[Review] Kritik Pendidikan dari Novel Bapangku Bapunkku

Judul       : Bapangku Bapunkku
Penulis   : Pago Hardian
Penerbit : Indiva
Cetakan:  pertama, 2015

IMG_20171225_221808_552[1]

Bapangku Bapunkku diceritakan dari sudut pandang seorang anak.    Ia memiliki bapak berjiwa punk, penganut kebebasan.  Tapi jangan dibayangkan punk yang dianut gaya bebas seperti  remaja di jalan. Bapan memiliki  4 anak . Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Anak pertama,Alap, berjiwa seni. Hobinya desain baju . Anak kedua, Harnum,  suka mengarang. Anak ketiga, Tuah, suka dan pandai matematika. Anak keempat, Anjam, berjiwa seni dan mahir melukis.

Bapang  punya prinsip belajar di sekolah terdekat. Ia juga  ingin semua  anaknya berprestasi di kelas. Namun, mindsetnya berubah ketika ia berdiskusi dengan mas Greta, seorang istimewa , anak dari tukang bakso yang pernah ditolong bapang . Ia tak lagi berprinsip anak harus berprestasi di kelas. Mereka membicarakan tentang  11  macam kecerdasan. Sebelas itu adalah kecerdasa angka-angka/numeric, kecerdasan bahasa/linguistic, kecerdasan gambar/visual, kecerdasan pendengaran/audiomusical, kecerdasan olah tubuh, kecerdasan suara/vocal, kecerdasan pengecapan, kecerdasan agama/spiritual, kecerdasan pribadi diri/personal, kekecerdasan berhubungan dengan orang lain/antarpersonal, dan kecerdasan mengelola keuangan/finansial.

Diskusi dengan mas Greta membuat bapang tidak terlalu menuntut kecerdasan akademik di sekolah. Akibatnya prestasi akademik mereka menurun, sebaliknya kebebasan mengembangkan bakat membuat mereka benar-benar berkembang di kemahiran masing-masing. Alap bahkan pernah menjadi finalis lomba desain baju di salah satu majalah wanita.

 

Akhir tahun pelajaran, bapang  mendadak ingin mengeluarkan anak-anaknya nya dari sekolah karena Anjam tidak naik kelas. Anjam menderita disleksia yang membuatnya mengalami hambatan membaca dan menulis. Tidak naik kelas sebenarnya bukan menjadi masalah. Pemicu utama  adalah guru anjam menganggap Ajam bodoh. Ironisnya, foto Anjam dengan sederet piala tertampang di spanduk promosi sekolah.

Masalah ini sempat membuat bapang  bersitegang dengan istrinya dan hampir ada kata cerai.  Mereka berdebat soal prinsip pendidikan untuk anak-anak mereka. Untung saja, ada jalan tengah yang diambil. Kekecewaan terhadap sekolah membuat bapang menggodog konsep sekolah ala bapang dan mas Greta. Selama sekolah mereka belum terwujud, anak-anak tetap diijinkan sekolah.

Sekolah yang akan didirikan bapang memiliki jurusan yang unik, namun jurusan itu sejatinya adalah wadah bagi anak-anak dengan beragam kecerdasan yang tidak bisa disama ratakan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Banyak pelajaran yang belum dirasakan manfaatnya secara langsung oleh anak-anak .

Jurusan pendidikan yang dirancang bapang dan mas Greta ada jurusan pengecapan, jurusan pendengaran, jurusan penglihatan, jurusan suara, jurusan gerak tubuh, jurusan perhitungan, dan jurusan pengucapan. Masing-masing jurusan punya spesifikasi khusus. Sekolah itu terwujud meski tidak semua jurusan bisa diadakan.

