[FF Ninelights] Cinta Satu Malam, Oh!

“Cinta satu malam oh …,” bapak sumingrah bersenandung meski dini hari ia baru pulang dan capek.
“Deu… dulu yang anti, sekarang…, dangdutan mlulu,” ibu menggoda. Minggu pagi seperti sekarang, kumpul keluarga menjadi saat langka.
” Ingat dulu Bapak alergi dangdut, rasanya pengen ngeledekin waktu kampanye. Pakai joget-joget segala, enjoy banget nyanyi bareng sama…, “ sambung Radit.
“Eh iya, sekarang sombong banget tuh biduan, udah nggak mau manggung lagi,” sela Rani.
“Ngapain lagi nyanyi kalo kebutuhan sekarang sudah terpenuhi,“ sambar bapak spontan, namun cepat –cepat ia menyibukkan diri dengan koran di depannya.
“Ada klien EO yang ngotot pengen ngundang biduan Mela buat kampanye. Tuh, kampanye bapak jadi inspirasi,” cerocos Rani.
“Bener kamu dulu, bagi duit nggak efektif, rakyat sekarang butuh hiburan.” Bapak mendongak. “Dangdut membawa berkah.”
“Dan bencana! “ seru Radit. Bapak terperangah.
“Pak Bupati makin sibuk, jarang pulang! Kapan dong waktu buat kita.“ Radit protes.
“Bapak sudah jadi milik rakyat, ibumu saja nggak protes, malah kamu yang protes. Ya kan Bu?” kilah Bapak
Ibu mengangguk penuh pengertian meski ia membenarkan perkataan Radit.

***
Calon walikota yang diceritakan Rani tempo hari begitu ngotot ingin menghadirkan Mela si ‘Cinta Satu Malam’ dalam kampanyenya. Ia tak mau tahu kalau Mela sudah berhenti manggung. Apa boleh buat, mereka mendatangi rumahnya, bahkan calon walikota itu diajaknya serta.

Mela terlihat kaget melihat kedatangan Rani c.s
“Silakan masuk,” katanya canggung.
Rani yang pertama kali masuk terlonjak tak kalah kaget, dari ruang tamu, ia melihat siluet yang begitu dikenalnya sedang duduk santai di depan TV.
“Bapak?!!!!!”

jumlah kata : 248
terinspirasi dari berita ini untuk diikutkan dalam Lomba FF Ninelights

[Love Journey] Home

Kadangkala, dalam sebuah perjalanan ada semacam perasaan sia-sia menyergap. Pertanyaan-pertanyaan berbalut penyesalan mengusik,
“Kenapa aku harus datang ke tempat ini, jauh-jauh,tapi gak dapat apa-apa?”
“Kenapa Allah membiarkan aku melakukan perjalanan ke sini?”

Begitupun dalam perjalanan pulang dari Solo ketika memenuhi undangan pengumuman lomba cerpen yang diadakan salah satu radio di Solo pertengahan 2010. Pikiran ini sungguh berkebalikan dengan ketika berangkat pagi harinya, begitu bersemangat keluar rumah dalam udara segar pukul 05.00,” Traveling. inilah yang aku inginkan. Traveling dan bepergian karena menulis. Yah… meski aku datang belum tentu menyambut kemenangan.”

Semangat pagi itu luntur karena berbagai hal diantaranya ketidaklancaran transportasi ketika berangkat, serta perasaan asing yang tak nyaman—di lain pengalaman saya begitu menikmati keterasingan–. Kalau sudah begini, saya akan mengais-ais hikmah dari apa yang sedang saya jalani (jeleknya saya!). Saya akan mencari-cari, bukankah tak ada yang sia-sia dan Allah selalu memberikan hikmah? Apa yang Allah berikan kali ini? (jeleknya, selalu minta imbalan!)

Namun, bagaimanapun juga, sebuah perjalanan selalu menjadi ruang kontemplasi bagi saya. Ketika saya berjarak dengan rumah, dengan segala rutinitas di rumah dan pekerjaan sehari-hari, saya bisa memikirkan dan menguraikan banyak hal, termasuk kepenatan. Barangkali itu yang saya sukai dari sebuah perjalanan. Di bus dalam perjalanan berangkat atau pulang bepergian, ketika bertemu dengan banyak orang dengan ragamnya, ketika melewati berbagai tempat dengan segala keunikannya, banyak hal baru masuk di kepala dan hati, mengusik untuk di renungkan saat itu juga.

Merasa tak dapat apa-apa, nyatanya sejumput kecewa itu singgah, bukan hanya karena saya pulang tanpa hadiah di tangan, tapi lebih karena saya tak bisa kemana-mana, masih bingung dengan rute Solo sebab itu pertama kalinya saya ke Solo sendirian, sementara hari semakin beranjak sore. Rencana dari rumah, selesai acara saya ingin jalan-jalan dan pulang dengan ‘oleh-oleh’ sekalipun hanya buku. Di bus dalam perjalanan pulang saya melamun sementara percakapan di sekitar diam-diam masuk di telinga. Penumpang di sebelah tempat duduk asyik mengobrol tentang berbagai bencana di Indonesia. Mereka membahas keprihatinan terhadap para korban Merapi yang entah bagaimana nasibnya pascabencana. Penjaja makanan wira-wiri menawarkan makanan. Seorang anak seusia siswa SD menjajakan koran. Ah, tidak asing, anak sekecil itu sudah berjuang mencari uang?

