Catatan Syawal

Ramadhan berlalu beberapa pekan lalu, berganti syawal. Ternyata saya belum bisa istiqomah menuliskan catatan Ramadhan di blog ini. Sebelum Syawal berlalu, ingin sedikit menorehkan sedikit catatan.

Ada kebahagiaan membuncah dengan Ramadhan, sedih ketika ditinggalkan. Kebahagiaan itu makin lengkap sebab di tahun ini Janitra sudah mulai latihan puasa. Alhamdulillah 29 hari full puasa bedhug, puasa duhur  lanjut Magrib. Saya sangat mengapresiasi, melihat begitu penuh warna dan kadang drama saat sahur. Mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali ia mau bangun sahur dengan keadaan seperti di bulan-bulan lain.

Bersyukur kegiatan dauroh Ramadhan membuat Janitra bertanya sekarang, kok nggak ngaji di Ya Bunayya lagi? Tanggal 2 Juni Janitra menutup kegiatan itu dengan semangat yang tidak surut. Siang itu panas, saya mengantar Janitra diiringi gumaman dendangannya. Panas yang terik tidak membuatnya mengeluh. Dia bahkan menyanyi keras dalam perjalanan di lokasi.

20180602_141131

semangat dauroh hari terakhir

 

Meninggalkan daurah, kegiatan yang dinanti-nanti lain adalah mabit pertamanya di TK. Penuh semangat dan sampai di rumah bilang, pingin mabit lagi. Alhamdulillah Janitra bisa mengikuti mabit dengan riang gembira.

20180608_201052

moment mabit yang ditunggu ternyata Janitra nggak berani menyalakan kembang api 😀

 

Jadi ingat bahwa setahun lalu, Ramadhan lalu Janitra harus mabit di rumah sakit sebab diberi ujian sakit. Rasanya haru mengingat itu, betapa banyak nikmat, kebahagiaan, dan kesehatan yang diberikan Allah saat ini.

mabit rsj

tempat mabit rumah sakit 😀

Begitu banyak pelajaran untuk ukuran bocah yang dilakoninya, tak heran jika saat Idul Fitri Janitra menyambutnya dengan buncah. Setiap moment silaturahmi diikutnya dengan riang. “Saya selalu semangat diajak badan (silaturahmi)” ucapnya selalu. Banyak keberkahan dan banyak rejeki yang anak-anak dapatkan di bulan Syawal ini.

Semoga pembelajaran ini dibawanya serta hingga bulan-bulan berikutnya. Aamiin


 

[Diary Ramadhan #4] Menu Takjil dari Dapoer Ibu Mertua

Ramadhan ke 4,5,6 dan 7 hari ini Alhamdulillah Janitra masih istiqomah belajar puasa bedhug. Lolos dengan tantangan yang sama: bangun sahur. Masih susah makan. Pada hari ke -4 Ahad lalu terbilang mudah, setelah sahur ceria banget. Hanya hari ini, pada hari ke-7 nangis dibangunin. Lama banget bangunnya. Jadi saya beri toleransi adzan subuh berkumandang masih makan. Pelan-pelan saja, untuk pembelajaran, bagi saya perlu menurunkan ekspektasi terhadap anak.

Setiap dibangunin sahur ditanya, mau puasa tidak, sambil merem pasti jawab puasa. Harus puasa sepertinya jadi prinsipnya, hanya untuk sahur perlu perjuangan.  Semangat ketika puasa siangnya selalu full.

Mulai Ahad lalu, Ramadhan ke-4, Janitra mulai mengikuti dauroh menghafal Alquran juz ke-30 di Yayasan Hidayatullah tempat ia sekolah TK. Kami antusias mendaftarkan Janitra untuk mendekatkannya pada Alquran sejak dini, mulai mengenalkan hafalan Alquran. Janitra antusias juga menyambut, ngaji di sekolah. Di hari-hari biasa ia mengaji TPQ di kampung, Ramadhan pun ia masih semangat. Ia bilang, ngaji dua kali. Asal anak semangat, kami tak mau menarget yang muluk-muluk. Asal mau belajar, capaian sesuai kemampuannya.

