2 Fragmen dalam Seuntai Ramadhan

3 RAMADHAN

Langit malam ini dipenuhi mantra para perapal
yang di hatinya hanya ada nama Tuhan
Barangkali terselip namaku di antara lipatan doa mereka
Adakah semesta telah mengantarkan getarnya?
sebab dada ini dipenuhi gema:
desir debar detak dengup
bilakah suatu hari ia menjelma denyut?


Grabag, 3 Ramadhan, 22.33

24 RAMADHAN

Inikah kejutan?
Sebuah jawaban?
Telah sampai di hatiku getar itu
Para malaikat hadir bersaksi
ketika desir debar detak dengub
dijelmakan-NYA menjadi denyut
denting halus seirama suitan panjang:
syukur.

Sebuah Pesan Pendek #3

Kudengar deru gemuruh
datang dari layar dalam genggaman
:sebuah rollercoaster
menyambar tiba-tiba

Serta merta dibawanya aku jumpalitan
menanjak
melayang
membuai
menukik
terhempas seketika
dan gemuruh itu kian dekat
begitu lekat
:di dalam dada

Grabag, 24022011–03052011

Istana Pasir

:Mena Larasati

Kau mengajakku bermain ke pantai

mengajariku melihat tiap butir yang terserak:
pasir kata

“kita akan membangun istana,” katamu

sambil menyimak deru ombak

bernyanyi bersama camar

kita bangun miniatur karang

juga puri berperapian di puncak gunung

istana kita berkilau ditempa temaram senja

biar halimun juga malam mengepungnya

mata kita tak terhalang melihatnya

menjulang

ombak boleh menjilat dan menelan

tak peduli angin menghapus tiap inci jejaknya

tapi kita telah membingkainya

di sebuah ruang:
hening

#memperingati satu tahun perkenalan dengan Laras:
suwun telah menemani, mengajari dan mengingatkan pada banyak hal; belajar bersama! :))

makasih atas ide buat postingan ini, hehehe… Tentu ini kalah jauuuhhh sama kata-kata racikan Laras. Yang pasti, ini buat pengingat semoga pertemanan kita langgeng, amin. . . :))

Sebuah Pesan Pendek #1

Kata-kata yang kau kirim
menjelma sebuah potret
akhir pekan di antara kicau burung dan ilalang. Sempurna

Tentu saja, tidak ada aku di antara mereka*
yang bercengkrama
seketika ada yang meremas-meremas hatiku

*teringat pada cuplikan ‘Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka’, dari sajak “Kukirimkan Padamu”, dalam Sapardi Djoko Damono.1983.Perahu Kertas.Jakarta:Balai Pustaka.


31 Januari 2011, 15.38

Pagi . . . #4

Pada pepohonan pisang di kebun belakang rumah
halimun berbisik-bisik
membagi kisah pengembaraannya
dari gunung
sebelum matahari yang enggan itu memecah beku
meniup abu-abu menjadi biru

Pada tanah ia boleh bangga,
“akupun punya jejak wangi dalam ingatannya. Bukankah hujan sudah mulai gamang menembangkan derai?”
Nafasnya tak perlu memburu laju peluru, pelan saja mendenyutkan ragu

Setitik Debu

akulah debu

setitik kecil dalam semesta

tiada bosan bertanya

tapi aku tak mau hilang

biarkan angin membawaku terbang

menjelajah…

hingga ruang maya sekalipun

sampai kutemukan jawab atas ragu

terkikis segala gundah

Magelang,13062010, 20:00
*gara-gara ditagih puisi, hehehe,
terima kasih buat yang sudah memaksa nulis

**foto hasil googling

Ababil

di mana kau kini?

tidakkah merasa geram: merajam mereka dengan batu api yang dulu pernah kau cengkram,
melumat pasukan gajah seperti serpih daun di mulut ulat

namun, hingga siulan memekakkan telinga pun,

ababil bergeming

burung-burung itu telah lama menjelma dalam diri para bocah

batu-batu adalah bara

dengan dua belah tangan sebagai busur panah

dan kini, seribu malaikatlah turun ke padang para syuhada

menebarkan wangi kesturi

Magelang, 2 Juni 2010, 20:04

Panggung Kehidupan

semua peran selesai dipentaskan

layar diturunkan

lampu dimatikan

pemain beranjak turun panggung

tapi…skenario nyatanya tidak habis ditulis

episode per episode tanpa layar akan terus dimainkan

sampai Sang Sutradara menggulung waktu

Cahaya dipadamkan…

28 Maret 2010, 15:10
*ketika panggung Panasonic Award mendadak gelap–siaran ulang—….: sambil terus koreksi…koreksi…