Potret di perjalanan itu menghadirkan rasa syukur. Betapa beruntungnya saya masih punya orang tua yang memiliki rumah tempat saya pulang. Betapa bersyukur saya mempunyai orang tua yang menanti kedatangan saya di rumah. Betapa beruntung saya bisa beristirahat malam dengan nikmat, di atas kasur kapuk yang memberikan kehangatan, ‘bersembunyi’ di bawah selimut lawas dengan bau khasnya, berbantal beruang biru yang sedang hibernasi, lembut. Kangen rumah, rasa itu yang kemudian menyergap. Rasa kangen semacam itu selalu saya sukai. Pulang, menjadi hal yang selalu saya rindukan ketika jauh dari rumah (untuk perjalanan kali ini, padahal cuma di bus dari kota yang tak begitu jauh dari rumah). Yah, senikmat apapun perjalanan, seindah apapun pemandangan di depan mata, seenjoy apapun jalan-jalan itu, pulang pasti menjadi hal yang dirindukan. Saya semakin mencintai rumah dengan segala isinya.

Malam harinya, ketika sudah berbaring mengendapkan penat, betapa rasa syukur itu berlipat adanya, dengan kilasan-kilasan perjalanan di luar rumah yang berkelebatan. Ah, inilah saya, sudah berada di tempat aman itu. Sudah pulang! Berada di rumah, hangat!

#tulisan hasil daur ulang dari sini untuk meramaikan Lomba Love Journey yang diselenggarakan mas Fatah dan mbak Dee An

[Mozaik Blog Competition] Sebermula Membaca, Kemudian Karya

April , 2006

Di UPT Perpustakaan Pusat siang itu, setelah mencatat beberapa kalimat dari buku Pak Djoko Pradopo, Kritik Sastra Indonesia Modern (2002), saya membaca buku kumpulan cerpen Radhar Panca Dahana berjudul Masa Depan Kesunyian. Hanya satu cerpen yang sempat saya baca. Sebelum membaca cerpen yang berjudul “Menjadi Djaka”, saya membaca pengantar buku yang ditulis oleh pengarangnya sendiri. Baru membaca kalimat pertama, tiba-tiba melesat sebuah ide. Ide itu juga datang karena kalimat tersebut mengingatkan saya pada sebuah puisi Faiz–penyair cilik favorit saya, putra dari Helvy Tiana Rosa– yang pernah saya baca di blognya. Sudah lama saya tidak menulis puisi. Alhamdullilah, melesat sebuah ide untuk dijadikan puisi. Nggak puitis sih, tapi saya besyukur bisa menulisnya:

aku ingin mencipta sebuah dunia
dengan kertas dan pena
dari kata-kata yang berlari
dari angan dan mimpi
semesta kujaring lewat pendengaran, penglihatan, dan hati
aku ingin mencipta sebuah dunia
dengan kertas dan pena
dari limpahan rasa
sebutir keyakinan
yang Ia tiup dan berdenyut
dalam qalbu

Puisi itu tidak selesai dalam sekali buat. Saya menambah di sana-sini disela-sela membaca buku Sastra Baru Sastra Indonesia I oleh Teeuw. Asyik juga membaca kritik sastra atas karya-karya Pramoedya( bab ini yang sempat saya baca). Buku lain yang saya baca adalah buku Taufik Ismail Dalam Konstelasi Pendidikan Sastra karya Suminto A Sayuti ( buku ini juga saya baca selektif). Puisi-puisi Taufik yang dikutip dalam buku itu, subhanallah, bagus-bagus dan menambah inspirasi.

***
Saya tidak mahir dan jarang menulis puisi. Beruntung sekali kalau saya bisa membuat puisi yang benar-benar jadi. Bahkan setelah puisi itu jadi, saya malah merasa heran, kok bisa membuat puisi seperti itu? Seperti juga puisi di atas, ada peran buku yang membangkitkan inspirasi dan memberi masukan bagi saya ketika menulis. Saya ingat, ada bebarapa puisi yang saya buat karena pada waktu itu saya sedang membaca sebuah buku. Pertama, puisi yang saya buat tatkala membaca buku Aku karya Sumandjaya (bukan karena ikut-ikutkan Rangga dan Cinta lho, yang karena membaca buku itu trus bikin puisi). Saya suka pada puisi-puisi Chairil Anwar dalam buku itu. Asyik: kata-katanya singkat, padat jelas, terkesan bahasa percakapan, dan jauh dari kiasan yang kadang susah dimengerti.

“Coba aku bisa bikin puisi seperti Chairil,” pikir saya waktu itu. Lalu saya mencari-cari, pengalaman apa yang bisa saya tulis dalam bentuk puisi? Saya terus berpikir dan mengingat-ingat. Entah kenapa, saya lupa, tba-tiba saya menghadirkan kembali pengalaman jatuh cinta ketika duduk di bangku sekolah menengah. Yang saya ingat dari pengalaman itu, saya tidak punya keberanian untuk menatap mata teman yang saya suka. Bahkan saya takut menatap guru yang memberikan pelajaran di depan kelas. Saya takut guru favorit saya yang memang terkenal care itu mengetahui ada yang bergejolak dalam hati saya lewat mata. Pengalaman jatuh cinta itu seperti benar-benar hadir di depan saya. Maka setelah coret sana coret sini, edit sana edit sini, sambil terus membaca puisi-puisi Chairil, jadilah puisi itu:

jatuh cinta I

takut rahasia batinku tercuri
menatap maanya kutak berani
sebab ia pun akan terlonjak sendiri
menyaksikan dirinya telah menjadi ombak dalam bahtera jiwa ini
deburannya sungguh kunikmati
meriakkan airnya menjadi:
buih-buih kangen
buih-buih angan

Beberapa bulan kemudian, saat saya membaca buku kumpulan puisi Perahu Kertas karya Sapardi Djoko Damono, timbul rasa iri dan keinginan untuk membuat puisi. Saya kembali berpikir dan mencari. Yang hadir kemudian lagi-lagi pengalaman jatuh cinta. Puisi yang saya tulis hampir sama dengan puisi jatuh cinta pertama, bedanya saya tidak menulis/berbicara sebagai orang pertama.

jatuh cinta II

telah terbit bintang di sepasang telaga beningnya
yang padanya kejujuran bisa berkaca
adanya ia di tepi telaga
adalah energi yang membuatnya berpijar senantiasa

Dari buku yang sama, buku Sapardi, saya mendapatkan ide untuk membuat satu lagi puisi. Hari itu teman duduk SMU saya berulang tahun. Saya ingin memberinya kado sebuah puisi (sayangnya, saat itu puisi tersebut belum saya kirimkan karena subuah alasan, puisi itu kemudian saya hadiahkan pada teman saya yang lain.) Saat keinginan itu muncul, segera saya ambil buku Perahu Kertas dan saya baca beberapa puisinya sambil terus berpikir. Kata-kata apa yang akan saya pilih ? Alhamdulillah, setelah corat-coret, jadilah puisi itu

sajak hari lahir

waktu kembali memetik satu daun
dari pohon kehidupanmu
akankah ke bumi ia kembali?
menjadi pupuk bagi hidup
mendewasakan diri
ataukah hanya melayang sebagai daun kering?
terbang bersama angin
hilang bersama debu

***
Di sela-sela meng-entry buku di perpustakaan fakultas sebagai tenaga freelance, seringkali saya membuka-buka buku dan membaca sekilas buku yang menarik perhatian. Suatu waktu, ada buku yang membuat keingintahuan saya bangkit. Buku itu berjudul Sastra Melawan Slogan karya Abdul Wahid BS. Saya buka-buka secara acak untuk mengetahui isi buku itu. Tiba pada suatu dengan sub judul “Ritus Bahasa”, saya tersenyum membaca dua paragraf dari sub judul itu. Baiklah, saya salin dua paragraf itu:

Syahdan, Dylon Thomas, tatkala akan menulis sajak, dijajarkannya sajak karya Charles Boudelaire, Arthur Rimboud, Paul Verlaine, John Done dan sajak lain yang ia gandrungi. Dia melakukan pembacaan berulang-ulang terhadap sajak dihadapannya itu, seakan ia seorang ahli kimia kata-kata, campur ini campur itu. Begitulah upacara penemuan bahasa atau ritus bahasa ia jalani, sampai sajak ia hasilkan.

Apakah ia melakukan penyontekan? Mulanya iya, tapi ritus itu menadi proses, dalam menjalani ritus bahasa ia leka (hanyut) kediriannya, tatkala sajak jadi, ia tersentak, “dalam sajak, aku ada.” Sejarah mencatat, ia salah seorang sastrawan penting Inggris dengan hasil sastra yang diperhitungkan dunia, tanpa kritikus harus menilainya sebagai plagiat Boudelaire.

Ah, ternyata bukan hanya saya yang ketika belajar bagaimana menulis puisi harus membuka-buka dan membaca buku-buku puisi karya sastrawan favorit. Bahkan sastrawan sekaliber Dylon Thomas melakukan apa yang disebut ritus bahasa. Saya memang belum kenal siapa Dylon Thomas, tapi paling tidak saya belajar darinya dari dua paragraf yang saya kutip tadi.

***

Agustus 2010

Multiply heboh! Lomba flash fiction yang diadakan mbak Intan berhasil menyedot perhatian ratusan MPers, saya salah satunya! Penasaran sekali dengan lomba dengan 3 tema itu: ayah dan anak, Ramadhan, dan 17 Agustus. Rasanya tertantang ingin menaklukan lomba itu: bukan kemenangan akan juara, tapi kemenangan berhasil eksis! Ikut saja.

Setelah melewati fase cenat-cenut dan perjuangan rasa malas serta ketidaksabaran dalam proses menulis, Alhamdulillah 3 FF berhasil saya ikutkan,meski ketiganya tidak masuk nominasi,. Buku dan kegiatan membaca tak bisa saya lepaskan dari proses itu. Saya bisa menulis ketiganya dengan sebelumnya menemukan ide dari membaca. Ketiga FF yang saya tulis punya sumber rujukan sendiri-sendiri:

FF #1 : “Andaikan Aku di Palestina”

Judul itu saya tulis dengan ingatan akan sajak Goenawan Mohamad yang populer: “Andaikan Aku di Sarajevo”. Sajak itu bertahun-tahun lalu pernah saya baca, isinya lupa tapi judulnya teramat lekat dalam ingatan. FF yang bercerita tentang maraknya petasan di bulan Ramadhan dikontraskan dengan bom jihad di Palestina itu saya lengkapi dengan cuplikan puisi dari note di Facebook Abdul Hadi WM.

