Melepas Nelayan di Pantai Gesing

Pantai Gesing terletak di Bolang, Girikarto, Panggang, Yogyakarta. Dibandingkan pantai lain di Gunung Kidul, pantai ini terbilang dekat. Jalur menunuju pantai  bagi saya lebih nyaman lewat Panggang dibanding lewat kota Wonosari yang padat lalu lintasnya. Hanya saja, ada beberapa jalur yang menanjak berkelok.

Pantai ini kecil dengan deretan kapal yang bersandar. Ada kapal-kapal yang membawa penumpang menjelajah laut sekitar, segaaarr.

Yang menarik bagi kami adalah para nelayan yang sedang menyayat ikan di kapal-kapal nelayan. Mereka bergerombol sembari mengobrol. Saya kira mereka sedang membuat ikan asin yang akan dijemur.”Bukan, mereka membuat umpan untuk mencari ikan,”jelas abah Janitra. Benar saja, sore hari mereka siap berlayar. Lihat saya cara mereka berlayar. Dibutuhkan beberapa orang untuk menarik kapal dari pantai ke laut. Kerjasama yang menjadi ciri khas masyarakat lokal. Bahkan pengunjung pun ada yang turun tangan membantu.

Bagi anak-anak, apa yang menarik? Tentu saja bermain ombak! Iya lah, mereka enggan untuk berhenti. Ombak di Pantai Gunung Kidul selalu menggoda dan cenderung aman untuk anak-anak. 

Dengan pasir putih dan air yang jernih, anak-anak makin betah bermain ombak. Selain itu, pemandangan pantai dengan tebing di sekeliling juga indah. Sayangnya, terlihat sampah-sampah di pantai yang mengurangi eksotisme pantai.

Doesoen Kopi Sirap Tawarkan Pengalaman Ngopi Tak Biasa

Jelajah kampung kopi menjadi daya tarik wisata yang kini banyak dikembangkan oleh kelompok tani di  beberapa daerah. Sebut saja  kabupaten Semarang yang memiliki areal perkebunan kopi luas. Selain Kampung Kopi Banaran yang lebih dahulu populer, kini mulai berkembang Doesen Kopi Sirap. Terletak di Dusun  Sirap, Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang,  kafe dan   wisata edukasi dusun ini kembangkan oleh kelompok tani Rahayu Empat. Berkembang sejak tahun 2014, kafe yang menawarkan pengalaman ngopi yang unik dimulai dua tahun belakangan. Ada beberapa paket wisata yang ditawarkan antara lain terlihat dalam brosur berikut20181227_175709

Paket wisata tersebut diikuti oleh jumlah peserta minimal 10. Selain paket wisata, pada bulan tertentu ada event spesial seperti panen raya di sekitar Juli- Agustus dan  festival kopi. Paket yang bisa diikuti oleh peserta terbatas antara lain berisi pengalaman menyangrai kopi secara manual tradisional oleh penduduk lokal. Tidak menutup kemungkinan penghunjung lain melihat prosesi tersebut.

 

Datang  secara mandiri, liburan kali ini kami bertiga melakukan penjelajahan di Doesoen Kopi Sirap. Dimulai dengan perjalanan menanjak, masuk dari jalur utama Magelang-Semarang, kami dimanjakan dengan hijauannya perkebunan kopi. Bukan  hanya perkebunan kopi, di sana-sini terlihat pohon nangka yang mulai berbuah. Tak heran jika di jalan masuk dari jalan raya utama terdapat warung yang menjajakan buah nangka besar-besar yang menguning menggiurkan. Komoditas lain areal perkebunan itu adalah durian dan salak.  Di tingkahi cericit burung, perjalanan menuju lokasi terasa  adem dimanjakan perkebunan beraneka ragam.

20181227_123442

pusat kegiatan wisata edukatif sekaligus kafe

20181227_120925

 

Begitu tiba, kami disambut area kafe  diantara perkebunan. Coba dulu menu khas kafe ini. Kami memilih  menu khas dari Doesoen Sirap yaitu kopi arabaika dan robusta Kelir, serta nasi jagung goreng. Pengolahan kopi sebelum menjadi bji kopi siap saji di lakukan di dusun sebelum area kafe. Sementara pembibitan dilakukan di atas, diantara perkebunan kopi.

