Dua Tahun

alhamdulillah…

nikmat Tuhan yang manakah yang kan kau dustakan?

begitu banyak nikmat….

tepat dua tahun lalu. 11-11-11

janji sakral itu terucap, langkah baru terbuka… menapak kehidupan dengan seorang yang senantiasa menggandeng tangan….

inginnya menulis review selama dua tahun, tapi stag….!

jadi seadanya saya tulis:

begitu bersyukur dan beruntungnya saya dihadiahi-Nya sosok seperti dalam lipatan-lipatan doa saya

sosok yang berlimpah cinta, kasih, tatap hangat, senyum, canda, keusilan dan…………….perhatian serta stok sabar yang tiada habisnya….

terima kasih panda sudah menjadi teman yang setia, suami yang penuh pengertian, dan super dad untuk si peneliti cilik kita, Janitra…. bapak hebat! 

🙂

 

Hadiah Mozaik Blog Competition Sekaligus Hadiah Milad

Ahad, 1 Juli paket itu tiba di rumah, tepat di hari milad saya. Sayangnya, saya tidak bisa menerima paket hadiah itu langsung. Kemarin, posisi saya berada di rumah suami di Sambung sedang hadiah tiba di rumah emak di Grabag. Waw, exited ketika kemarin siang saya mendapat sms dari pihak JNE menanyakan posisi rumah saya sebab ia membawa paket untuk saya. Pas banget dengan hari milad saya. Maka, sejak menerima sms itu, rasa penasaran akan hadiah mengganggu hingga tadi siang akhirnya saya bisa membuka buntelan coklat dari Malang.

Hadiah juara harapan 2 Mozaik Blog Competition: Arti Buku Buatku berupa 2 buah buku itu sekaligus menjadi hadiah milad saya tahun ini. Oia, tak hanya buku, paket itu dilampiri selembar ucapan selamat dan motivasi untuk terus berkarya.


Alhamdulillah. Terima kasih buat Mozaik Indie Publisher (buat mas Ihwan dan mbak Ivone), tim, serta juri yang terlibat dalam kompetisi ini.

Kopdar Kilat Bareng Amarylli

Lima belas-an menit saja. Kalau dihitung secara matematis, waktu super singkat itu mungkin tak sebanding dengan jarak tempuh dan durasi perjalanan yang kami perlukan untuk bertemu. Mary dari Yogyakarta langsung ke Magelang untuk kemudian lanjut pulang ke Jakarta. Sedang saya, butuh 1 jam-an untuk sampai di kedai Kya Kya di alun-alun kota Magelang. Tapiii. . ., meski kilat saya puass dan legaaa bisa berjabat tangan langsung dengan Mary, tepat di bulan yang sama–setahun lalu–ketika kami bersalaman untuk pertama kali di beranda rumah ini.

Namanya juga kopdar kilat, jadi tak sempat kami ngobrol ngalor ngidul. Saya malahan yang datang langsung curcol,hehehe,maaf. Sedikit curcol tentang problem saya di sekolah sembari ngobrol singkat soal aktivitas. Salut sama Mary dengan aktivitasnya. Teramat singkat hingga saya tak sempat ‘kenalan’ dengan Mary. Sampai rumah tepuk jidat, kok sampai lupa sih nanya biodata? ( b i o d a t a? Formil banget! :D). Kalau soal kenalan lupa, tapi foto-foto teteup nggak ketinggalan. “Ketemu cuma foto foto neh,” begitu komentar Mary sembari pasang kamera.

Alhamdulillah, bersyukur sekali sore tadi, dihantar hujan, Allah mempertemukan saya (lagi) dengan kawan MP, menyambung tali silaturahmi. Finally, setelah beberapa kali ngobrol via telp berencana kopdar tiap Mary ke Jogja namun gagal, rupanya di penghujung Maret ini waktu yang tepat untuk kami bertemu.

Terima kasih buat Mary yang menyempatkan mampir di Magelang. Singkat tapi berkesan. Senengg. . .bertemu dengan si misterius,hihi. Oia, maaf, ketemu Mary cuma ngabisin segelas jeruk manis doang! 😀

Istana Pasir

:Mena Larasati

Kau mengajakku bermain ke pantai

mengajariku melihat tiap butir yang terserak:
pasir kata

“kita akan membangun istana,” katamu

sambil menyimak deru ombak

bernyanyi bersama camar

kita bangun miniatur karang

juga puri berperapian di puncak gunung

istana kita berkilau ditempa temaram senja

biar halimun juga malam mengepungnya

mata kita tak terhalang melihatnya

menjulang

ombak boleh menjilat dan menelan

tak peduli angin menghapus tiap inci jejaknya

tapi kita telah membingkainya

di sebuah ruang:
hening

#memperingati satu tahun perkenalan dengan Laras:
suwun telah menemani, mengajari dan mengingatkan pada banyak hal; belajar bersama! :))

makasih atas ide buat postingan ini, hehehe… Tentu ini kalah jauuuhhh sama kata-kata racikan Laras. Yang pasti, ini buat pengingat semoga pertemanan kita langgeng, amin. . . :))

[PR Timpukan] It’s Me Boemisayekti

I. Thank and link to the person who awarded me this award

Jarang OL, eh sekalinya OL dikejutkan dengan satu pm ”ajakan kenalan” dari sodari Hairi Yanti, kyaaa… isinya ternyata timpukan PR untuk ngerjain postingan berantai ini. Udah telat ya… tapi berhubung ini amanah tetap saya kerjakan deh. Makasih banyak buat Yanti untuk PR ini, yang ternyata masih mengenang awal kita kenalan dulu… :)). Trus, ternyata Ario yang baik hati pernah ngasih buku Totto Chan juga nimpuk juga… ! :))

