Geliat Pagi di Pantai Pok Tunggal

Pagi di Pok Tunggal dimulai dari kelap-kelip yang bertebaran di laut. Ombak sudah surut. Banyak penduduk yang menjemput rejeki mencari keong laut dan binatang lain yang bernilai ekonomi. Para penghuni tenda pun mulai keluar. Selepas subuh, ketika langit berangsur terang, kami mulai turun ke bibir pantai. Berjalan di atas karang-karang, anak-anak yang paling senang. Mereka berburu binatang laut. Orang dewasa sibuk mengabadikan moment. Berfoto, selfi, dan merekam suasana sekitar.

20161231_052013

img_20161231_051633

20161231_052710-1

20161231_055429

img_20161231_055645

Semakin pagi, kami semakin seru bermain air. Bercanda dengan ombak menjadi aktivitas wajib yang anak-anak lakukan. Saya sendiri lebih suka menikmati suasana pagi.

img_20161231_060747

img_20161231_060608

20161231_055415

img_20161231_060814

20161231_054739-2

img_20161231_055413

20161231_055231

20161231_055334

Berdua dengan suami karena Janitra asyik bermain dengan kakak-kakaknya, saya mulai mengeksplor lokasi. Berjalan-jalan di sekitar karang sayang untuk dilewatkan. Naik tebing menjadi pilihan kami selanjutnya.  Dari ketinggian, kami bisa menikmati pantai dengan sudut pandang yang berbeda. Banyak gazebo yang disewakan di tebing-tebing dengan biaya Rp20.000.

img_20161231_070111img_20161231_070047

img_20161231_070811

img_20161231_070709

Semakin tinggi matahari, pantai semakin ramai. Payung-payung  mulai berdiri.Ijin pendirian tenda hanya sampai pagi hari.  Kami pun segera merapikan tenda dan bersiap melanjutkan perjalanan.

img_20161231_071623

img_20161231_082915

Senja di Pantai Pok Tunggal

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu (QS. 71:19—20)

 

Liburan akhir 2016 lalu, tapi baru disempetin nulis catatanya sekarang. Karena perjalalan ini sayang untuk dilewatkan tanpa catatan, maka saya kumpulkan segala ingatan satu setengah bulan silam.

 

Berkemah di pantai, sudah masuk dalam rencana liburan berbulan-bulan sebelumnya. Rencana awal kami akan pergi bertiga saja dengan motor, nginep semalam di pantai kemudian eksplore sekitar. Ternyata, keluarga kakak menginginkan piknik bareng. Mereka setuju kami ajak bermalam di hotel seribu bintang, langsung di depan debur ombak di atas pasir.

 

Menghindari kemacetan, kami sengaja berangkat sebelum pergantian tahun. Di hantar hujan pada Jumat, 30 Desember 2016, berangkatlah kami pelan-pelan. Dalam perjalanan terus merapal doa sampai di sana semesta mendukung kami berkemah di pantai.

Selama perjalanan hujan berselang-seling membingkai  kami. Semakin jauh masuk Yogyakarta, hujan semakin merenggang. Satu kali istirahat shalat Jumat di masjid kampus UGM, kami lanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul melewati daerah Panggang yang lebih lancar lalu lintasnya.

 

Sempat terterpa hujan begitu tiba di daerah Gunung Kidul, begitu memasuki jalur pantai cuaca mendukung. Alhamdulillah. Melewati beberapa pantai, terlihat keramaian. Lebih-lebih di Indrayanti. Penuh.

Dari Indrayanti, kendaraan terus melaju. Pantai Pok Tunggal tujuan kami. Pantai yang bersih dengan camping ground di tepi pantai. Beberapa menit dari Indrayanti, sampailah kami di simpang jalan menuju Pok Tunggal. Kalau terus, pantai  selanjutnya adalah  Siung.

Rute menuju lokasi ternyata waw… Jalan yang sempit dengan bopeng di sana-sini, dengan selingan naik turun menjadi tantangan tersendiri. Seru malahan. Pemandangan yang khas di tepi jalan adalah perkebunan srikaya. Ada bebarapa lapak yang menjual buah itu.

Sekitar pukul setengah lima, sampailah kami di hadapan pantai yang sepi dan bersih. Suasananya sangat kontras dengan Indrayanti yang baru saja kami lewati. Pok Tunggal, dengan pohon Durasnya yang khas kini mulai meranggas, menyambut kami dengan pesonanya. Pasir putih, ombak yang tenang, tebing-tebing yang memagari, dan deretan payung warna-warni di atas pasir.

 

img_20161230_170000_hdr

 

 

Sudah ada tenda yang berdiri tepat beberapa meter dari bibir pantai. Maka kami mulai mendirikan dua tenda. Satu tenda dari rumah, satu lagi tenda sewa dari Magelang. Di pantai tersedia juga persewaan tenda dengan biaya Rp.60.000 per malam. Kalau hanya semalam saja jalan-jalannya, lebih irit sewa tenda dari persewaan outdoor adventure. Kalau di Magelang biayanya 30ribu per 24 jam. Tapi jika ingin berhari-hari di sana, sama saja kan jatuhnya, pinjam tenda di lokasi bisa jadi pilihan.

 

img_20161230_175059_hdr

img_20161230_180113_hdr

img_20161230_180004_hdr

Senja yang menakjubkan adalah rejeki dari Allah yang kami nikmati. Cuaca begitu mendukung sehingga kami bisa puas memandang lukisan Allah.  Inilah yang kami cari. Bersama para pemburu senja lain, kami tak melewatkan setiap detik perubahan warna langit.

img_20161230_175432_hdr

 

img_20161230_175819_hdr

img_20161230_175844_hdr

 

img_20161230_180022_hdr

img_20161230_180142_hdrimg_20161230_180318

Semakin petang, semakin banyak tenda berdiri. Pantai ini memang cocok untuk menyepi dan menikmati ombak tanpa keramaian.  Selepas magrib, ada petugas berkeliling dari tenda ke tenda. Ada iuran lima ribu per tenda yang dipungut untuk kebersihan. Murah kan?

Menikmati waktu bersama keluarga adalah moment berarti yang kami lewatkan di depan tenda Semakin malam, langit semakin terang. Ketika berangkat tidur langit begitu gelap, di tengah malam gemintang sudah  memayungi tenda kami. Saya terbangun oleh tawa dan semangat ponakan-ponakan yang menikmati bintang. Janitra, sengaja tidak saya bangunkan karena tidurnya begitu pulas.

 

Apa yang saya nikmati bawah langit adalah hal yang meninggalkan kesan mendalam. Tidur ditemani debur ombak yang semakin malam semakin pasang, riuh rendah suara ponakan, dan tenda tetangga yang menikmati kebersamaan seperti kami.  Kami tak perlu khawatir kelaparan atau kesusahan mencari toilet. Di belakang tenda kami, banyak warung 24 jam dan toilet yang bersih. Sarana ibadah juga tersedia di sana. Cukup lapang dengan tempat wudhu yang memadai. Betapa nyaman melewatkan malam di sana.

 

Menjelang dini hari, terlihat kelap-kelip dari kejauhan. Merekalah penduduk sekitar yang menjemput rejeki dengan mencari keong pantai dan aneka binatang laut lain yang terlihat ketika ombak mulai surut.