20181227_120136

20181227_120001

Menu nasi jagung  dihasilkan oleh petani dusun tetangga. Setiap pagi, biasanya ada pedagang yang membawa dagangan nasi jagung urap khas Jawa. Sementara kafe ini hanya menawarkan nasi jagung yang diolah menjadi nasi goreng. Cobalah, dengan lauk petho goreng yang kriuk, beberapa potong telur dadar, kerupuk dan sayuran, rasanya boleh juga.  Namun, untuk lidah kami yang penyuaka makanan original, nasi jagung original lebih diterima lidah ketimbang nasi jagung yang digoreng dengan bumbu.

20181227_110022.jpg

menu utama kopi dan nasi jagung ditambah cemilan pisang dan kentang goreng membuat betah berlama-lama sembari menikmati rerimbunan kebun kopi

20181227_110118

Bagaimana dengan kopinya?  Arabika khas masamnya, sementara Robusta mantab pahitnya. Kopinya disajikan dengan botol kopi dan gelas kecil. Kadar manis bisa disesuaikan dengan selera sehingga tersedia gula di wadah kecil.

20181227_105320

20181227_111147

20181227_105221.jpg

Untuk Janitra yang belum ngopi, kami pesankan coklat panas. Coklat racikan ini terasa legit coklatnya, mantablah!

Setelah puas menikmati kopi, kami pun mulai menjelajah perkebunan.. Yang demen selfi tak usah khawatir, ada beberapa spot selfi di antara perkebunan. Tracking sampai tempat pembibitan cukup membuat kami berkeringat lho. Apa lagi kalau blusukan sampai tengah-tengah kebun.

20181227_123502

tempat ngopi di gazebo di antara perkebunan yang asri

a kopi 1

20181227_124939

20181227_124852

20181227_124834

20181227_115632

20181227_104547

20181227_104627

20181227_124457

tempat pembibitan

Sayangnya kami datang saat pohon kopi sudah dipanen bijinya. Membayangkan saat tanaman sedang berbunga, waawww… pasti indah. Menjelajah sembari menghirup wangi bunga kopi waa…sedap.

 

Menjelajah kebun seperti ini buat kami lebih mengasyikan ketimbang jajan dan main di mall. Salah satu cara mengasah kecerdasan naturalis anak dan menambah bonding ortu dan anak  dengan mendekatkan dengan alam.

a kopi 2

20181227_124119

20181227_104736

Oiya, selain ngopi di tempat, pengunjung juga bisa membeli kopi dalam bentuk biji maupun bubuk untuk dinikmati di rumah. Tertarik untuk mencoba mencicipi kopinya sambil menjelajah?

20181227_120033

20181227_120151

20181227_120300

Eksotisme Kali Mangu Mungkid

 

Kamis pagi itu, saya dan rombongan—dengan rekan guru dan anak-anak– menembus  dingin pagi melewati rute naik turun berkelok-kelok menuju Blabak. Tak ada kemacetan kami temui sebab dari Grabag pak sopir memilih rute Banaran—Tegalrejo—Candimulyo—Blabak. Dalam hati saya berpikir, untuk tubing, kenapa  harus jauh-jauh ke Mungkid? Toh tak jauh dari tempat tinggal kami  juga ada. Meskipun berdomisili di Secang, saya bekerja di Grabag. Teringat pula komentar suami, ”Hari gini tubing,tubing sama batu?” Maklumlah, kemarau begini sungai paling airnya sedikit.

Jawabannya baru saya dapatkan setelah nyemplung dan ngeli di kali Mangu  dengan  ban  besar.

Beberapa kru menyambut kami di base camp di Jalan Senden-Ngabean No. 10 Senden Mungkid Magelang, yang di depannya nampak ornamen dari bambu berwarna-warni. Setelah menunggu beberapa saat untuk mempersiapkan peralatan: pelampung, helm, dan ban, kami pun siap berangkat dengan  berjalan kaki.  Kru yang membersamai kami ada 10 orang.

