[fiksi kilat] Sebatang Pohon Tumbuh di Rumahku

Di masa lalu, kami bertetangga. Kami tinggal di kompleks rumah dinas. Jendela samping rumah kami berhadapan. Suatu sore, beberapa hari setelah dia menghuni rumah samping dan saling berkenalan, kami bercakap dari balik jendela masing-masing. Kami mengobrol sambil makan buah. Habis buahnya, dalam canda tanpa sengaja dia melempar biji buahnya ke arahku, eh masuk ke rumah.

Lama-lama biji itu tumbuh besar. Betapa tidak, tiap pagi dan sore dia rajin menyiraminya dengan sapa dan tawa. Dari jendela ke jendela kami semakin sering bercanda. Tak terasa waktu begitu berpihak pada biji itu dan tumbuhlah menjadi sebatang pohon. Begitu pesat ia mengembangkan setiap batang, dahan, dan rantingnya. Pucuk-pucuk daun muda pun bermekaran, rindang. Sungguh nyaman aku berteduh di bawahnya, lebih-lebih saat aku letih.

Sekarang, dia sudah pindah rumah. Dia yang tak lagi menghuni rumah yang sama dengan kedua orang tuanya, punya rumah baru dengan penghuni baru yang menemani selamanya. Karenanya, aku ingin mencabut pohon itu. Ah, rupanya, itu bukan perkara mudah. Lajur-lajur akarnya begitu kuat mencengkram setiap butir tanah di rumahku. Gawat, kalau tidak segera dicabut, pohon itu akan tumbuh terus menjadi pohon terlarang. Ingin sekali aku datang ke rumahnya dan meminta, maukah kau datang ke rumahku sebentar sekedar mencabut pohon itu? Hff, kalau saja dulu aku tahu, sebuah biji bernama senyum itu ternyata biji kualitas nomer wahid.

###FF pertama yang saya tulis ketika MP sedang rame2nya dengan FF dua tahun silam…penasaran juga pengen belajar nulis

gambar pinjam dan ngedit dari sini

Hujan Sore Ini

Sebuah status di jejaring sosial sebelah begitu menggelitik:

Salah satu cara terbaik menikmati hujan adalah dengan menuliskannya.[NulisBuku.com]

Begitu menggelitik, aku pun ingin menuliskannya, tapi apa yang bisa kutulis? Hujan kali ini mestinya kunikmati bersamamu… ini hujan favoritku, hujan yang liris, bulirannya jatuh menyelinap di tanah, tenang, denting di genting bukan lagi suara berisik gaduh yang membuatku gelisah. Ini hujan favoritku, tapi katamu hujan seperti ini membekukan. Kau tak menyukainya. Kau lebih suka hujan yang menderas. Hujan yang kubilang gaduh. Buliran yang jatuh seperti berkejaran untuk menjadi yang paling tajam menusuk aspal. Kau yang suka mengejar hujan, entah kenapa lebih suka hujan yang membuatmu selalu kuyup tiap kali menjemputku.

Hujan kali ini, hujan yang mengingatkanku pada secangkir kopi yang selalu kunikmati sendiri sebelum aku menemukanmu. Hujan kali ini mestinya kunikmati bersamamu, sebab tak ada secangkir kopi di sampingku yang menemani. Sebab mauku ada kamu.

Di sini irama itu masih saja mengalun. Bagaimana di sana? Masihkah menirai pekat dan menghalangi pandang matamu, menahanmu untuk segera datang? Atau telah menjelma rinai? Ataukah malah sama seperti di sini, hingga kau menjadi beku dalam laju?

Apapun itu, aku masih menunggumu di sini… bersama hujan yang menyisakan kecipak pada kerikil-kerikil di depan pintu….



# 030212, 17.12
catatan iseng nunggu suami datang ^__^
gambar dari sini

2011, Tahun Keajaiban

Menyambut tahun 2012, saya ingin sedikit mereview tahun 2011 yang baru beranjak semalam. Betapa banyak anugerah dan moment penting yang Allah berikan di tahun ini. Sebuah awal dari mimpi yang sedikit dinyatakan-Nya maupun sebuah langkah baru dari kehidupan sesungguhnya.