II. Share 8 things about myself

1. boemisayekti
boemisayekti boemisayekti bukan nama yang tertulis di akte kelahiran saya. Boemisayekti sejatinya terjemahan bebas versi saya untuk nama pemberian bapak. Menyuplik dua unsur dari tiga unsur nama saya, Sayekti dan Ardi, jadilah nama yang saya pakai untuk ID maupun email di yahoo. Ardi dalam bahasa Jawa berarti gunung, sedangkan dalam bahasa Arab ada kata yang pengucapannya mirip dengan Ardi, yang memiki arti bumi. Bumi, saya lebih suka menggunakan terjemahan itu, jadilah nama boemisayekti. Sayekti sendiri berarti sejati (kesejatian), kebenaran. Dari rangkaian itu, orang boleh saja mengartikan beda-beda. Namun esensinya pasti sama dengan maksud bapak memberikan nama itu. Seorang kontak saya, mbak Ari Andari yang berID bknpenulis pernah begitu penasaran dengan nama saya hingga ia menanyakannya pada ibunya. Alam semesta, begitu ibunda mbak Ari memberikan bocoran arti nama saya. Exited dengan postingan mbak Ari mengenai nama boemisayekti, saya copas di sini dengan sedikit penambahan.

2. Diari, buku, radio
3 hal itu tak bisa saya lepaskan. Buku diari saya sekarang masuk edisi ke-25. Saya menulis semua luapan hati dan kepala, mimpi, pendapat, atau ulasan berbagai hal dalam buku tulis biasa, bukan buku diari penuh warna maupun bergembok seperti yang dimiliki teman-teman ketika SD, bahkan dalam beberapa edisi saya menulisnya di buku gambar. Alasannya supaya saya lebih bebas menuangkan apa saja, dengan gambar, coret-coretan atau tempelan gambar. Saya merasa telat menulis diari. Kalau membaca buku harian Anne Frank atau Zlata, saya merasa iri. Mereka sudah menulis diari sejak dini.
Saya selalu ingat ucapan ponakan saya—yang jauh lebih tua usianya dari saya–, dia ceritakan pesan bapak saya untuk nulis diari, siapa tahu apa yang kita tulis berguna kelak. Sayang sekali, bapak tak sempat mengungkapnya langsung kepada saya. Saya mangenal bapak hanya sampai kelas 1 SMP. Ponakan sayalah yang dekat dengan bapak sejak ia kecil. Bapak seperti menjadi pengganti ayahnya yang meninggal sejak ia kecil, sama seperti saya.

Saya ingin membudayakan nulis diari, itu sebabnya tahun lalu di kelas 3 saya punya program menulis diari. Saya wajibkan paling tidak seminggu sekali anak menulis diari dan mengumpulkannya. Kalau ada diari yang inspiratif saya bacakan di depan kelas. Satu diari siswa pernah saya posting di sini. Program itu disambut antusias anak-anak bahkan di kelas 4 mereka riquest tugas nulis diari lagi, padahal saya hanya punya 2 jam di kelas 4, mengampu pelajaran PKn. Saya bukan lagi wali kelas mereka, tak juga mengampu pelajran B. Indonesia. Saya penuhi permintaan mereka, di bab Sistem Pemerintahan Pusat, saya beri mereka kesempatan berfantasi, seandainya aku jadi menteri, aku ingin jadi menteri… saya minta mereka menuliskan program-program mereka. Saya minta mereka menuliskannya di buku diari mereka. Exited, beberapa diantara mereka tak hanya menulis tugas tapi juga menulis jurnal lain. Bahkan dengan tugas itu saya jadi tahu beberapa siswa berbakat menulis cerpen dan dongeng. Cerita itu mereka tulis di buku yang mereka kumpulkan.
Buku, apa yang saya lakukan dengan diari tentu saja tak lepas dari buku. Saya menulis karena saya membaca. Seperti buku-buku yang saya baca, sayapun ingin mendokumentasikan hidup dan isi kepala saya dalam tulisan.
Kalau ditanya buku apa saja yang saya sukai, saya tak bisa menyebut genre tertentu. Saya suka membac buku fiksi—cerpen, dongeng novel–, puisi, atau buku nonfiksi,buku-buku traveling—jadi tambah ngiler jalan-jalan. Sekarang sedang merasa butuh membaca banyak buku psikologi. Kalau sedang menulis atau membaca buku saya suka mendengarkan radio. Kenapa radio karena saya bisa mendengar musik dari berbagai aliran yang cocok di telinga saya, ngapdet musik meskipun stasiun radio di Magelang seringkali tertinggal ngapdate musik.

3. Morning tea
Minum teh di pagi hari sudah menjadi budaya dalam keluarga saya. Entah kebiasaan itu ada sejak kapan, saya tidak ingat. Sejak saya kecil emak tak pernah absen menyediakan teh nasgitel untuk kami seisi rumah, bahkan jika ada tamu menginap. Kebiasaan itu berhenti selama 4 tahun saya kost, nggak ada yang buatin teh di kost, hehehe, kadang-kadang saja membuat. Balik lag
i ke rumah selulus kuliah, saya kembali menikmati teh nasgitel buatan emak tiap pagi. Itu sebabnya saya selalu kangen teh buatan emak saat jauh dari rumah, tiada d
uanya deh!