FF #2: “Kukirimkan Padamu”

Lagi-lagi puisi, kali ini puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Kukirimkan Padamu” dari buku Perahu Kertas—lagi!–. Puisi tersebut bercerita tentang kartu pos yang dikirim seseorang kepada istrinya. Di FF saya, puisi yang ditulis dalam kartu pos itu dikirim ayah kepada anaknya. Sang ayah adalah wartawan yang kerap bertugas ke luar (negeri). Si anak selalu meminta cerita dari ayahnya. Sang ayah yang tidak punya waktu banyak memakai cara jitu: kartu pos.
Di bagian ending–maksa sih– si anak menunggu kartu pos dari ayahnya. Ayahnya berada di Kabul, Afganistan yang rawan. Tak mendapatkan kabar dari ayahnya, dia search berita dari internet dan mengklik sebuah video peledakan bom. Ada sepotong tangan dengan arloji dan tanda lahir yang dikenalnya, menggenggam selembar kartu pos. Bagaimana gambaran peledakan dan situasi Kabul saya dapatkan dari buku Selimut Debu tulisan Agustinus Wibowo.

FF #3: “Di Balik Kaca Merdeka”

Ini FF terakhir yang saya buat. Saya tidak bisa tenang sebelum menulis tema 17 Agustus. Saya ingin menyampaikan makna merdeka. Berkali-kali coret-coret namun tidak selesai, pusing. Tapi saya ingin sekali menaklukan tantangan itu. Maka saya ambil Catatan Pinggir 2 punya Goenawan Mohamad untuk mendapatkan referensi mengenai makna merdeka atau percikan-percikan cerita Proklamasi. Barangkali ada.

Saya mulai membaca dengan menelusuri dari indeks Soekarno. Tak mendapatkan apa yang saya harapkan, saya kemudian membuka-buka buku itu acak. Ada bab Kemerdekaan. Mantabs! Saya mendapatkannya! Di banyak negara, termasuk Indonesia tentu, pelarangan maupun sensor itu selalu ada. Lalu ingatan saya melayang pada Gurita Cikeas, buku-buku Pramoedya Ananta Toer, dan majalah Tempo yang pernah dibredel. Dari situ kemudian saya mulai menulis. Ada buku yang terbit di hari 17 Agustus sebagai bentuk perayaan-bagi penulis buku itu-, namun di hari itu juga bukunya ditarik. Ketika selesai menuliskan cerita itu, saya belum memiliki judul. Judul buku rekaan dalam cerita itu pun belum- sekaligus akan menjadi judul FF-. Judul itu harus mewakili fatamorgana sebuah kemerdekaan. Pikiran seketika melesat pada buku karya Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca. Akhirnya jadilah judul FF di atas. Merdeka hanya di balik kaca, benarkah kita sudah merdeka?

Tak bisa dielakkan, buku menjadi inspirasi besar untuk karya-karya kecil saya, karya pribadi yang belum dikenal pembaca di luar. Sebab begitu besarnya insiprasi dari buku-buku yang berjejer di rak, akan saya tambah seiring dengan harapan akan karya-karya kecil lain yang terus tumbuh. Tak peduli dengan karya-karya kecil belum ada yang go public, saya akan terus menulis beriringan dengan menyapa aksara dalam buku-buku.

#Ikut serta meramaikan Mozaik Blog Competition: Arti Buku Buatku

Catatan:
Tulisan di bagian April 2006 hasil daur ulang dari tulisan di blog lama: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/04/buku-dan-inspirasi/

[Batam FF Rindu–Secret Admirer]

Tangannya menggeragap, mencari-cari HP di ranjang. Sedari tadi ia hanya tiduran. Hatinya tak karuan.

Jempolnya lincah berpindah dari satu tuts ke tuts, mengetik beberapa kata yang dirasanya bisa mengobati segala galau, sekedar menayakan kabar sekalipun. Selesai, tanpa mencari ia temukan satu nama yang sengaja diletakknya paling atas di daftar telepon. Nama yang menyebabkan hati dan kepalanya dipenuhi satu kata. Sebelum send dipencet, ditimbangnya lagi, kirim tidak kirim tidak kirim…

Klik. Pada akhirnya ia menyerah pada pilihan: exit. Secara otomatis satu pesan itu masuk ke draft.

Lalu di ketiknya lagi beberapa kata. Tak mau menyerah, diluapkannya segala gelisah, curhat. Di pilihnya satu nama yang selama ini selalu meminjamkan bahunya. Mungkin dengan mengirim uneg-uneg itu dadanya akan melapang lalu bisa kembali meneruskan pekerjaannya.
Lagi-lagi bimbang. Penting nggak sih?
Bisa-bisa ia malah diledek habis-habisan. Pada akhirnya nasib pesan keduapun masuk di kotak draft.

Katanya gak mau ngeluh lagiiiiii….? Begitu pasti ejeknya!

Ia menjabak rambutnya. Aaaarrrrgggg…. rasa ini, menganggu saja!
Rasa itu akan menjadi sampah di kepala andai tak dibuangnya jauh-jauh. Apa yang harus kulakukan saat gelombang ini menyerangku?

Ke kamar mandi, kakinya mengikuti pilihan hati. Menenggelamkan kepalanya ke bak, ia tiba-tiba ingat sesuatu.

Keluar dari kamar mandi, tak hanya muka dan kepalanya saja yang basah. Kedua belah lengan dan telapak kakinya terasa segar terbasuh.

“Allah, ijinkan aku mengeluh.. sebab hanya Engkau yang pasti mengerti perasaan hamba. Hanya Engkau yang mau mengerti. Allah…. aku rindu dia. Tak bolehkah aku mengeluhkan rasa ini, di depanMu saja ya Allah?!”
Di atas sajadah, gundah itu akhirnya tumpah.