Juli 2011
Milad tahun ini Allah memberikan hadiah luar biasa, sebuah event menulis yang saya ikuti di jejaring sosial yang hingar bingar oleh event kepenlisan berhasil membuahkan satu antologi yang di dalamnya satu FF karya saya menjadi satu diantara 111 FF lainnya.

Antologi pertama saya, harapannya dari langkah kecil itu kemudian semangat menulis terus menyala. Baru berani nulis keroyokan dan mengikuti proyek-proyek menulis yang sifatnya sosial, paling tidak jejak kata itu sudah tertoreh dalam hidup.
Antologi itu diikuti oleh beberapa antologi yang lain. Kesemuanya mewakili dunia saya. Dunia flash fiction yang saya kenal dari MP dan begitu menarik ingin tahu saya untuk menaklukkannya.


My Home Town #1 berisi tentang sekelumit cerita dan mimpi kecil di kampung halaman saya, Grabag.


Kepadamu Pahlawanku, dunia tulisan kecil di dalamnya saya dedikasikan untuk dua pahlawan besar dalam hidup saya, almarhum bapak dan emak.


Put Your Heart Into Teaching, adalah antologi yang berisi berbagai pengalaman para pendidik dari grup Put Your Heart into Teaching di Facebook. Pendidikan, dunia yang didalamnya saya sedang berproses, belajar bersama anak-anak.


Dear Love for Kids, antologi cerita anak, persembahan untuk anak-anak Indonesia. Dunia anak begitu dekat dengan keseharian saya dan menulis cerita tentang dan untuk meraka menjadi satu impian saya.

Ramadhan 1432 H
Wow, saya boleh bilang ini Ramadhan terindah dalam hidup saya. 20 Ramadhan menjadi milad saya di tahun hijriah. Sehari setelahnya,tepatnya 21 Ramadhan, orang yang saya nanti dalam tiap lipatan doa saya hadir di hadapan kami. Kepada emak diutarakannya niat tulusnya untuk menjadi bagian dari hidup saya. Proses perkenalan kami tidak lama. 2 hari sebelum Ramadhan, dua teman kerja saya memperkenalkan saya dengan teman meraka. Allah mempermudah jalan kami. Dari tak ada perasaaan sama sekali, Allah memantabkan hati kami. Tak henti berdoa dan meminta yang terbaik pada Sang Sutradara Hidup, langkah kecil ini mau saja menapaki jalan yang memang harus saya lalui. 24 Ramadhan malam, hati saya semakin mantab dengan kedatangan keluarganya. Proses khitbah berjalan lancar. Selanjutnya langkah kami semakin mantab.

11.11.11
Sebuah awal hidup baru terbuka lebar dihadapan kami. Hari Jum’at, 11 November 2011 alhamdulillah saya resmi melepas masa lajang saya. Proses akad nikah di mushola depan rumah dan sedikit syukuran diikuti dengan resepsi di tempat keluarga suami pada Ahad, 13 November 2011. Resmi menjadi istri, setelahnya saya sering tidak percaya kalau status dan hidup sudah berubah, memasuki keluarga baru yang tidak pernah terbanyangkan sama sekali.


Kebahagiaan kami makin lengkap ketika sebulan setelahnya, di Ahad dini hari, 11 Desember 2011, kami melakukan test kehamilan. Bergetar kaki dan hati mendapati dua strip merah tergaris jelas di test pack. Alhamduillah, Allah tidak menunda pemberian amanah pertama untuk kami berdua.

Betapa tahuh 2011 banyak hadiah yang diberikan Allah, saya dan suami menyebut tahun 2011 sebagai tahun keajaiban.
Semoga segala kebahagiaan dan hadiah dari Allah akan diikuti berjuta berkah, hidayah, dan tahun yang lebih baik di 2011, amin

*semua foto buku mengambil dari penerbit

[Batam FF Rindu–Secret Admirer]

Tangannya menggeragap, mencari-cari HP di ranjang. Sedari tadi ia hanya tiduran. Hatinya tak karuan.

Jempolnya lincah berpindah dari satu tuts ke tuts, mengetik beberapa kata yang dirasanya bisa mengobati segala galau, sekedar menayakan kabar sekalipun. Selesai, tanpa mencari ia temukan satu nama yang sengaja diletakknya paling atas di daftar telepon. Nama yang menyebabkan hati dan kepalanya dipenuhi satu kata. Sebelum send dipencet, ditimbangnya lagi, kirim tidak kirim tidak kirim…

Klik. Pada akhirnya ia menyerah pada pilihan: exit. Secara otomatis satu pesan itu masuk ke draft.