Novel ini dituturkan dengan gaya kocak dan santai. Meski begitu,gaya khas bapang itu tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan penulis.  Novel ini pastilah berangkat dari kegelisan penulis terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang terlampau banyak beban dan mencetak anak-anak Indonesia menjadi pegawai.  Tak hanya soal pendidikan, bapang juga kerap mengkritisi masalah-masalah sosial.
Sistem pembelajaran di sekolah formal negara ini seakan-akan membuat murid-muridnya jadi mesin penghafal! Mending kalau yang dihafal itu pelajaran penting. “(hal. 165)

Kalau kekayaan negara kita Indonesia tercinta ini tidak dikoropsi oleh pejabatnya maka kekayaan itu lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyat. Jadi, kesejahteraan rakyat itu bisa dimulai dengan kampanye untuk jadi pejabat yang jujur, bukan dimulai dengan kampanye kondom atau alat-alat KB lainnya.” (hal. 95)

Kualitas kepintaran anak itu hanya sedikit sekali ditentukan oleh sekolah. Yang paling menentukan adalah didikan di rumah. Walaupun sekolahnya berkualitas dan mahal, kalau orangtuanya tidak menyempatkan waktu secara disiplin untuk mendidik anak di rumah, hasilnya tidak akan terlalu menggembirakan. Paling-paling hanya dapat gengsi doing kerena anaknya sekolah di SD terkenal.” (hal. 60)

Seusai membaca novel ini mustahil pembaca akan begitu saja melupakan novel ini. Ada perenungan mengenai sistem pendidikan di negeri ini. Saya sendiri jadi baper, andai konsep pendidikan seperti yang penulis jeberkan dalam buku ini diterapkan di sekolah formal di Indonesia.  Sekolah formal ya, bukan seperti  home schooling di kota-kota besar yang sudah  menerapkan sistem semacam itu.

Ringan tapi mengena, Inspiratif, itu kesan saya selanjutnya terhadap novel peraih juara II Lomba Menulis Novel Inspiratif Indiva 2014 ini. Penasaran?

Akhir kata, kutipan inspiratif ini jadi penutup review saya
Dunia ini hanya akan dikuasai oleh orang-orang yang gigih. Orang yang suka mengeluh hanya akan berakhir sebagai pecundang.” (hal. 44)

Backpacking Keliling Eropa Ala Aupair

 

20161103_204213

Judul buku : Aupair

Penulis      : Icha Ayu

Penerbit: Stiletto Book

Terbit: Desember, 2012

Beruntung sekali saya mendapatkan buku ini dari Stiletto Book.  Sejak lembar-lembar  pertama saya langsung terkesima oleh cerita awal mula petualangan Icha Ayu di Eropa. Kalau saya seorang mahasiswi sastra Prancis atau bahasa asing lainnya, saya  akan mengikuti jejaknya dan membuka web http://aupair-world.co.uk.  Bagaimana tak kepengen, Icha menjelaskan secara rinci mengenai Aupair,segala persiapan dari administrasi hingga persiapan pribadi. Step by step menjadi Aupair dijelaskan dengan gamblang. Apa daya, saya hanyalah seorang emak yang tak menguasai satu pun bahasa asing jadi cukup pengen saja  mengikuti cerita petualangan Icha menjadi Aupair di benua biru :D. (kalau soal petualangannya berkelana, tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti, amin)

Oiya, Aupair adalah sebuah program yang memungkinkan semua orang dengan batasan usia tertentu, dapat mempelajari bahasa dan budaya negara yang diinginkan dengan bekerja sebagai baby sitter (pengasuh anak) di rumah host family (keluarga penerima) dengan jangka waktu enam hingga delapan belas bulan (hal. 2)

Icha Ayu menceritakan pengalamannya menjadi aupair  dengan gaya bercerita serenyah novel, jadi pembaca tidak akan merasa sedang membaca buku nonfiksi, akan terhanyut  dengan suka dukanya hidup di rumah host family. Secara kebetulan, Icha Ayu mendapatkan keluarga yang sedang menghadapi jurang perceraian.  Karena pengalaman yang sama dialami oleh Icha ketika kecil, ia bisa memberikan motivasi dan gambaran yang berarti terhadap Sarah, anak yang menjadi korban.  Pengalaman menghadapi keluarga yang setiap saat berseteru itu menjadi pengalaman penuh emosi, sebab itu berpengaruh terhadap hidupnya di ujung kontraknya sebagai pengasuh Sarah.

Menjadi Aupair  memungkinkan Icha menjelajah Eropa. Namun, jalan terjal harus dilalui karena masalah keuangan.  Selama menjadi Aupair, Icha harus menghemat keuangan sehingga di akhir pekan ia bisa menjelajah berbagai kota sekitar tempatnya bekerja.  Gaji yang didapat sebagai Aupair tidak lah banyak dibanding dengan biaya hidup di negara Eropa yang terbilang tinggi.

