Berkebun di Kebun Bibit Senopati

 

 

Salah satu cara mengembangkan kecerdasan naturalis anak adalah mengajak mengekplorasi alam dan melakukan kegiatan berkebun. Di Kebun Bibit Senopati Magelang ini anak-anak akan diajak berkebun dengan fun. Tempat ini beralamat di Jl. Panembahan Senopati, Jurangombo Utara, Magelang Sel., Kota Magelang, Jawa Tengah 56123. Kebunnya indah dan banyak spot yang instagramable.

IMG_20181113_083721

 

IMG_20181113_092449.jpg

IMG_20181113_085118.jpg

IMG_20181113_083858.jpg

 

 

Kunjungan yang  dilakukan dengan kawan-kawan sekolah, pasti seru!!! Ini salah satu kunjungan belajar yang diadakan TK Janitra. Begitu datang, petugas menyambut anak-anak. Mereka dikumpulkan untuk pengarahan lalu diarahkan untuk menanam bunga. IMG_20181113_084350

Kegiatan menamam bunga dipandu oleh seorang petugas. Selanjutnya anak-anak akan diberi sebuah tanaman bunga yang dibawa pulang untuk ditanam di rumah. Selesai tugas menanam, ustadzah mengajak mereka berkeliling kebun.

IMG_20181113_090012_edit

 

Foto-foto tak ketinggalan. Apalagi emak seperti saya, sudah siap dengan gawai yang kameranya tak luput menjepret moment si anak.

IMG_20181113_085435_edit

IMG_20181113_085448

PhotoLab_20181129_161914[1]

PhotoLab_20181129_163419[1]

PhotoLab_20181129_160700[1]

 

Mau coba ke sini? Ajaklah si kecil ke sini,pasti senang. Berlarian dan mengenal aneka flora.

[Oleh-Oleh Workshop Tulis Nusantara Magelang] Kamu Penulis?

Gambar

Beruntung bagi saya, Magelang menjadi salah satu dari 12 kota penyelenggaraan Workshop Menulis Tulis Nusantara. Sebelas kota yang lain adalah Jakarta, Bandung, Kendari,Palangkaraya, Gorontalo, Palangkaraya, Bandung, Yogyakarta, Pamekasan, Medan, Riau, Batam, dan Bengkulu. Workshop ini diadakan sebagai praevent lomba Tulis Nusantara 2014. Ya, nggak peduli besok mau ikut lombanya atau tidak, yang pasti saya bisa menimba ilmu dari workshop yang bertempat di hotel Atria Magelang Rabu, 21 Mei 2014 kemarin, pukul 12.30—16.30 WIB.

Didominasi oleh mahasiswa dari Universitas Negeri Tidar Magelang dan Universitas Muhammadiyah Magelang, di workshop itu sepertinya saya menjadi peserta ‘tua’ bersama satu teman saya. Nggak masalah, yang penting saya enjoy meninkmati acara itu.

Acara diisi dengan 2 sesi. Sesi pertama, sharing kepenulisan diisi oleh Feby Indirani, penulis sejumlah buku. Sebut saja buku Memilihku,The Story Book of Just Alvin,Ahmadiyah Keyakinan yang Digugat, dan sejumlah buku antologi bersama . Dalam sesi ini, ada pertanyaan menggelitik yang dilontarkan Feby. Kamu penulis? Untuk men,awab ya atau tidak, kita bisa menyimak perbedaan antara Penulis dan Bukan Penulis

Penulis

Bukan Penulis

Membaca menjadi prioritas

Tidak menunggu mood

Riset dan memperlakukan data dengan hati-hati

Menghargai pembaca

Mulai menulis sekarang

Menyelesaikan tulisan

Tidak membaca

Menunggu mood

Malas meriset dan mengecek ulang data

Meremehkan pembaca

Berharap menjadi penulis

Banyak memulai, tidak menyelesaikan

Feby menenkankan tentang tujuan yang jelas bagi seorang penulis, point yang ingin disampaikan apa, sehingga penulis memiliki energi untuk menuntaskan tulisan, kendati ia pernah berhenti menulis karya yang sedang digarapnya.