Ramadhan bulan mulia, bulan penuh pahala. Saatnya kita memberi kesan dan kegiatan positif untuk mendekatkan pada Allah, memperkenalkan keutamaannya.

Mulai Senin sekolah sudah masuk, kegiatannya jadi full. Awalnya saya agak khawatir, melatih puasa sementara saya tidak seharian di rumah karena kerja. Nyatanya, puasanya tanpa hambatan di siang hari karena waktunya terisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Di rumah pun ia punya teman bermain kakak-kakak sepupunya yang tinggal serumah.

Karena kegiatannya full, saya wanti-wanti Janitra untuk terus terang jika merasa capek. Kami tidak mau memaksakan Janitra belajar. Ia harus riang melakukannya. Asal siang pulang sekolah mau tidur, pukul 4 pulang dauroh ia semangat sekali masuk TPQ. Hanya hari ini, Ramadhan ke-7 ia mengaku ngantuk karena tidak mau tidur siang. Kami tak memaksa ketika selesai dauroh ia minta pulang.

Setiap pulang dauroh, pasti ada takjil spesial yang dibawanya. Dengan biaya pendaftaran Rp.130.000 ia akan mendapatkan sertifikat, juz amma kecil full color di hari pertama,  dan free takjil setiap sore. Di TPQ juga ada takjil yang dibawa pulang.  Ibuk tak perlu mencari-cari takjil untuk Janitra, jadi menambah semangatnya berbuka. Seperti Selasa lalu, Ramadhan ke-6, ada menu spesial dari Dapoer Ibu Mertua: cocktail dan siomay.

IMG-20180522-WA0030

Coctailnya seger… cess di waktu berbuka. Sementara siomay selalu jadi makanan favorit kami. Siomay Dapoer Ibu Mertua terasa banget udangnya. Sambalnya juga enyaakk..

Teman-teman punya menu spesial apa?

[DiaryRamadhan #3] Buka Bersama Hajj Chicken

Tantangan terbesar mengajak anak berpuasa di hari ketiga ini masih sama: sahur. Hari ini masih mending, Janitra masih mau makan meski sedikit, tapi rewelnya sama. Gerakan tutup mulut untuk madu dan buah masih. Alhamdulillah semangat puasa bedhug-nya masih full.

Aktivitas pagi dimulai dengan mainan lego, bermain peran dengan kakak-kakak sepupunya (guru murid di sekolah), kemudian bermain pasaran.  Tanpa pengawasan  dari saya langsung karena ada acara pengajian di UPT, Janitra tetap istiqomah sampai duhur. Alhmdulillah.

Iming-iming ikut buka puasa di sekolah ibuk mau nggak mau membuat Janita tidur siang. Nah, tantangan kedua dimulai ketika bangun tidur hujan masih deras turun menjelang ashar. Hingga saya berangkat ke sekolah hujan semakin deras. Sifat manusiawi saya, mengeluh dengan datangnya hujan, sekalipun saya terus membesarkan hati, hujan adalah berkah, jangan mengeluh, tetap jalan meski hujan, ayo nikmati saja jangan menyerah.

Kadung janji mengajak anak, saya berinisiatif mencari becak. Becak tak ada karena sudah sore.  Alternatif  membeli ayam goreng crispi mendadak muncul sebagai pengganti buka puasa di sekolah agar ia mau tinggal di rumah. Ternyata, Janitra kukuh pada pendirian.

Ujian kesabaran dan keteguhan datang. Saya bisa saja pencet gawai  dan izin tidak bisa datang menghadapi cuaca yang begitu tak mendukung untuk keluar rumah. Kalau saya datang, sampai di sekolah pasti basah kuyup dan tidak nyaman berseliweran di pikiran. Syukur, pikiran ‘bijaksini’ itu masih terpinggirkan dengan amanah dipundak sebagai guru.

Jika pikiran bijaksini yang bermain, maka menyerah pada hujan akan membawa saya meminta izin tidak datang buka bersama. Bayangkan seandainya semua guru di sekolah saya berpikiran semacam itu: karena hujan deras tidak bisa datang ke sekolah. Apa yang terjadi di sekolah? Anak-anak yang orang tuanya rela menerjang hujan untuk mengantar anaknya ke  sekolah akan berada di sekolah tanpa bapak ibu gurunya. Beruntungnya, para guru selalu dituntun Allah untuk bijaksana bukan bijaksini.