Lepas dari host family pertama, Icha mendapatkan host kedua yang ideal. Selama dua bulan jeda menunggu kontrak dimulai, petualangannya menjelajah Eropa penuh dengan cerita luar biasa. Kota-kota indah yang dimiliki negara Prancis, Italia, Belgia, dan Jerman tak hanya dinikmati pesonanya namun juga mengenal budaya dan penduduk lokal dengan beraneka karakternya yang menarik.

Masalah keungan tidak menjadi hambatan untuk berpetualangan.  Dengan dana yang supermepet untuk hidup di Eropa,  dihadapi Icha dengan 3 solusi:

  1. Cochsurfing

Ini adalah jalinan silaturahmi para traveler internasional.  Dengan jaringan ini, traveler bisa menginap di penduduk lokal sesama teman CS secara gratis bermodalkan kepercayaan. Selain mendapatkan tumpagan gratis, traveler bisa lebih mengenal kebudayaan lokal sebab host CS yang juga seorang traveler akan memberikan banyak pengetahuan bahkan menjadi tour guide.  Jalinan ini akan membuat traveler memiliki saudara di berbagai belahan dunia.

  1. Hitch hike

Mencari tumpangan secara gratis dengan mengacungkan jempol dan senyum manis, plus kertas bertuliskan nama tempat yang akan dituju  tentu membutuhkan keberanian tinggi.  Pengalaman ini menjadi hal yang  luar biasa yang Icha lakukan. Berjam-jam berdiri di pinggir jalan, terkatung-katung di pom bensin, hingga perjalanan ber-hitch hike terpanjang pernah dialami. Semuanya menyisakan kesan manis bahwa banyak orang baik bertebararan di muka bumi

  1. Wwoofing

Travaler menjadi relawan di perkebunan organik.  Tujuannya bukan hanya untuk mendapatkan penginapan dan makanan gratis, tapi juga untuk belajar perkebunan organik itu sendiri (hal.179)

 

Trik dan tips yang diberikan Icha dalam buku ini bermanfaat banget untuk para traveler, jadi buku ini cocok dibaca mereka yang hobi berkelana ke luar negeri.  Nah, buat pembaca pada umumnya, buku ini asyik dibaca karena banyak muatan edukasi di dalamnya.  Selain deskripsi apik kota-kota di Eropa yang dikunjungi Icha, pembaca akan mendapat pengetahuan lebih mengenai sejarah dan budaya kota-kota di Eropa, beserta karakter penduduknya.

Bertemu dengan traveler dari berbagai belahan bumi pun menjadikan Icha memahami karakter mereka. Seperti misalnya ketika ia duduk satu meja makan dengan traveler dari Israel, ia dibuat terkaget-kaget dengan habit mereka yang stereotipikal: suka menyerobot hak milik orang lain. Traveler dari Israel tersebut suka mengambil makanan dari piring orang lain.

“Kalau aku sama temen-temen di Israel sering begitu, that’s one of our habits,” ucapnya berusaha membela diri.

“Oh ternyata memang begitu kebiasaan orang Israel, suka mencomot hak milik orang lain…” candaan dilanjutkan dengan humor yang menyangkut stereotype masing-masing negara yang sebenarnya apabila dilanjutkan akan berubah menjadi humor rasis. (hal.195)

Pengalaman  wwoofing tidak hanya memberikan pengetahuan bertani yang berharga namun juga kesadaran pada lingkungan yang ditularkan oleh petani yang ditumpanginya.

“…betapa pentingnya untuk selalu mengkonsumsi makanan produksi lokal, karena produk impor membutuhkan banyak energi untuk sampai ke perut kita. Mulai dari proses pembekuan, hingga minyak yang digunakan untuk  distribusi. Jadi, untuk membuat makanan sampai ke meja kita membutuhkan benyak energi yang bisa saja berguna untuk makanan para anak kelaparan di belahan dunia sana. Hal yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.” (hal.181)

Pada akhirnya, Aupair bagi Icha memberikan beragam perspekif yang memperkaya hidupnya, seperti film dalam bisokop yang sangat  indah.