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.24.29

Start tubing berada tak jauh dari base camp.  Gemricik air sungai menyambut kami. Apa yang dikomentari oleh suami tidak terbukti. Air sungai melimpah dan gemricik diantara bebatuan sudah menggoda untuk diarungi.

Para pendamping kembali melakukan pengulangan informasi penting dari pembekalan yang sudah dilakukan di base camp.  Mantab kami memilih ban masing-masing.  Jumlah kru yang sebanding dengan jumlah rombongan dan selalu siap mendampingi menjadikan kami siap terjun.

Duduk di atas ban diombang-ambing dan hanyut mengikuti arus berbeda sensasinya ketika duduk bersama di atas perahu karet. Ini lebih seru.  Pengalaman dan keseruan tiap-tiap orang di atas ban berbeda-beda. Untuk individu yang menyukai tantangan yang memacu adrenalin secara personal tubing ini pilhan tepat.

Ketika arus cenderung tenang, pemandangan tebing sungai yang dinaungi langit biru bisa dinikmati. Ada akar-akar pohon yang menjuntai di sana-sani. Sesesekali ada mini air terjun yang menambah keindahan tebing sungai.  Saya takjub, kalau tidak mengarungi sungai dengan tubing seperti ini, tidak akan pernah tahu bagaimana rupa tebing sungai yang dijuluri akar-akar pepohonan. Terlihat eksotis. Magelang pastilah punya banyak sungai yang indah untuk dijadikan tempat mengambil jeda dari aktivitas dan menyegarkan pikiran. Sayangnya, polusi berupa sampah-sampah yang dibuang penduduk tak jarang ditemui di sepanjang perjalanan.

Melewati jeram-demi jeram, keseruan demi keseruan lebih terasa. Sensasi diombang-ambing dan didorong arus membuat ekspresi kami tak bisa dibendung, teriak dan bersorak. Tidak ada kekhawatiran bagi kami yang tidak memiliki kemampuan berenang sebab ban dan pengaman berupa pelampung dan helm sangat memadai.

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.20.26

Beberapa jeram ekstrim kami lewati, namun para pendamping selalu stand by di lokasi jeram, membantu para peserta bisa mengarungi dengan aman tanpa rasa khawatir. Justru di jeram-jeram yang ekstrim para peserta merasakan adrenalin terpacu.

IMG-20180628-WA0131

Penulis artikel menikmati tubing

Dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, jarak tempuh yang Sungai Mangu  di arungi terbilang panjang. Pendamping mengajak beberapa kali break. Ini kesempatan bagi peserta tubing saling berbagi ekspresi dan meluruskan kaki.  Salah satu pendamping selalu siap mengambil foto. Tempat break selalu dipilih tempat dengan latar belakang pemandangan yang indah, berupa air terjun kecil ataupun batu-batu yang instragramable untuk berfoto.  Kerikil-kerikil dan bebatuan kecil terhampar di tepi sungai yang landai. Tak hanya di tempat break, fotografer juga aktif mengambil foto saat kami berayun-ayun atau terlontar oleh arus jeram.

whatsapp-image-2018-06-28-at-12-16-27.jpeg

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.14.54

WhatsApp Image 2018-06-28 at 11.54.36

whatsapp-image-2018-06-28-at-12-15-12.jpeg

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.23.08.jpeg

Tiba di garis finish,  kami bisa berpose dengan pose melingkar  sambil bermain kecipuk air. Foto-foto yang diambil oleh fotografer semua akan dibagikan kepada rombongan sehingga keseruan tubing  bisa dibawa pulang dan menjadi kenangan sepanjang waktu.

IMG-20180628-WA0114

IMG-20180628-WA0107

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.08.48

Magelang memiliki kekayaan sumber daya alam  yang bisa  diekslpore untuk pariwisata. Dari hutan pinus, hutan bambu (papringan), pegunungan, hingga sungai-sungai yang menyimpan keindahan yang seringkali tak diketahui oleh penduduk lokal. Seperti Sungai Mangu Blabak ini yang menawarkan pemandangan eksotisme dan jeram-jeram penuh tantangan.  Ayo ke Magelang. Sebagai wong Magelang  sudah saatnya kita mengenal dan mengeksplorasi daerah sendiri sebelum melalang ke tempat lain.

