#2018GantiLaptopASUS, ASUS Vivobook Flip TP410 Pilihan Terbaik

“Semoga kamu baik-baik saja,”ujar saya sembari melipat si hitam sahabat saya, ASUS eee pc 1015p Netbook 10 inci ini. Selama lima pekan mengikuti PPGdJ (Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan) di Universitas Bangun Nusantara Veteran Sukoharjo, si hitam ini adalah keluarga yang saya bawa. Saya meminta kepada Allah agar dimudahkan, si hitam sehat.

Mengapa saya berdoa seperti itu, apakah karena saya khawatir netbook saya ngadat ketika diajak bekerja? Bukan karena itu, tapi justru sahabat saya itu sudah sekian lama menemani saya. Februari 2011  saya membeli. Suka duka bersamanya. Beragam perkerjaan  dirampungkan bersama si hitam ASUS. Sebagai bendahara BOS, laporan-laporan BOS sekolah rampung berkat bantuan ASUS. Perjalalan belajar menulis saya dari multiply hingga wordpress sekarang ini semua terekam jejaknya oleh si ASUS. Beberapa antalogi dan  lomba blog yang saya menangkan, si hitam ASUS jugalah yang menemani.

Tujuh  tahun lebih bersama, saya bangga memamakainya. Saat teman kerja sudah dua kali ganti netbook, di tengah keluhan teman-teman karena keybordnya begini begitu sehingga harus ganti, atau karena ngadat, sahabat ASUS tetap bandel. Bahkan peristiwa yang saya anggap besar adalah meluncurnya si ASUS dari meja ketinggian 1 meter  di tahun  2014. Pyaarr…. baterainya lepas dan hampir patah jadi dua. Pojok monitornya sedikit cuil. Hampir menangis saya mendapati netbook saya. Saya mengira, riwayatnya habis malam itu ketika tersenggol tangan dan meluncur. Saya ingat data-data saya, laporan BOS yang hanya saya simpan di sana, cerita-cerita dan foto-foto perjalanan. Byak… setelah dihidupkan ia baik-baik saya.


img-20180130-wa0025_15173228453561.jpg

meskipun sedikit cuil di pojok (terlihat ‘kan sedikit berongga?) tetap bandel dipakai 

Peristiwa kedua adalah ketika saya sibuk dengan pembelajaran daring sepekan sebelum saya berangkat PPGdJ bulan lalu. Mengira bahwa  charger sudah saya cabut dari netbook, saya tarik kabel untuk digulung. Byar, lagi-lagi si ASUS jatuh karena  tertarik. Kabelnya masih menancang pada netbook. Degh, saya teringat nasib pembelajaran jarak jauh saya yang hampir berakhir dan dilanjutkan kuliah tatap muka dengan si ASUS sebagai senjata utama. Alhamdulillah, saya makin bangga. Si ASUS  sudah teruji bandel dan kualitasnya. Pembelajaran saya tetap lanjut dan hari ini saya mengikuti lomba ini di sela-sela kuliah PPGdJ masih dengan si ASUS eee pc 1015p Netbook 10 inci ini.

a ppdgj

suasana kelas PPGdJ. Teman-teman di belakang juga pakai laptop ASUS

Fokus pembelajaran zaman sekarang, kurikulum 2013, adalah pembelajaran abad 21 dengan literasi digital sebagai topik utama. Dalam perkuliahan, saya membuat perangkat-perangkat pembelajaran dengan metode pembelajaran yang akan saya terapkan di kelas nanti. Pembelajaran dengan multimedia, dengan internet sebagai sumber belajar, dengan video pembelajaran adalah salah satu media,  laptop  alat utama yang  digunakan. Itu sebabnya peran pendukung netbook atau laptop sangat urgent. Lebih-lebih, dalam ujian kinerja saya nanti, diharuskan rekaman pembelajaran yang harus diunggah setiap pekan. Dosen sudah memberikan program Camtasia untuk mengedit video sesuai syarat yang diminta RISTEKDIKTI. Netbook saya yang sarat muatan masih sanggup menampung program itu. Namun bagaimana kedepannya?

Tantangan zaman dan pembelajaran abad 21 yang akan saya hadapi tentu membutuhkan laptop dengan performa prima. Belum lagi dosen muda lulusan teknologi pendidikan yang masuk dengan materi media pembelajaran berbasis IT kemarin sudah mengiming-imingi pembuatan media pembelajaran interaktif yang akan menarik siswa. Tidak  hanya video pembelajaran, namun beragam inovasi media berbasis IT seperti permainan edukatif dan lain sebagainya. Tentu konten seperti itu harus dibuat dengan laptop mumpuni.

Jangan bayangkan guru zaman sekarang seperti guru zaman dulu yang hanya berdiri di depan kelas berceramah. Tidak. Guru sekarang dituntut merencakan pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan membuat siswa kreatif, inovatif,  dan berpikir kritis.  Kurikulum 13 adalah kurikulum berbasis pembelajaran abad 21. Mengkikuti perkembangan teknologi saat ini adalah keniscayaan.  Saya harus presentasi di depan siswa, siswa pun harus berlatih presentasi dengan alat canggih sesuai kebutuhan zaman.

abad21b

pinjam gambar dari sini

Sudah saatnya saya berganti lapotop. Itu harapan utama saya. Berdoa ketika ada rejeki ( atau menang lomba ini :D)  laptop baru adalah kebutuhan. #2018ganti LaptopASUS.  Untuk pilihan laptop, tentu ASUS adalah pihan pertama dan terakhir. Harus ASUS yang sudah terbukti kualitasnya selama hampir 8 tahun menemani saya. Kalau teman-teman bilang, sudah saatnya saya ganti laptop. Untuk itu, saya ingin laptop ASUS Vivobook Flip TP410. Mengapa yang ini?

  1. Tipis dan ringan. Bobot 1,6 kg dengan layar 14 inci tentu cocok dengan saya yang seorang angkoter. Berangkat pergi kerja selama 20 menit menempuh perjalanan naik angkot, kadang naik turun berganti angkot. Ketebalan yang hanya 1,92 cm tentu sangat tipis dan tidak memakan ransel yang seperti kantong doraemon karena semua barang masuk. Maklum sebagai guru banyak bawaannya. Kelebihan itu juga menguntungkan saya ketika diajak beragam pelatihan dan bimtek seperti saat ini.Asus 2
  2. NanoEdge Display. Dengan layar yang maksimal dan body yang minimal tentu bisa memaksimalkan kinerja dan membuat segala konten akan terlihat maksimal di layar.
  3. Fingerprint sensor. Saya pernah melihat seorang teman di pelatihan yang begitu sigap dan cepat membuat perangkat karena ada vitur ini dalam laptopnya. Ini memang kebutuhan saya. Tinggal set-set sentuh layar apa yang saya cari akan cepat terakses. Laptop yang sudah sign in ke Windows 10 ini tentu akan juga akan meningkatkan keamanan. Kita tahu, bahwa anak-anak SD, terutama siswa saya, adalah siswa yang superaktif dan tipe kinestetik. Dengan rasa ingin tahunya yang tinggi dan tangannya ingin menyentuh apa yang mereka lihat tidak akan membuat saya khawatir laptop saya akan error 😀Asus
  4. Empat  mode yaitu media stand, powerful laptop, responsible tablet, dan share viewer akan menguntungkan bagi saya dalam menggunakan ini dalam segala situasi. Di kelas saat presentasi maupun di rumah untuk sekedar membaca-baca dengan tampilan tablet semua didukung oleh ASUS Vivobook Flip TP4104-mode-tampilan-vivobook-flip-tp410

 

Nah, berbagai kelebihan itu semakin membuat saya mengincar ASUS Vivobook Flip TP410 untuk #2018gantiLaptopASUS. Semoga menjadi rejeki saya sehingga kinerja saya sebagai guru semakin maksimal dengan dukungan laptop mumpuni.

vivobook-flip-TP410-blog-competition

Tulisan ini diikutkan dalam ASUS Laptop Blog Comptetition By www.uniekkaswarganti.com

Dari Novel FLP hingga Skripsi

Aku dan FLP, tema lomba itu begitu mengusik saya. Bagaimana tidak, saya pernah begitu dekat dengan buku FLP di masa akhir kuliah saya. Saya harus mengikuti lomba ini, tekad saya walaupun kemudian saya tidak serta merta menulis. Tema lomba ini kemudian membuat saya membuka lembar-demi lembar perjuangan studi saya selama 4 tahunan. Beruntung saya memiliki buku harian yang menyimpan kisah keseharian. Lebih-lebih masa kuliah adalah masa yang tidak pernah alpa saya catat.

Membuka lembar-demi  lembar buku tulis yang saya pakai sebagai diari membuat saya kembali ke masa-masa penuh perjuangan 10 tahun silam.  Masa-masa gelisah menjelang akhir studi. Gelisah ketika waktu untuk menulis tugas akhir tiba. Ada perbenturan antara idealisme diri ketika menentukan objek penelitian, keinginan segera menuntaskan studi, dan tentu saja perbedaan pendapat dengan dosen pembimbing.