Dalam hidup semuanya tergantung pada diri sendiri. Kitalah yang memutuskan apakah gelas ini setengah kosong atau setengah isi. Itulah rahasia kebahagiaan, kitalah, dan hanya kita, yang berhak memutukan apakah kita akan bahagia atau sengsara. Apakah kita  ingin mengeluh atau bersyukur, pesimis atau optimis, melihat sisi negatif atau positif semua kejadian dalam hidup kita. Hanya kita dan selalu kita. (hal.66)

 

[Review] Anakku Sehat Tanpa Dokter

20160929_153213

Judul                           : Anakku Sehat Tanpa Dokter

Penulis                        : Sugi Hartati, S.Psi

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :   1, April 2013

Tebal                           :  192 halaman

ISBN                           :  978-602-7572-14-0

 

Setiap orang tua pasti mengingkan yang terbaik untuk anak mereka. Lebih-lebih untuk kesehatan. Pun ketika anak mereka sakit, bagaimana cara  menyembuhkan anak secara cepat. Terkadang berapa uang yang mereka keluarkan tak mereka pedulikan. Datang ke dokter terbaik biasanya solusi yang mereka pakai.

Tak hanya itu, orang tua yang memiliki balita atau batita sering kali sudah menyediakan obat ‘bebas’ yang biasa di simpan di rumah untuk menangani penyakit-penyakit yang umum diderita anak, seperti panas, demam, pilek, atau batuk.  Tidak sedikit ibu yang memiliki persediaan antibiotik di rumah sebab obat itu jamak diberikan dokter ketika para ibu datang dengan keluhan anak panas atau demam.

Kepanikan seorang ibu atau ketidaktahuan ibu akan penyakit yang diderita anak, sekalipun ringan, berdampak pada kesalahan penanganan.  Ketika anak panas mereka terburu-buru memberikan antibiotik karena obat itu dikenal ampuh meredakan panas. Atau terburu-buru membawa ke dokter terbaik biasanya dianggap sebagai solusi jitu. Sayangnya, tidak banyak dokter di Indonesia yang memberikan kesempatan kepada pasien atau ibu pasien untuk menelusur latar belakang penyakit. Dalam buku ini diceritakan, misal untuk penyakit panas, pasien akan diberikan oleh antibiotic dan obat pereda sakit yang bersangkutan (misal batuk atau flu). Ketika beberapa hari kemudian  anak belum sembuh, dokter akan meminta pasien datang lagi dan akan diberi obat lagi. Banyak kasus terjadi, pasien terkesan dijadikan kelinci percobaan.

Dokter bukan penemu obat, dokter hanya akan mengaitkan gejala yang diderita pasiennya dengan pengetahuan suatu obat yang didapatnya dari sang penemu obat. Dokter akan memilihkan obat yang lain untuk dicobakan kembali kepada pasien. Jika belum sembuh, maka dokter akan mengganti dengan obat yang lain lagi, demikian seterusnya. (hal. 37)

Antibiotik, yang sering diberikan ke dokter, atau malah disimpan di kotak obat di rumah untuk diberikan kepada anak jika sewaktu-waktu perlu, ternyata memiliki banyak efek. Antibiotik disamping menyembuhkan juga dapat merugikan. Bisa jadi obat yang diberikan kepada anak dalam jangka waktu yang lama tidak menyembuhkan penyakit tetapi justru melemahkan ketahanan tubuhnya. (hal.11).  Pada dasarnya antibiotik hanya efektif membunuh bakteri atau kuman. Jika digunakan pada anak-anak yang menderita demam ataupun sakit lain yang disebabkan oleh virus, maka antibiotik berakibat fatal. Bakteri baik yang semestinya berfungsi membantu tubuh malah ikut terbunuh. (hal. 16). Nah, penyakit yang disebabkan oleh virus tapi diberi antibiotik, tentu tidak tepat sasaran. Dalam buku ini penulis memberikan penjelasan mengenai efek samping dari obat, khususnya antibiotik. Informatif sekali! 😀

Yang paling penting adalah ibu harus tahu latar belakang penyebab penyakit, apakah karena bakteri atau virus agar tepat penangannya.

Jadi, apakah sebaiknya kita tak perlu ke dokter?