 

 

**Foto koleksi pribadi atas kiriman pendamping tubing

 

 

 

 

 

 

Sembari Ngopi Nikmati Waduk Sermo

Ada ketika saya ingin pergi ke suatu tempat semacam telaga yang luas. Saya duduk di tepinya, memandang luasnya air yang tenang, tak bergolak seperti ombak. Saat-saat seperti itu saya tidak merindukan ombak yang bergulung-gulung dengan irama yang khas. Saya hanya ingin ketenangan, mengurai  segala yang berseliweran di kepala: pekerjaan, rutinitas, dan tetek bengek yang membuat lelah.

Sekian lama keinginan itu mengendap. Pada akhirnya, apa yang saya bayangkan di kepala itu saya temukan pada tempat bernama Waduk Sermo. Rasa penasaran pada waduk yang diresmikan pada jaman Presiden Suharto itu membawa kami melakukan perjalanan pada  liburan ini bersama keluarga. Tak dinyana, tempat itu ternyata yang saya cari selama ini.

Saya menyukai perjalanan menuju waduk. Ini perjalanan yang menjadi favorit saya, selalu suka. Ini bukan perjalanan yang dijebak macet dan disekap baliho-baliho kota. Perjalanan dari Magelang, Mendut lalu menyusuri Kalibawang dan Kulon Progo ini disuguhi landskap pedesaan, luasnya sawah yang dibentengi deretan  Pegunungan Menoreh dan langit yang berawan. Sepanjang perjalanan saya dimanjakan kehijauan di kanan kiri jalan. Tiba di tepi rel kereta api, pas kebetulan kereta api yang lewat menjadi selingan. Bukankah ini menyenangkan?

Begitu tiba di waduk, suasana asri terbentang di depan mata. Waduk Sermo terletak di kawasan suaka margasatwa. Luasnya waduk dikelilingi hutan yang mengular dan pegunungan.


IMG_20171226_115005_HDRIMG_20171226_095948_HDR

IMG_20171226_100049_HDR

 

Saya seketika menyukai tempat ini. Tidak banyak pengunjung. Mereka yang datang memang ingin menikmati waduk: piknik, memancing, dan naik kapal menyusuri waduk. Spot foto? Ada di beberapa titik. Ada 3 dermaga yang salah satunya dipakai untuk tempat pengunjung yang ingin menyusuri waduk. Untuk naik kapal, pengunjung ditarik tiket seharga Rp10.000. Sementara beberapa spot selfi dan taman di tepi waduk, ada loket yang harus dilewati pengunjung untuk membayar tiket.

 

bapak dan anak yang mesra menikmati waduk

Tenang dan damai. Itu yang saya rasakan ketika duduk-duduk di gazebo tepi waduk setelah naik kapal. Baca buku atau sekedar ngopi-ngopi, boleh banget. Tempat ini juga jadi pilihan para pecinta kemping.  Mengamati kesibukan di dermaga menjadi pun ketertarikan tersendiri buat saya.

IMG_20171226_111020_HDR

menanti keberangkatan kapal. foto-foto dulu biar nggak jenuh

 

 


IMG_20171226_101443_HDR

satu-satunya foto yang sempat saya beri watermark 🙂

IMG_20171226_103940_HDR

Karena kesengsem dengan tempat ini, kedua kalinya kami mengunjungi dengan anggota keluarga yang berbeda. Kali kedua, kami bawa bekal untuk ngopi. Mantab lah!

 

Menepi di Mangli

Jenuh dengan hiruk pikuk dunia maya yang seringkali beringas: saling nyiyir, saling komentar  dengan tulisan paling benar, menepilah ke desa. Sering-seringlah rasakan keramahan nyata yang tak dibuat-buat. Kita akan tahu bahwa dunia ini tidak hanya dipenuhi orang-orang yang selalu merasa paling benar. Temuilah orang-orang yang tidak pernah dipusingkan dengan masalah-masalah viral.

Sejuk, itu yang rasakan saat bertemu dengan penduduk Mangli, Kaliangkrik. Di sebuah masjid dalam jamaah shalat duhur, ibu-ibu yang selesai melipat mukena  menyalami kami, saya dan Janitra.

“Saking tindak pundi?” sapa salah satunya.

“Mangli,”jawab saya exited dengan keramahan tulus mereka.

“Ngaturi pinarak, nggo..”ajak mereka. Semua ibu yang menyalami saya mengajak kami mampir ke kediaman mereka. Semuanya tanpa kecuali dan saya melihat ketulusan mereka.

Ketika saya tanya rute perjalanan menuju Dlimas pun, mereka menjelaskan dengan ramah.

Mangli, kami memang baru saja turun dari gardu pandang Silancur Mangli. Kesan saya sama dengan ketika bertemu penduduk desa. Sejuk. Dengan tiket seharga Rp 5000 kami bisa mengeksplorasi keindahan sebuah punthuk kecil.

IMG_20171225_102151_HDR

IMG_20171225_102206_HDR

Gardu pandang Silancur tak berbeda dengan wisata ketinggian yang pernah saya datangi. Landskap pedesaan di bawahnya, petak-petak pertanian di lereng gunung yang miring, juga awan-awan berarak di langit tepat di atas gunung yang terlihat sejajar dengan pengunjung gardu pandang. Bedanya, kami sangat menikmati berada di tempat itu. Tak ada antri-antri di spot swafoto. Ada beberapa pengunjung yang kami temui, namun semuanya terlihat menikmati suasana, tak hanya datang untuk cekrek-cekrek foto.

IMG_20171225_111244_HDR-01 (1)

IMG_20171225_111739_HDR

Kalaupun ada spot yang banyak diminati, antriannya tak begitu membuat kami yang datang terlihat menunggu. Kami menunggu sembari menikmati atau bermain-main.

Gardu pandang itu berada di punthuk kecil. Sejuk dan ‘eyup karena ada pepohonan.   Dua hammock diantara dua pasang pohon  bisa pengunjung pakai untuk bersantai maupun foto. Dua ayunan tanpa sabuk pengaman terlihat di dua sisi punthuk.

IMG_20171225_104624_HDR-01

IMG_20171225_105637_HDR

IMG_20171225_103513_HDR

IMG_20171225_103654_HDR

IMG_20171225_104328_HDR

Sebuah menara  berdiri di atas punthuk. Pengunjung bisa bersantai, berfoto, atau mengamati Merapi dan Merbabu yang berdiri kokoh di kejauhan. Sayang, gumpalan awan menutupi pemandangan itu. Mengunjungi tempat-tempat wisata semacam itu memang direkomendasikan dilakukan pagi hari.

IMG_20171225_102903_HDR

Taman bunga dengan aneka bunga warna- warni sangat instagramable untuk berfoto. Beberapa bangku taman atau gazebo menjadi tampat rehat yang memanjakan mata. Mau ngopi di tempat tu, rasanya pasti beda. Sayang, satu warung di sana hanya menyediakan kopi dan beberapa jenis minuman sachet instan. Besok lagi kalau kesana, karena jadi tempat fav, bisa deh bawa perlengkapan piknik dan ngopi-ngopi di atas.

IMG_20171225_112225_HDR

IMG_20171225_110733_HDR

IMG_20171225_113041_HDR

saatnya keluarkan bekal. sayang tak membawa kopi dari rumah

Turun ke bawah dan bertemu penduduk dusun yang membuat saya terkesan akan keramahannya, kamu kemudian lanjut ke Dlimas. Gardu pandang yang terletak di Windusari,Magelang,  ini sangat ramai.

Kontras sekali dengan Mangli. Tempat parkir penuh dengan sepeda motor. Tempat yang diresmikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo setahun lalu ini sedang ngehits di Magelang.

IMG_20171225_134629_HDR

IMG_20171225_133455_HDR

Gardu pandang Dlimas memiliki banyak spot foto yang tersebar di banyak titik. Dibutuhkan stamina untuk jalan dari spot ke spot, lumayan buat olahraga. Tapi jangan khawatir perut kepalaparan. Banyak warung makan yang sekaligus sebagai gardu pandang.

Pemandangan yang terbentang tak jauh beda dengan Mangli. Dengan tiket Rp10.000 pengunjung bisa berfoto di banyak wahana tanpa dipungut biaya lagi.

Oiya, mau olahraga yang lebih lagi, pengunjung bisa mengunjungi curug. Kami cukup menikmati perjalanan menuju curug, berjalan di antara petak-petak pertanian, namun kami urung menuju lokasi karena kaki kami sudah minta berisitirahat. 🙂

IMG_20171225_132636_HDR

Pesona Tersembunyi, dari Mongkrong hingga Sukmojoyo

Magelang, tempat saya lahir , tumbuh, dan tinggal  punya sejuta pesona yang tak habis untuk digali. Kotanya yang bersih berkali-kali mendapatkan anugerah Adipura Kencana. Keindahannya, dari kota hingga pelosok  menarik siapa saja untuk datang. Magelang tak hanya punya Borobudur yang kondang hingga mancanegara. Ada surga-surga tersembunyi yang bisa dinikmati di waktu senggang.

Sebagai wong Magelang, rasanya kok ‘katrok’  jika sampai tidak tahu tempat-tempat yang menyimpan pesona. Liburan, adalah saat yang tepat untuk melakukan eksplorasi.  Maka, di suatu pagi yang berkabut di hari libur, saya, suami, dan anak menerjang dinginnya pagi dengan motor. Motor melaju menuju daerah Borobudur.

Punya wilayah pegunungan yang mengular menjadikan Magelang punya potensi untuk mengembangkan wisata alam di ketinggian.  Di sepanjang pegunungan Menoreh, banyak titik menarik yang menjanjikan keindahan pemandangan matahari terbit.  Kalaupun  tak punya kesempatan melihat matahari terbit, ada lanskap  yang tak henti membuat  decak kagum.

Titik-titik di sepanjang Menoreh yang menjanjikan golden sunrise itu bisa diakses dari wilayah Borobudur. Untuk sampai di puncak Bukit Mongkrong, saya  tak perlu tracking  dengan ngos-ngosan seperti ketika saya naik gunung.  Dari tempat parkir sepeda motor, saya tinggal jalan kaki sebentar saja. Pengunjung yang datang bermobil, ada ojek yang siap mengantar sebab jalan menuju bukit tak memungkinkan mobil untuk naik. Meskipun saya hanya jalan sebentar saja, namun untuk  menuju lokasi parkir,  jalan sempit  terbilang  di sana waw!  Tanjakannya luar biasa bahkan ada yang menikung curam dan terbilang tak lagi mulus. Motor matic yang kami tumpangi sampai-sampai berbau gosong.  Agaknya, naik motor trail bisa menjadi pilihan yang bagus.

Mongkorong, tempat ini membuat diri tak henti berdecak kagum.  Lukisan yang dibentangkan Allah di bukit ini membuat kami betah berlama-lama di tempat ini. Negeri di atas awan tersemat juga dari tempat ini.  Dari titik-titik yang dibangun sebagai spot foto seperti gazebo, semacam dermaga dari anyaman bambu, hingga gardu pandang pada tiang  yang menempel pada pohon memanjakan saya menikmati  deretan gunung Merapi, Merbabu, dan Andong serta Telomoyo yang terlihat kokoh sebagai latar landskap pagi.

20161226_072743

Pada pagi itu, saputan kabut di sana-sini semakin mempercantik .  Di bawahnya, landskap wilayah Borobudur yang hijau dengan kotak-kotak pedusunan membuat mata tak mau beralih. Sungguh, tempat-tempat semacam ini bisa membuat hati banyak mengingat kebesaran Allah.

20161226_074047

Satu pikiran tiba-tiba melintas, hari gini untuk menikmati keindahan ketinggian bahkan matahari terbit ternyata tak perlu tracking ala pendaki gunung.  Ada banyak keindahan pagi yang tersembunyi, yang bisa didatangi tanpa menginap semalaman.  Ini bisa jadi alternatif bagi pemburu golden sunrise yang tak sempat bermalam di ketinggian.