4. Jalan kaki tiap pagi
Kalau ada yang melihat seorang perempuan berpostur kecil berseragam PSH dengan tas selempang biru tiap pagi berjalan di trotoar sepanjang jalan depan Klinik Gumuk Walik sampai jalan Kyai Haji Syiraj Grabag—hingga toko 39—antara pukul 06.30—07.00 itu pasti saya. Saya berangkat kerja dengan jalan kaki. Dari toko 39 saya kemudian berbelok masuk jalan kampung karena sekolah tempat saya bekerja berada di tengah-tengah kampung. Saya terbiasa jalan kaki, sejak saya mengenal sekolah TK,
SD, SMP, kemudian kuliah, saya pulang pergi dengan berjalan kaki. Karena SMU sekolah saya ada di kota Magelang tentu jarak belasan kilometer itu hanya bisa ditempuh dengan naik bus. Jalan kaki sudah menjadi rutinitas saya, makanya saya merasa enjoy dengan kegiatan berjalan jauh—bahkan sangat suka—seperti trekking.

5. Tak suka highheels dan tas jinjing
Saya tidak suka kedua benda itu sehingga tidak ada satupun sepatu high heels dan tas jinjing yang saya miliki. Mobilitas dengan berjalan kaki menjadikan saya lebih suka memakai sepatu yang nyaman buat jalan jauh. Soal tas, saya suka tas yang bisa muat barang banyak, barang apa saja bisa masuk. Selama sekolah dan kuliah tas yang saya pakai selalu tas ransel, sekarang saya memakai tas selempang panjang. Tas jinjing yang biasanya dipakai dengan disampirkan di bahu buat saya tak praktis dan ribet. Saya merasa nggak jaben memakai tas model itu, terlebih sepatu high heels.

6. Susah adaptasi
Saya tipe orang pendiam, pemalu, garing, sehingga susah beradaptasi dengan tempat maupun orang baru. Untuk tempat kerja, saya butuh waktu lama untuk bisa enjoy dengan teman-teman untuk kemudian bisa merasa homy di tempat kerja. Di sekolah kedua tempat saya mengajar, bahkan sudah dua tahun belum bisa merasa sehomy di SD. Saya masih diam saja ketika teman-teman ramai berceletuk atau berhahahihi, lebih jadi pendengar setia. Jadi jangan heran kalau baru bertemu dengan saya banyak diam. Jangan kaget juga kalau saya orangnya gak asyik banget, hehheheh.

7. Kartupos
Saya punya mimpi mendapatkan kartu pos dari seluruh provinsi di Indonesia bahkan seluruh dunia. Filateli pernah menjadi hobi ketika SMP dan SMU. Selain perangko, saya mengumpulkan kartu pos. Sekarang hobi mengumpulakn prangko sudah mandeg, tinggal kartupos. Kartu pos yang masih menjadi favorit adalah kartu pos ini.


Namun rasanya tidak asyik mengumpulkan kartu pos kosongan tanpa perangko. Karenanya, saya punya program mengirim kartu pos untuk diri saya sendiri dari tempat saya jalan-jalan ke alamat rumah. Saya baru memulainya sekali. Ketika beberapa waktu lalu mbak Ari Pres MPID mengirim pm masal untuk bagi-bagi kartupos semangat sekali saya mendaftarkan alamat saya. Dari Guangzhou saya mendapatkan kartu pos cantik krirman mbak Ari.



Kartu pos kiriman teman sepertinya akan bertambah karena saya menemukan satu lagi teman mp dari Malang yang kini tinggal di Blitar sehobi dan bersedia kirim-kiriman kartupos dengan saya. Tak sengaja kami mengobrolkannya di suatu kesempatan smsan. Ada lagi teman yang bersedia mengirimkan kartu pos untuk saya?

8. Jarang nonton TV
Kalau ditanya apa acara TV favorit saya, saya tak bisa menjawab. Saya jarang duduk berlama-lama di depan TV. Dalam sehari, paling tidak hanya setengah jam-an saya nongkrong di depan TV, sore hari ketika siaran berita. Itu bukan acara favorit tapi kebutuhan meskipun boleh dibilang saya bukan seorang yang selalu update dalam hal berita. Malahan saya ini kuper. Tak ada parabola, TV kabel atau antena UHV di rumah, TV kami hanya menyediakan 2 chanel, satu chanel TV nasional dan satu lagi chanel TV swasta jatah dari kecamatan yang isinya sinetron melulu. Tidak banyak pilihan acara yang bisa saya lihat, jadi saya lebih suka nongkrong di kamar, baca buku atau mengerjakan hal lain sambail mendengarkan radio.

III.Pay it forward to 10 bloggers that i have recently discovered

Mengikuti jejak mbak Nita Febri yang nggak bikin daftar korban timpukan, maka saya pun tidak memasukkan dartar blogger yang bakal mengikuti jejak ini. Sadar diri kalau saya jarang OL dan nggak tahu mana kontak yang sudah pernah garap PR mana yang belum… Tapi kalau ada kontak saya yang ingin juga kena timpuk, bolehlah saya timpuk, heheheh…

Catatan Kopdar: Semalam Bersama Laras

Kopdarnya sudah tahun lalu, tapi baru sempat posting catatan ini, kadaluarsa ya. Katakanlah ini sebuah nostalgia,hehe…sayang kalau kenangan manis ini tak berjejak.

