Kaukah Kemarau?

Seperti halnya hujan yang selalu berikan keindahan lewat irama liris tiap bulirnya, kemarau agaknya berikan hadiah matahari di langit sore yang cantik, lalu temaram senja merona jingga. Eh, tapi tunggu dulu, benarkah kini kemarau telah mengetuk pintu musim? Menyapa debu untuk diajaknya terbang bersama dedaunan?

terbakar matahari#depan rumah

dari jalan Pakisan
depan pasar Grabag

#beberapa sore mendapati langit dan matahari cantik di depan rumah, dua hari berturut-turut sengaja jalan-jalan ke barat untuk mengagumi hiburan dari Allah,atau sekedar nongkrong di depan rumah bareng emak. Jadi mengingat-ingat, kapan terakhir hujan, kayaknya baru Jum’at lalu deh. . .

Menikmati sore, 26052011, 16.44
foto-foto dengan Nokia 5130-c

Sabtu Pagi yang Basah

Payung biru itu masih tergeletak di atas meja
ia pasti akan terbahak menyambutku pulang
mendapati bulirbulir di ujung hidung dan pipi
keringat dan air tak ada beda

Sementara gerimis berdenting riang
“kapan lagi bisa mengecup ubun-ubun kepalanya yang tertutup kerudung coklat.”

07052011,09.05
#melamun di pojokan menunggu anak2 mengerjakan ulangan, memikirkan perjalanan pulang

Setitik Debu

akulah debu

setitik kecil dalam semesta

tiada bosan bertanya

tapi aku tak mau hilang

biarkan angin membawaku terbang

menjelajah…

hingga ruang maya sekalipun

sampai kutemukan jawab atas ragu

terkikis segala gundah

Magelang,13062010, 20:00
*gara-gara ditagih puisi, hehehe,
terima kasih buat yang sudah memaksa nulis

**foto hasil googling

Dalam Laju

Rinai di luar menjanjikan hangat kiranya aku berada di rumah dengan secangkir kopi. Tapi aku di sini terjebak jemu. Makanya sesekali kuintip sebuah dunia tempat para wanita terlindung burqa. Mengembara tanpa sebuah backpack di punggung.

Ah, bila saja ada jeda, ingin kusapa tiap sudut kota ini barang sejenak dua jenak. Tak sekedar mengintip dari balik jendela. Hingga jemu ini sirna.

bus trans 2B,YK
12 Mei 2010,14:50

Secangkir Kopi, Roman, dan Hujan

646 km jarak harus kutempuh,baru sampai di km ke-51. Masih jauh perjalanan,hfff. Di luar rinai, tapi aku tidak kedinginan, apalagi sampai kuyup, sebab aku duduk di sini, dengan secangkir kopi. Hangat di telapak tangan, nikmat di lidah, dan segar di kepala: beliau mengajakku ngobrol soalnya.

🙂

S.E.N.E.W.E.N

Warna hati tak terbaca,entah lara entah hampa sementara. Suara terjepit di ujung katup bibir,sia-sia kalau kata malah menjadi bara. Hanya wajah bisa teraba,ada gurat: lelah? Gundah? Gelisah? Resah? Entah? Atau malah benci? Pada siapa?
Sedang dunia berpaling muka.

22 Maret 2010, 17:53:14

Sms Gusti (adik kost jaman lalu) tiba-tiba datang kemudian , waktunya pas banget,seperti mengiyakan : Lebih baik menulis sampah,daripada menjadi sampah busuk buat pikiran kita-kutipan- hehe!”

Terima kasih Gusti, jadi hilang senewen itu. . . :))

?

Apa yang kucari? Hingga detik ini pertanyaan itu paling mengusik. Mengapa aku begitu lelah mencarinya? Sementara, untuk apa segala lelah ini saja belum kumengerti?

“aku bosan bertanya ‘mengapa’ tapi keinginan bertanya bagaikan candu yang tak sanggup kuputus. Masih belum. Perjalanan belum selesai.” –Bodhi dalam Supernova:AKAR,hlm 191, oleh Dewi Lestari–

jadi. . . ,kulanjutkan perjalanan ini. Meski lelah dengan ketidakmengertianku, setidaknya aku pernah berkata seperti ini: . . .dan selamanya aku tak ingin patah oleh lelah yang kadang buatku menyerah. . .

*lintasan tiba-tiba saat bantal menutup wajah*