Begitu tiba di sekolah dengan ojek, saya exited melihat anak-anak yang sudah duduk rapi dalam shaf-shaf di masjid. Melihat anak-anak yang ceria datang sekalipun banyak diantara mereka datang  dari rumah yang jauh, dari gunung, dari pelosok desa,  saya merasa beruntung datang ke sekolah berada di tengah-tengah mereka. Di belakang mereka, saya henti merapal istighfar pada Allah, atas keluh saya, atas pikiran-pikiran buruk di kepala, meminta agar Allah menerima puasa saya yang kotor oleh berbagai pikiran buruk.

Selalu ada hikmah di setiap harinya kan ya?

Screenshot_2018-05-20-08-19-58

pinjam foto bu Annida Latifah

Lapar dan dahaga anak-anak terbayar ketika buka tiba. Menu kali ini pasti disukai anak-anak: Hajj Chicken!  Beruntung, di desa saya yang mulai menjamur aneka ayam goreng cripsi dari berbagai merk,  ada outlet Hajj Chicken yang bisa dijadikan pilihan pertama. Outlet yang pusatnya ada di Jl.Sorogenen 11 B Yogyakarta ini membuka cabang di Jl.K.H Shiraj Grabag.  Dijiwai oleh semangat 212, produk ini punya tagline Nikmatnya Berbagi Spirit 212. Sudah pasti dijamin halal, outlet ini tak hanya menawarkan menu ayam crispi dan geprek yang pedasnya mantab. Aneka menu favorit keluarga seperti steak, mie, nasi goreng, spageti, dan aneka minuman bahkan es krim menjadi menu pilihan yang bisa dinikmati bersama keluarga.  Halaman parkir yang luas membuat tempat makan ini nyaman digunakan sebagai tempat berkumpul bersama orang-orang terdekat.

20180519_214849-01

Untuk buka puasa kali ini, anak-anak senang, bapak ibu guru pun senang! 😀 Alhamdulillah, kami kembali ke rumah dengan hati tenang.

 

 

 

[DiaryRamadhan #2] Belajar dari Jajan

Hari ini Janitra lolos lagi puasa bedhug duhur lanjut magrib. Alhamdulillah…

 

Tapi, ternyata lolos dan mulus pada hari pertama bukan berbarti aman di hari ke dua. Tantangan hari kedua ini lebih berat dari hari pertama. Gara-gara tidur kemalaman nunggu bapak bawa martabak, jadinya bangun sahur dengan drama. matanya lengket buat melek, jadinya rewel waktu sahur. Setelah mimum susu dengan ogah-ogahan, Janitra hanya makan sepotong martabak sisa yang dibeli semalam.  Ia menolak makan nasi, buah, madu, dan sedikit saja minum air putih. Dipaksa malah nangis, dan mulutnya ditutup menolak minum madu. Haduhh… bapak ibunya jadi pesimis.

“Nggak usah puasa saja ya?” ujar bapak. Tanggapannya nangis. Ia tetap bersikukuh puasa.

Meski berusaha mendisiplinkan anak  untuk belajar, tapi kami tidak mau memaksakan anak di luar batas kemampuan. Mengingat riwayat sakit Janitra, saya trauma dan tidak mau terlalu tinggi memberikan standar pada Janitra.

“Ya udah, nanti sampai jam sepuluh, trus lanjut magrib ya.”

Janitra angguk-angguk.

Aktivitas pagi akan dimulai dengan membeli buku gambar. Saya juga sudah menyiapkan kain-kain flanel sisa-sisa, selama buku gambar belum terbeli. Eh, belum sampai beli kakak-kakaknya datang. Keberuntungan. Ini yang ditunggu-tunggu. Janitra akan lebih terkondisikan jika ada kakak-kakaknya. Jadilah mereka beraktivitas bareng. Mainan peran, baca buku cerita, dan tiduran. Sampai dua kakaknya yang sudah berpuasa magrib tertidur. Janitra enggan tidur.

