Pagi dalam Riuh Petasan

Damainya pagi tanpa belenggu rutinitas. . . . Masih menikmati libur membuat diri pengennya bermalas-malasan sementara yang lain sibuk prepare aktivitas hari ini.

Di luar riuh suara anak-anak dan remaja yang berjalan-jalan selepas subuh,bersaing dengan jedar-jeder petasan. Mereka tak bisa melawatkan pagi tanpa petasan di tangan. Ah,tingkah mereka merusak simponi pagi yang semarak oleh kicau burung. Kepulan asap itu mengeruhkan segarnya udara pagi. Bau menyengat itu begitu menusuk hidung.

Suara di sini hanya jedar-jeder. Kebanyakan mereka hanya memegang mercon ipret-petasan seukuran korek- atau beberapa ukuran di atasnya. Bagaimana dengan di kampung nenek sana? Apakah masih seperti dulu? Saya ingat, ketika kecil masih sering mengunjungi kampung nenek,saya dibuat heran oleh jalan kampung yang kotor karena serakan serpih-serpih kertas. Remaja di sana membuat sendiri mercon bumbung yang bunyinya menggetarkan, buuummmm! Mereka meracik obat mercon yang dibeli, kemudian dibalut dengan kertas bekas hingga seukuran lingkar bambu. Ada kepuasan barangkali ketika suara itu membahana. Dari ujung timur hingga barat, jalanan penuh serpih. Serpih itu semakin menebal manakala lebaran tiba, terutama dibeberapa titik seperti depan masjid atau simpang jalan.

Kampung itu pernah heboh ketika suatu hari, anak seorang pak lurah yang masih SD-masih famili dengan emak jadi tahu betul dengan kejadian itu- jari tangannya putus sebab tak hati-hati ketika menyulut mercon. Pelajaran bertahun silam itu apakah sekarang masih diingatnya? Bagaimana dengan Ramadhan kali ini? Sejak nenek meninggal, saya makin jarang berkunjung ke sana.

Ingatan itu menerbitkan tanya. Bagaimana asal muasal tradisi petasan di bulan Ramadhan? Kita mengenal tradisi macam itu ketika hari raya Tionghoa dari negeri Cina. Bagaimana mercon bisa menjadi tradisi di Indonesia saat Ramadhan, ini dia sejarahnya, bisa dibaca di:http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2457135

Pagi . . . #4

Pada pepohonan pisang di kebun belakang rumah
halimun berbisik-bisik
membagi kisah pengembaraannya
dari gunung
sebelum matahari yang enggan itu memecah beku
meniup abu-abu menjadi biru

Pada tanah ia boleh bangga,
“akupun punya jejak wangi dalam ingatannya. Bukankah hujan sudah mulai gamang menembangkan derai?”
Nafasnya tak perlu memburu laju peluru, pelan saja mendenyutkan ragu

Rinai Pagi Awal Juni

Mendapati hujan bulan Juni ini: lembut. Tak setajam hujan bulan Januari. Aku disergapnya pagi tadi, di jalan. Kulihat orang-orang gusar, khawatir derainya menusuk ubun-ubun kepala menjejalkan batu. Hiruk-pikuk lalu lintas berkejaran dengan detak detik menuju pukul tujuh. Aku mengajak kaki menjangkah lebih cepat. Tak memilih mengembangkan payung biru, biar jilbab punya motif bulir-bulir embun.

Menyangka hitam di atas sana akan tuntas mengirimkan dongeng liris, tentang orang-orang tergesa menyingkirkan baju-baju di pekarangan rumah, menelan kecewa, tak ada ganti buat menutup tubuh mereka. Atau tentang rumah-rumah tergenang DB, disentri, atau diare. Ah, andai yang kudengar kisah perahu kertas yang dilayarkan bocah-bocah berwajah telaga.

Awal Juni, kelabu di sana bukan lagi sasmita. Pabila angin mengoyaknya, memberi asa pada biru bersemburat kapas?

Grabag, 03062010, 18:30

Pagi. . . #3

Senang bisa bersahabat denganmu kali ini: malam
hingga detak detik melintas dua belas
pijar mataku masih mengeja goresan aksara para bocah
telingaku menangkap mereka yang bermunajat mengeja asma-Mu, berkolaborasi dengan alunan tasbih binatang malam…
Sunyi pecah, barangkali akan lindap nanti di sepertiga malam

Mgl, 10 Mei 2010, 00:15

Pagi. . . #2

Tidak pernah ada senyap
sebab mereka yang terjaga terus berdzikir. . .jangkerik, lalu binatang apa lagi itu rupa dan namanya tersembunyi dalam pekat
Sesekali kokok ayam meningkahi. . .
Mushola atau masjid jauh di sana pun mulai berdenyut,mengeja surat-surat Cinta dari langit

tidak akan pernah ada senyap, tapi selalu selalu ada bening di setiap detik dini hari ini. . .

Pagi. . . #1

Menunggu para muadzin saling sapa,menepuk pundak para pelayar agar kembali menepi. . .
Sedang kokok ayam timbul tenggelam pada gemericik parit…sebentar tadi disaingi jamaah dari langit yang menetes tergesa. . .hanya sejenak. . .tak sempat menaburkan wangi, menjamu peziarah-peziarah dini hari. . .

Selamat Pagi….

Dingin meniup setiap pori
menyusup tulang
menyisakan gigil
maunya terus pejamkan mata
tapi…
Kasihan cahaya di luar sana
pagi ini belum kusapa
aku juga tak mau sepanjang hari ini muram
tak hanya mentari yang menantiku
pelita-pelita kecil yang kini-pasti!-sedang bersiap juga menunggu
minta ditemani
disulutkan cahaya untuk sebuah perjalanan
mereka minta diantar
menyisir pantai
membangun istana pasir
menyapa kura-kura
mencandai bintang laut dan burung camar
menunggu kapal merapat sambil bercerita dengan buih
menggambar cakrawala
masuk gua, meraba pahatan-NYA
hingga sore melukis senja
menerobos malam
menunjuk rasi bintang
mengejar cahaya kunang-kunang

lalu mengekalkan senyum pada puisi
apa jadinya kalau pelita yang kubawa redup
merekalah yang kelak menyibak kelam