Penulis, pemula apalagi, mesti hati-hati dengan racun. Apa itu racun bagi penulis?

  1. Terlalu membicarakan karya,
  2. Memberikan tulisan yang belum selesai
  3. Membandingkan diri secara berlebihan
  4. Ingin instan
  5. Cepat puas diri
  6. Terlalu fokus pada pencitraan
  7. Menyerah

 

Point penting bagi saya adalah saya yang belum konsisten, menulis harus selalu ingat TUJUAN menulis.

 

Sesi kedua diisi oleh Risna editor dari Plot Point.   Pemaparannya ingin menyamakan persepsi dengan peserta workshop mengenai apa itu kearifan lokal. Materinya memberikan pencerahan buat saya, cukup gamblang memberikan point penting tentang tema dalam lomba Tulis Nusantara: “Menjelajah Inspirasi Kearifan Budaya Indonesia. Sedikit materi yang bisa diringkas adalah:

Sebuah budaya selalu punya nilai yang diterjemahkan dalam tiga hal: perangkat, pelaku, dan ritual (termasuk di dalamnya kebiasaan, kepercayaa)

Nilai merupakan sesuatu yang dianggap berharga oleh budaya tersebut. Kearifan lokal adalah sebuah metode pemecahan masalah yang ada dalam budaya sebuah tempat. Sebagai contoh di Kampung Naga, ada sebuah hutan “terlarang”. Dikatakan terlarang bukan karena angker atau mistis, namun lebih dikarenakan masyarakat setempat ingin menjaga nilai kelestarian alam.

Kearifan lokal juga bisa dikatakan sebagi metode untuk mendapatkan nilai atau menghilangkan ancaman terhadap hilangnya nilai.

Setelah persepsi mengenai kearifan budaya lokal bisa dipahami oleh peserta, pemateri kemudian melanjutkan dengan materi cerita. Point penting dari sebuah cerita yang saya tangkap dari worksop adalah   perubahan. Cerita adalah sebuah perubahan, dari titik awal menuju titik akhir, ada faktor perubahnya. Nilai itulah yang menjadi pengubahnya.

 

Saya menikmati rangkain acara worksop yang diselingi dengan sesi foto bersama dan coffee break. Yummi… lebih menarik lagi, peserta worshop disangoni dengan sebuah sertifikat dan satu map berisi materi, stiker, blocknote, pulpen,dan poster perlombaan . Gratis, dapat ilmu pula.

 

 *terima kasih buat  Umi Nur Arifah dokumentasinya

Pagi yang Putih

Buka pintu selepas subuh tadi,emak berseru, “udan awu!’

Saya ikutan menengok ke luar. Tanah putih tertutup abu. Jalanan di depan rumah apalagi. Sekitar rumah nampak suram, kelabu. Sebelum subuh, saya sempat buka internet, di beranda FB sudah ada yang memasang status soal Kelud. Gunung Kelud yang  terletak di tiga Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur (7º 56’ 00” LS, 112º 18’ 30” BT) dengan ketinggian puncak 1.731 meter di atas permukaan laut meletus pada Kamis (13/2)  pukul 22:49.
Seketika, dalam hati saya merapal istighfar dan doa untuk  mereka yang sedang berada dalam ujian: letusan Kelud, Sinabung, dan bencana lain di Indonesia. 

Meski begitu, kami tetap beraktivitas seperti biasa, berangkat kerja dengan tergesa. Tak terpikir di kepala untuk membawa masker dan payung. Tak menyangka, sampai di jalan raya, mendekati terminal, jarang pandang terbatas oleh abu. Jalanan memutih. Dasyat sekali dampak letusan Kelud terasa sampai desa Grabag, Kab. Magelang.

Gambar

Gambar

Gambar

Mata terasa pedih oleh abu yang berhamburan. Udara terasa berat untuk di hela.

Belum sampai ke sekolah, sms dari kepala sekolah masuk. Intruksi darurat, sekolah diliburkan. Bergegas saya berlari-lari kecil menuju pintu masuk sekolah, sambil tangan tak lepas mengetik hp, wali murid yang terlanjur ke sekolah harus segera diberitahu. Beberapa anak sudah datang dan segera pulang. Jadilah pagi tadi hujan-hujanan abu di depan sekolah, menyambut dan memberi tahu setiap wali murid yang mengantar putra-putrinya ke sekolah. Alhamdulillah hujan abu pagi tadi sempat diselingi hujan air, jadi tebalnya abu sedikit tersiram.