8 Januari 2006

Saya menganggapnya sebagai mimpi buruk. Ketika menghadap ketua jurusan, saya belum siap dengan nama dosen yang akan saya pilih sebagai pembimbing. Saya ikut-ikutan dua teman yang siap karena saat itu ingin segera cepat selesai urusan. Gugup tentu saja, kaget ketika pertanyaan itu dilontarkan, siapa dosen yang dipilih? Saat itu benar-benar blank! Kepepet, mulut saya tanpa komando menyebut nama pak Faruk sebagai dosen pembimbing.  Bukan rahasia kalau Dr. Faruk H.T saat itu sedang tertarik dengan novel-novel FLP. Barangkali beliau sedang meneliti fenomena novel FLP kala itu. Otomatis saya akan diminta memakai novel FLP.

Ada rasa kecewa dalam hati. Mulanya, saya ingin memakai novel favorit saya  dengan analisis strukturalisme genetik. Kata beliau, teori itu bakalan lama. Cari yang cepat selesai.  Strukturalisme saja belum becus kok mau pakai strukturalisme genetik.  Saya tak bisa mempertahankan idealisme sebab saya ingin cepat selesai kuliah.

Rasa sesal menghantui, mengapa saya tidak memilih dosen lain sehingga berkesempatan memakai novel favorit yang selama ini saya gadang-gadang, novel yang sudah saya pakai dalam mata kuliah seminar.

Mengesampingkan rasa sesal, maka saya mulai mencari-cari novel FLP yang sesuai dengan keinginan.   Saya begitu menyukai novel dengan lokalitas, maka novel semacam itu yang harus saya jadikan objek. Maka mulailah saya diskusi, tanya sana sini novel apa yang kira-kira masuk pilihan saya.

Seorang adik kelas merekomendasikan novel Setitik Kabut Selaksa Cinta dengan latar budaya Jawa. Sorenya saya mencari novel itu di toko buku. Belum selesai membaca novel itu, lagi-lagi rasa sesal  mengusik. Mengapa harus novel ini, bukan novel favoritku?  Novel Setitik Kabut Selaksa Cinta belum sesuai dengan horizon harapan saya dari sisi lokalitas.

Rasa sesal kian bertambah. Pertanyaan mengapa dan mengapa terus mengusik.  Kadang rasa frustasi pada keadaan membuat seseorang menggugat. Sampai pada satu titik saya menepis segala pertanyaan itu dengan jawaban bahwa itu adalah yang terbaik bagi Allah. Saya pun menulis perenungan itu di buku harian,

Aku tahu ini yang terbaik bagiku. Aku tahu dan merasa pasti ada hikmah di balik ini semua. Allah lah yang menggerakkan aku untuk memilih Pak Faruk sebagai pembimbing. Semua sudah ditetapkan-Nya. Aku berusaha bersabar dan ikhlas walau sulit.

Inilah jalan yang ditunjukkan Allah. FLP adalah forum dakwah yang diridhoi Allah. Dengan menganalisis novel FLP, aku bisa sedikit berdakwah. Inilah ladang dakwahku.  Allah telah  memberiku jalan di mana aku dapat mengabdikan diriku di jalan-Nya. Inilah kesempatan yang diberikan-Nya. Dengan menggarap skripsi novel Islami, aku bisa mengangkat karya-karya itu, bisa memperkenalkan kepada kaum akademia yang belum kenal karya-karya itu.

Pemikiran itu kian bertambah kuat saat aku membaca bagian novel Setitik Kabut Selaksa Cinta: tentang cinta, melakukan sesuatu dengan sepenuh cinta karena-Nya. Kemudian aku menengok ke dalam diriku hatiku sendiri. Bukankah selama ini aku ingin melakukan sesuatu dengan dasar cinta kepada Allah? Kenapa tidak kali ini?

Proses pencarian novel yang pas di hati terus berlanjut. Diskusi dengan kakak kelas, saya diberi gambaran tentang novel  Asma Nadia, Derai Sunyi. Maka mulailah saya membeli dan membaca novel itu. Lagi-lagi belum berjodoh :D. Novel itu terlalu dramatis dan bahkan jauh dari ‘kriteria’ saya.

20160923_1455171

Hingga suatu hari di perpustakaan, bertemu dengan adik kelas yang cukup dekat, saya ungkapkan segala keluh kesah saya.  Rupanya ia memahami apa yang saya cari. Ia bercerita tentang novel Putri Kejawen karya Novia Syahidah yang dimuat bersambung di Annida. Inilah yang saya cari!

Pulang kuliah, ada yang menggerakkan kaki untuk melihat novel-novel yang disewakan di Masjid Kampus. Saya melihat novel itu, novel karya Novia Syahidah. Bukan Putri Kejawen yang saya temukan, namun novel berjudul Di Selubung Malam. Melihat blurb-nya, saya jatuh hati. Warna lokal dengan permasalahan kasta, adalah hal yang sebelumnya menarik perhatian saya pada kuliah seminar. Saya putuskan meminjam novel itu. Beberapa hari berikutnya, novel itu saya dapatkan di Toga Mas. Betapa beruntungnya!

Pencarian belum selesai rupanya. Masih ada pergulatan dalam hati, sudah mantabkah saya dengan pilihan saya? Apa pertimbangannya? Mulailah saya mencari dan membaca berbagai referensi yang pada akhirnya menguatkan pilihan saya.

Mengapa Novel Di Selubung Malam?

Sebelum 1990an, karya sastra Islam di kenal lewat karya-karya Hamzah Fansuri, Hamka, Djamil Suherman, Atau Taufik Ismail. Setelah 1990-an, sastra Islam muncul lewat nama Helvy Tiana Rosa. Sastra ini kemudian dikenal dengan nama sastra Islam kontemporer. Majalah Annida disebut sebagai akar tumbuhnya sastra Islam kontemporer.  Tahun 1997 terbit sebuah buku berjudul Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa.  Helvy Tiana Rosa disebut sebagai pelopor sastra Islam dan keberadaannya bersama sastra Islam mulai dikenal luas sejak cerpennya, “Jaring-Jaring Merah” terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Horison. Kemunculannya dengan sastra Islam segera diikuti oleh penulis-penulis muda lainnya, terutama yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena. Dari sekitar 5000 anggota FLP ketika saya menulis skripsi, hampir 70%  anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 500 di antaranya menulis secara aktif di media. (www.forumlingkarpena.org)

Helvy Tiana Rosa sebagai pelopor karya sastra Islam kontemporer membedakan genre sastra ini dengan genre yang lain dengan ciri-ciri sebagai berikut, sastra Islam tidak melalaikan pembacanya dari dzikkrullah. Pembaca akan diingatkan pada ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah-Nya. Kedua, sastra Islam tidak akan pernah mendeskripsikan hubungan badani antarinsan, lain jenis, kemolekan tubuh perempuan atau betapa ‘indahnya’ kemaksiatan vulgar dengan mengatasnamakan seni atau aliran sastra apapun. Sebuah karya tidak bisa dikatakan Islami hanya karena mengambil latar pesantren, mengetengahkan tokoh-tokoh ulama, dan menampilkan ritual-ritual keagamaan. Pengarang, kehidupan, Islam, dan karyanya menjelma dalam satu kesatuan.[i]

Sementara Sunarwoto Progo Laksono mengajukan beberapa opsi tentang karya sastra Islam. Pertama, sastra Islam adalah karya sastra yang menampilkan persoalan (tema) dan latar dunia Islam, tidak hanya dalam konteks Indonesia, melainkan dunia secara universal. Kedua, sastra Islam adalah sastra yang menampilkan tokoh-tokoh Islam. Para tokoh utamanya adalah orang-orang Islam yang berjuang atau memperjuangkan keislamannya. Ketiga, para penulisnya adalah orang-orang Islam yang berjuang demi Islam.[ii]

Para penulis sastra Islam memiliki organisasi kepenulisan yang menaunginya, ialah Forum Lingkar Pena. FLP merupakan sebuah komunitas kebudayaan yang merepresentasikan identitas kultural keislaman sehingga wacana keislaman menjadi garapan pertama organisasi ini. FLP yang lahir pada 22 Februari 1997 dengan pioneer utama Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Muthmainah, kehadirannya sangat fenomenal. Organisasi yang telah memiliki cabang hampir tiga puluh propinsi dan di manca negara,  selama hampir delapan tahun pertama  telah menerbitkan lebih dari empat ratus buku yang sebagian besar terdiri dari karya sastra serius, fiksi remaja, dan cerita anak.  (www.forumlingkarpena.org)

Koran Republika dalam www.helvytianarosa.com menulis FLP membawa fenomena baru dalam penulisan sastra religius kontemporer di Indonesia. Karya-karya FLP telah mendapat perhatian dan penghargaan dari peminat sastra.