Lalu di ketiknya lagi beberapa kata. Tak mau menyerah, diluapkannya segala gelisah, curhat. Di pilihnya satu nama yang selama ini selalu meminjamkan bahunya. Mungkin dengan mengirim uneg-uneg itu dadanya akan melapang lalu bisa kembali meneruskan pekerjaannya.
Lagi-lagi bimbang. Penting nggak sih?
Bisa-bisa ia malah diledek habis-habisan. Pada akhirnya nasib pesan keduapun masuk di kotak draft.

Katanya gak mau ngeluh lagiiiiii….? Begitu pasti ejeknya!

Ia menjabak rambutnya. Aaaarrrrgggg…. rasa ini, menganggu saja!
Rasa itu akan menjadi sampah di kepala andai tak dibuangnya jauh-jauh. Apa yang harus kulakukan saat gelombang ini menyerangku?

Ke kamar mandi, kakinya mengikuti pilihan hati. Menenggelamkan kepalanya ke bak, ia tiba-tiba ingat sesuatu.

Keluar dari kamar mandi, tak hanya muka dan kepalanya saja yang basah. Kedua belah lengan dan telapak kakinya terasa segar terbasuh.

“Allah, ijinkan aku mengeluh.. sebab hanya Engkau yang pasti mengerti perasaan hamba. Hanya Engkau yang mau mengerti. Allah…. aku rindu dia. Tak bolehkah aku mengeluhkan rasa ini, di depanMu saja ya Allah?!”
Di atas sajadah, gundah itu akhirnya tumpah.

#tepat 250 kata di luar judul, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam

[Batam FF Lebaran–Sedekah Lebaran]

“Ma, di luar ada pengemis, “ seru Nina.
“Pengemis? Waduh, jatah THR-nya sudah habis pagi tadi.” Bu Sarah melongok ke luar. Seorang perempuan bersimpuh di teras .
“Kasih makanan aja Ma,” usul Nuno tanpa menggeser matanya dari laptop, asyik facebooking.
Bu Sarah menyambar beberapa ketupat dan makanan lalu dimasukkan plastik.

“Maaf Bu. Saya sudah dapat banyak ketupat dari orang-orang kampung.“ Pengemis memperlihatkan ketupat-ketupat dan makanan dalam gendongan begitu Bu Sarah sampai di hadapannya. “Kalau ada uang saja, Bu.”
Mata bening Nina mengawasi diam-diam.
Bu Sarah mengernyitkan kening, “ Tadi saya memang bagi-bagi THR buat anak-anak dan tetangga. Sekarang udah habis jatahnya. Sayang sekali, coba datang agak tadi.”
“Udah, nih, Nina aja yang kasih.” Nina memberikan lembaran dua ribuan baru.
“Makasih Nduk, makasih….” Pengemis berlalu. Ketupat dan makanan di lantai tak disentuhnya.

“Nina dapat uang banyak dari tante Mira. Kasihan deh Ma pengemis itu. Masak teman-teman Nina yang bajunya bagus-bagus Mama kasih … e… pengemis itu malah nggak dapet, “ ujar Nina polos, menjawab berbagai tanya di wajah mamanya.
“Memang jatahnya sudah habis. Kalau buat saudara sih masih. Semua pengeluaran harus terencana. Besarnya THR sudah mama anggar masak-masak, Nina. “
“Alah Ma, cuma satu aja. Pengemis itu lebih butuh kan?”
“Nina mana ngerti Ma sama rencana anggaran, rencana pengeluaran. . . ,” sela Nuno.
“Sayang, bukanya Mama nggak mau ngasih sedekah, tapi….”
“Lihat…. Ma… lihat… banyak pengemis datang,” potong Nina tiba-tiba saat matanya tak sengaja melayang ke luar.

Baru dalam hitungan menit perempuan tadi berlalu, beberapa pengemis berbondong-bondong memasuki halaman rumah.

#tepat 250 kata di luar judul, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam

[gado-gado sekolah #15] Tuhan Punya Hati?