Ayam Goreng Tulang Lunak Ninit

Ada yang aneh, tidak biasa, di mata saya ketika suatu siang makan di Ayam Goreng Ninit yang berlokasi di Jalan Ikhlas Magelang.  Begitu duduk setelah memesan menu, ayam goreng tentu saja karena di sana hanya menyediakan satu menu. Pelayan rumah makan terlihat mondar-mandir mengantar pesanan tanpa baki, dan dicicil—pakai bahasa saya—. Pertama meraka akan membawa dua cangkir minuman. Lalu datang lagi yang membawa dua tatakan—piring kecil— berisi ayam goreng, disusul pembawa  nasi dan lalapan di mangkuk kecil. Kesannya semrawut dan kurang rapi.   Maksudnya mungkin agar pengunjung tidak menunggu lama. Ketidakbiasaan lagi yang saya temukan adalah sambalnya. Ya, sambalnya tersaji dalam  teko plastik yang lazimnya digunakan untuk mewadahi  minuman.  Mau menuang sambal sebanyak apapun, bebas.  Penampilan dan penyajian menu teramat sederhana dan apa adanya.

Image

Saatnya makan, lha piringnya mana? Saya melihat suami mengambil piring dari bawah meja. Oalah, ternyata piring-piring memang sengaja  diletakkan di rak  bawah meja.

Image
Pelayanan yang kurang rapi terbayar oleh nikmatnya ayam goreng. Ayam goreng Ninit terkenal dengan tulangnya yang lunak. Setelah daging yang hangat-hangat panas ditambah sambal yang pedas mantab  sudah habis, penggemar tulang—ada kan yang suka mencecap-cepat  tulangnya setelah dagingnya tandas?  bisa menikmati  lunaknya tulang. Minuman yang disediakan ada teh, jeruk,serta air putih  yang bisa diambil bebas.   Meskipun hanya ada menu ayam goreng, namun tempat itu menyediakan beberapa pepes seperti pepes jamur dan ikan.  Satu porsi ayam goreng dibrandol Rp15.000;.  Sederhana memang tempat dan pelayanan tempat makan itu, namun tempat itu terlihat ramai. Tak heran, sebab ayam goreng itu sudah eksis sejak 1983, seperti yang tertampang di depan warungnya: Ayam Goreng Ninit:  Sejak 1983

Makin Jauh dari Hijau Alam…?

Dalam sebuah perjalanan menjuju desa Sindas , Magelang siang itu, lewatlah saya dan teman-teman disebuah rumah di daerah Candisari yang berandanya penuh dengan perabot, peralatan dapur, dan wadah-wadah dari anyaman plastik. Serba hijau. Menarik.

Keluarga itu menjadi salah satu home industry yang ada di desa Candisari Secang.
“Wah, nanti mampir Bu… “ ucap spontan seorang teman yang menjadi koordinator logistik di sekolah. Di benak kami terbayang beberapa alat kebutuhan dapur yang bisa dibawa ke sekolah.
Niatan itu benar-benar kami laksanakan dalam perjalanan pulang. Kami membutuhkan tempat ngetus piring. Karena di dapur kami yang tak seberapa luasnya belum memiliki rak wadah piring-piring yang masih basah, maka kami membutuhkan wadah itu untuk seratusan piring. Baru ada satu rak piring yang sudah berisi macam-macam di dapur.
Sewajarnya ibu-ibu, melihat peralatan rumah tangga yang tak banyak di temukan di pasar, terlebih harganya miring, exited tentu saja. Saya tak ketinggalan gumun, hemmm… semua anyaman plastik. Dalam hati terbesit pikiran, betapa sekarang peran bambu telah tergeser dan tergantikan. Ya… semua wadah-wadah di tempat ini asal mulanya dari bambu, barang-barang yang lazimnya terbuat dari anyaman bambu. Dari peralatan dapur ada tenggok, eblek, irik, ongkek, wadah lusinan piring dan gelas, hingga peralatan mencari ikan seperti bronjong, kemudian yang dipakai para tukang sayur di sepeda motornya.