Salah satu pengerang perempuan FLP yang karyanya dianalisis dalam skirpsi saya adalah Novia Syahidah. Sesuai dengan visi keislaman dari organisasi yang menaunginya, karya-karya Novia Syahidah pun sarat dengan nilai-nilai keislaman dan nilai dakwah. Pengarang yang lahir di Payakumbuh, 7 Desember 1973, ini mulai menekuni penulisan fiksi sejak 2002. Karya pertamanya Putri Kejawen (Pustaka Annida, 2003) ,merupakan novel dengan latar budaya Jawa yang sebelumnya dimuat dalam majalah Annida sebagai cerita bersambung. Novel selanjutnya, adalah Titip Rindu Buat Ibu (Dar Mizan,2003) dengan latar Minangkabau tahun 1927, Mengemas Rindu (Lingkar Pena Publishing House, 2003), dan Bayangan Lenggini (Syaamil, 2005).

Selain dalam novel, keterkaitan Novia pada “lokalitas”, tema etnis,dan budaya diungkapkannya dalam buku antologi cerpen berjudul Gadis Lembah Tsang Po (Asy Syaamil, 2003). Buku tersebut memuat Sembilan cerpen dengan latar tempat dan budaya yang beragam, seperti NTB, Lampung, Thailang, Somalia, Vietnam, dan Tibet. Cerpen pertama Novia Syahidah termuat dalam buku Dari Negeri Asing (Asy Syaamil, 2002). Dalam buku tersebut, cerpennya yang berjudul “Pasangka Ki Rajang” dengan latar Bulu Kumba abad 20 menjadi nominator  katageri sastra dalam Lomba Cipta Cerpen Islami FLP tingkat nasional. Selain buku tersebut, buku yang memuat kumpulan cerpennya adalah Berlalu Dalam Sunyi (Zikrul Hakim, 2004). Cerpen-cerpennya yang lain terkumpul dalam beberapa buku antologi cerpen, antara lain: Bulan Kertas, FBA Press, 2002), Mengetuk Cintamu (Senayan Abadi, 2003), From Batavia With Love (Asy Syaamil, 2003), Surat Untuk Abang (Senayan Abadi), 20 Tahun Cinta (Senayan Abadi, 2003) yang ditulis bersama 15 cerpenis muslim seperti Asma Nadia, Ahmadun Yosi Herfanda, Gola Gong, Yus R Ismail, Isabedy Setiawan ZS, Irwan Kelana, dan lain-lain , PEri Surat Cinta (Lingkar Pena Publishing, 2005). Buku Sebuah Janji untuk Istriku (Lingkar Pena Publishing House, 2005) berisi dua novelet yang masing-masing ditulis Novia dan suaminya, Arul Khan. Selain itu, antologi penulis yang juga memuat karyanya adalah How To Get Married (Mizan, 2005)

Novel Di Selubung Malam merupakan novel dengan muatan budaya suku Sasak di Lombok. Selama ini, Indonesia memiliki beberapa penulis yang mewakili kawasan Timur Indonesia, seperti Riyanto Rabbah, Imtihar Taufan, Kongso Sukoco, Reko Wardono, Putu Arya Tirthawirya, N. Marewo, Maria Matilda Banda, Gerson Poyk. Novia Syahidah ikut menyemarakkan dunia fiksi yang mewakili dunia timur, namun ia menulis novelnya dengan perspektif “orang luar” dalam memandang persoalan daerah lain yang jauh di luar jangkauan keakrabannya. Ia mengangkat persoalan system kelas pada tingkatan-tingkatan gelar kebangsawanan Lombok dan permasalahan-permasalahan yang kemudian menyertainya.

Kemampuan Novia dalam mengangkat persoalan itu ke dalam novel dihargai juri yang antara lain terdiri dari Taufiq Ismail, Gola Gong, Pipit Senja, dan Koesmarwanti sebagai Novel Remaja Terpuji Anugrah FLP tahun 2005 setelah pengarangnya terpilih sebagai Pengarang Pemula Terbaik FLP 2003. meskipun  novel tersebut mendapat penghargaan dengan kategori novel remaja, namun Joni Ariadinata dalam pengantar novel Di Selubung Malam mengemukakan bahwa Novia Syahidah telah berproses keluar dari gaya kepenulisan popular menuju kea rah mutu tulisan yang lebih berbobot sastra. Dalam novel-novel yang ia tulis, Novia tidak hanya mementingkan kemasan dengan komunikasi yang lancer/ringan sebagaimana karakteristik  karya-karya popular pada umumnya, tetapi juga mulai berpikir tentang isi sebagai prasyarat bagi sebuah kategori karya sastra yang bermutu.

Isi sebagai prasyarat sebuah karya sastra yang membedakannya dengan novel popular menurut Stanton (1965:8) adalah karya fiksi dapat membuat pembaca menukmati waktu luangnya, membayangkan tempat-tempat asing yang penuh petualangan, berbagi rasa dengan tokoh-tokohnya, membuat pembaca mengerti problem moral dan etika, menikmati ketrampilan pengarang, dan belajar memahami falsafah hidup yang berbeda dengan yang telah dijalaninya. Berbeda dengan karya sastra, karya fiksi popular hanya menawarkan tiga hal yang pertama dikemukakan Stanton tentang isi sebagai prasyarat sebuah karya sastra. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Joni Ariadinata maka novel karya Novia Syahidah menawarkan tiga pengalaman yang menurut Stanton tidak didapatkan dari novel popular. Sesuai dengan misi organisasi yang menaunginya, Novia menawarkan sebuah nilai agama (dakwah)sebagai isi melalui unsur-unsur dalam novelnya. Selain itu Joni mengemukakan bahwa Novia mengalami proses penulisan menuju karakteristik tulisan sastra sehingga ia telah berproses dalam menyampaikan dakwahnya lewat novel bukan menjadikan novelnya sebagai dakwah yang menggurui pembacanya.  Hal ini yang menjadi pertimbangan pertama mengambil novel Di Selubung Malam sebagai objek penelitian skripsi.

Kedua, selama ini belum ada penelitian yang mendalam tentang novel Di Selubung Malam. Dua tulisan yang dijumpai penulis waktu itu adalah tulisan berupa resensi oleh Rahmadiyanti yang dimuat dalam unofficial Site FLP dan ulasan berjudul “Dari Joni Ariadinata: Mutiara dari Timur” oleh Joni Ariadinata dalam novel DSM. Dalam resensinya, Rahmadiyanti mengulas latar novel dan menyinggung sedikit tentang nilai local dan konflik yang menarik dari novel itu sedangkan Joni Ariadinata mengulas warna lokal yang terkandung dalam noveld an alurnya. Menurut Joni, kekuatan  Novia dalam novel itu terletak pada kemampuannya dalam mengemas novel dengan gaya ringan, tidak terbelit-belit yang menunjukkan Novia menguasai teknik bercerita. Kerumitan-kerumitan konflik digarap penulis dengan teknik penggabungan alur mundur dan alur maju yang rapat. Ketegangan demi ketegangan dibina terus dari awal hingga akhir dengan lembut.

Untuk menganalisis novel DSM saya menggunakan teori yang diperkenalkan Robert Stanton dalam bukunya An Introduction to Fiction (1965). Teori ini dipergunakan untuk menganalisis fakta cerita, tema dan sarana sastra novel DSM. Stanton dalam bukunya mengemukakan bahwa untuk memahami pengalaman yang diceritakan, pembaca harus mengerti fakta cerita dan tema sebagai unsur-unsurnya, dan untuk melihat bagaimana unsur-unsur dapat mencapai maknanya maka dapat dianalisi melalui sarana sastranya.

 

Akhirnya…

20160923_1454001

Mantab menentukan pilihan novel itu, maka dimulailah perjuangan suka duka menulis hasil membaca dan menganalisis, menjalani proses bimbingan yang melelahkan dan penuh kejutan. Mendapati berbagai penemuan yang tak disangka sehingga membuat diskusi dengan dosen berjalan seru.  Belum lagi ‘mengejar’ dosen yang kadang menghilang untuk bimbingan. Segala rasa itu nano-nano dan berujung manis serta syukur.  Pada akhirnya saya merasa bangga dibimbing oleh dosen yang kini telah professor itu. Berada di ruang sidang dengan jawaban mantab atas pertanyaan-pertanyaan penguji yang tidak bertele-tele. Semuanya berakhir dengan hasil yang tak pernah saya duga. Nilai yang memuaskan dan pengalaman luar biasa, berporses bersama novel FLP.  Februari 2007, dengan jeda menjalani KKN Peduli Gempa, saya akhirnya wisuda dengan syukur yang membuncah.