Seakan tak percaya ketika Kamis siang (23/12/2010) Laras sms kalau dia dalam perjalanan ke Magelang dan berencana menginap di rumah saya. Laras? Akhirnya, mau kopdar juga dengan Laras.

Awal-awal kenal, Laras pernah ngajakin gabung di kopdar yang akan dilaksanakan di Jogja bersama kontak-kontaknya. Waktu itu kaget mendapati postingan merah alias pm dari Laras. Baru kenal langsung diajakin kopdar?

Maka saya segera merencanakan perjalanan ke Jogja. Deg-degan, baru beberapa bulan aktif ngempi langsung kopdar dengan orang-orang asing. Hanya Laras dan 1 temannya yang tercatat sebagai kontak baru saya. Penasaran, seperti apa rasanya ketemu dengan Mpers.

Rasa penasaran saya tak terbayar. Pagi buta, saya masih tidur-tiduran di rumah paklik di Jogja ketika sms Laras masuk. Ayahnya mendadak sakit sehingga Laras urung ke Jogja. Kopdar gagal. Sebagai gantinya, saya jalan-jalan sendirian,napak tilas ke kampus dan menyambangi toko buku.

Sejak mendapat pm dari Laras, telah beberapa kali kami sms-an. Kegagalan kopdar justru membuat komunikasi makin intens meskipun saat itu Laras off dari MP. Boleh dibilang, saya kenal siapa dan bagaimana Laras dari obrolan-obrolan di sms, bukan karana pertemuan di kampung MP.

Laras berkali-kali bilang, kalau jodoh pasti Allah mempertemukan kita. Harapan kami terkabul. Lebih dari kopdar, Laras bahkan berkunjung dan bermalam di rumah saya.

Setelah melewati perjalanan yang terbilang tidak lancar: terjebak hujan, dan salah jurusan alias nyasar, Laras sampai ke rumah ba’da Isya dihantar gerimis. Komunikasi selama ini telah memberi saya gambaran sosok Laras, foto juga sering saya lihat. Saya langsung bisa mengenali Laras yang menunggu di depan pasar Grabag. Tak ada kejutan di luar bayangan, hanya mungkin Laras yang terkejut melihat saya dan dunia nyata saya,hehehe.

Laras terlihat exited dengan suasana rumah, sepi berselimutkan udara dingin. Sebelum tidur, dalam balutan selimut Laras bahkan bilang, “Aku di Bekasi nggak pernah lho tidur selimutan gini.” Tidak sampai larut malam kami ngbrol sebab kondisi kami sedang tidak begitu fit.

Paginya, saya bersyukur mendapat pengakuan dari Laras kalau tidurnya nyaman, bangun tanpa pegel-pegel. Jujur kan Ras? :D. Semalaman kami hari tidur empet-empetan di amben rumah yang sempit,hehe.

Saya ajak Laras jalan-jalan pagi, memperkenalkan ‘desaku yang kucinta’. Berkali-kali decak heran dan kagum terdengar. Maklum, orang kota yang terbiasa melihat kemacetan dan polusi mendapati suasana desa yang tenang, adem, ndeso, dan masih terdapat banyak sawah dan parit. Lokasi andalan yang saya tunjukkan kepada teman-teman yang datang, termasuk Laras, adalah jalan menuju Ngablak di daerah antara Kaliaji dan Kleteran. Di tempat itu, saat berdiri di satu titik, kami bisa memandang 7 gunung dari 4 penjuru mata angin: Telomoyo, Andong, Merbabu di sebelah timur, bersebelahan dengan Merapi di tenggara, Sumbing Sindoro di barat dan Ungaran di utara berpayung langit bersih. Tak bosan kami bernarsis ria di sana,hahaha. Pulang dari Kaliaji, jalan-jalan lanjut ke areal persawahan belakang rumah (coba sawahnya punya sendiri!)

Ucapan Laras yang diulang-ulang membuat saya GR,” aku langsung betah, hayo kamu harus tanggung jawab.” Tanggung jawab? Salah sendiri datang ke sini, sapa suruh? Hihihi. tambah kembang kempis hidung saya membaca testimonial lewat status fb Laras: Hal yang paling indah saat ini adalah menikmati suasana pedesaan Grabag, memandang gunung ungaran,sindoro,sumbing,merapi,merbabu dari satu titik. Sungguh sempurna cipataanNYA dan sungguh indah hidup ini…….

24 Desember 2010 jam 11:54

Saya bersyukur Laras begitu menikmati silaturahminya. Semoga bisa memberikan inspirasi dan semangat baru yang dibawa ke Bekasi. Terima kasih buat Laras, sudah berkenan datang. Beruntung bisa kenal Laras. Pertemuan dan perbincangan selama di rumah benar-benar saya syukuri. Saya semakin mengenal sosok Laras, kebaikan, kerendahan hati dan ketangguhannya.