bronjong

eblek dan keranjang

Apa yang membuat peran bambu itu kini digantikan plastik? Kelangkaan? Untuk ukuran wilayah seperti kami di desa rasanya masih banyak ditemukan pohon bambu, tak sulit mendapatlannya. Lalu apa? Saya ingat, pernah menyarankan emak saya mengganti kranjang bambunya dengan kranjang plastik semacam itu melihat kranjang bambu yang dimiliki emak hampir bobrok lantaran sering terendap air dari piring-piring atau gelas basah.” Ganti dengan yang plastik kan awet, nggak busuk kena air,” saran saya. Kiranya, pendapat saya itu bisa mewakili. Praktis, awet, anti air sehingga tidak akan busuk. Kalau soal harga, peralatan dari bambu memang lebih murah karena mudah diproduksi.
Kalau berpikir keuntungan, rasanya tak adil kalau tak mengingat ruginya. Untuk peralatan dari bambu yang renta karena cuaca maupun air, kemana mereka akan kembali? Tentu saja pada alam, dari alam dan akan kembali ke alam. Sementara itu, kemana barang-barang dari plastik itu ketika kita tak lagi membutuhkannya? Didaur ulang barangkali, tetapi ketika sudah benar-benar menjadi rongsokan dalam timbunan sampah, apakah alam akan menerima dan bersedia mengurainya?
Ketika menyarankan emak untuk mengganti produk alam ke sintesis, saya tidak berpikir sejauh itu. Tapi ketika saya lihat gerombolan peralatan dari bahan sintesis itu di Sindas kenapa pikiran saya kemudian melayang ke masa depan? Satu benda agaknya tak membuat saya membayangkan masa depan bumi, tapi berjubelnya plastik itu mendadak membuat saya sedikit ngeri membayangkan bagaimana benda-benda hijau plastik itu benar-benar menggeser bambu dan bahan-bahan dari alam yang ramah lingkungan. Bagaimana seandainya plastik-plastik itu kelak hanya menjadi rongsokan dan teronggok diantara tumpukan sampah tanpa guna? Sementara alam masih menyediakan dirinya untuk dimanfaatkan—dengan konsep pembaharuan tentu saja— kenapa manusia tak mau mengakrabi? Sudah jauhkah manusia sekarang dengan alam?

bekakas dari bambu

Museum Karmawibhangga Borobudur

Mengunjungi Borobudur tanpa bertandang di museum ini tak akan lengkap. Museum berada dalam satu komplek dengan candi, berdekatan dengan Museum Kapal Samudraraksa. Kedua museum berada di bagian depan komplek setelah pintu masuk candi. Memasuki kawasan museum, di hadapan saya terbentang batu-batu yang berjejer rapi di kanan dan kiri.
Kemudian saya disambut langgam gending Jawa , komposisi yang dibawakan beberapa laki-laki berbeskap dan berblangkon. Tembang yang dibawakan nikmat sekali masuk kuping, entah tembang apa judulnya. Duduk lama-lama di pendopo itu krasan, nglaras, dan ingin berlama-lama kalau tidak ingat saya musti masuk museum sebab hari telah beranjak sore, nyesel juga saya terlalu lama berputar-putar di atas candi. Setelah merekam penampilan mereka via video hp, saya pun masuk ke museum.Museum Karmawibhangga diambil dari relief Maha Karmawibhangga yang berada di dinding lantai paling bawah yang tertutup oleh tatanan batu di monumen candi Borobudur. Naskah Maha Karmawibangga menggambarkan “karma” atau hukum sebab akibat, baik buruk yang dialami dan surga neraka sebagai akibat imbalan akibat kehidupan dalam re-inkarnasi. Bagaimana rangkaian cerita dan karma itu bisa dilihat di relief-relief—tiruan—yang terframe di sebuah ruangan. Jumlahnya ratusan dan bernomer sehingga pengunjung bisa menelusuri secara runut. Ada keterangan di bawah frame yang menggambarkan relief-relief itu.
Di museum Karmawibhangga terdapat banyak batu-batu lepas komponen penyusun candi Borobudur. Lepas maupun kerusakan candi bisa disebabkan oleh faktor alam seperti mahapralaya letusan gunung Merapi tahun 1006 maupun karena
faktor cuaca yang menyebabkan perkembangan jamur, juga karena faktor manusia seperti pencurian. Untuk mengembalikan batu-batu lepas ke dalam konstruksi bangunan Candi Borobudur diperlukan suatu penelitian menggunakan metode anastilosis. Anastilosis diartikan sebagai metode pemasangan kembali batu-batu candi setelah berhasil diyakinkan tempat aslinya melalui pencocokan berdasarkan kecocokan sistem ukuran, sambungan, keharmonisan, atau bentuk arsitektur secara keseluruhan.