 

 

Catatan Kaki

i. Helvy Tiana Rosa, “Sekali Lagi Tentang Sastra Islami”,Annida No. 1 Th. X 27 September 2003,hal. 37.

ii. Sunarwoto Progo Laksono, “Menandai Kebangkitan Fiksi Islami”, Republika, 23 April 2003, hal. 8

Ket: kutipan dari web FLP yang saya cantumkan sumbernya saya akses ketika FLP masih beralamat di alamat yang saya tulis 10 tahun silam ketika menulis skripsi

[Blog Competition] Mengumpulkan yang Terserak

Saya merindukan masa ketika bocah. Ketika menyambut lebaran dengan perasaan membuncah.  Setelah sebulan berpuasa, rasanya melambung ketika mendengar takbir  Hari Raya. Sekarang rasa yang muncul berbeda.   Semakin mendekati lebaran, rasa pilu merayapi. Rasa sedih menghantui. Ada rasa kehilangan terhadap bulan suci istimewa. Belum-belum sudah rindu Ramadhan lagi ketika bulan Syawal menjelang. Memang, sudut pandang terhadap Ramadhan dulu dan sekarang lain. ah, tapi sesedih apapun kita ditinggalkan Ramadhan, kita tetap harus mensyukuri datangnya Syawal. Mensyukuri usia yang diberikan Allah untuk  bertemu Syawal. Untuk memaknai moment lebaran dengan sebenar-benarnya.u

Hari Raya  Idul Fitri, sering kita maknai dengan salah. Sering kita dengar, dan kita mengikuti makna itu, bahwa Idul Fitri adalah kembali fitri, kembali suci. Saya kemudian mulai mencari makna sebenarnya.  Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I’ed. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama.  (sumber dari  sini)

Makna yang salah sering kita jumpai bahwa Idul Fitri diartikan kembali fitroh, kembali suci.  Yang terjadi, kita sering mengucapkan  mohon maaf lahir batin saja, kita meminta maaf karena anggapan di hari raya, kita akan kembali suci sehingga segala kesalahan sebaiknya kita bersihkan. Namun, tak jarang pula kita jumpai orang yang merayakan Idul Fitri dengan ucapan Taqobalallahu minna wa minkum.  Ini lah yang seharusnya kita pakai.

Pemaknaan itu sudah seharusnya kita perbaiki.  Ucapan yang seharusnya kita ucapkan hari raya seusai Ramadhan

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”

Inilah yang selayaknya kita tiru. Berdoa memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan bukan memastikan amal kita diterima. Ini pula yang saya terapkan ketika saya bersalaman bersilaturahmi dengan kerabat, tetangga, dan teman. Saya mulai dengan ucapan ini.

Untuk meminta maaf, seketika melakan kesalahan sebaiknya selalu dilakukan, tak perlu menunggu hari raya tiba. Namun, budaya silaturahmi,  saling meminta maaf ketika hari raya bukanlah budaya yang buruk menurut saya.  Justru  pada saat Idul fitri adalah moment yang tepat untuk bersilaturami karena biasanya sanak keluarga berkumpul merayakan Idul Fitri.  Kerabat yang jarang kita temui rela jauh-jauh datang untuk mudik. Di hari itu, kita tak hanya hanya bertemu bertatap muka namun bisa mengobrol mempererat tali silaturahmi.  Sebagaimana hadist Nabi:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Adapun manfaat silaturahmi menurut Nabi Muhammad antara lain faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi] (sumber dari sini )
Itu sebabnya moment lebaran kami benar-benar kami manfaatkan dengan bersilaturahmi. Kami utamakan mengunjungi kerabat-kerabat yang lebih tua. Tujuannya adalah untuk tetap menjaga persaudaraan, atau dalam bahasa Jawa disebut  agar tidak terjadi kepaten obor (obornya mati)            . Moment saya sebut sebagai mengumpulkan yang terserak.  Ya, dengan silatiurahmi saya akan bertemu kerabat handai taulan yang jauh, mendekatkan kembali hati yang sekian bulan jauh. Mengingat dan  mengingatkan kembali bahwa kita masih punya saudara. Kita masih punya keluarga. Kalau bukan kita yang mudah yang mendekat, bisa jadi hubungan kekerabatan itu akan terputus (kepaten obor) ketika pihak tua, saudara ayah ibu nenek kakek,  meninggal dunia. Tak ada lagi yang menerangkan kalau kita adalah kerabat dari ibu bapak nenek kakek mereka.

Yang paling menyenangkan dari kegiatan silaturahmi itu adalah traveling.  Traveling dalam rangka silaturahmi itu seru. Kita akan mengunjungi tempat-tempat atau kota yang mungkin hanya kita kunjungi setahun sekali. Dalam perjalanannya, akan ada hal menarik yang ditemui, termasuk kuliner yang bikin nagih.

Idul Fitri lalu, saya berkesempatan men gunjungi kerabat yang tinggal di gunung. Menarik bagi saya, tak hanya tempatnya yang berada di perengan gunung, tapi juga karena saya terakhir kali mengunjungi tempat itu dua puluhan tahun lalu. Tentu saja kedatangan kami menjadi kejutan bagi simbah kami. Kemudian saat blusukan ke dusun-dusun mengunjungki kakak sepupu kami menjumpai balon yang siap diterbangkan dalam rangka Syawal.

20160709_083820

 

Masih di hari yang sama dalam rangkaian silaturahmi saya menemukan potret budaya Indonesia. Wayang-wayang berjejer rapi siap dijual.

20160709_110541

 

Yang paling menarik adalah saat mengunjungi kerabat di Purworejo. Tak hanya menyaksikan bedug Pendowo, bedug terbesar di dunia yang terletak di Masjid Agung Purworejo, namun saya berkesempatan mencicipi kuliner khas Purworejo yang sekian lama membuat penasaran: dawet ireng. Dari Masjid Agung Purworejo mengitari alun-alun setengah putarana, akan dijumpai kantor pos. Di halaman kantor pos itu ada beberapa lapak kuliner yang ramai dikunjungi. Di lapak dawet ireng, hal unik saya temukan. Begitu ramainya, sampai-sampai untuk mendapatkan pelayanan kita harus mengambil nomer antrian. Waktu itu saya mendapatkan nomer 94. Bayangkan, sudah ada 93 rombongan atau perseorangan yang antri untuk mencicipi semangkuk kecil dawet ireng asli maupun campur. Rasanya memang segar dan nagih, pantaslah kalau lapak yang walaupun kecil itu menyediakan nomer antrian.

 

 

dawet ireng khas Purworejo

20160712_124455

IMG-20140810-00157

 

di depan bedug Pendowo

Lebaran dan Cerianya Masa Bocah

Salah satu episode lebaran adalah nostalgia masa kecil. Lewat putri kecil saya, saya diingatkan pada masa-masa ceria ketika bocah. Kembang api, adalah satu benda khas yang hanya kami nikmati saat lebaran. Benda langka bagi kami waktu itu. ketika Janitra, putri saya, menyalakan kembang api di suatu malam, kenangan masa kecil itu hadir di benak saya.

20160707_181608

 

Lebaran selalu menyisakan kisah-kisah seru dan ceria yang pasti kita rindukan. Apa moment lebaranmu?

Tulisan ini diikutkan dalam Diary Hijaber Blog Competition.

Oiya, ikutan juga event Diary Hijaber yaitu Hari Hijaber Nasional yang akan diselenggarakan:

waktu: 07—09 Agustus 2016

tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta

Mengenal Bedug Pendowo, Bedug Terbesar di Dunia

IMG_20140810_123838

“Ini bedug terbesar di dunia,” kata bapak kepada Janitra. Bapak kemudian membacakan deskripsi bedug  kepada Janitra.  Kesempatan belajar itu kami dapatkan pada lebaran 2 tahun silam, ketika Janitra berumur 2 tahun. Menyambung silaturahmi dengan keluarga di Purworejo, kami sempatkan mengunjungi  Masjid Agung Purworejo, Jawa Tengah.

Mengunjugi masjid bersejarah itu kami mendapatkan pengetahuan baru. Sebuah kebudayaan Islam yang harus diperkenalkan kepada anak cucu. Memperkenalkan deskripsi bedug, tentang panjang rata-rata 292 cm, garis tengah depan 192 cm, garis tengah belakang 182 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, jumlah paku depan 120 buah,  jumlah paku  belakang 98 buah, dan dibuat pada 1834 Masehi, barangkali  belum dimengerti  oleh Janitra. Paling tidak, ia mengenal apa itu bedug di dalam masjid. Bukankah, proses belajar itu dimulai dari buaian hingga liang lahat?

 

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog theordinarytrainer.com”

a LombaFotoTheordinarytrainer-300x144

Mengenal Tokoh Inspiratif di Maskam UGM

Me 390

Dalam sebuah obrolan via telepon dengan mbak kost  yang mengikuti tugas suami di Lampung beberapa tahun silam, saya seperti diingatkan kembali pada satu hal yang sudah menguap dari ingatan.Ia  bercerita tentang rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga muda. Memasak, kegiatan yang dahulu tak pernah dilakoninya di kost menjadi bagian dari rutinitasnya. Katanya, dia selalu terngiang cerita saya mengenai keluarga almarhumah ibu Yoyoh Yusroh. Dia ingin sekali meneladaninya. Ingatlah saya akan cerita itu.

Waktu itu saya baru saja mengikuti acara di Masjid Kampus UGM dengan salah satu pembicara Bu Yoyoh Yusroh.  Beliau bercerita  tentang keluarganya. Kisah paling berkesan buat saya adalah soal makanan sehari-hari. Keluarganya selalu dibiasakan untuk makan masakan di rumah, makanan yang  terjamin gizi dan kehalalannya.

Bu Yoyoh mengaku soal makanan menjadi salah satu kunci keberhasilan keluarga berkualitas.  Anak-anaknya berhasil dalam studi dan ada yang menjadi penghafal AlQuran. Beliau sangat menekankan satu hal itu dan meninggalkan kesan mendalam buat saya. Kesan inilah yang kemudian saya bagi  pada mbak kost. Rupanya ia juga sangat terkesan dengan cerita saya. Akunya, ia terus terngiang dan menjadikannya sebagai inspirasi untuk memulai membentuk keluarga berkualitas dari makanan.