20180518_121242-01

Ya sudah lah, ia menggambar hingga tiba waktu duhur. Alhamdulillah separoh jalan terlewati. Selesai buka, inisiatif sendiri mengulang mengaji.

Sepanjang siang berkativitas dengan kakaknya, main pasaran, dsb membuat ia enggan tidur siang. Akibatnya, masa—masa kritisnya datang selepas asar. Mulailah merengek-rengek lapar, dsb. Ia menagih janji buat jalan beli sup buah marjan. Dari kemarin pingin jalan-jalan dengan simbah beli sup buah.  Pengalaman tahun lalu pernah beli sup sirop marjan benar-benar melekat. Anak kecil puasa memang banyak ya permintaannya.

Saya penuhi permintaannya dengan berkata dalam hati sekali saja, besok nggak lagi. Proses belajar anak lebih mengena dengan pengalaman. Pun sore ini, saya ingin berikan pelajaran dari pengalaman jajan di pinggir jalan. Setelah pulang sampai rumah, menjelang berbuka dan mulai rengek-rengek lagi. Saya bacakan buku cerita.  Jeda lagi. Setelahnya saja ajak ngobrol

“Dik, jajanan tadi itu tidak sehat.”

“Kenapa?”

“Karena di pinggir jalan. Coba tadi ya, lihat kan, sup buah di pinggir jalan, trus ada motor lewat, asap dan debunya masuk di sup buahnya deh.”

Janitra paham  melihat dari reaksinya.” Trus, ada juga tletong,” lanjut saya

“Tletong itu apa?”

“Eek kuda, andong, ada tletong, trus kena-kena kedaraan. Berhamburan bisa masuk kan?”

Janitra paham.

“Nah, itu pelajaran IPA,” kata saya. Sebab Janitra sering bilang, “Mik mbok diajarin pelajaran IPA.” Yang saya tanggapi dengan, sehari-hari kita udah belajar IPA kan?

Saya yakin jajanan itu akan diminum sekali dua kali sudah sebab Janitra sebenarnya tipe anak yang tidak suka  jajanan di pinggir jalan, lidahnya terlalu pilih-pilih.

Pukul lima, semakin kritis saja. Setelah bosan nonton video Syamil dan Nadia, ia merengek-rengek. Saya tawarkan pingin apa? Cekrik-cekrik, jawab Janitra.

20180518_192824

Oke. Dari sampul kado yang tersisa dari kado ngendong  saya ajak memotong dan dijadikan karakter yang bisa berdiri semacam mini-minian. Selesai, masih sepuluh menit menjelang berbuka. Rengekannya semakin menjadi karena kantuk yang mulai menyerang.

Apapun yang terjadi, meski simbahnya nggak tega, saya kuatkan Janitra hingga semangatnya kembali menyala ketika waktu buka tiba.

Alhamdulillah, lolos.

Dan benar saja, baru sekali srutup, ini buat umik, nggak doyan,

“Nah, lebih enak susu kan?” Saya buatkan susu, Janitra semakin mengerti. Lebih enak makanan dan minuman di rumah kan, susu, kolak buatan simbah, kata saya.

Bagaimanapun, belajar dari pengalaman itu lebih bermakna ‘kan?

Ngabuburit, Pikir-Pikir Dulu!

 

20180515_054454-01-01

Jelang Ramadhan, salah satu pesan broadcast yang sering beredar adalah pencuri di bulan Ramadhan: TV, HP, dapur, dan pasar.  HP, gawai, adalah tantangan tersendiri.  Dikit-dikit sekarang buka HP ya?  Banyak sindiran, pernahkah dikit-dikit buka Alquran? Nah!