sebuah guci di antara reruntuhan

satu contoh batu yang lepas, lihat lebih jeli, ada penyambun–skrup–
berbagai penyambungan batu
replika rekonstruksi Candi Borobudhur

sistem penomeran batu

Di dalam mesum itu terdapat sistem penomeran batu yang berangka dan berumus yang tidak saya mengerti. Mau tanya guide? Sepi, museum itu terlihat sepi di dalam. Lagipula, saya kurang merasa nyaman berl
ama-lama di museum itu, rasanya kok agak takut sendirian berada di dalam ruangan yang dipenuhi deretan relief dan di ruangan sesudahnya ada arca-arca. Sedikit merinding, entah… Suasana museum itu terasa kontras dengan keramain candi, hiruk pikuk oleh pengunjung maupun perayaan Waisak.

Tidak banyak yang bisa dijepret di dalam museum, ada pelarangan mengambil foto untuk arca-arca. Hal itu bisa saya mengerti,penyebaran foto dikhawatirkan bisa memancing hal-hal yang tidak diinginkan.

Terakhir adalah pendopo, saya bisa melihat seperangkat gamelan, lengkap. Ini dia:

1105 Tahun Kota Toea Magelang



Tahun ini, tepatnya 11 April 2011 kota Magelang memperingati hari jadi ke-1105. Sudah begitu tua, pantaslah jika digelar berbagai perayaan bertajuk Magelang Kota Toea. Serangkaian perayaan itu digelar selama sebulan dengan puncak acara 11 April lalu. Saya hanya berkesempatan menjadi saksi untuk acara pameran yang digelar di alun-alun kota Magelang pada Ahad, 17 April. Berbagai stand yang berderet di alun-alun sisi barat itu menampilkan foto-foto Magelang tempoe doloe dan benda-benda purba yang ada di Magelang dan sekitarnya.

Dari foto-foto yang dipasang di anyama
n bambu atau biasa disebut gedheg, kita bisa merunut jejak tua Magelang, tidak saja terbatas di kota namun gambaran kabupaten Magelang pun bisa ditemukan dalam foto-foto itu, seperti Borobudur, Muntilan, Kali Bening—Payaman–. Gambar kota Magelang yang paling tua saya temukan berangka tahun 1905 yaitu stasiun pasar Magelang. Nama-nama yang tertera banyak yang menggunakan bahasa Belanda. Untuk nama jalan dan tempat, telah terjadi tiga kali pergantian yaitu tahun 1935, 1950, dan 2000. Ada yang menurut saya patut di sayangkangkan dari pergantian nama itu, nama-nama yang Magelang banget hilang sepert Aloon2 Lor, Aloon2 Kulon, dan Aloon2 Kidul menjadi Alun-alun utara, barat dan selatan di tahun 2000. Mungkin untuk menasionalisasikan nama-nama tempat di Magelang ya…