Maskam UGM, dalam perjalanan studi saya  banyak menorehkan sejarah. Ia tak hanya menjadi tempat saya berlabuh  mengeluh kepada Allah, namun dari tempat itu saya mengenal tokoh-tokoh inspiratif.

 

Jumlah kata= 209

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid”

a lombamenulis

Saya Membaca Maka Saya Cantik

Cinta Bersemi kepada buku

Saya beruntung memiliki lingkungan yang mencintai buku sejak kecil. Umur saya belum genap 5 tahun saat keluarga sepupu saya mendirikan perpustakaan kecil yang disewakan kepada para tetangga dan teman-teman. Koleksinya tidak banyak namun antusiasme bocah-bocah di sekitar lumayan seingat saya. Rumahnya ramai oleh peminjam.

Ada satu  buku anak hitam putih kecil yang menceritakan tentang cita-cita yang selalu saya lihat-lihat.

“Pinjam di sini saja, tak usah dibawa pulang, Dek,” ujar saudara saya selalu ketika saya menginginkan buku itu.  Masih ingat betul, ada gambar dokter cilik yang mengesankan saya.

Tidak ada kenangan yang terekam tentang buku ketika saya masuk bangku sekolah dasar hingga di kelas 5 SD, ada siswa baru datang ke sekolah.  Perempuan cantik nan lembut itu putri seorang camat baru yang akan memerintah kecamatan tempat saya tinggal.  Saya tidak ingat bagaimana prosesnya saya bisa satu kelompok belajar dengannya.  Kerap bertandang ke rumahnya, saya jadi tahu ia memiliki koleksi buku-buku Trio Detektif, Lima Sekawan, STOP, dan detektif cilik yang lengkap. Beruntung  saya boleh meminjam buku-buku itu. Hampir seluruh buku Trio Detektif, Lima Sekawan, dan STOP saya pinjam secara bergiliran dengan teman. Dia hanya tidak membolehkan buku Detektif Cilik untuk dipinjam.

Begitu gandurngnya saya dengan persahabatan antara Jupiter c.s  saya sampai berkhayal memiliki buku yang sama. Sekarang, saya sering takjub. Di kelas 6 saya bisa memulai menulis. Ini cerita detektif pertama yang saya tulis, sederhana sekali. Dengan tulisan tangan, bahkan untuk format penulisannya pun saya mirip-miripkan dengan novel  :D. Sayangnya, produktifitas hanya berlangsung singkat.

my book5

Masa SMP, tidak banyak buku yang saya baca, sebab aksesnya begitu terbatas. Perpustakaan sekolah tidak banyak menyediakan buku cerita yang saya inginkan. Baru di SMU, gairah untuk membaca kembali meluap. Ada seseorang yang memperkenalkan dunia sastra kepada saya. Pak Widi, guru Bahasa Indonesia terbaik yang pernah saya miliki.

Guru itu terkenal eksentrik.  Sebelum saya masuk SMU tempat beliau mengajar, saya telah mengenalnya dari kakak  yang terlebih dahulu belajar di sana. Kecintaan beliau pada sastra ditularkannnya pada anak-anak didiknya. Pelajaran sastra di kelas tak berhenti pada tataran teori.  Beliaulah yang membuka lebar jendela pengetahuan sastra. Sastra itu memanusiakan manusia, ujarnya selalu, begitu lekat dalam ingatan. Kesadaran sebagai manusia bisa tumbuh dari membaca sebuah karya sastra. Tersurat atau tersirat, ada hikmah dan  pencerahan termaktub di dalamnya. Beliau selalu menyinggung karya-karya sastra master piece dari pengarang-pengarang yang dimiliki Indonesia: Belenggu karya Arjmin Pane, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Kemarau dan Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka, Atheis karya  Achdiat Kartamihardja, karya-karya Balai Pustaka yang lain, juga majalah sastra Horison yang sering dibawanya ke kelas. Sedikit yang diungkapnya menimbulkan rasa ingin tahu. Saya ingin menyelaminya sendiri, mendapatkan lebih dari yang diceritakan guru. Maka perpustakaan menjadi ruang yang asyik untuk diakrabi meskipun untuk ukuran perpustakaan sekolah, perpus sekolah waktu itu masih terbilang kecil. Ruang bukunya mungil memang, tapi saya tak bisa menafikan ruang yang selalu disebut pak Widi sebagai jantung sekolah. Setiap istirahat, tak hanya meminjam mengembalikan buku-buku sastra yang menjadi koleksi perpus, saya juga selalu menantikan cerita bersambung berjudul “Area-X” dari majalah Horison yang ditulis seorang siswi SMU Taruna Nusantara Magelang. Pada tanggal-tanggal majalah Horison terbit, begitu bel tanda istirahat berbunyi, saya selalu mengambur ke perpustakaan, takut majalah itu sudah jatuh ke tangan orang lain.

Pada Widi kerap menugaskan kepada kami untuk menganalisis karya, bahkan membuat resensinya. Tugas yang dulu bagi kami terasa berat itu namun seru untuk dijalani.

Duduk di kelas 3 SMU saya memiliki seorang teman kutu buku. Sebut saja D. Dari D inilah saya kadang mendapatkan buku-buku yang tidak tersedia di perpustakaan. Diskusi buku menjadi topik menarik di sela-sela pelajaran. D pula yang memperkenalkan saya pada sastrawan yang membuat saya kagum pada baris- baris kata yang diciptanya: Sapardi Djoko Damono.

Di SMU mimpi saya bermula, mimpi untuk menyelami buku. Mimpi untuk menjadi bagian dari sejarah, meninggalkan jejak hidup lewat tulisan. Buku memberikan motivasi bagi saya hingga ketika tiba peluang untuk menulis, beberapa kali saya mengikutinya. Meski berwujud karya keroyokan, nama saya nyantol di beberapa buku yang diterbitkan secara indie. Sebuah titik awal. Titik yang saya yakin akan terus bertambah menjadi sebuah garis.

beberapa antologi yang memuat karya saya.

Menularkan Virus

 Suatu malam, seorang teman, sebut saja A,  menelpon. Setelah ngobrol sana-sini, pada akhirnya ia mengaku, “ dulu sama sekali nggak suka baca. Pegang buku  5 menit pertama mencoba membaca, 5 menit berikutnya tidur.”

Sekarang? Sohib saya menceritakan teman tersebut, bersemangat, “say, aku lihat ia baca buku! Waaa… mas A baca buku?” sohib saya melihatnya seperti sebuah keajaiban. Ia juga pernah exited bercerita kepada saya, si A jalan-jalan ke toko buku lho, beli buku!

Tentu waktu itu saya tersenyum senang. Perkenalan saya dengan A  menjangkitkan virus baca. Ia yang mulanya begitu asing dengan buku mulai berkenalan dan jatuh cinta. Ia yang pada mulanya mengikuti ‘kajian-kajian’ Cak Nun secara live di Yogya, mulai mengeja kata-kata Cak Nun dalam buku. Ia mengenal saya sebagai penyuka baca. Ia mulai tertarik pada apa yang menarik hati saya. Lebih-lebih, sebagai pencinta dan orang fotografi, ia bisa memadukan foto dengan kata-kata. Saya bahagia bisa meninggalkan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Berharap, ia pun menularkan virus tersebut pada orang-orang yang dicintainya.

Suami saya adalah orang berikutnya yang terjangkit virus membaca. Beberapa hari setelah menikah, ia mulai melihat koleksi buku saya. Saya waktu itu mempromosikan Kitab Omong Kosong karya  Seno Gumira Ajidarma. Ia terpukau oleh paragraf-paragraf yang diracik SGA, tenggelam dalam rekontruksi Ramayana seperti terninabobokan oleh dongeng. Selesai membaca buku itu, dibawanya pulang ke rumah suami. Bapak tertarik.

Selesai buku SGA, lanjut buku berikutnya. Suami seperti menemukan sebuah dunia baru. Dunia yang dulu baru dikenalnya sambil lalu, kini begitu menenggelamkan. Saya mengajak jalan-jalan ke perpustakaan dan toko buku. Selalu ada buku yang dibawa pulang. Sejak saat itu, saya sering melihat bapak membaca buku. Suami memabaca buku. Bergilir buku baru atau buku yang baru dibawa dari perpustakaan. Rekor membaca yang dilakukan suami adalah saat saya hamil. Ia bisa membaca 1000an halaman e-book gara-gara tergila-gila pada cersil Bende Mataram.       Mulanya ia pinjam di perpustakaan, semakin penasaran,ia mencarinya dari internet.

Begitu Janitra lahir, tidak lama saya menularkan virus membaca pada anak saya. Belum usia enam bulan, saya sudah membacakan cerita untuknya. Ketika jarinya sudah bisa memegang, salah satu “mainan” yang saya berikan padanya adalah boardbook. Memberikan boardbook padanya saya tidak perlu khawatir buku itu akan robek atau rusak. Beberapa boardbook saya berikan dan Janitra senang.