Ada satu artikel yang saya baca beberapa waktu lalu, lupa di mana. Saya merasa sangat diingatkan oleh artikel itu. Jelang buka puasa, adalah waktu mustajab buat berdoa (coba search soal ini, ada juga hadistnya). Ironisnya di Indonesia, stasiun TV berlomba membuat acara unggulan jelang berbuka. Perhatian masyarakat akan tersedot di sana, tercuri oleh TV. Belum lagi budaya ngabuburit, wah pasti deh ramai jelang berbuka. Ada yang sekedar jalan-jalan, ada juga yang mencari takjilan. Muslim di Arab punya budaya berkumpul jelang berbuka untuk berdoa. Mereka duduk berkumpul memperbanyak doa jelang berbuka.  Nah, sudah saatnya kita move on dari budaya ngabuburit yang tidak banyak manfaat, kecuali dengan majelis ilmu.

Sementara saya diingatkan tentang banyak doa jelang buka,  sayangnya hari pertama ini saya kecolongan oleh pasar dan dapur. Ketika di pasar tadi, saya tergoda membeli paket buah untuk sup buah. Hanya satu bungkus sih, tidak seberapa banyaknya, tapi jadinya mubazir karena 1 bahan tidak saya dapatkan: susu ultra plain  (kebiasaan kami membuatnya dengan susu itu).  Pada akhirnya, buahnya memang tetap bisa dimakan, tapi godaan pasar untuk masuk dapur itu yang jadi masalahnya, wong di rumah juga sudah ada stok buah. Istighfar dan dapat pengalaman berharga hari ini. Semoga esok saya akan selalu diingatkan sehingga tidak lalai.

 

[DiaryRamadhan #1] Poso Bedhug, Langkah Awal Belajar Puasa

Salah satu target Ramadhan ini adalah mengantar anak belajar berpuasa. Janitra sudah 6 tahun Ramadhan ini. Sudah saatnya belajar berpuasa. Maka jelang Ramadhan kemarin, kami sudah gencar memotivasi Janitra untuk belajar berpuasa sembari belajar pembiasaan shalat yang terus berjalan.

Dalam tahap belajar,programnya adalah belajar puasa sampai duhur disambung lagi sampai magrib atau istilah kami poso bedhug. Alhamdulillah hari ini lolos, semoga istiqomah hingga hari terakhir nanti aamiin.

Belajar puasa bagi Janitra dan orang tua adalah perjuangan tersendiri. Kami harus punya pengalih segala laparnya, biar lupa sego. Mulai dari bangun pagi sudah pingin makan (setelah sahur tidur lagi). Bapaknya mengalihkan dengan mainan tripod dan handycam tanpa batre, hehehe…   gaya-gayaan shooting.  Selesai mainan peran itu kemudian mandi.

Inisiatif Janitra untuk fun creation, maka saya ajak untuk mainan air brush dengan dedaunan, sikat, sisir, dan pewarna makan. Ia cukup menikmati meski tak lama.

20180517_084029-01

hasil editan ala-ala dari Janitra, editan asal pencet yang nggak mau kalah dengan ibuknya saat mainan edit foto 😀

Nah, mulailah masuk waktu-waktu kritis ketika selesai mainan tersebut. Ia mulai merengek minta makan. Baru jam setengah sepuluh. Untungnya rengekannya wajar tak sampai marah dan rewel.

 

Kami alihkan lagi dengan Upin Ipin, animasi kesukaan Janitra. Karena di rumah simbah tak ada TV, maka relakan youtube untuk Ipin Upin. Bapak yang jadi Pjnya, hehehe… soal begituan bapak yang lebih telaten.

Ipin Upin lewat, ia minta es krim untuk berbuka. Oke, ibuk belikan. Pas tong duhur saya sudah sampai rumah dengan es krim kecil saja. Alhamdulillah. Masa-masa kritis terlampaui.

Siang hari lewat dengan tidur siang. Setelah ashar, kegiatan Janitra membantu membuat perkedel kesukaan. Tantangan lagi, ia pingin icip-icip. Kami tanggapi dengan becanda. Lolos. Setelahnya, saya tawarkan coret-coret  di komputer dengan  paint. Hanya sebentar saja karena pegel katanya. Iya, memang Janitra tidak dibiasakan main komputer.  Jelang berbuka, saya ajak mengaji. Lumayanlah, meski dapat beberapa ayat saja sambil ibunya juga bisa ikutan.