Perlu! Tapi janganlah mengunjungi dokter dengan tujuan mencari obat tapi mencari jawaban atas pertanyaan “Anak saya sakit apa? Apa yang menyebabkannya? Bagaimana penyebaran penyakit tersebut sehingga bisa menyerang anak saya?” (hal. 58).  Kita jangan begitu saja menerima apa yang dituliskan dokter dalam resepnya. Sebaiknya kita tahu obat apa saja yang diberikan, cara kerja, efek samping, dan bila perlu harga obat tersebut. (hal. 53)

Meskipun buku ini bukan ditulis oleh dokter atau ahli kesehatan, namun buku ini cukup lengkap memaparkan tentang latar belakang beragam  penyakit yang sering diderita oleh  anak dan penangannya. Buku ini ditulis  berdasarkan pengalaman penulis sebagai ibu dan  dari berbagai pengetahuan kesehatan yang didapat dari berbagai sumber (buku, artikel di internet).

Buku ini lebih menekankan pada pencegahan sebuah penyakit.  Ada fakta bahwa sebenarnya sebagian besar penyakit disebabkan karena makanan yang masuk ke tubuh (hal. 45) jadi  penulis banyak memeberikan tips pencegahan dan penanganan penyakit dengan memberikan makanan yang tepat.  Apa saja makanan yang sehat dan tidak sehat untuk anak dijabarkan lengkap oleh penulis. Buku ini dilengkapi dengan menu-menu makanan sehat, baik buah sebagai food therapy maupun menu makanan penunjang. Komplet! Selain menu makanan, pelengkap yang lain dari buku ini adalah akupresur (teknik pemijatan dengan menggunakan jari-jari tangan pada titi-titik tertentu pada tubuh) menyehatkan bagi anak. Ada manfaat, cara, dan foto yang menyertai bab akupresur.

Buku ini sangat memadai untuk dimiliki para ibu. Sebagai ibu yang memiliki balita, saya seperti dikuatkan oleh penulis.  Bahwa menghadapi anak yang sakit kita tak perlu panik dan khawatir berlebihan.  Penyakit pasti berlalu, tanpa obat tanpa dokter, bisa!

 

Resensi ini diikutsertakan pada campaign #AkuCintaBuku bersama Stiletto Book  dan Riawani Elyta 

 

 

[Review] Play and Learn

13183184_10205914283568553_1430820694_n

Judul                           : Play and Learn

Penulis                        : dr. Meta Hanindita,Sp.A.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :  Mei 2015

Tebal                           :  194 hlm.

ISBN                            : 978-602-7572-39-3

 

Mendidik anak lewat aneka permainan yang menyenangkan diperkenalkan oleh seorang ibu sekaligus dokter, dr. Meta Hanindita,Sp.A. Bermain  selain bisa menjadi stimulasi untuk tumbuh kembang anak, juga bisa menjadi bonding time untuk ibu dan anak. Bermain dapat membantu anak mempelajari interkasi sosial, gerak motoric, sampai daya pikir kognitifnya, sehingga bermain dibutuhkan untuk perkembangan yang sehat untuk anak. (hal.8).

Permainan yang dimaksud tentu saja bukan permainan instan seperti yang anak-anak kenal saat ini lewat gadget.  Di era digital yang semakin pesat ini, anak-anak, balita sekalipun telah akrab dengan gadget.  Tantangan orang tua jaman sekarang dalam  mendidik anak adalah budaya instan yang salah satunya diperkenalkan oleh gadget.  Padahal, efek gadget untuk anak balita kurang bagus untuk mendukung tumbuh kembangnya. Anak yang menghabiskan waktu bermain dengan gadget, tidak terlatih fisiknya secara aktif, dan terbukti kurang memiliki daya imajinasi dibanding mereka yang bermain tanpa gadget. (hal. 8—9).

Buku ini menjawab tantangan tersebut.  Dibagi menjadi dua bagian besar yaitu Learning by Doing dan  Let’s Play, selanjutnya buku ini dibagi dalam bab-bab yang sistematis. Dalam bab pertama, materi parenting disajikan antara lain lewat sharing pengalaman penulis dalam mendidik putrinya yang masih berusia 4 tahun.

Untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal, seorang anak membutuhkan pemenuhan tiga kebutuhan. Pertama, kebutuhan fisik (asuh) seperti nutrisi yang baik, lingkungan yang sehat, pakaian yang baik, sampai imunisasi.  Kedua, emosi (asih) yang dipenuhi melalui perhatian, kasih sayang (pelukan dan ciuman), serta suasana rumah yang damai dan nyaman. Ketiga, stimulasi mental atau akal (asah), berguna untuk membentuk karakter, kecerdasan, moral, nilai agama, serta kemandirian. (hal.18)

Semakin anak tumbuh, pendidikan karakter begitu penting ditanamkan. Pendidikan karakter  bisa ditumbuhkan lewat pembiasaan dan aneka permainan.  Permainan sederhana misalnya role play (bermain peran). Dengan bermain peran, anak bisa meningkatkan kemampuan berbicara, menambah kosakata, bekerja sama dengan orang lain, serta melatih kesabaran, dan berinterkasi. Ambil contoh saat anak bermain jual-jualan. Anak tidak hanya belajar mengenai angka dari jumlah barang yang dibeli atau uang yang dibayar, namun anak juga belajar bahwa setiap barang di toko ada harganya sehingga ia akan mengerti kalau ada barang yang diinginkan, ada proses untuk mendapatkannya.  Bukan hanya didapat dengan asal tunjuk (hal.35).

Jenis permainan  lain berupa  aktivitas yang bisa diciptakan oleh orang tua untuk membuat anak sibuk bermain.. Aktivitas tersebut tidak mahal dan bahan-bahannya mudah didapat, bahkan memanfaatkan barang-barang bekas di rumah. Orang tua bisa membuat sebuah buku yang disebut  busy book. Buku ini akan membuat anak senang bermain sembari belajar berhitung, mengikat tali sepatu, mengenalkan waktu, mengenal warna, mengelompokan benda, d.l.l.  Beragam aktivitas bermain dalam buku ini sangat gamblang digambarkan  dengan deskripsi bahan, langkah-langkah membuatnya, manfaat aktivitas dari berbagai aspek (kognitif, afektif, dan motorik), dan dilengkapi foto berwarna.  Aktivitas bermain tersebut diperkenalkan oleh dr. Meta untuk menstimulasi anak selalu gembira, cerdas, dan mandiri. Busy book  bukan hanya mengajak anak asyik bermain di rumah, namun dimanapun ia berada sebab buku tersebut bisa dibawa kemanapun anak pergi.

Orang tua bisa mendapatkan beragam inspirasi dalam mendidik anak dari buku ini. Tak hanya memahami tumbuh kembang anak, mendapatkan solusi dan tips dari permasalahan yang sering dihadapi,  orang tua juga diajak menjadi sosok yang kreatif dan smart.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Review] Broken Vow, Membebaskan Hati untuk Bahagia

13052440_10205794354250395_1122596870_o

Judul                           : Broken Vow

Penulis                        : Yuris Afrizal.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :  II, Januari 2016

Tebal                           :  271 hlm.

ISBN                           : 978-602-7572-41-6

 

 

Amara, Nadya, dan Irena adalah tiga sahabat dengan karir mapan. Mereka berkumpul dalam pesta pernikahan Nadya. Nadya menikah hanya untuk memenuhi tuntutan orang tua dan pertanyaan-pertanyaan yang menganggunya. Ia menikah secara terpaksa, dengan sahabat yang dimintanya menjadi suami. Dion seorang fotografer yang menanjak karirnya begitu mencintai Nadya meskipun ia tahu Nadya belum mencintai dirinya.

Nadya  pernah menjalin hubungan dengan Leo namun tanpa kejelasan status setelah Leo memutuskan bekerja di Prancis. Ada kerinduan terhadap sosok Leo. Hal ini menimbulkan konflik batin dalam dirinya. Pernikahan yang pada awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah dengan orang tua, malah membuat ia stress.

“Atau mungkin aku tambah stress? Menikah sama sekali tidak membantu mengurangi stressku ini. Mungkin karena aku menikah bukan dengan seseorang yang aku mau, bukan dengan orang yang aku inginkan, dan bukan dengan orang yang aku cintai.” (hal.42)

Tanpa rencana, Nadya hamil. Ia  mulai membenci situasi tersebut, kerap  menyesali pernikahan dan kehamilannya.  Beberapa kali konflik hati tersebut menyulut perang mulut dengan Dion.