#tepat 250 kata di luar judul, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam

[Batam FF Lebaran–Sedekah Lebaran]

“Ma, di luar ada pengemis, “ seru Nina.
“Pengemis? Waduh, jatah THR-nya sudah habis pagi tadi.” Bu Sarah melongok ke luar. Seorang perempuan bersimpuh di teras .
“Kasih makanan aja Ma,” usul Nuno tanpa menggeser matanya dari laptop, asyik facebooking.
Bu Sarah menyambar beberapa ketupat dan makanan lalu dimasukkan plastik.

“Maaf Bu. Saya sudah dapat banyak ketupat dari orang-orang kampung.“ Pengemis memperlihatkan ketupat-ketupat dan makanan dalam gendongan begitu Bu Sarah sampai di hadapannya. “Kalau ada uang saja, Bu.”
Mata bening Nina mengawasi diam-diam.
Bu Sarah mengernyitkan kening, “ Tadi saya memang bagi-bagi THR buat anak-anak dan tetangga. Sekarang udah habis jatahnya. Sayang sekali, coba datang agak tadi.”
“Udah, nih, Nina aja yang kasih.” Nina memberikan lembaran dua ribuan baru.
“Makasih Nduk, makasih….” Pengemis berlalu. Ketupat dan makanan di lantai tak disentuhnya.

“Nina dapat uang banyak dari tante Mira. Kasihan deh Ma pengemis itu. Masak teman-teman Nina yang bajunya bagus-bagus Mama kasih … e… pengemis itu malah nggak dapet, “ ujar Nina polos, menjawab berbagai tanya di wajah mamanya.
“Memang jatahnya sudah habis. Kalau buat saudara sih masih. Semua pengeluaran harus terencana. Besarnya THR sudah mama anggar masak-masak, Nina. “
“Alah Ma, cuma satu aja. Pengemis itu lebih butuh kan?”
“Nina mana ngerti Ma sama rencana anggaran, rencana pengeluaran. . . ,” sela Nuno.
“Sayang, bukanya Mama nggak mau ngasih sedekah, tapi….”
“Lihat…. Ma… lihat… banyak pengemis datang,” potong Nina tiba-tiba saat matanya tak sengaja melayang ke luar.

Baru dalam hitungan menit perempuan tadi berlalu, beberapa pengemis berbondong-bondong memasuki halaman rumah.

#tepat 250 kata di luar judul, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam

Batam FF Perjuangan–Rumit

“Selama masih kulihat statusnya R U M I T, aku nggak mau banyak berharap darinya,” tegas Maya.
“Hah, omong kosong dengan profil di dunia maya! Kenapa kau jadi underestimet begitu?”
“Bukan underestimet, tapi membayangkan aku hanya salah satu dari sekian perempuan yang memperumit hidupnya… maaf, aku lebih baik mundur.”
“Hahaha…begitu aja nyerah. Justru kau harusnya menjadi salah satu bagian dari kerumitan benang di hatinya. Tidakkah kau ingin menjadi pemenangnya?”

Maya tercenung

“Buatlah benang itu makin rumit lalu kau sendiri yang mengurainya. MENGURAINYA May!”

Kata-kata Maya hilang mendengar ketegasan Rani. Sebuah benang ruwet tergambar di kepalanya. Hening lindap diantara mereka.

Rani berhenti berkicau, agaknya ia ingin memberi Maya kesempatan menekuri lantai.
Rani ada benarnya,” gumam Maya. Lirih. Kasak-kusuk di antara perempuan-perempuan itu sudah sering didengarnya. Merebut hati Jo bukan perkara gampang. Makin banyak saingan makin menantang.

“Baiklah, aku akan buat benang itu makin ruwet, hingga dia tak bisa mengurainya, aku yang akan mengurainya, pelan-pelan, satu-satu hingga tinggal sehelai benang tersisisa di hatinya. Aku mau jadi benang itu.”
“Itu Maya yang kukenal selama ini.”

Binar mata mereka mengambil alih percakapan.

Seperti yang sudah-sudah kau selalu mendukungku Ran, Maya bersorak dalam hati.

Akhirnya! Aku sudah lama menunggu saat ini. Kita lihat nanti, siapa yang akan menjadi sehelai benang itu, aku atau kamu! Rani menarik ujung bibirnya, samar.

#215 kata, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam

[Ultah Cambai : Flash Fiction] Rasa Sesal

Dhe Mari meninggal barusan, emak mau ke sana,” emak tergesa bersiap. Aku yang baru pulang dibuatnya melongo.

Dhe Mari, sepupu terdekat bapak kini telah menyusul pergi saudara-saudaranya, dhe Yo dan dhe Asiah. Dhe Mari teramat dekat dengan bapak sehingga beliau pun begitu gemati dengan anak-anak bapak.

Aku tergugu tiba-tiba, dadaku sesak. Aku ingin meledakkan tangis yang sudah kutahan sejak semalam, saat aku melihat album foto keluarga, mengelus-elus gambarku di pangkuan bapak. Sebenarnya tadi malam aku berencana menengok dhe Mari. Keasyikan menikmati album membuatku melupakan rencana itu. Lagipula aku sibuk dengan perasaanku.