Maaf juga buat Laras, nggak bisa nemenin jalan-jalan muter2 Magelang. Jangan kapok ya… trims fotonya 😦

*hiks, ingin nambahin foto lagi MP lagi nggak mau diajak kompromi 😦

Backpacking Hemat ke Australia

Penerbit: Backpacker Dunia Publishing, Oktober 2009 (Cet. Ke-1 )
Tebal Buku: xii+210 halm
ISBN: 978-602-95725-0-6

Buku ini merupakan catatan perjalanan Elok Dyah Messwati memutari benua Australia dalam tiga kali kunjungan. Pertama, datang ke Sydney karena tugas kantor untuk mengikuti Pertemuan Regional Tingkat Menteri Asia Pasifik (Indonesia datang juga) tentang HIV/AIDS Juli 2007. Kedua, lagi-lagi ke Sydney untuk mengikuti World Youth Day (WYD) Juli 2008. Mimpinya adalah bisa bertemu Paus Benedict XVI yang hadir dalam pertemuan itu. Ketiga kalinya, backpackeran dalam rangka cuti besar. Perjalanan yang ketiga kalinya ini lebih panjang dan tentu kaya pengalaman. Elok mengelilingi Perth, Adelaide, Melbourne, Canberra, Sydney, Brisbane, Gold Coast, dan Darwin.

Mulai dari tempat-tempat menarik yang dikunjunginya (lengkap dengan fotonya), pengalaman, rute perjalanan, sampai harga tiket (transportasi dan akomodasi) tersaji secara runut. Tanpa memisahkan jurnal dan tips (panduan), Elok secara langsung sudah berbagi panduan traveling hemat di jurnal perjalanannya seperti memilih rute penerbangan dan memesannya, akses trasnsportasi dan tiketnya, penggunaan Travel Pass untuk menghemat biaya perjalanan, pemilihan tempat belanha, makan, dan hangout yang murah, dan yang terpenting…, di mana travelholic bisa tinggal dan menginap.

Yang mengagumkan buat saya untuk diserap adalah konsep hostpitality exchange. Elok seringkali mendapat kemudahan berkat keikitsertaannya dalam Hostpitality Club. Semua tempat yang diinapinya begitu homy dengan host yang welcome, open minded, dan sangat bersahabat. Konsep ini penuh kekeluargaan, bukan sekedar menginap gratis namun juga bertukar mengenai kisah hidup, pengalaman, berbagi perjalanan, dan kebiasaan sesama travelholic (hal. 183).

Satu yang kurang buat saya sebagai penyuka etnografi—muatan yang seringkali ada dalam catatan backpacker–, saat stay dengan local people, berinteraksi dengan mereka yang dikatakannya memperkaya perjalanannya, elok kurang menjabarkan pengamatannya terhadap kehidupan/ keseharian masyarakat lokal.

trims buat mbak Arie (http://srisariningdiyah.multiply.com) atas hadiah buku ini :))
foto dari :http://elokdyah.multiply.com

Totto Chan’s Children

Penerjemah : Ribkah Sukito
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juli 2010, cet ke-2
Tebal Buku : 328 hal.

Sukses dengan memoar masa kecilnya, Totto Chan: Gadis di Jendela, Tetsuko Kuroyanagi kembali hadir lewat buku Totto Chan’s Children: A Goodwil Journey to the Children of the World. Kali ini Totto Chan berkeliling dunia sebagai duta UNICEE, berkunjung ke berbagai negara yang mengalami berbagai permasalahan: kelaparan dan kekeringan, kemiskinan, konflik antarsuku, pemberontakan,pembantaian. Perjalanan yang dicatat dalam buku ini dilakukan dalam rentang tahun 1984 hingga 1996 meliputi negara Tanzania, Nigeria, India, Mozambik, Kamboja&Vietnam, Angola, Bangladesh, Irak,Etiopia, Sudan, Rwanda, Haiti,dan Bosnia-Hergezovina.

Di negara-negara Afrika seperti Tanzania dan Nigeria anak-anak meninggal akibat kelaparan, kekeringan,lingkungan yang tidak sehat, kurangnya vaknisasi, tertular penyakit atau menderita diare. Anak-anak kecil harus berjalan 4,8 kilometer atau 9,6 km untuk mendapatkan air. Di klinik kecil di Tanzania yang dikunjungi Miss Kuroyanagi, anak-anak yang sakit kekurangan gizi dan terpisah dari orang tua,menangispun tak sanggup sebab mereka tak punya tenaga untuk menangis (hal 31).

Di India pun, negara yang diakui oleh Miss Kuroyanagi sebagai negara eksotis yang memiliki kebudayaan kaya, sejarah panjang, dan maharaja kaya raya terkenal, juga sari dengan keindahan dan keanggunannya, terdapat banyak anak-anak miskin meninggal akibat kekurangan gizi. (hal.82)

Yang paling membuat saya bergidik ngeri adalah nasib anak-anak yang tumbuh di daerah konflik: perang gerilya, perang antarsuku, pemberontakan dan pembantaian.

Satu foto memperlihatkan Miss Kuroyanagi diantara tumpukan sembilan ribu tengkorak korban pembunuhan rezim Pol Pot di Kamboja. Selama kekuasaan rezim itu, seluruh Rumah Sakit yang berjumlah 800 juga ikut dihancurkan. Para dokter dibunuh. Satu-satunya rumah sakit anak sedang dibangun saat kunjungan. Kondisinya serba terbatas sehingga ada prioritas penanganan pasien yang memiliki kesempatan tinggi untuk sembuh. Tingkat kematian bayi di Kamboja sangat tinggi.(hal 107-108).