Semakin bertambah usia, koleksi buku Janitra semakin bertambah,tidak hanya boardbook. Janitra saya perkenalkan dengan perpustakaan dan toko buku. Dia selalu bersemangat dan ceria bermain di dua tempat itu. Apalagi di perpustakaan Kota Magelang, memang ada ruangan khusus untuk anak, tempat anak-anak bisa membaca dan bermain.

Image010

Memperkenalkan perpustakaan sejak dini

IMG-20151017-00182

di toko buku sepulang kondangan, bapak asyik memilih buku, Janitra asyik selpi 😀

 

Dari keluarga, saya tularkan virus tersebut ke sekolah, khususnya di kelas saya. Di kelas 5 tahun lalu, saya mulai adakan program tantangan membaca seperti di Goodreads. Ide itu saya dapatkan setelah mengikuti acara seminar Satria Darma di Untid Magelang. Bapak Satria Darma adalah sosok yang rajin mengkampanyekan literasi dan  membaca dari daerah ke daerah di seluruh Indonesia. Pada saat seminar ia banyak bercerita tentang kota literasi Surabaya.

Sepulang dari mengikuti acara itu, saya segera membuat kartu tantangan baca. Dengan buku seadanya di kelas, juga pinjaman buku dari koleksi pribadi yang saya bawa ke sekolah setiap pekannya, alhamdulillah program tersebut berjalan. Hanya saja, saya harus merelakan buku koleksi pribadi saya hilang di kelas. Ini dia kartu-kartu baca dan daftar bacaan anak-anak.

Apa yang saya lakukan diikuti oleh suami. Kampanye baca mula-mula dicanangkan pada beberapa anak yang les di rumah. Buku-buku anak koleksi saya keluarkan untuk mereka pinjam. Kami juga ajak mereka di perpustakaan kota Magelang. Kebetulan ada event Festival buku di Magelang di gedung yang sama dengan perpustakaan. Hari itu jadi hari yang berkesan buat anak-anak. Kami menyebut sendiri anak-anak itu dengan club buku Janitra. Impian kami adalah membuat perpustakaan Janitra dan komunitas baca.

klub buku Janitra di Festival Buku Magelang

IMG-20151108-00206

klub buku Janitra, membaca sambil bermain di perpus kota

Tak cukup di rumah, suami juga mulai membuat tantangan baca di kelasnya. Berbekal kartu yang saya buat, suami mengkopi  kartu tersebut dan membagikannya kepada anak-anak. Agaknya, persaingan di kelasnya cukup ketat. Satu murid les yang kebetulan ada di kelasnya sampai dibuat keder dan sempat menurunkan mood membacanya :D. Untungnya, kini semangat anak-anak itu mulai kembali. Saya kerap mengecek buku peminjaman. Ada kepuasan tersendiri ketika anak-anak mulai menyukai karya-karya klasik yang bukunya pun sudah menguning.

IMG-20160129-00327

buku-buku untuk tantangan membaca klub buku Janitra

 

Di keluarga kami, koleksi buku kami semakin bertambah. Saya tidak lagi sendiri bermimpi.Mimpi saya untuk memiliki perpustakaan pribadi.  Ada suami, anak saya, dan mbah kakung Janitra yang diam-diam mendukung impian kami.

PhotoGrid_1414045845454

Surabaya Kota Literasi

Sayangnya, minat baca yang ada di lingkungan keluarga saya belum tentu terjadi juga di keluarga lain di Indonesia. Minat baca masyarakat  kita masih rendah hingga ada tragedi di Indonesia yang dikenal dengan tragedi 0 baca. Kampanye baca di Indonesia juga belum terbilang marak. Belum semua sekolah di Indonesia memperkenalkan buku kepada siswanya. Pelajaran Bahasa Indonesia yang idealnya bisa memperkenalkan literasi kepada siswa nyatanya belum sepenuhnya melakukan hal itu. Guru Bahasa Indonesia saya pernah menyampaikan, banyak sekolah yang meletakkan sastra dipojok, dipelajari baru dalam tataran menghafal.

Tragedi 0 baca di Indonesia mungkin tidak akan terjadi kalau kota-kota di Indonesia, bahkan pemerintah Indonesia menerapkan apa yang Bu Risma lakukan di Surabaya. Dalam acara yang saya hadiri di Untidar Magelang seperti yang saya ceritakan di atas, Bapak Satria Darma berbagi pengalaman dan inspirasi dari kota Surabaya. Kebetulan saya duduk di samping istri beliau, jadi sesekali saya bisa bertanya banyak kepada beliau. Gerakan yang dicanangkan di kota Surabaya adalah Gerakan Budaya Literasi.

Seluruh sekolah sudah ditaken kontrak  oleh walikota, Ibu Risma.  Seluruh kepala sekolah di Surabaya memang dikumpulkan untuk taken kontrak menjalankan program Gerakan Budaya Literasi. Untuk menjalankan program tersebut tidak butuh dana. Yang penting adalah kemauan dari sekolah dan kerja sama dengan wali murid, seperti yang dikatakan ibu Satria Darma. Yang pertama kali dilakukan adalah sosialisasi dari sekolah kepada wali murid.   Menurut beliau, tidak sulit meminta orang tua membelikan satu buku untuk anaknya. Kalau tiap anak di sekolah membawa satu buku ke sekolah, sudah berapa buku yang bisa dibaca siswa. Mereka bisa bertukar buku.

Dua sekolah yang dijadikan contoh oleh Bapak Satria Darma dalam acara tersebut adalah SMAN 5 dan SMAN 21 Surabaya.

SMAN 5 punya priogram membaca rutin  antara lain:

-Siswa diwajibkan  membeli buku bacaan (novel)

-Siswa membaca setiap hari (silent reading) pada awal jam sekolah (15 menit sebelum jam ke-1). Kegiatan ini dikoordinir oleh kelas dan diawasi oleh guru.

-Setiap selesai membaca siswa diwajibkan menuliskan buku, judul, pengarang, dan penerbit serta membuat sinopsis dari buku yang dibaca.

-Buku yang telah dibaca akan disumbangkan ke perpsutakaan.

Target dan jumlah buku yang dibaca  oleh siswa SMAN 5 bulan Juli—Agustus 2012 adalah setiap anak dalam 1 bulan membaca 2 buku dan satu sekolah  membaca 3000 buku setiap tahun. Jumlah keseluruhan buku yang terbaca adalah 1.851 buku dalam jangkan waktu 2 bulan. Waw… bukan?

Tak kalah menarik adalah fenomena yang terjadi di SMA 21 Surabaya. Sekolah tersebut mengadakan lomba perpustakaan kelas bekerja sama dengan Baperpusip Kota Surabaya. Kelas yang menang akan mendapatkan hadiah dari Baperpusip Kota Surabaya. Penilaian pada jumlah dan jenis koleksi, pengorganisasian buku, susunan pengurus, program baca buku, pengorganisasian peminjaman dan hasil baca buku, keindahan, dll. Buku yang dilombakan adalah buku siswa-siswa sendiri, bukan buku perpustakaan sekolah.

Tantangan membaca seperti di Goodreads.com juga berlaku di Surabaya. Setiap siswa SMALA Surabaya ditantang membaca 12 buku sastra dari Juli 2014—1 Maret 2015. Sekolah berkerja sama dengan UNAIR dan UNESA dalam menyediakan daftar Wajib Baca buku sastra. Sekolah  bekerja sama dengan komite sekolah akan menyediakan buku Wajib Baca tersebut. Siswa yang berhasil menyelesaikan tantangan akan mendapatkan sertifikat “Reading Award” dari Walikota Surabaya.

Menarik sekali apa yang dilakukan di kota Surabaya. Seharusnya, pemerintah Indonesia menerapakan program-program semacam itu di Indonesia. Kalau setiap walikota di Indonesia, bahkan presiden kita mencanangkan seperti yang dicanankan bu Risma, kita bisa membayangkan masa depan Indoesia seperti apa.

Buku dan Cantik

Hobi  membaca yang saya lakukan membawa saya pada satu majalah yang memberi wawasan baru bagi saya. Ada artikel menarik yang pernah saya baca dari  majalah Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H. Begitu menarik sehingga saya mengetik ulang dan menyimpannnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis bisa memotivasi para perempuan untuk membaca. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah.

Pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilahyang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen.

Jadi para perempuan, para pembaca budiman,  masih malas untuk membaca?

Membaca buku tidak hanya kekinian, tapi kebutuhan. Pilihan buku di Indonesia saat ini sangat beragam. Penerbit-penerbit baru bermunculan memenuhi selera pembaca Indonesia. Lebih-lebih  sekarang ada penerbit buku perempuan yang akan memanjakan para perempuan dengan buku-buku sesuai kebutuhan para perempuan Indonesia. Stiletto Book hadir untuk menjawab kebutuhan wanita Indonesia dengan ragam tema yang  akan membantu perempuan menjawab tantangan jaman. Selain  menawarkan buku fiksi karya perempuan bertema perempuan,  bekal pengetahuan yang ditawarkan buku-buku nonfiksi Stiltto Book tidak hanya membuat perempuan smart dan sexy sebagimana tagline penerbit Stiletto, tapi juga membantu peran perempuan bagi keluarga dan lingkungannya.