“Bu, Tuhan itu punya hati?”
Saya terhenyak mendengar satu pertanyaan dari Rafel, siswa saya siang tadi, begitu di luar dugaan. Pertanyaan yang dilontarkan di sela-sela mengerjakan soal remidi dan pengayaan ulangan harian Bahasa Indonesia itu sejenak membuat saya ‘kelabakan’, mau jawab gimana? Satu soal yang saya ajukan,yaitu melanjutkan sebuah puisi yang menyebut nama Tuhan di dalam satu lariknya agaknya telah memunculkan satu penasaran akan Tuhan.

Untungnya, saya segera ingat Al Quran surat Al-Fatihah ayat ke-3: “ArRahmaan NirRahiim“. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Setelah saya baca ayat tersebut, saya jelaskan, bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Cinta, dan beberapa sifat Allah yang bisa ditumbuhkan juga di dalam hati [manusia]. Sementara, saya tidak [belum] menjelaskan Allah punya hati atau tidak. Sifat-sifat yang dimiliki Allah dalam Asmaul Husna hari ini semoga sudah bisa menjawab rasa ingin tahu Rafel yang kritis.

Barangkali ada yang mau menambahkan? 🙂

Batam FF Perjuangan–Rumit

“Selama masih kulihat statusnya R U M I T, aku nggak mau banyak berharap darinya,” tegas Maya.
“Hah, omong kosong dengan profil di dunia maya! Kenapa kau jadi underestimet begitu?”
“Bukan underestimet, tapi membayangkan aku hanya salah satu dari sekian perempuan yang memperumit hidupnya… maaf, aku lebih baik mundur.”
“Hahaha…begitu aja nyerah. Justru kau harusnya menjadi salah satu bagian dari kerumitan benang di hatinya. Tidakkah kau ingin menjadi pemenangnya?”

Maya tercenung

“Buatlah benang itu makin rumit lalu kau sendiri yang mengurainya. MENGURAINYA May!”

Kata-kata Maya hilang mendengar ketegasan Rani. Sebuah benang ruwet tergambar di kepalanya. Hening lindap diantara mereka.

Rani berhenti berkicau, agaknya ia ingin memberi Maya kesempatan menekuri lantai.
Rani ada benarnya,” gumam Maya. Lirih. Kasak-kusuk di antara perempuan-perempuan itu sudah sering didengarnya. Merebut hati Jo bukan perkara gampang. Makin banyak saingan makin menantang.

“Baiklah, aku akan buat benang itu makin ruwet, hingga dia tak bisa mengurainya, aku yang akan mengurainya, pelan-pelan, satu-satu hingga tinggal sehelai benang tersisisa di hatinya. Aku mau jadi benang itu.”
“Itu Maya yang kukenal selama ini.”

Binar mata mereka mengambil alih percakapan.

Seperti yang sudah-sudah kau selalu mendukungku Ran, Maya bersorak dalam hati.

Akhirnya! Aku sudah lama menunggu saat ini. Kita lihat nanti, siapa yang akan menjadi sehelai benang itu, aku atau kamu! Rani menarik ujung bibirnya, samar.

#215 kata, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam

Kopi Vs Tipi

Tak ada yang bisa menahan wangi meruap hilang
sementara ampas mengendap di jurang gelas
Kata-kata berkelebat bersama iklan demi iklan
mereka punya cerita
tapi apa peduliku?
Seperti kata acuh tak acuh saja
ketika kupaksa tinggal
“Jangan harap aku menetas jadi puisi!”

Grabag, 22092011, 19.50
#yihaaa. . . .akhire ngempiiii, ra ketung asal posting! ^.^

2 Fragmen dalam Seuntai Ramadhan

3 RAMADHAN

Langit malam ini dipenuhi mantra para perapal
yang di hatinya hanya ada nama Tuhan
Barangkali terselip namaku di antara lipatan doa mereka
Adakah semesta telah mengantarkan getarnya?
sebab dada ini dipenuhi gema:
desir debar detak dengup
bilakah suatu hari ia menjelma denyut?


Grabag, 3 Ramadhan, 22.33

24 RAMADHAN

Inikah kejutan?
Sebuah jawaban?
Telah sampai di hatiku getar itu
Para malaikat hadir bersaksi
ketika desir debar detak dengub
dijelmakan-NYA menjadi denyut
denting halus seirama suitan panjang:
syukur.