“Aku nyesel, kenapa semalam nggak jadi nengok dhe Mari, nyesel… kalau saja semalam aku sempat nengok….”
Emak mengelus-elus pundakku yang turun naik oleh sedu sedan.
“Sudahlah, doakan saja dhe Mari.Ingat kamu yang selalu bilang agar kita sabar menghadapi kematian.”
“Bukan itu Mak …, kalau saja semalam aku tahu…aku pasti… nitip salam …dan rindu buat bapak.”
Elusan tangan emak terhenti.

Keterangan:
Dhe= dari kata budhe (bahasa Jawa)
Gemati= setia

*tepat 150 di luar judul dan keterangan
Diikutsertakan dalam lomba Ultah Cambai:Flash Fiction yang diadakan uni Dian Onasis

Berkenalan dengan Kakek di Tepi Danau

Naik kelas, siapa tak mau naik kelas? Kenaikan tingkat bukan milik para pelajar atau mahasiswa saja. Kita,baik masih dalam masa ‘study’ atau bukan, sejatinya masih terus belajar dalam sebuah universitas bernama kehidupan. Masalah, salah satunya menjadi penentu kenaikan kelas sebagai seorang pribadi yang berkualitas. Sama halnya seorang pelajar/mahasiswa yang semakin tinggi tingkatannya akan semakin sulit ujiannya,begitupun kita dalam universitas kehidupan ini. Satu masalah selesai masalah lain sudah menunggu. Adaaa sajaaa masalah, nggak selesai-selesai, begitu keluh kita kadangkala, tanpa sadar bahwa saat itu sedang menjalani ujian kenaikan kelas maupun ujian tingkat keimanan. Satu masalah lolos, masalah yang datang kemudian bisa jadi akan lebih berat.

Bagaimana kita menghadapi masalah itu sebenarnya tergantung pada sudut pandang. Ada sesosok penyuka sepeda yang baru saja saya kenal lewat blognya, namanya bang Aswi. Sosok itu mencontohkan ketika memandang masalah sama halnya ketika memandang uang Rp 1.000 dan Rp 100.000. Uang Rp 100.000 bisa jadi sangat kecil sekali, terlebih Rp 1000, misal bagi jutawan. Namun bagi orang yang hidupnya susah Rp 100.000 terasa besar sekali,sulit sekali untuk mendapatkannya. Seribu rupiahpun sangat berarti ketika kita membutuhkan, untuk membayar parkir misalnya.

Selain sudut pandang, tak kalah pentingnya kelapangan dada dalam menghadapi masalah. Cerita kakek di tepi danau yang disampaikan sosok itu dalam tulisan yang berjudul Masalah:Tembok yang Harus Dihadapi meninggalkan kesan yang terus saya bawa.

Seorang kakek yang tinggal di tepi danau. Sang kakek hanya memberikan semangkuk air pada seseorang yang berkeluh kesah. Segenggam garam dimasukkan pada mangkuk itu dan orang itu diminta meminumnya. Asin, tentu saja. Sang kakek kemudian melempar segenggam garam ke danau, lalu orang itu diminta untuk meminum air danau. Tidak asin, jelas sekali. Sang kakek pun berujar, “Jika hatimu seluas mangkuk, wajar saja jika permasalahanmu begitu berat sekali. Akan tetapi jika hatimu seluas danau ini, permasalahanmu itu tidak ada apa-apanya.” Orang itu pun tertegun mendengar petuah bijak dari sang kakek

Kebetulan sekali, ketika saya mengunjungi blognya,masalah di sekolah bertubi-tubi datang, menghadpi siswa-siswa bermasalah. Pundak seperti diberati beban yang kian hari kian bertambah. Bisakah saya menyelesaikannya? Berkali-kali pertanyaan itu menganggu. Saya tepis rasa pesimis dengan menghadirkan kakek di tepi danau. Kakek bijak itu tak hanya memberikan pencerahan untuk laki-laki yang datang ke danau, namun melalui cerita dari sosok itu, saya turut merasakan inspirasinya. Sungguh. Saya tekankan pada diri sendiri bahwa saya ingin menjadi danau, bukan mangkuk yang sempit. Begitupun ketika seorang teman curhat via sms. Saya bagikan cerita yang sama.

Sosok itu mengingatkan juga bahwa ketika teman-teman datang curhat berkeluh kesah, sebenarnya kita sedang diberi kepercayaan untuk belajar memandang berbagai masalah. Menjadi gentong seperti sosok itu? Justru pada saat itu kesempatan terbuka lebar untuk menampung berbagai hikmah dari persoalan-persoalan itu. Saat itu kita akan tahu, ada orang lain yang kesulitannya lebih besar dari kita. Dengan begitu, sudah sepantasnya kita banyak bersyukur.

*Mencoba mengikuti kuis bang Aswi lewat tulisan ini.

Harus Belajar dari Sang Pendidik Teladan!


“Bu, mbak L nggak mau temanan,” lapor R.
Suatu ketika L bersungut-sungut menemui saya, “Bu, mbak R melototin saya.”
Di lain waktu, I datang minta pembelaan, “Bu mbak L dan R bisik-bisik.”
“Bu, mbak I nyubitin saya,” elak L
Begitulah warna kelas IB tempat saya mengajar. Ada saja pertengkaran kecil khas bocah. Namanya bocah, mereka mudah melupakan pertengkaran itu, damai, namun berkonflik lagi. Hampir tiap hari saya mengajak mereka membaca hadist kasih sayang, senyum adalah shodaqoh, dan sesama muslim saudara untuk mengingatkan. Tapi,karena tiap hari pertengkaran itu terjadi, kadang saya kewalahan. Saya butuh referensi bagaimana sikap terbaik menghadapi konflik kecil itu, menjadi “ibu” di sekolah yang bisa mengarahkan dan memberi contoh. Saya temukan buku yang saya harapkan bisa menjawab segala pertenyaan seputar pendidikan anak. Contoh itu datang dari sosok tauladan yang tidak diragukan kesempurnaan akhlaknya, mendidik sebagai seorang ayah dan kakek. Ensiklopedi itupun akan bermanfaat bagi saya kelak sebagai ibu.