Semakin besar kehamilannya, diam-diam Nadya mulai menerima sosok Dion. Begitupun Dion secara rahasia  menyiapkan apartemen yang lebih luas untuk Nadya dan calon bayinya. Namun di hari ketika Dion memberi kejutan apartemen tersebut, Leo kembali. Ia meminta bertemu dengan Nadya,  merengek-rengek memohon  kembali padanya. Adegan yang dipaksakan oleh Leo di depan apartemen Dion membuat Dion salah sangka.

Kata cerai tercetus dari mulut Dion karena kejadian yang hanya sepotong dilihatnya.  Nadya hanya menunggu waktu hingga kelahiran bayinya tiba untuk menjadi seorang janda.

Sementara itu pernikahan Nadya membuat Amara mengingat awal perkenalannya dengan Nathan Adiwinata, seorang Don Juan, putra pemilik kerajaan bisnis nomer lima di Indonesia. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama pada pesta tahun baru di sebuah hotel berbintang.  Nathan memandang Amara berbeda dengan perempuan-perempuan yang dikenalnya. Hanya Amara yang berani menolak ajakannya. Nathan pun melabuhkan cintanya pada Amara.

“Ibu Nathan, sang nyonya besar merasa aku telah mengubah Nathan, membuatnya menjadi anak baik-baik. Nathan  yang suka main wanita, Nathan yang sering mabuk, dan Nathan yang suka menghambur-hamburkan uang. Katanya, saat denganku Nathan berubah. Sejak bertemu denganku, dia menjadi berbeda dan begitu patuh pada orangtuanya.” (hal. 25)

Kebahagiaan Amara bersanding dengan Don Juan tidak lama. Bukti-bukti mengarah pada perselingkuhan Nathan. Amara memiliki Irene dan Nadya sebagai sebagai sahabat berbagi cerita, namun ia ragu untuk menceritakan masalahnya. Takut hanya akan ditertawakan, Amara memilih Xanax, obat yang bisa mengurangi rasa sakit sebagai penawar penderitaannya.

“Aku butuh sahabat-sahabatku. Tapi rasa gengsiku mengalahkan semuanya. Aku terlalu malu menghubugi mereka. Aku tidak mau ada belas kasihan dari siapapun.” (hal. 201).

Tak kalah rumitnya masalah yang menimpa Irena, si superwoman yang memiliki karir menanjak sekaligus menjadi ibu rumah tangga.  Lelah dengan peran yang dilakoni dan melihat anak-anaknya tidak terurus membuat Irena memutuskan berhenti berkerja untuk menjadi ibu rumah tangga penuh. Saat Irena mengutarakan rencananya untuk berhenti bekerja, Juna, suaminya justru mencegahnya. Keanehan mulai dirasakan ketika Juna kerap berada di rumah dan sikapnya mulai emosional.

Kekerasan demi kekerasan menimpa Irena. Belakangan diketahui bahwa Juna dipecat dari bank tempatnya bekerja karena korupsi. Dalang semuanya adalah  Arlan, adik Juna yang selalu merusuhi  keuangan keluarga Irena.

Kondisi ini membuat keluarga Irena berantakan. KDRT yang dialami Irena membuat sahabat-sahabatnya berpikiran bahwa sudah saatnya Irena mengakhiri rantai kekerasan itu. Namun, titik ini justru membuat hubungan ketiganya retak. Semua masukan dari sahabatnya membuat Irena malah balik menyerang mereka berdua, mencerca  dengan masalah-masalah yang dialami masing-masing sahabatnya.

Kompleks. Novel ini mengetengahkan masalah-masalah yang jamak dialami perempuan di dunia pernikahan.  Di ceritakan dengan sudut pandang orang pertama masing-masing tokoh, pembaca bisa menyelami dunia batin dan perasaan masing-masing tokoh.