Foto-foto itu memberikan gambaran tentan
g tata kota Magelang yang dirancang oleh arsitek berkebangsaan Belanda, Karsten. Saya salut membaca biografinya yang terpampang di salah satu stand. Seperti Max Havelaar, ia begitu mencintai dan pro pribumi. Berbeda dengan orang Belanda waktu itu yang banyak mengambil gadis pribumi sebagai gundik, Kersten menikahi gadis pribumi yang dicintainya, Soembinah Mangunredjo dari Wonosobo. Pernikahan mereka berlangsung di sebuah masjid di Ungaran. Mereka menikah secara Islam sebab Karsten menjadi seorang mualaf. Karya-karya Karsten di Indonesia berorientasi kerakyatan dan berjiwa Tropis. Selain Magelang, rancangan peninggalannya adalah Kebayoran Lama di Jakarta, Candi Baru Semarang, jalan Ijen Malang yang terkenal dengan kawasan Boulevard, dan kawasan di Bandung.
Ada puluhan foto yang terpajang, n
amun karena saya belum mampu mengambil gambar dengan piawai maka hanya beberapa gambar saja yang saya jepret dengan hp. Foto yang dilaminating menjadikan beberapa gambar memantul saat difoto sehingga buram.


Berikut foto-foto yang berhasil saya amb
il.

Sekolah
Beberapa dari sekolah di bawah ini masih hidup bah
kan menjadi sekolah favorit di kota Magelang seperti SMP N 1 Magelang dan SMP Tarakanita. Sekolah kejuruan ternyata ada juga yang sudah berumur sangat tua, ialah SMK Wiyasa.


Tempat Hiburan
Ada dua bioskop di Magelang jaman dulu. Keduanya ki
ni sudah tidak beroperasi. Satu bioskop masih sering saya lihat sisa jejaknya: Bioskop Kresna Pecinan. Bioskop itu ada di tepi perempatan dekat alun-alun kota Magelang. Bioskop satunya, wah namanya mengingatkan pada sebuah istana di Spanyol pada masa kejayaan Islam di sana, Alhambra,hemmm... baru tahu kalau jaman dulu ada bioskop itu.


Pabrik
Jaman dulu ternyata Magelang menj
adi penghasil tembakau bahkan ada pabrik rokok dan cerutu.



Warna-Warni Magelang
Ada yang menarik di sini, yaitu keberadaan kio
s buku. Sewaktu melihat foto itu, angan saya langsung melayang pada Yogyakarta yang sekarang punya shopping centre untuk buku-buku. Di sinikah dulu warga Magelang bisa mendapatkan buku-buku?
Yang ini adalah bus yang mengantar orang dari Magelang ke Yogya. Namanya bus, tapi bentuknya kayak mobil Jee
p.


Yang ini bukit Tidar. Kok gundul ya? Malahan asri bukit Tidar jaman sekarang.


Seorang presiden mengungi kota Magelang tentu peristiwa besar. Saya jadi ingat cerita bapak saat Presiden Soekarno berkunjung, bapak bisa berhadapan dengan beliau. Apakah dalam moment yang sama dengan ketika foto ini ketika diambil?



Selesai melihat deretan foto purba, berikutnya adalah berkeliling dari stand ke stand. Ada banyak benda-benja jadoel saya temukan, dari mainan anak-anak seperti wayang-wayangan kecil, jam beker, atlas, uang logam kuno, sepeda, motor, bahkan keris.




Yang menarik adalah di stand Dev’s Antiques yang punya jargon inilah djejak waktoe. Di sana saya bisa melihat berbagai poster film dan iklan jaman dahulu, ada iklan pasta gigi, bir, blue band, dan iklan-iklan dan poster yang tidak saya mengerti.

Stand ini juga menyediakan sebuah alat bernama stereoskop. Alat yang dipakai untuk meliahat dua foto kembar menjadi satu foto 3 dimensi. Asyik.

Ini foto kembar itu:



Mata saya menempel di sini nih:



Seorang pengunjung sedang menjajal alat itu.


Di stand ini ada sepeda kuno yang tergantung di langit-langit.

Sepeda, banyak sekali sepeda yang saya temukan di alun-alun. Ada juga miniatur sepeda dari bambu yang dipasang di stand kios Madjoe. Kios itu menyediakan benda-benda dari bambu, sebagian besar anyaman. Namun ada juga buah seperti buah mojo yang dikeringkan.


Sayang Anak… Sayang Anak…
Berbagai mainan tradisional dijajakan di pameran itu, ada layang-layang, gangsing dan pong-pongan yang cangkangnya dicat warna-warni.