Alhamdulillah hari ini sukses. Kami ingin memberi kesan menyenangkan buat Janitra. Puasa itu berat, tapi kami tak ingin itu jadi momok sehingga ia mau istiqomah menjalani hingga esok. Buat ibuknya juga tantangan tersendiri, harus punya banyak stok kegiatan.

2011, Tahun Keajaiban

Menyambut tahun 2012, saya ingin sedikit mereview tahun 2011 yang baru beranjak semalam. Betapa banyak anugerah dan moment penting yang Allah berikan di tahun ini. Sebuah awal dari mimpi yang sedikit dinyatakan-Nya maupun sebuah langkah baru dari kehidupan sesungguhnya.

Juli 2011
Milad tahun ini Allah memberikan hadiah luar biasa, sebuah event menulis yang saya ikuti di jejaring sosial yang hingar bingar oleh event kepenlisan berhasil membuahkan satu antologi yang di dalamnya satu FF karya saya menjadi satu diantara 111 FF lainnya.

Antologi pertama saya, harapannya dari langkah kecil itu kemudian semangat menulis terus menyala. Baru berani nulis keroyokan dan mengikuti proyek-proyek menulis yang sifatnya sosial, paling tidak jejak kata itu sudah tertoreh dalam hidup.
Antologi itu diikuti oleh beberapa antologi yang lain. Kesemuanya mewakili dunia saya. Dunia flash fiction yang saya kenal dari MP dan begitu menarik ingin tahu saya untuk menaklukkannya.


My Home Town #1 berisi tentang sekelumit cerita dan mimpi kecil di kampung halaman saya, Grabag.


Kepadamu Pahlawanku, dunia tulisan kecil di dalamnya saya dedikasikan untuk dua pahlawan besar dalam hidup saya, almarhum bapak dan emak.


Put Your Heart Into Teaching, adalah antologi yang berisi berbagai pengalaman para pendidik dari grup Put Your Heart into Teaching di Facebook. Pendidikan, dunia yang didalamnya saya sedang berproses, belajar bersama anak-anak.


Dear Love for Kids, antologi cerita anak, persembahan untuk anak-anak Indonesia. Dunia anak begitu dekat dengan keseharian saya dan menulis cerita tentang dan untuk meraka menjadi satu impian saya.

Ramadhan 1432 H
Wow, saya boleh bilang ini Ramadhan terindah dalam hidup saya. 20 Ramadhan menjadi milad saya di tahun hijriah. Sehari setelahnya,tepatnya 21 Ramadhan, orang yang saya nanti dalam tiap lipatan doa saya hadir di hadapan kami. Kepada emak diutarakannya niat tulusnya untuk menjadi bagian dari hidup saya. Proses perkenalan kami tidak lama. 2 hari sebelum Ramadhan, dua teman kerja saya memperkenalkan saya dengan teman meraka. Allah mempermudah jalan kami. Dari tak ada perasaaan sama sekali, Allah memantabkan hati kami. Tak henti berdoa dan meminta yang terbaik pada Sang Sutradara Hidup, langkah kecil ini mau saja menapaki jalan yang memang harus saya lalui. 24 Ramadhan malam, hati saya semakin mantab dengan kedatangan keluarganya. Proses khitbah berjalan lancar. Selanjutnya langkah kami semakin mantab.

11.11.11
Sebuah awal hidup baru terbuka lebar dihadapan kami. Hari Jum’at, 11 November 2011 alhamdulillah saya resmi melepas masa lajang saya. Proses akad nikah di mushola depan rumah dan sedikit syukuran diikuti dengan resepsi di tempat keluarga suami pada Ahad, 13 November 2011. Resmi menjadi istri, setelahnya saya sering tidak percaya kalau status dan hidup sudah berubah, memasuki keluarga baru yang tidak pernah terbanyangkan sama sekali.


Kebahagiaan kami makin lengkap ketika sebulan setelahnya, di Ahad dini hari, 11 Desember 2011, kami melakukan test kehamilan. Bergetar kaki dan hati mendapati dua strip merah tergaris jelas di test pack. Alhamduillah, Allah tidak menunda pemberian amanah pertama untuk kami berdua.