Ada persahabatan dengan segala lika-liku serta rasa iri yang diam-diam mewarnai hubungan tersebut. Tiga sahabat ini berhasil melewati semua proses yang pada akhirnya membebaskan hati dari belenggu konflik.  Memilih untuk bahagia, adalah satu hal penting yang disampaikan novel ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Review Jejak Kaki Misterius

13020514_10205759500499073_278865681_n

Sesuai dengan judulnya, kelima belas cerpen dalam buku Jejak Kaki Misterius memiliki satu benang merah: misteri. Meskipun  misteri dalam buku ini tidak semuanya mengenai penyelidikan sebuah kasus, namun secara keseluruhan  pembaca khususnya anak-anak, akan dipenuhi rasa penasaran sepanjang membaca buku.

Cerpen yang pertama merupakan cerpen yang dijadikan judul buku: Jejak Kaki Misterius karya Riawani Elyta.  Ceritanya tentang kakak adik Daffa dan Anto yang menemukan bekas tapak-tapak kaki mencurigakan di sepanjang jalan samping rumah mereka. Beberapa hari mereka dibuat penasaran oleh pemilik tapak kaki yang besarnya tidak sama antara kanan dan kiri itu. Mereka memutuskan menyelidiki ala detektif.

Ketika hari Minggu seharian mereka mengintai namun tak membuahkan hasil, hari berikutnya mereka memutuskan tidak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Hampir  putus harapan karena hingga sore tidak muncul juga yang diburu, akhirnya rasa penasaran mereka terjawab.  Penyelidikan yang berakhir tidak serta merta mengakhiri cerita. Mereka terkejut mengetahui siapa pemilik jejak itu, terlebih setelah mengenal sosoknya. Tidak sekedar menuntaskan penyilidikan, kedua tokoh menunjukan akhlak mulia yang bisa dijadikan teladan oleh anak-anak.  “Menolong orang bisa membuat hati jadi lega. “(hal.12)

Pesan moral tersebut sesuai dengan label buku, seri pendidikan akhlak untuk anak. Hal ini terlihat pula dalam cerpen Misteri Matinya Ikan di Kolam Nino karya Pujia Achmad. Nino tak hanya memcahkan misteri matinya ikan-ikan milik ayahnya, namun juga menemukan sebuah solusi dari permasalahan yang melatarbelakangi misteri itu. Kemuliaan akhlak tokoh-tokoh di dalamnya memberi teladan kepada anak-anak dalam pembentukan karakter.

Petualangan yang seru dan menegangkan ditawarkan oleh cerpen Kebun Misterius, karya Pujia Achmad. Penemuan sebuah buntelan misterius mengantar Iwan dan Adit pada penjelajahan sebuah bukit yang dianggap angker oleh masyarakat sekitar. Bahaya mengancam mereka. Ketika sebuah kejutan berada di depan mata, penemuan akan sebuah ladang terlarang, seorang bergolok menangkap dan menyekap mereka di sebuah rumah di tengah-tengah ladang itu. Adit dan Iwan tidak gentar. Berusahan melawan rasa takut dan berusaha memutar otak menemukan jalan keluar, mereka berdua  justru berhasil membongkar kedok gerombolan yang menangkap mereka.

Cerita dengan motif sejenis bisa ditemukan dalam Misteri Rumah Kosong karya Anik Nuraeni. Seru dan menegangkan.

Ada pula cerita misteri yang temanya bukan tentang penyelidikan. Ketika Ban Sepeda Rasad Pecah karya Dian Onasis unik idenya. Siapa sangka ban sepeda yang pecah membuat Rasad menemukan  jawaban atas misteri hutan bambu kuning yang selalu memunculkan suara yang menyeramkan.

Cerpen-cerpen dalam buku ini menyodorkan tema-tema unik dan tema-tema sederhana namun menjadi cerita luar biasa. Penulis-penulisnya membuktikan bahwa sebuah tema sederhana sekalipun jika diolah dengan apik bisa menjadi cerita yang mengesankan bagi anak-anak, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan keteladanan. Bagi saya, buku ini memberi banyak pelajaran menulis, terutama tentang ide-ide luar biasa yang diolah para penulisnya menjadi cerita yang mengalir.

Oiya, di postingan giveaway buku ini saya menyebut tiga judul yang paling membuat penasaran. Benar saja, memang  cerpen-cerpen  yang membuat saya penasaran seru ceritanya.