Pagi yang Putih

Buka pintu selepas subuh tadi,emak berseru, “udan awu!’

Saya ikutan menengok ke luar. Tanah putih tertutup abu. Jalanan di depan rumah apalagi. Sekitar rumah nampak suram, kelabu. Sebelum subuh, saya sempat buka internet, di beranda FB sudah ada yang memasang status soal Kelud. Gunung Kelud yang  terletak di tiga Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur (7º 56’ 00” LS, 112º 18’ 30” BT) dengan ketinggian puncak 1.731 meter di atas permukaan laut meletus pada Kamis (13/2)  pukul 22:49.
Seketika, dalam hati saya merapal istighfar dan doa untuk  mereka yang sedang berada dalam ujian: letusan Kelud, Sinabung, dan bencana lain di Indonesia. 

Meski begitu, kami tetap beraktivitas seperti biasa, berangkat kerja dengan tergesa. Tak terpikir di kepala untuk membawa masker dan payung. Tak menyangka, sampai di jalan raya, mendekati terminal, jarang pandang terbatas oleh abu. Jalanan memutih. Dasyat sekali dampak letusan Kelud terasa sampai desa Grabag, Kab. Magelang.

Gambar

Gambar

Gambar

Mata terasa pedih oleh abu yang berhamburan. Udara terasa berat untuk di hela.

Belum sampai ke sekolah, sms dari kepala sekolah masuk. Intruksi darurat, sekolah diliburkan. Bergegas saya berlari-lari kecil menuju pintu masuk sekolah, sambil tangan tak lepas mengetik hp, wali murid yang terlanjur ke sekolah harus segera diberitahu. Beberapa anak sudah datang dan segera pulang. Jadilah pagi tadi hujan-hujanan abu di depan sekolah, menyambut dan memberi tahu setiap wali murid yang mengantar putra-putrinya ke sekolah. Alhamdulillah hujan abu pagi tadi sempat diselingi hujan air, jadi tebalnya abu sedikit tersiram.