Betapa tahuh 2011 banyak hadiah yang diberikan Allah, saya dan suami menyebut tahun 2011 sebagai tahun keajaiban.
Semoga segala kebahagiaan dan hadiah dari Allah akan diikuti berjuta berkah, hidayah, dan tahun yang lebih baik di 2011, amin

*semua foto buku mengambil dari penerbit

2 Fragmen dalam Seuntai Ramadhan

3 RAMADHAN

Langit malam ini dipenuhi mantra para perapal
yang di hatinya hanya ada nama Tuhan
Barangkali terselip namaku di antara lipatan doa mereka
Adakah semesta telah mengantarkan getarnya?
sebab dada ini dipenuhi gema:
desir debar detak dengup
bilakah suatu hari ia menjelma denyut?


Grabag, 3 Ramadhan, 22.33

24 RAMADHAN

Inikah kejutan?
Sebuah jawaban?
Telah sampai di hatiku getar itu
Para malaikat hadir bersaksi
ketika desir debar detak dengub
dijelmakan-NYA menjadi denyut
denting halus seirama suitan panjang:
syukur.

Gerimis 17

Gerimis enggan menyudahi derainya

merekalah jama’ah

berjajar di shaf belakang serambi masjid

Mengeja surat-NYA rekaat demi rekaat tarawih

Tak pernah rela,

angin saja bebas menelusup

“Sekarang, tak ada belenggu musim menahanku:

merdeka!

Kapanpun tanah merindukanku”

malam,17 Agustus 2010

*biar maksa,yang penting tak jadi sampah di kepala ^,^

**udah telat posting di sini, yang penting masih Agustus

foto dari sini

[fiksi kilat] Andaikan Aku di Palestina

“Duar duar!”
Selama tarawih berlangsung, di luar, di kejauhan, suara petasan menjadi backsound.
Selesai tarawih,suara petasan semakin ramai, dari yang sayup-sayup hingga yang memekakan telinga.
“Bum…”
“Kayak suara bom,”seru Alfa yang digandeng Sari.
Mereka sudah biasa,begitu pula yang mendengarnya. Maklum. Ah, bagaimana seandainya situasi ini terjadi di Palestina? Tiba-tiba bayangan Palestina melintas di benak Sari. Apakah aku bisa berjalan sedemikian tenang di tengah suara macam ini. Tapi di sana bom. Di sini aku mendengarnya sambil lalu, bisakah aku merasa seperti ini andai di Palestina? Tidakkah rasa khawatir menggelanyut. Seperti menunggu maut, kalau pesawat Israel menjatuhkan bom di pemukiman. Atau harap cemas ketika keluar rumah. Ah, tapi ibu di sana bahagia ketika melepas para lelaki tercintanya menjemput syahid, tidak melarang mereka berjibaku dengan suara letusan. Sebuah sajak melintas di kepala Sari.

Darah mereka tersembur depan kami
Menggenangi kota-kota masa depan
Walau luka mereka adalah kapal yang sedang pulang
Mereka tidak akan kembali lagi*


—–

Hari pertama Ramadhan, anak-anak berkumpul lepas subuh, ada tradisi Ramadhan, jalan-jalan pagi.
“Ibu, Alfa nggak langsung pulang ya.” Alfa berlari mendekati Sari yang keluar masjid. “ Alfa ikut jalan-jalan,pasti ramai hari pertama.” Sari kaget, ada petasan di tangan Alfa. Pasti dibakar sepanjang jalan.
“Ini dikasih Kiki. ”Alfa menebak pandangan mata ibunya.” Ya bu,mumpung libur.”
“Tentu Nak, ibu ijinkan seandainya kita di Palestina dan yang kau sulut nanti bom untuk Israel.”
Alfa terhenyak. Di kepalanya berkelebat anak-anak seusinya yang memegang batu, seperti ditunjukkan Sari dari internet, juga berita-berita yang memperlihakan lumuran darah di tubuh anak-anak dan wanita.

*cuplikan sajak “Berkah yang Tak Pernah Datang” oleh Machmud Darwish, diterjemahkan oleh Abdul Hadi W. M

ikutan lomba FF lagi di http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF