang dilalaikannya. Cerita kemudian bergulir pada petualangan mengembalikan tubuhnya menjadi normal. Banyak hal menarik dijumpainya, bahkan setelah tubuhnya kembali normalpun penjelajahan di Wonderland semakin menarik rasa ingin tahunya. Beberapa kali saya terkikik membaca polah Alice dan karakter-karakter di dalam mimpinya. Saya paling geli dengan bagian Kisah si Kura-Kura Tiruan. Bagian ini yang paling berkesan, ketika Alice mengobrol soal pelajaran yang dipelajari oleh Kura-kura Tiruan dan si Gryphon.
“Dan berapa jam dalam satu hari kalian belajar?” tanya Alice cepat-cepat untuk mengubah topik pembicaraan.
“Di hari pertama selama 10 jam,” sahut si Kura-kura Tiruan. “Berikutnya, sembilan jam, dan seterusnya.”
“Wow, menarik sekali!” seru Alice.
“Itulah mengapa mereka menyebunya pelajaran (lesson),” kata si Gryphon. “Sebab, jumlahnya semakin berkurang (lessen) dari hari ke hari.”
Ini hal yang baru bagi Alice. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata,” Jadi, hari kesebas sudah pasti libur?”
“Tentu saja,”jawab si Kura-kura Tiruan.
“Lalu bagaimana dengan hari kedua belas?” Alice terus bertanya penuh rasa ingin tahu.

Jadi benar kan kalau Alice itu cerita anak, pikir saya ketika khatam membaca. Lalu soal film? Hem. . .namanya juga adaptasi, boleh dong. Lagipula, film itu bukan untuk bocah ya? Sekarang, saya tambah penasaran dengan filmnya. Pengen membandingkan: seneng aja mengamati untuk diri sendiri detil film dengan novelnya.

foto dari : http://id.penerbitatria.com

Menelusuri Sejarah Riau Lewat Igauan

Kalau teman-teman main ke perpustakaan atau toko buku—tapi kayaknya di toko buku sudah jarang ditemukan—dan melihat buku berjudul Hempasan Gelombang ini, ambil dan ejalah lembar demi lembarbya. Buku ini akan mengajak teman-teman berpetualang ke tanah Riau. Saya mengikuti jejak kakak saya yang sudah terlebih dahulu membacanya. Waktu itu, perpustakaan kecamatan tempat buku itu ditemukan masih baru, jadi kami lumayan rajin ke perpus dan membawa pulang nggak cuma 1 atau 2 buku. Kakak saya bilang, ceritanya aneh, nyritake wong nglindur. Perkataan itu justru memancing rasa ingin tahu saya, jadi saya memintannya untuk tidak mengembalikan buku itu dulu.

Roman karya Taufik Ikram Jamil ini merupakan peraih juara harapan dua dalam seyembara penulisan roman Indonesia Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998. Harian Repulika kemudian memuatnya secara berasambung dari 16 Februari s.d 25 April 1999.

Ada dua cerira yang pada intinya sama yaitu perebutan tanah oleh penguasa. Cerita pertama mengenau perebutan tanah rakyat (perkebunan) oleh pemerintah untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit. Cerita yang kedua mengenai sejarah Riau yaitu penguasaan beberapa daerah di Sumatera oleh Belanda setelah Traktat London. Sejarah Riau itu dinarasikan lewat cerita dalam tidur (igauan) beberapa tokoh. Tokoh yang paling banyak menceritakan sejarah itu adalah anak dari seorang wartawan yang menjadi tokoh utama.

Sang wartawan dalam cerita itu sedang menghadapi kasus perebutan tanah rakyat di desa keluarga Kahar. Tentu saja apa yang dilakukannya membawa masalah. Keluarga Kahar yang sangat kukuh mempertahankan tanahnya dipaksa oleh penguasa dengan berbagai cara, yang paling sadis dianggap PKI yang menghambat pembangunan (pemberontak). Sebelumnya keluarga itu disuap dengan uang dan uangitu sampai pula di tangan sang wartawan namun ia tentu saja menolaknya mentah-mentah.

Karena tulisan-tulisannya, sang wartawan menjadi sasaran pembunuhan yang dilakukan oleh 5 orang suruhan saat dia berkunjung ke desa Kahar. Usaha tersebut diketahui oleh Kadir, tukang ojeg langganan sang wartawan yang selalu mengantarnya kemanapun ia pergi. Kadir didatangi oleh orang tua yang mengaku bernama Wustan Wal Qubra. Orang tua berjubah dan bersorban yang memiliki tahi lalat timbul dan berbulu menjuntai di dagunya itulah yang menyuruh Kadir mengamankan sang wartawan.

Yang menarik, orang tua tersebut adalah orang tua yang sering dilihat Sultan seperti yang diceritakan dalam tidur anak sang wartawan. Dalam kehidupan nyata, orang tua itu juga berkali0kali melintas di depan rumah wartawan. Anehnya lagi, Wustan Wal Qubra adalah nama kitab yang hilang dari almari perpustakaan dalam cerita sejarah Riau.

Saya tidak bias bercerita tentang sejarah Riau sebab begitu banyak nama disebut dan saya tidak punya cukup wawasan tentang Riau yang mendukung pembacaan sejarah Riau seperti diceritakan tokoh-tokoh saat tidur. Dalam buku ini, sejarah Riau diakhiri dengan penguasaan Belanda atas riau sepenuhnya. Keluarga Sultan harus meninggalkan Riau ke Singapura diantar oleh Kria.

Bagian cerita yang membuat terhenyak adalah cerita Kadir kepada wartawan tentang igauan anaknya. Ternyata Kria adalah leluhur wartawan. Kemudian Wustan Wal Qubra dating lagi kepada Kadir dan memberitahu bahwa sebagai kitab yang belum selesai dibuat, ia harus diselesaikan. Menurutnya, orang yang harus menyelesaikannya adalah wartawan itu.

Penyelesaian penulisan Wustan Wal Qubra merupakan amanah. Dalam sejarah Riau, Sultan berkali-kali melihat Wustan Wal Qubra. Sultanlah yang memilki amanah untuk mengembalikan hak rakyat Riau dari penjajah. Sultan punya amanah untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di Riau (Wustan Wal Qubra hilang sama dengan hilangnya hak-hak rakyat, seperti juga hilangnya tanah-tanah perkebunan karena penguasa. Wartawan juga punya amanah lewat tulisan-tulisannya untuk membela dan menyuarakan aspirasi para pemilik tanah-tanah perkebunan itu.

Roman ini menarik baik dari segi cerita maupun alurnya: bertumpang tindih antara dunia nyata dan dunia yang dinarasikan dalam tidur. Jangan bayangkan roman ini njlimet, sama sekali tidak! Justru dari lembar ke lembar membuat penasaran.

Kesaksian Anak Bosnia Tentang Tragedi Sarajevo dalam Sebuah Buku Harian

Beruntung, ketika jalan-jalan di shoping center Yogyakarta ketika kuliah dulu, di los buku-buku bekas, saya tak sengaja menemukan buku ini. Murah meriah. Begitu selesai membaca, saya tertarik membaut catatannya. Tapi lagi-lagi, hanya tersimpan. Yup, sekarang lagi seneng ngumpulin catatan-catatan lama…  Ini dia catatan yang saya tulis di suatu hari yang tak tercatat tanggalnya.
*****