Mau permen jaman dulu juga ada, gulali yang bentuknya macam-macam. Ada bentuk bunga yang bahannya,glukosa, dijewer-jewer kemudian dibentuk dilengkungkan serupa bunga. Untuk bentuk bentuk lain seperti bentuk binatang ada cetakan yang terbuat dari bahan seperti batu.

Mencicipi Kuliner Tradisional
Puas berkeliling dan capek, saya sempatkan mampir di satu stand yang menjajakan berbagai makanan dan minuman jadoel. Ada sekoel lesah daging sapi, sego megono, wedang badjigoer, wedang kajoe setjang, dawet, batjeman dan aneka njamikan seperti karang gesing, pethotan, pisang godhong, sengkolon, dan aneka makanan yang dibuntel daun. Saya tertarik mencoba wedang kajoe setjang dan sengkolon merah putih, makanan yang lain sudah tidak asing di lidah saya. Wedang hangat itu rasanya nikmat dan wangii…. khas banget rasanya. Nikmat sekali menyeruputnya sembari menyimak langgam keroncong sebagai backsound, ditingkahi bunyi mainan anak yang dijajakan. Karena dicampur dengan rempah-rempah seperti cengkeh dan kayumanis jadi hangat. Aroma kayumanisnya terasa sekali. Pokoknya sedap dan manteblah!


2 Hari 2 Kejutan

Senin, 27 Desember 2010

Menyusuri pecinan kota Magelang, langkah tiba-tiba berhenti di satu pertigaan. Beberapa detik saya berdiri memandang satu toko buku kecil beberapa meter di depan mata. Hati tergilitik ingin mampir. Mampir tidak mampir tidak. Saya tahu, saya hanya akan menemukan buku-buku yang tidak up to date di sana. Tapi, hati begitu tertarik, siapa tahu ada judul unik, luar biasa, di luar dugaan atau apalah di sana, yang pasti siapa tahu ada buku yang membuat terkejut. Maka kakipun memilih mengikuti komando hati. Benar saja! Begitu satu kaki memasuki toko, mata tertumbuk pada satu buku yang di masa awal-awal kuliah, di 2003, pernah begitu menghantui beberapa hari saya. Buku itu tertangkap mata pertama kali di sebuah rak pojokan satu supermarket di Yogyakarta-pojok kecil yang menyediakan segelintir koleksi buku. Buku itu begitu ingin saya miliki. Tiap kali datang ke sana saya pandang diam-diam. Saya yang waktu itu hanyalah anak kos yang sangat tergantung pada orang tua dari segi finansial, nggak kuat beli buku. Mau baca buku ya pinjam dari perpus. Karena belum bisa mendapatkannya, saya cukup memasukkannya di list buku yang ingin dimiliki, tertulis di diari tertanggal 8 Januari 2003/14.45: Il Postino karya Antonio Skarmeta.


Mendapati buku impian itu mejeng di rak beberapa langkah dari saya, dengan tempelan harga Rp 10.000 saya benar-benar takjub. Subhanallah, saya benar-benar bisa mendapatkannya 7 tahun kemudian dari pandangan pertama, dengan harga supermiring pula. Secuil mimpi yang tertulis di satu diary–diantara dream lists dan daftar buku pujaan lain di beberapa diari–, tapi betapa Allah tak pernah membiarkannya begitu saja. Satu-satu dikabulkan-NYA.

Selasa, 28 Desember 2010

Perpusda kota Magelang menjadi tempat kedua perjalanan hari ini setelah Desa Buku di areal Taman Kyai Langgeng Magelang. Membuat kartu anggota tidak masuk dalam daftar rencana. Niat itu terbit karena teman saya melakukannya. Mumpung ke sini tak ada salahnya sekalian daftar, pikir saya. Berdiri di depan resepsionis perpustakaan yang melayani ‘administrasi’, saya menunggu beberapa saat sampai tiba giliran saya dan teman saya. Setelah tiba giliran teman, saya mengutarakan hal yang sama. Ibu yang melayani memandang saya dan berkata, “Pernah jadi anggota kan?”
“Pernah, tapi dulu sekali waktu masih SMU,” tak yakin kalau jawaban saya akan ada gunanya.
“Coba saya cari dulu, pasti masih ada.” Ibu itu kemudian meminta KTP saya.
“Emang masih bisa Bu?” Saya masih tak yakin, ah masak data saya masih ‘diopeni’. Wajah ibu yang super ramah itu begitu meyakinkan. Surprised sekaligus tak percaya saya menyerahkan fotokopi KTP.
“Sebentar saya cari.”
Tak lama, beliau kemudian menanyakan data saya untuk mencocokkan. Benar, ternyata masih ada!

Saya terkejut dan takjub dengan ingatan kuat sekaligus keramahan beliau. Saya yang sejak lulus SMU hanya sesekali datang ternyata masih diingatnya. Terakhir saya datang kalau tak salah tahun 2007 atau 2008 awal, sekali saja setelah beberapa bertahun tak menginjakkan kaki di sana, dengan status non-anggota diijinkan masuk ke dalam untuk ngubek-ngubek tumpukan koran bekas.

Saya merasa beruntung hari ini sehingga tak perlu mengisi formulir dan minta cap kelurahan, hanya perlu daftar ulang. Jadi, hari ini bisa langsung pulang membawa 2 buku.

“Ibu, terima kasih masih mengingat saya, padahal tak terhitung berapa wajah pengunjung selama beberapa tahun ini yang mampir di benak ibu.”

foto dari :sini

Akankah Desa Saya Menyusul Memutih?

Kalau di catatan sebelumnya [Seperti Negeri Dongeng atau Kota Mati] saya menulis desa saya masih bersih, hari ini abu vulkanik mulai menyapa desa saya. Pagi tadi saya keluar rumah, abu masih berupa titik-titik. Kini, jalanan dan halaman rumah mulai memutih, udara semakin mengeruh. Orang-orang yang berseliweran sudah bermasker. Rupanya angin yang membawa muntahan gunung Merapi berhembus ke arah sini. Ya Allah, jangan jadikan desa saya seperti kota mati atau ‘negeri dongeng’ itu. Amin. . .

Sabtu, 4 November 2010

Seperti Negeri Dongeng atau Kota Mati?

Magelang jadi putih, berasa di negeri dongeng bo!, begitu bunyi sms teman saya pagi tadi, ketika sampai di kota Magelang. Menjelang siang, dia sms lagi, sekolah pertanian tempatnya mengajar, di kawasan Mertoyudan, akan dijadikan tempat pengungsian. Di angkot tadipun, terdengar obrolan kalau beberapa sekolah di Magelang sudah diliburkan. Selain udara yang tidak sehat, secara psikologis anak anak juga terganggu dengan suasana belakangan ini.

Lain lagi status FB yang ditulis seorang kawan yang tinggal di kota Magelang sore kemarin: Magelang seperti kota mati,banyak abu,debu..langit gelap, dan mati lampu. Sejak beberapa hari lalu, hujan abu tebal memang sudah menyapa kota Magelang. Listrik tidak bisa dinikmati oleh penduduk Muntilan, Magelang dan sekitarnya.

Alhamdulillah, berada di kabupaten Magelang, desa tempat tinggal saya, Grabag, masih bersih. Beberapa teman melihat ada abu-abu tipis beterbangan, tapi sejauh yang ditangkap oleh mata saya, kampung saya bebas abu. Hanya saja, gludakgluduk dari Merapi terdengar sejak semalam. Ngri, saya ikut merasakannya. Sms-sms berdatangan. Teman yang tinggal di Blabak mengabarkan sore kemarin banyak terjadi kecelakaan karena arus lalu lintas tak kondusif, jalanan gelap dan licin. Ditambah lagi ada hujan pasir. Kabar hujan pasir juga saya terima dari Paklik yang tinggal di Condongcatur dini hari tadi.

Sedih melihat berita hari ini, korban-korban itu, balita yang terbakar dan meninggal, desa-desa yang terbakar, Innalillahi. Lalu suasana Jogja yang pernah akrab selama 4 tahun, putih, muram, panik, berselimut lara. Semoga mereka diberi kesabaran selalu, amin.

*nulis dengan perasaan was-was. Gemuruh dari langit yang sering terdengar plus hujan yang mulai turun menimbulkan aura yang tak nyaman.