Tak jauh dari Kamboja, di Vietnam racun yang dipakai tentara Amerika selama perang dan bom yang tidak meledak saat perang tapi meledak sesudahnya memiliki andil besar terhadap kebutaan yang di derita lima ribu anak yang tinggal di Ho Chi Minh City. Faktor lainnya adalah kekurangan gizi. Anak-anak di usia sekolah harus bekerja setiap hari untuk membantu perekonomian keluarga, menjaga adik, atau membantu pekerjaan rumah sehingga mereka tak bisa bersekolah pada pagi hari melainkan malam hari.( hal. 117)

Dalam situasi perang atau pemberontakan, anak-anak selalu menjadi korban atau egoisme orang-orang dewasa. Di Angola, anak-anak kecil diikat dengan tali di pohon untuk dipotong tangannya dengan golok. Bayi dipotong kaki dan tangannya setelah orang tua mereka dibunuh tentara gerilya di depan mata. Anak-anak itu ditinggalkan sampai mati. Mereka yang bertahan hidup tumbuh sebagai yatim piatu yang cacat (hal.140). Di Irak, anak-anak dijadikan alat pendeteksi ranjau darat oleh orang-orang yang tak mempunyai alat pendeteksi ranjau. Anak-anak yatim piatu dibujuk berjalan di depan mereka sehingga mereka akan tewas jika menginjak ranjau sedangkan orang-orang dewasa bisa mengambil jalur lain dan selamat. Anak-anak itu dengan kepolosannya merasa bangga karena berjalan di depan untuk mengetes jalan (hal.189).

Orang-orang dewasa pada saat perang saudara di Bosnia-Herzegovina sengaja mempelajari psikologis anak hanya untuk membunuhnya. Sebuah bom ditaruh dalam boneka ketika rumah kosong ditinggalkan untuk menyelamatkan diri sehingga ketika pemiliknya kembali dan memeluknya, bom itu meledak. Bom juga dibentuk seperti cone es krim yang disebar di tanah dan seperti coklat paskah berbentuk telur serta dibungkus kertas perak.(hal.292-293)

Berbeda dengan negara-negara lain, di Rwanda pembantaian bukan dilakukan oleh tentara gerilya atau orang lain namun oleh kerabat mereka sendiri. Pada mulanya adalah perang antarkelompok etnis, suku Huto dan Tutsi. Pada akhirnya, pembantaian memicu perang saudara. Orang-orang hidup dalam ketakutan akan pembalasan dendam. Begitu mengerikan situasi di Rwanda sehingga di majalah Time, seorang pendeta setempat berkata: Tak ada iblis di neraka, mereka semua ada di Rwanda. (hal.244)

Sama dengan Miss Kuroyanagi, ketika membaca buku ini, sayapun tak habis pikir, bagaimana bisa seseorang memiliki kebencian yang begitu besarnya?
Anak-anak di negara yang dikunjunginya tak hanya mengalami kelaparan akibat kekeringan, kekurangan, atau kemiskinan, namun jaga lapar akan cinta. Yang menyedihkan adalah luka-luka psikologis yang mereka derita. Apakah bisa disembuhkan?

Membaca buku ini, tak hanya wawasan mengenai negara-negara yang kunjungi Totto Chan yang bertambah, namun mata hatipun akan terbuka. Betapa keras hidup anak-anak itu, tapi mereka bertahan. Luar biasa. Foto-foto yang melengkapi buku itu sangat jelas memperlihatkannya.

Beruntung sekali saya mendapatkan buku ini. Terima kasih banyak untuk teman saya Ario Fanie (http://mfanies.multiply.com) yang mengirimkannya cuma-cuma bersama CD serial Nodame dan buku-buku serial Little House. Lega setelah menyelesaikan buku ini, tapi. . . masih 4 buku lain menunggu. Oia, tak menyangka juga reviewnya [resume kalee. . .] bisa sepanjang ini 😀

*foto dari Gramedia Shop

Allah Maha Menghibur

Pernah-atau sering- merasa takjub dan bahagia karena tiba-tiba doa kecil kita, apa yang terlintas di angan, sedikit dipkikirkan, tiba-tiba dikabulkan Allah?

Begitu sederhananya kebahagiaan itu terlahir…*

Ia pun sering sekali mengalaminya. Doa kecil-doa yang remeh temeh-atau yang sekejap dipikirkan tiba-tiba dikabulkan oleh Allah. Hal itu tak henti membuatnya takjub dan bersyukur, subhanallah…., kemudian ia akan bergumam dalam hati,kok dikabulkan? sudah dikabulkan? finally…dikabulkan! soo amazing!

Hanya yang terlintas tapi ujug-ujug dikabulkan.Tak hanya takjub, ia pun sering geli sendiri, dan sedikit malu,”….aduh…yang sepele itu kokdikabulkan!. Ia bisa terus-terusan tersenyum sepanjang hari jika mengingat dan memikirkannya. DIA Maha Menghibur.

Seringkali kejadian seperti itu ia alami ketika ia merasa “hilang”. DIA hadirkan kebahagiaan yang sederhana itu untuk menghibur. Benar-benar terhibur! DIA buktikan Cinta dan KehadiranNya ketika ia meminta.

Yang terakhir ia alami, ada doa “kecil”nya yang telah lama mengendap dalam diri,karena begitu seringnya hal itu terlintas tapi sebenarnya begitu sepele. Waktu itu ia punya rasa penasaran terhadap suatu hal. Disisi lain, kondisi ia waktu itu sedang “lowbath”. Tiba-tiba DIA menjawab rasa penasaran itu dengan cara lain, dengan cara yang tak terduga, menjawab rasa penasaran yang telah mengendap selama 1,5 tahun. Karenanya, ia merasa ALLH telah Menghiburnya!