Postingan ini diikutsertakan dalam Kuis GriyabukuQ Berbagi Buku: Pilih Sendiri Buku Hadiahmu! Di alamat http://griyabukuq.multiply.com/journal/item/87/

Buku yang dipilih: (Ensiklopedi Keluarga Sakinah XIII: Praktik Rasulullah Mendidik Anak) (http://griyabukuq.multiply.com/market/item/104/_Ensiklopedi_Keluarga_Sakinah_XIII_Praktik_Rasulullah_Mendidik_Anak_)

*Gambar buku dari griyabukuq

Lomba Menulis dan Jilbab Pertama: Kenekatan yang Meluluhkan Hati

“Mau pinjam jilbab lagi.” Kata saya pada saudara sepupu suatu kali di masa SMU.
“Buat apa?”
“Pengaian Ahad.”
Saudara saya memperlihatkan beberapa jilbab untuk saya pilih. Saya selalu memilih jilbab itu,sederhana tapi adem dipakai, sebuah jilbab dengan bordir di keempat sisinya. Sebulan sekali, SMU tempat saya belajar mengadakan pengjian Ahad. Saya selalu antusias mengikutinya. Alasannya simple: karena hanya pada kegiatan itu saya bisa berjilbab ke sekolah. Yeah, meskipun sekali-kali penutup kepalanya masih pinjam. Ya baru pinjam sebab waktu itu saya baru memiliki 2 potong kain jilbab yang saya milki sejak SD. Waktu itu saya belum berjilbab tetapi keinginan berjilbab sudah mengakar kuat dalam hati.

Keinginan berjilbab mulai muncul sejak saya mengenal majalah Annida. Majalah itu diperkenalkan seorang teman SMP yang kakaknya berlangganan dari SMUnya. Sebelumnya, saya memang belum mengetahui kewajiban menutup aurat bagi muslimah. Ah, betapa dangkal pengetahuan agama saya. Kelas 2 SMP, beberapa teman sudah mendahului berjilbab tapi saya baru menjadi “penonton”. Beberapa saudara dari bapak sudah bejilbab, ponakan laki-laki bahkan rajin kampanye jilbab. Tapi, saran saja tanpa hidayah dan niat tulus mana ada hasilnya. Baru pada kelas 3 SMP saya mulai membeli Annida lewat kakak yang duduk di SMU dan berlanjut ketika saya mengikuti jejak kakak bersekolah di sebuah SMU negeri di Magelang.

Selain ponakan laki-laki—kakak dia sudah berjilbab sejak SMEA–, beberapa yang rajin kampanye jilbab adalah kakak-kakak kelas dari ROHIS. Diantara mereka, ada mbak Arum yang paling care dengan saya. Selain memang ramah, mbak Arum sekelas dengan kakak dan kami bisa akrab. Begitu gencar mbak Arum mengajak adik-adik kelasnya berjilbab, sampai-sampai ketika saya memendekkan rambaut dia berkomentar,

“Wah dipotong rambutnya, mau pake jilbab kok ya…”

Nggak nyambung kan komentarnya? Saya balas komentarnya dengan senyum. Dalam hati saya mengamini. Keinginan itu memang sudah ada kok. Saya hanya belum siap, belum siap dengan pakaian panjang untuk sekolah. Kalau untuk di rumah tidak ada masalah karena sudah ada beberapa baju muslim pemberian sepupu dan saya sudah mulai memilih celana panjang atau baju panjang ketika dibelikan baju baru. Ketidaksiapan yang paling berarti sebenarnya adalah ijin ortu. Tiap kali saya mengutarakan keinginan, emak selalu bilang,

Ijeh kaya ngono kok nggo jilbab.” (Masih kayak gitu kok pakai jilbab)

Kayak gitu yang dimaksud emak adalah sikap saya yang dilihatnya masih semau sendiri. Tingkah sehari-hari saya barangkali dilihatnya masih jauh dari kesan alim, citra yang selau menempel pada muslimah berjilbab. Padahal, bukankan berjilbab itu sebuah proses? Kalau nunggu alim dulu, kapan berjilbabnya karena diri selalu merasa kurang? Bukankah dengan jilbab kita akan belajar menyesuaika, belajar memperbaiki diri?

Saya tak bisa melawan, belum punya kekuatan lebih. Tapi semakin saya membaca majalah Annida semakin kuat kerinduan saya akan jilbab. Boleh dibilang, kampanye dengan mulut tidak lebih mengena daripada bacaan-bacaan yang saya lahap. Saya tipe orang yang lebih suka membaca daripada mendengar. Cerpen-cerpen dalam majalah Annida banyak memberi inspirasi mengenai hidup. Kala itu, banyak penulis-penulis kondang seperti Helvy Tiana Rosa—sebagai pimred–, Asma Nadia, Sakti Wibowo tulisannya wira-wiri di Annida. Dari Annida pula saya mengenal HTR dan noveletnya yang ngeboom: Ketika Mas Gagah Pergi. Ajakan berjilbab dalam cerpen itu sangat menyentuh tanpa menggurui.