Jadi tunggu apa lagi?  Jadilah smart dan seksi dengan buku!

Image5145

 

T

ulisan ini dikutkan dalam LOMBA BLOG ULANG TAHUN KELIMA PENERBIT STILETTO BOOK” 

stiletto book

 

nama  : Sayekti Ardiyani
twitter: @sayektiardiyani
fb        : Sayekti Ardiyani
email  : firstyjl6@gmail.com

#BeraniLebih Menahan Marah

Pada suatu kesempatan kuliah, ada kata-kata dari tutor yang teramat membekas di kepala dan ini mendorong saya untuk lebih berani pelan-pelan mengubah sikap dan kebiasaan saya dalam mengajar. Tutor saya berkali-kali bilang, “coba cari definisi anak-anak, anak-anak yang masih suka bermain.Pastikkan kalian tahu, jadi nggak marah-marah kalau mengajar.”

Saya tergugah oleh kata-kata beliau. Kurangi marah-marah itu begitu lekat dalam ingatan. Saya harus #beranilebih melakukan perubahan. Ah, memangnya selama ini saya suka marah-marah ketika mengajar? Tidak sih, tetapi saya sering sebal dan terbawa emosi tersebut ketika ada ada anak yang bermalas-malasan di kelas, menyepelekan guru dan tugas , tidak mau mengerjakan PR, dan terlalu banyak mengeluh ketika ada tugas atau ulangan. Ketika mendengar keluhan anak-anak, tak berkenan ulangan atau malas mengerjakan tugas, saya tidak marah, namun pernah berkata begini:
“Silakan yang tidak mau belajar boleh di luar.”

Tentu saja, anak tidak mau melakukannya dan tetap bertahan di dalam kelas, mengerjakan dengan setengah hati. Bagaimanapun, mereka tahu mereka harus tetap belajar. Terinspirasi dari perkataan tutor saya, tidak seharusnya saya berkata seperti itu. Saya harus #beranilebih mengubah kebiasaan berkata seperti itu terhadap anak. Saya harus #beranilebih menekan emosi saya. Saya harus #beranilebih memahami mereka. Saya bisa mengajak anak-anak berdialog, seperti misalnya ketika saya umumkan:
“Anak-anak sekarang ulangan,”
Seorang anak bernama Yoga mengeluh panjang.“Wahhhh….”

Saya tidak boleh serta merta menawarkannnya pilihan untuk keluar kelas karena tidak mau belajar. Bukankah saya punya tugas untuk memberikan motivasi kepada anak?

Saya bisa memulai bertanya kepada anak, “Kenapa Mas Yoga tidak mau ulangan?”
Saya akan mendengarkan alasannya, lalu memberikan imbal balik. Misalnya, “Ulangan itu untuk Mas Yoga sendiri, bukan untuk bu guru, untuk mengetes sebenarnya Mas Yoga sudah paham belum dengan pelajaran yang bu guru berikan. Kalau nanti nilainya jelek, itu artinya Mas Yoga belum paham dan harus lebih giat belajar lagi. Kalau bagus, alhamdulillah, tandanya Mas Yoga sudah paham.”
Dengan membuka ruang dialog, saya tahu kenapa anak mengeluh, apa yang dirasakan anak. Selama tahu akar persoalan, solusi untuk masalah yang dialami akan ditemukan. Berbeda dengan kemarahan, apa yang akan saya dapatkan? Tidak ada, yang ada malah ketakutan dan semakin menurunnya semangat anak untuk belajar. Untuk anak-anak, kemarahan akan memberikan dampak negatif.

Hal yang sama sudah lama saya lakukan di rumah. Mengahadapi putri saya (2 tahun 10 bulan) yang seringkali keras kepala, saya lebih memilih menepi dan diam. Ketika saya merasa ingin marah karena anak melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia lakukan dan ia tetap keras kepala melakukannya, saya memilih menjauh. Saya akan diam saja, kebiasaan itu membuat anak saya mengerti, bahwa saya sedang marah dan ada yang salah dengan dirinya. Saya tidak mau anak saya melihat dan mendengar kata-kata kasar keluar dari mulut saya, itu sebabnya saya akan menjauh untuk menetralkan emosi dalam diri saya. Baru kemudian ketika anak sudah tidak merengek dan saya sudah bisa berlapang dada, saya mulai berbicara dengan anak saya.

Bisa menekan emosi dan #beranilebih berlapang dada menghadapi anak-anak membuat saya lebih bahagia dalam mendidik anak-anak dan punya harapan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bertanggung jawab.

Facebook: Sayekti Ardiyani
Twitter: @sayektiardiyani

    Tulisan ini diikutkan dalam

#BeraniLebih

Inspirasi dari Kota Literasi Surabaya

          Beruntung sekali saya berkesempatan menghadiri acara Sosialisasi Literasi bertajuk Membumikan Membaca di Kota Magelang yang diadakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Fakulatas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri Tidar Magelang, 2 Desember 2014 lalu. Pembicara kali itu spesial, pakar literasi dari Surabaya. Beliau adalah Ketua Ikatan Guru Indonesia wilayah Jawa Timur, Bapak Satria Darma.

          Keberuntungan yang lain adalah, nggak sengaja, karena tempat duduk di sebelah saya kosong, seorang ibu cantik mendekati dan duduk di samping saya. Beliau istri bapak Satria Darma. Jadi saya bisa sesekali ngobrol sembari mendengarkan paparan pak Satria Darma. “Hiasan di rumah saya ya buku,” ujar Ibu Satria Darma memulai obrolan kecil kami.

         Sementara itu Bapak Satria Darma memulai paparannya dengan pertanyaan besar: Seberapa pentingkah literasi itu? Apa bukti bahwa literasi itu sangat penting? Bapak Satria Darma mengutip pendapat beberapa tokoh penting dunia.

“Membaca adalah jantungnya pendidikan. Tanpa membaca pendidikan akan mati.” (Dr.Roger Ferr) “Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.” (Glenn Doman) “Jadi literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil di sekolah dan kehidupan selanjutnya.”(Rod Welford, Mendikbud Queensland)

            Tak kalah pentingnya adalah bahwa surat pertama yang turun kepada nabi Muhammad SAW dari Allah adalah Al-Alaq 1—5. Ayat pertama yang turun adalah perintah untuk membaca. Nabi Muhhamad, rasul terakhir dan penutup yang diutus Tuhan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk masyarakat Quraisy saat itu. Ajarannya  untuk membangun peradaban dan kesejahteraan seluruh alam semesta. Perintah membaca ditujukan kepada semua umat manusia karena kemampuan literasi adalah syarat utama untuk membangun peradaban. Kemampuan literasi adalah kunci dari ilmu pengetahuan.

               Ada kisah dari perang Badar yang disampaikan beliau sebagai bukti pentingnya literasi di jaman nabi. Nabi Muhammad membuat sebuah kebijakan yang sangat tidak lazim. Nabi tidak meminta tebusan dari tawanan yang jumlahnya 70 orang. Tebusan tawanan berkisar antara 1.000—4.000 dirham/orang. Namun nabi meminta ganti yang lebih berharga dari harta. Rasulullah melepaskan para tawanan kaum Quraisy yang pandai baca tulis dengan menebus dirinya dengan mengajarkan tulis baca kepada 10 orang anak Madinah.

          Begitu pentingnya literasi terbukti kejayaan Islam tidak lepas dari budaya tersebut. Zaman kejayaan Islam adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di dunia Islam menghasilkan kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Peradaban Islam tak hanya melahirkan generasi yang mumpuni di bidang keagamaan tapi juga berbagai ilmu pengetahuan.  Beberapa ilmuwan Islam tersebut antara lain Ibnu Rusd (Averros), Ibnu Sina (Avicena), Al-Biruni, Muhammad Ibn Musa Al-Kharizmi, dan Nizam Al Mulk. Setelah memaparkan pengantar pentingnya literasi, bapak Satria Darma memberikan gambaran tentang budaya baca di Indonesia yang masih rendah, khususnya di kalangan pelajar. Untuk itu beliau berkeliling ke beberapa kota di Indonenesia untuk mensosialisasikan Gerakan Membaca.

           Beberapa program litrasi yang bisa dilakukan di sekolah antara lain sustained silent reading, perpustakaan kelas, tantangan membaca, dan menerbitkan kumpulan cerpen dan puisi siswa. Beliau membawa insiprasi dari kota Surabaya. Seluruh sekolah di Surabaya, dari SD hingga SMU  sudah menerapkan program tersebut.

             “Seluruh sekolah sudah ditaken kontrak oleh walikota, Ibu Risma,” ujar Ibu Satria Darma kepada saya. Jadi seluruh kepala sekolah di Surabaya memang dikumpulkan untuk taken kontrak menjalankan program Gerakan Budaya Literasi.