Ia tersenyum sepanjang hari dan rasanya ingin becerita pada dunia……….i’m happy! batere full lagi!

Sebenarnya tak hanya dalam hal semacam itu DIA menghibur hambaNya. Diantara rasa ketakutan, kehampaan, dan kesedihan pun, manusia akan selalu merasakan hadirNYa.Meski begitu sulit mendapatkan kesabaran untuk menghadapi semua itu, hati kecil pasti selalu ingin meyakini HadirNya. Ada semacam keindahan dalam ketakutan, kehampaan, dan kesedihan itu kalau hati kecil yakin dan berusaha menghadirkanNya. DIA selalu ada untuk menghibur hambaNya. Dengan berbagai cara…

***

Hari ini tiba-tiba ingat catatan di atas yang saya posting 2 tahun lalu di http://boemisayekti.blog.friendster.com/2008/09/allah-maha-menghibur. Pagi tadi, sambil jalan ke sekolah, hati berdendang pilu, baru aku tahu, capek itu apa…. Ya, beberapa hari ini rasanya capek…banget. Namun, siangnya, diantara rasa capek kerja, tiba-tiba hp bergetar. Seketika hati berbunga-bunga. Ada sms masuk mengabarkan beberapa hari lagi Rumi mau datang ke rumah diantar pak pos. Hwaaa… lagi-lagi teman MP yang kemarin ngirim buku Pandora (http://boemisayekti.multiply.com/journal/item/98/Menjadi_Ibu_di_Mata_Penyair_Oka_Rusmini) mau ngirim buku puisinya Rumi. Subhanallah, sms itu menjadi semilir angin di padang gersang. Allah Maha Menghibur. Seketika capek menguap berganti rasa syukur, bersyukur atas hadiah dari Allah, teman yang begitu perhatian dan “hiburan” tak ternilai. Terima kasih buat sobatku…. Tak sabar menunggu Rumi datang. Sudah lama pengen punya buku itu, eh dapat rejeki via teman. Alhamdulillah…

* mengutip cuplikan sebuah puisi dalam novel Always Laila.

Menjadi Ibu di Mata Penyair Oka Rusmini

“Bagiku kehadiran anak,mengurus,dan mendidik dari detik per detik adalah award tertinggi dari Tuhan untuk kehidupanku,” kata Oka Rusmini dalam sebuah wawancara di harian Kedaulatan Rakyat (Minggu, 23 Oktober 2005).


Award dari Tuhan itu bernama Pasha Renaisans. Bagaimana sang bunda meresapi pengalamannya memiliki Pasha, sejak ia berada di rahim tertuang dalam puisinya berjudul “Pasha”. Tak ada yang bisa dengan benar-benar menggambarkan bagaimana rasa melahirkan dan memiliki anak, kalau bukan perempuan itu sendiri.

PASHA

Tak ada lelaki memiliki mata seindah matamu. Aku mabuk,dan selalu hampir mati setiap kausentuh tubuhku dengan nyala yang meluap kaualirkan,setiap kau mencengkram tubuhku dengan aroma matamu. Kadang kulihat hujan rintik-rintik. Kadang kulihat badai topan mengamuk begitu dahsyat. Kadang kau ingin memakanku mentah-mentah.

Tak ada lelaki memiliki bau tubuh liar dan panas seperti tubuhmu. Aku hampir gila setiap satu keping keringat memotong kulit tubuhku. Tetesannya menyumbat seluruh pori-pori wujud perempuanku.Aku tak bisa bernafas, karena kau pegang nafasku. Aku masih ingat bau amis itu, ketiga tiga orang lelaki merobek perutku dan mengambi tubuhmu paksa dari tubuhku. Darah itu ikut. Cairan tubuhku terkuras. Kau mulai menjerit . kulihat air bening berenang di retina matamu. Jam berapa ini? Udara dingin. Dan tubuhku yang telanjang kaubiarkan beku. Bau tubuh siapa ini? Membuat tubuhku menjadi liar.

Tak ada lelaki memliki kulit setajam kulitmu. Tahukah kau aku sering mengiris kulitku, berharap bisa memaksukan tubuhmu kembali ke dalam tubuhku.  Aku ingin menanam kembali tubuhmu , karena aku takut kau akan lupa kulitku. Cukupkah delapan bulan sebelas hari kau mengenalku? Aku tahu diam-diam kau makan tulang-belulangku. Mungkin juga kausedot darah di kaki kecilku. Nyeri it uterus menguntitiku. Bahkan aku sempat melihat air liur menetes di mulutnya yang besar. Kulitmu yang tajam seperti keju kecil yang sering kaukunyah sore hari. Kaukah itu? Lelaki yang pernah kubenakan dalam rahimku.