Hidayah itu mahal, jadi ketika hidayah itu menyapa, jangan pernah sia-siakan. Kata-kata yang sering saya baca itu selalu terngiang. Siang itu, saya ngobrol dengan kakak. Saya utarakan keinginan kuat itu. Kakak meskipun belum berjilbab mendukung saya untuk terus maju, bahkan akan membantu saya saat menghadap emak lagi. Saat itu juga saya mantab, mulai besok pagi dan seterusnya saya harus mengenakan jilbab di sekolah dan di rumah. Siapa yang tahu umur seseorang berakhir kapan kalau niat baik itu tidak segera dilaksanakan?

Berkaca-kaca mata saya. Emak [lagi-lagi] belum berkata ya saat saya utarakan keinginan saya.
“Seragam saja belum punya.” Begitu alasannya.
“Aku bisa beli sendiri.”
Setengah hati emak memberi kebebasan pada saya dengan nada menantang:
“Terserah, tapi urusin semuanya sendiri.”
Ini hanya tantangan kecil. Saya memiliki emak yang seislam dan seiman dengan saya. Tantangan itu tak ada apa-apanya dibanding ujian nabi Ibrahim yang ayahnya berbeda keyakinan. Emak sebagai orang tua yang kadang over khawatir mungkin hanya cemas kalau saya hanya main-main, belum siap untuk istiqomah. Tekad saya makin kuat. Bukankah Allah akan menolong hamba-Nya yang juga menolong agama-Nya( melaksanakan perintahnya)? Saya selalu yakin akan hal itu.

Saya berani melangkah sebab saya menyimpan tabungan beasiswa sekolah. Itu rezeki dari Allah yang mempermudah jalan saya. Tanpa uang itu, saya tak berani bilang bisa beli sendiri sedang uang saku saja masih diberi. Dengan diantar kakak, saya berkeliling pasar untuk mencari pakaian seragam yang saya butuhkan. Baru dapat satu stel seragam putih abu-abu kami pulang. Yang lain belum cocok. Untuk jilbab saya belum membeli meskipun baru memiliki 2 jilbab putih. Sambil jalan saya akan mengumpulkan dan jilbab Pramuka sementara pinjam dahulu dari ponakan, bekas seragam SMEA-nya. Pikir saya, pasti jilbab itu masih ada.

Pulang sebentar meletakkan seragam baru, saya langsung menuju rumah sepupu untuk mengutarakan niat saya. Keluarga sepupu terkejut dan menyambut gembira rencana hijrah saya. Sepupu justru memberikan jilbab yang akan saya pinjam ditambah 2 jilbab lagi.Alhamdulillah.
Kembali lagi ke rumah, emak tidak menyangka kalau saya tidak main-main. Beliau sudah melihat sendiri kalau bocah wedok yang masih diangapnya pupuk bawang berani mengambil keputusan besar dalam hidup. Begitu mudah Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya. Setelah bertanya jawab mengenai seragam dan tabungan beasiswa, hati emak luluh. Siang itu juga, beliau sendiri kemudian yang mengantar saya balik ke pasar melengkapi seragam yang belum terbeli—satu pasang seragam OSIS dan Pramuka– tanpa saya minta. Subhanallah, hari itu menjadi hari yang membahagiakan buat saya. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya melangkah sendiri?

Bulan Maret 2000. Tanggal tepatnya saya lupa. Yang saya ingat, kakak-kakak kelas 3 sedang melaksanakan ujian Pra-EBTA ketika untuk pertama kalinya saya mengen
akan jilbab. Terutama mbak Arum, kakak-kakak dari ROHIS tentu terkejut senang. Mereka semua mengucapkan selamat dan mendoakan. Allah begitu mudah membukakan jalan saya. Rezeki bertubi-tubi datang. Sepupu saya yang lain memberikan 3 jilbab dan mbak Fatim, sohib kakak di kelas, memberikan satu jilbab cantik. Saya tak pernah khawatir dengan langkah saya selanjutnya. Emak menjadi pendukung saya. Beliau bahkan meminta kakak mengikuti jejak saya. Hidayah itu barangkali belum menyapa sehingga keinginan emak belum tercapai.

Sudah sepuluh tahun berlalu, tapi berjilbab bagi saya masih menjadi proses belajar. Keimanan masih pasang surut tapi saya mensyukuri hidayah yang terus teraga. Jujur saya masih suka terpengaruh, ada model baju tertentu kadang kepengen memakai. Namun, apapun jenis pakaian saya, rok, celana, atau gamis, apapun jenis penutup kepala saya: model dan gaya apapun, saya tetap ingat rambu-rambu dari Allah: menutup dada dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh. Berjilbab toh bukan berarti tak bisa berekspresi dalam berpakaian—nyeni.

Alhamdulillah, emak yang dulu jadi penentang dan kini pendukung selalu memahami selera berjilbab putrinya. Beliau yang meskipun belum bisa kaffah berkerudung tak mau lagi memilih dan membeli jilbab ukuran kecil untuk dipakainya. Lumayan, kami bisa bertukar jilbab oblong. Malah saya yang lebih sering meminjam jilbab oblongnya untuk acara santai.

Magelang, 10-10-2010
Dedicated to my beloved emak

**tulisan ini ikut memeriahkan Lomba Jilbab Pertamaku di rumah bu Dian

***foto novel dari googling