Kopi Vs Tipi

Tak ada yang bisa menahan wangi meruap hilang
sementara ampas mengendap di jurang gelas
Kata-kata berkelebat bersama iklan demi iklan
mereka punya cerita
tapi apa peduliku?
Seperti kata acuh tak acuh saja
ketika kupaksa tinggal
“Jangan harap aku menetas jadi puisi!”

Grabag, 22092011, 19.50
#yihaaa. . . .akhire ngempiiii, ra ketung asal posting! ^.^

Saya, Emak, dan Wedang Bubuk

“Kok ambune enak? Gawe kopi?” tebak emak sambil mendekat. Pasti tergoda dengan aroma khas yang meruap dari cangkir saya. Sore, saat favorit untuk menikmati wedang bubuk.
“Rada-rada semriwing?!” ujar emak suatu ketika seraya meletakkan sendok kecil di tepi cangkir. Saya pernah menfavoritkan kopi instan dengan sensasi dingin di lidah. Senang merasakannya berlama-lama. Judulnya memang ‘cooling’, rasa yang pastinya baru di lidah emak yang hanya mengenal kopi hitam tubruk.

Emak paling sering berkomentar begini,” Mesti nek nggawe kakean banyu.”
Perasaan, kopi saya sudah pas. Memang pernah sih terlalu banyak menuang air panas, tapi tak sesering komentar emak. Terang saja kalau emak kerap berujar begitu. Emak pernah menjadi pecandu kopi, dulu sekali, kopi tubruk, kental, hitam pekat, tapi manis. Waktu itu saya masih kecil dan tak sedikitpun melirik wedang bubuk ( istilah yang dipakai emak dan bapak). Saya pernah dimintai tolong membeli kopi dari tetangga kampung karena sudah sore dan pasar tempat biasa beli kopi sudah tutup. Saya heran sekaligus takjub dengan aroma yang menyeruak dari wajan saat kopi disangrai. Kebetulan sekali, kala saya datang proses pembuatan kopi sedang berlangsung (sekarang sepertinya keluarga itu tidak lagi membuat bubuk kopi). Saya menikmati aromanya. Meski begitu, saya tidak lantas suka kopi.

Toples kecil yang mulanya diisi kopi tubruk dari pasar mendadak berubah menjadi wadah lain karena vonis satu penyakit untuk bapak. Emak juga disarankan menghentikan konsumsi kopi ( yang suka kopi duluan emak atau bapak, entah, keduanya pecandu kopi). Tak sedikitpun keluarga saya mencium aroma kopi sesudah itu. Saya kemudian kenal kopi (instan) karena butuh melek untuk mengerjakan skripsi di kost. Lama-lama biasa dan suka. Sekarang, emak kadangkala pastilah tergiur mencium kepulan dari cangkir wedang bubuk yang saya aduk. Aroma yang dulu lekat di hidungnya. Satu dua sendok emak nyicip kopi instan seduhan saya. Sekali-kali saja saya ‘merebus’ kopi hitam tubruk. Saya lebih sering tak tahan dengan pahitnya sehingga secangkir pun tak sampai tandas. Menyitir “Buku Besar Peminum Kopi” ala Ikal dalam Cinta dalam Gelas, saya mungkin pantas bersyukur, itu artinya nasib saya tak sepahit kopi hitam itu, hihi.

*sekedar curcol selepas ngopi 😀
ket:
Kok ambune enak? Gawe kopi?= kok baunya enak? membuat kopi?
Mesti nek nggawe kakean banyune= tiap kali buat pasti kebanyakan air

foto minjam punya Laras dari sini

Jadi Selama Ini Saya Juga Minum Lumpur?

Ada pernyataan Suad Amiry, seorang penulis Palestina, mengenai kopi yang begitu menggelitik saya. Saat ini saya sedang membaca catatan hariannya yang terangkum dalam buku Palestinaku dalam Cengkraman Ariel Sharon. Ketika ia berada di kantor Kapten Yossi dari “Administrasi Sipil” Israel dan kopi yang dimintanya datang, ia menyebut secangkir kopi Israel itu seperti lumpur,

“Aku tidak pernah mengerti mengapa orang Israel mau meminum minuman menjijikan itu. Aku pernah diceritakan bahwa tentara tidak punya waktu untuk mendidihkan kopi dan air sekaligus, jadi mereka hanya menuangkan air hangat ke dalam serbuk kopi dan minum lumpur. Tentu saja mereka tidak punya waktu karena mereka mengusik kami selama dua puluh empat jam sehari….

Lihatlah orang Italia, Turki, dan Perancis; mereka semuanya mempunyai kopi yang bagus.
(halm. 29)

Wadoh, jadi selama ini saya juga minum lumpur? Sebelum membaca buku ini, belum pernah sekalipun saya minum kopi dengan mendidihkan kopi–baik kopi tubruk maupun instan– dan air sekaligus. Saya hanya menuangkan air panas dari termos ke dalam serbuk kopi lalu mengaduknya pelan-pelan. Hmmm…, meskipun minum lumpur, nikmat juga kok. . .

Nha, terprovokasi oleh Suad Amiry, akhirnya saya pun mencoba mendidihkan keduanya meskipun tidak dengan perangkat yang dipakai oleh barista di kafe-kafe kopi itu. Hasilnya…. jauuhhh lebih nikmat memang, terlebih aromanya saat mendidih dengan busa dipermukaan yang semakin menebal naik… wanginya kentel banget!

Secangkir Kopi, Roman, dan Hujan

646 km jarak harus kutempuh,baru sampai di km ke-51. Masih jauh perjalanan,hfff. Di luar rinai, tapi aku tidak kedinginan, apalagi sampai kuyup, sebab aku duduk di sini, dengan secangkir kopi. Hangat di telapak tangan, nikmat di lidah, dan segar di kepala: beliau mengajakku ngobrol soalnya.

🙂