 2003


Khawatir, cemas, takut, tentu tak lepas dari keseharian seorang ibu: melihat dunia dan bumi yang carut marut dengan berbagai persoalan, berbagai kasus dan berita yang menguncangkan perasaan. Oka Rusmini menyebutnya sebagai sebuah masa ketika dunia rajin membunuh anaknya sendiri (dalam “Menjelang Kata”, kata pengantar untuk PandoraI). Tak ketinggalan cuaca dan musim yang tak lagi bersahabat. Tapi tetap saja dari berbagai carut marut itu terselip sebuah harap untuk buah hatinya. Kekhawatiran seperti itu bisa dipahami, kalau kita membaca “Spora”

SPORA

Apa arti sebuah garis, Anakku? Ketika kau mengenggam pensil, aku melihat sebuah dunia perlahan tersibak di kakimu. Matamu yang bulat tak mengerjap. Menatapku dengan ratusan belati Tanya.
Di luar, cuaca sering buruk. Hujan dan angin bertikaman. Asap beracun merobek nafas, menguliti tubuh. Kecemasan merendam seluruh wujudku.
Kau mulai menejelma jadi manusia. Detak jantungmu mengeja hidup. Tapi aku kian menjelma jadi perempuan penakut. Makin pandai menelan bongakahan biji mata yang menatapku dengan asing.
Dari jalanan, orang-orang menebarkan bau anyir. Aku mual. Sanak-kerabat mencangkuli masa lalu. Mengerat otakku. Bersekutu memasukkanku ke peti mati. Mereka tanyakan kulit Tuhanku!
Negeri macam apa ini, Anankku? Orang-orang begitu pintar membangun menara. Mengurai sejarah, menguliti ilmu pengetahuan, merapal mantra. Mereka berceloteh tentang kebesaran, kejayaan, dan kemasyuran, sembari terus membakar pulau tempat leluhur mereka tenggelam hilang. Buih kata-kata mereka melukai sepotong kakiku.
Kini kau mulai jatuh –cinta pada angka dan aksara. Kauputar pensilmu, kadang kautusukkan di kulit bukumu. Negeri apakah yang kelak menyentuhmu? Siapakah yang akan menemanimu ketika aku tiada? Sepa akan mengajakmu bicara? Berbincang tentang warna kulit Tuhan, cara menyentuh dan mengenalNya? Tentang jalan bercecabang para pencari cinta ilahi?
Anakku, kelak bila telah kaukuasai angka dan aksara, belajarlah mengenal cinta. Pahamilah dengan seluruh pikiran dan detak aliran darahmu. Pahami arti duka, luka, dan derita di luar tempurungg akumu. Rasakan keindahan cinta pohon-pohon rindang yang tiada pernah lelah melindungimu dari cakar matahari. Cintai dirimu, hidupmu,sesamamu. Jaga mulutmu, tingkahmu, dan pikiranmu.
Bangunlah, Anakku,matahair mulai mengupas kuntum bunga kecombrangku. Tidakkah kaulihat daunnya membelai kaca jendela kamar tidur? Jerang tubuhmu. Jelang harimu.
Dunia baru menungggumu.
                                                          
 2005
                                                            ***
“Pasha” dan “Spora” adalah dua dari 40 sajak dalam Pandora. Ke-40 sajak itu merupakan biograri tubuh yang ditulis Oka Rusmini dalam kurun 1999—2008. Dalam “Sebuah Menu Bernama Tubuh”, catatan penutup untuk buku itu, Yos Rizal Suriaji menyebut deretan sajak itu sebaga metamorphosis tubuh. Sajak-sajak itu terurut secara sistematis, dari “Ulat”, “Kepompong”, “Kupu-Kupu”,1967. Perasaan dan pengalamnnya memiliki reward dari Tuhan ada dalam “Pasha”, “Den Haag”, “Lelakiku”,”Spora”. Dalam “11 Juli”, tanggal kelahirannya, Oka bertanya Seperti apa rasanya menjadi ibu?  . kemudian ada sajak untuk dua lelaki tercintanya, Arif Bagus Prasetya dan Pasha Renaissans: “Halimun”. “Jejak” menjadi sejak penutup untuk biografi tubuhnya.

Tulisan ini hanyalah sekelumit catatan untuk dua sajak yang sudah selesai say abaca. Pandora belum usai saya baca seutuhnya. Membaca dua kumpulan puisi selalu membutuhkan waktu yang tidak singkat buat saya. Satu puisi saja tidak selesai sekali baca. Keterbatasan kemampuan membaca puisi menjadikan  hal
ini sebagai sebuah proses. Toh meskipun banyak puisi yang belum bisa saya pahami makna keseluruhan maupun kata tiap lariknya, karya itu tetap bisa saya nikmati. Teman yang memberikan buku ini pernah bilang, Biarkan puisi itu tetep misterius. Yups, setiap kata punya misterinya sendiri-sendiri.

Terima kasih tak terkira  untuk sohib saya yang mengirimkan buku ini. Kami sama menyukai karya-karya Oka Rusmini, namun belum saling tahu ketika sohib saya mengirimkan buku itu, kami baru tahu saat ia sms mengirim buku—belum disebut judul dan pengarangnya–, dilanjutkan mengobrol sampai pad pembicaraan tentang puisi dan saya menuebut Pattiwangi karya Oka Rusmini, eh tak dinyana buku yang dikirimnya karya Oka: surprised! Tak sabar menunggu pak pos datang mengantarnya dan ketika hari itu tiba dan membuka amplop coklat, waw…bukunya so beautiful. Buku itu berkulit hard cover warna hitam dengan ilustrasi “Gravitation”, lukisan indah karya Wolfgang Widmoser*. Sebuah kiriman yang eksklusif!

*Wolfgang Widmoser: Lahir 1954 di Munich, Jerman.  Mempelajari teknik lukisan Renaissance dengan Profesor Ernst Fuchs di Wina 1973-78. . Sejak 1974 ia telah pameran di Eropa, Asia dan Australia. . Dia telah tinggal di Italia dan Indonesia sejak tahun 1980. (http://www.michellechin.net/artists/wolfgang.html)