          “Untuk menjalankan program tersebut tidak butuh dana. Yang penting adalah kemauan dari sekolah dan kerja sama dengan wali murid.” Lanjut beliau. Tentu saja, yang pertama kali dilakukan adalah sosialisasi dari sekolah kepada wali murid. Menurut beliau, tidak sulit meminta orang tua membelikan satu buku untuk anaknya. Kalau tiap anak di sekolah membawa satu buku ke sekolah, sudah berapa buku yang bisa dibaca siswa. Mereka bisa bertukar buku.

               Dua sekolah yang dijadikan contoh oleh Bapak Satria Darma dalam acara tersebut adalah SMAN 5 dan SMAN 21 Surabaya. SMAN 5 punya priogram membaca rutin antara lain: -Siswa diwajibkan membeli buku bacaan (novel) -Siswa membaca setiap hari (silent reading) pada awal jam sekolah (15 menit sebelum jam ke-1). Kegiatan ini dikoordinir oleh kelas dan diawasi oleh guru. -Setiap selesai membaca siswa diwajibkan menuliskan buku, judul, pengarang, dan penerbit serta membuat sinopsis dari buku yang dibaca. -Buku yang telah dibaca akan disumbangkan ke perpsutakaan.

             Target dan jumlah buku yang dibaca oleh siswa SMAN 5 bulan Juli—Agustus 2012 adalah setiap anak dalam 1 bulan membaca 2 buku dan satu sekolah membaca 3000 buku setiap tahun. Jumlah keseluruhan buku yang terbaca adalah 1.851 buku dalam jangkan waktu 2 bulan. Waw… bukan?

        Tak kalah menarik adalah fenomena yang terjadi di SMA 21 Surabaya. Sekolah tersebut mengadakan lomba perpustakaan kelas bekerja sama dengan Baperpusip Kota Surabaya. Kelas yang menang akan mendapatkan hadiah dari Baperpusip Kota Surabaya. Penilaian pada jumlah dan jenis koleksi, pengorganisasian buku, susunan pengurus, program baca buku, pengorganisasian peminjaman dan hasil baca buku, keindahan, dll. Buku yang dilombakan adalah buku siswa-siswa sendiri, bukan buku perpustakaan sekolah.

           Tantangan membaca seperti di Goodreads.com juga berlaku di Surabaya. Setiap siswa SMALA Surabaya ditantang membaca 12 buku sastra dari Juli 2014—1 Maret 2015. Sekolah berkerja sama dengan UNAIR dan UNESA dalam menyediakan daftar Wajib Baca buku sastra. Sekolah bekerja sama dengan komite sekolah akan menyediakan buku Wajib Baca tersebut. Siswa yang berhasil menyelesaikan tantangan akan mendapatkan sertifikat “Reading Award” dari Walikota Surabaya.

           Waw, saya membayangkan, kalau setiap kota di Indonesia memiliki walikota inspiratif seperti Bu Risma, masa depan negeri ini tentu akan semakin maju peradabannya.

Mengikuti Jejak

          Paparan dari Bapak Satria Darma berhasil menggugah saya. Ingin sekali saya mempraktikan apa yang sudah terlaksana di Surabaya dari kelas saya sendiri. Ketika menjadi wali kelas VA di sebuah sekolah swasta di desa Grabag tempat tinggal saya,di tahun 2012 ,saya pernah mewajibkan anak membaca buku untuk dilaporkan. Karena buku perpustakaan sekolah tidak bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut, maka saya mengeluarkan koleksi buku saya untuk dipinjam anak-anak. Sayangnya, program tersebut hanya berjalan satu putaran karena kendala koleksi buku. Permasalahan tersebut saya sampaikan dalam forum. Solusinya adalah seperti yang sudah disampaikan di atas, setiap anak membawa satu buku. Ibu Satria Darma menguatkan saya, cobalah, orang tua pasti tidak keberatan memebelikan anaknya satu buku.

         Maka pada pertengahan Desember lalu, selesai anak-anak melaksanakan Ujian Akhir Semester, saya meluncurkan program Tantangan Membaca. Untuk memberi contoh pada anak-anak agar membawa buku, saya membawa setumpuk buku koleksi dari rumah. Anak-anak terlihat antusias melihat saya membawa setumpuk buku.

         Untuk mendukung program tersebut, saya membagikan Kartu Tantangan Membaca yang berisi judul buku, nama pengarang, penerbit, tahun, bintang, tanggal memulai dan selesai memabaca. Siswa di kelas VA yang berhasil mencapai jumlah buku tertinggi akan saya beri hadiah buku yang jenisnya bisa memilih sendiri. Saya juga berangan-angan akan memeberikan sertifikat yang ditandatangani kepala sekolah.

       Beragam reaksi yang saya dapatkan di hari saya meluncurkan program tersebut. Umumnya anak-anak antusias dan terlihat bersemangat.

           “Bu, saya tidak suka membaca,” ungkap Yoga kepada saya.

           “Nanti mas Yoga akan Bu Guru paksa jadi suka membaca,” jawab saya sembari tertawa.

         “Tapi saya nggak punya buku Bu,” lanjut Yoga. Ucapan serupa keluar dari beberapa siswa. Saya masih memaklumi, tidak apa-apa ujar saya kepada mereka. Untuk langkah pertama, saya akan mencobanya pelan-pelan.

        Saya tidak membutuhkan jeda hari untuk melihat hasilnya. Luar biasa, di hari yang sama, anak-anak sudah mengisi kartu mereka. Mereka yang belum paham yang mana penulis, penerbit, tahun terbit dalam buku yang mereka baca ribut menanyakan kepada saya. Wah, saya sampai geli campur gembira menaggapinya.

Image5615Image5618Image5619

Image5617

                                                                   kartu tantangan membaca

                  Semakin hari saya kian berbahagia melihat semangat mereka.

            “Bu, saya bawa buku sekarang,” kata Yoga dua hari kemudian. Saya yakin ia termotivasi, kepengen melihat teman-temannya membawa buku di hari sebelumnya.

                 “Saya bawa dua bu, beli di 39 pulang sekolah,” lanjut Yoga ketika saya tanya beli di mana.

                  Hari berikutnya, ia juga laporan kalau beli buku lagi. “Beli di Indo Maret Bu.“

               Wah… wah… semoga semangat mas Yoga terus menyala beli bukunya. Begitu pula semangat teman-teman yang lain untuk memenangkan tantangan membaca. Saya yakin, bermula dari tantangan, lama-lama hal tersebut akan menjadi kebiasaan ketika anak sudah merasakan asyiknya membaca, serunya isi bacaan dari buku di hadapan mereka. Setiap saya masuk kelas, anak-anak sedang terlihat khusyuk membaca buku. Good…. :D. Harapan selanjutnya, sekolah saya akan menerapkan juga program tersebut.

Image5609

asyik membaca ketika saya masuk kelas

 Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca

banner baru giveaway untuk blog

Wishful Wednesday

Gambar

Mengikuti beberapa teman WP yang sudah pernah menulis Wishful Wednesday, terlebih saya juga punya banyak buku yang sedang masuk wishlist, maka salah satunya ingin saya share di sini.

Melengkapi dua buku Agustinus Wibowo yang sudah saya miliki, Selimut Debu dan  Garis Batas, kali ini saya ngebet dengan Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan. Saya menggemari buku-buku Agustinus karena tidak hanya berisi catatan backpaker biasa. Ia tidak hanya menuliskan tempat-tempat yang indah dan ngiler untuk disinggahi. Tulisannya sarat dengan nilai-nilai lokal, unsur-unsur budaya, dan warna masyarakat yang eksotis tempat ia singgah. Penulis juga menceritakan bagaimana ia bisa survive di tempat yang masyarakatnya begitu asing dengan segala kendala dan bahaya. Selain sarat ilmu (etnografi) dan wawasan, bukunya juga dilengkapi dengan foto-foto yang indah dan artistik. Itu sebabnya, buku-bukunya harus lengkap masuk dalam koleksi saya.

Gambar

Buku itu bisa dibeli di BukuKita.com.

#tulisan ini diikutkan dalam Wishful Wednesday [85] Birthday Giveaway-nya Perpus Kecil

Hadiah Mozaik Blog Competition Sekaligus Hadiah Milad

Ahad, 1 Juli paket itu tiba di rumah, tepat di hari milad saya. Sayangnya, saya tidak bisa menerima paket hadiah itu langsung. Kemarin, posisi saya berada di rumah suami di Sambung sedang hadiah tiba di rumah emak di Grabag. Waw, exited ketika kemarin siang saya mendapat sms dari pihak JNE menanyakan posisi rumah saya sebab ia membawa paket untuk saya. Pas banget dengan hari milad saya. Maka, sejak menerima sms itu, rasa penasaran akan hadiah mengganggu hingga tadi siang akhirnya saya bisa membuka buntelan coklat dari Malang.

Hadiah juara harapan 2 Mozaik Blog Competition: Arti Buku Buatku berupa 2 buah buku itu sekaligus menjadi hadiah milad saya tahun ini. Oia, tak hanya buku, paket itu dilampiri selembar ucapan selamat dan motivasi untuk terus berkarya.


Alhamdulillah. Terima kasih buat Mozaik Indie Publisher (buat mas Ihwan dan mbak Ivone), tim, serta juri yang terlibat dalam kompetisi ini.