Perang mampu menghancurkan, membunuh, membakar, memisahkan, dan membawa kemalangan, terlebih bagi anak-anak dan wanita. Bagaimana kekejaman perang, dapat dilukiskan oleh seorang anak Sarajevo bernama Zlata Filipovic dalam Buku Harian Zlata-Jeritan Seorang Anak Bosnia.
Zlata Filipovic dilahirkan pada tanggal 03 Desember 1980 di Sarajevo. Anak tunggal itu memiliki orang tua yang keduanya asli Sarajevo dan beragama Islam. Walaupun demikian, dlam silsilah keluarganya ada pula nenek moyannya yang berdarah Kroasia dan Serbia. Zlata sendiri kurang senang menyebut apa nama kebangsaaannya. Ia membenci perbedaan-perbedaan yang ternyata menjadi pemicu pecahnya perang.
Buku ini memuat catatan harian tertanggal 10 September 1991 hingga tanggal 19 Oktober 1993, saat perang berkecamuk di Bosnia. Sebelum perang melanda Sarajevo, tempat tinggal Zlata, ia bis menikmati kehidupan masa kecilnya dengan bahagia, bersekolah, mengikuti kegiata, bermain music, menonton pertunjukan music dan video klip MTV dan juga memliki impian khas anak kecil seperti berkeinginan memilki tanda tangan Michael Jackson. Zlata menghabiskan waktunya dengan normal.
Tanggal 5 Maret 1992, Sarajevo, seperti ditulis Zlata, berada di ambang waktu menetas. Zlata mendengar bahwa tanggal 2 Maret 1992 malam tchetniks (Nasionalis Serbia) telah tiba di Pale dan bersiap menyerbu Sarajevo dengan Bascarsija sebagai sasaran utama. Belum ada pertempuran di Sarajevo. Tidak demikian dengan daerah lain yang terletak di Bosnia-Herzegovina. Zlata menyaksikan kecamuk perang itu melalui pesawat TV. Mulai tanggal 09 April 1992, Zlata pelan-pelan kehilangan kehidupan anak-anaknya di sekolah. Tak ada satu sekolah pun yang berani membuka pintunya.
Kecamuk perang benar-benar dialami sendiri oleh Zlata dengan mortar-mortir menghujani daerah-daerah baru Sarajevo. Zlata menuliskannya mulai tanggal 12 April 1992. Penderitaaan akibat perang mulai dirasakannya. Ia kehilangan orang-orang yang dicintainya karena meninggalkan Sarajevo dan tertembak mati, kekurngan bahan makanan, aiar, listrik, dan gas. Tanpa itu, hisup pun berjalan seperti tanpa kehidupan. Perang telah merampas kebahagiaan yang dimilki Zlata. Di saat anak-anak keil lain menikmati bangku sekolah dengan penuh keriangan—saya waktu itu sedang seneng2-, Zlata harus melewatkan hari-harinya yang suram di tempat persembunyiannya di bawah tanah.
Zlata menunjukkan kepada dunia luar bagaimana perang menghancurkan segalanya. Bocah itu mengajak kita ikut mengalami kepedihan, ketegangan akibat serentetan mortar, bom yang dijatuhkan sebagai damppak tidnakan bodoh politik yang menghendaki pemisahan Serbia, Kroasia, dan Muslim. Tak ada yang menghendaki pemisaha itu. Dimana-mana pemisahan hanya rencana penguasa setempat atau elit-elit politik tanpa menanyakan pendapat penduduk. Orang-orang kecil selalu menajadi korban, tak terkecuali yang kita alami di Indonesia.
Kata-kata yang dirangkai bocah itu mampu membawa pembaca masuk ke dunianya. Kepeiawaiannya menulis didapat berkat kegemarannya membaca buku. Membaca dan meniulis adalah kegiatan paling ampuh untuk membunuh kegetiran hidup di bawah tanah. Salah satu buku yang dijadikan model bagi tulisannya adalah Catatan Harian Anne Frank. Beberapa wartawan, juru potret, juru kamera yang dating ke rumahnya untuk membuat film, membandingkannya dengan Anne. Perbandingan itu membuatnya takut nasibnya akan sama dengannya, tak sempat menikmati masa kebebasan. Anne Frank mati muda di kamp konsentrasi Jerman sast perang dunia II. Sebelum ditangkap, Anne menulis catatan hariannya di tempat persembunyian di rumahnya akibat perburuan warga Yahudi oleh Jerman di negeri Belanda.
Buku Harian Zlata menjadi alat perjuangan Zlata sebagai korban perang Sarajevo untuk menyadarkan setiap orang tentang drama yang terjadi di Bosnia. Buku ini menjadi dokumentasi sejaran mengenai sisi-sisi gelap kemanusiaan dalam perang. Beberapa foto Zlata dan keluarganya sebelum dan sesudah pecahnya konflik, lukisan di halaman tertentu, serta lagu “ Bosnia Berlaga Dalam Pilu” oleh Frank Jazic yang disalin oleh Zlata Filipovic melengkapi catatan-catatan yang ditulis oleh Zlata.

***foto hasil googling***