Mongkrong  begitu  memanjakan mata sebab viewnya  luas. Tak heran jika pengunjung tak henti berdatangan pagi itu. Pengunjung harus rela antri jika ingin berfoto di top selfi ini. Saling pengertian dengan sendirinya tercipta antar pengunjung.

 

 

Merasa ngeri dengan ketinggian tapi ingin berfoto di titik yang menjadi top selfi, jangan khawatir. Ada sabuk pengaman yang disediakan di dua sisinya. Sabuk itu di kaitkan dengan bilah kawat di masing-masing sisi. Dari tangkapan kamera, tak terlalu mencolok kok sabuk itu.

20161226_075530

20161226_075613

Kalau titik yang ini memang membutuhkan keberanian. Tapi keseruan duduk diatasnya tentu akan  terbayar.

20161226_074156

20161226_075158

Dari puncak Mongkrong ini, terlihat sebuah bukit  bertuliskan Sukmojoyo Hill di sebelah kiri bawah.  Sudah sampai sini tapi tak mencoba ke sana, rasanya kurang afdol.  Puas menikmati Mongkrong, motor kembali menderu mendatangi Sukmojoyo.

Melewati jalan yang berliku, menanjak, kadang setapak  khas pedusunan, sampailah di punthuk yang  juga merupakan tempat peziarahan.  Punthuk ini belum dikelola seperti Mongkrong. Jika di Mongkrong dikanakan tiket masuk lima ribu rupiah per kepala dewasa plus ongkos parkir sebesar dua ribu rupiah, di Sukmojoyo disediakan kotak tempat pengunjung memberikan uang masuk seikhlasnya.  Biaya parkir ditarik tiga ribu rupiah.

Pagi itu hanya kami pengunjungnya. Kontras sekali dengan Mongkrong yang pengunjungnya tak putus. Kalau untuk menyepi dan bertadabur alam, tempat ini cocok. Banyak sudut yang di bangun sebagai top selfi, lebih banyak ketimbang Mongkrong. Lihat saja spo-spot ini, sambil berfoto saya bisa menikmati pemandangan di bawah yang menyegarkan. Mamang, di banding Mongkrong, untuk  view ke bawah Mongkrong tetap lebih unggul.  Tapi, di tempat ini saya bisa menikmati alam pegunungan Menoreh lebih leluasi sembari menyadari kecil diri saya. Betapa untuk menambah rasa syukur, tempat-tempat yang memperlihatkan kebesaran Tuhan bisa menjadi pilihan untuk didatangi.

20161226_090416

20161226_090312

20161226_083841

20161226_085514

Gunung Merapi sebagai latar dengan bingkai hati

 

Sepulang dari dari sana,satu lagi pikiran melitas, bahwa saya perlu mengagendakan menggali pesona Magelang yang belum saya tahu. Kamu anak Magelang tapi merantau, sekali-kali sempatkan pulang dan mendatangi tempat-tempat yang pasti akan membuatmu semakin rindu pulang.  Kamu yang berada di luar Magelang bisa klik tiket.com untuk akomodasi datang ke Magelang. Liburan di Magelang menjanjikan sejuta eksplorasi.  Ayo ke Magelang dan segera klik tiket.com!

 

 

Wisata Petik Stroberi Ketep

Berlarian di antara tanaman stroberi, memilih buah yang memerah kemudian memetiknya sendiri, anak kecil mana yang tak suka? Keseruan itu barangkali telah lama dibayangkan Janitra sehingga Ahad lalu ia meminta jalan-jalan ke kebun stroberi.

Tidak ada salahnya memenuhi keinginannya, sebab jalan-jalan yang dimintanya bisa jadi ajang belajar, eksplore alam, dan tentu saja bapak ibuknya juga pengen dolan 😀

Berangkat dari rumah pukul 13.30, perjalanan terbilang lancar. Dari Secang, kami memilih menuju kota Magelang kemudian lanjut Sawangan. Perjalanan menuju Ketep Pass dengan jalur Sawangan terbilang lebih mudah dicapai dan lancar, tidak seperti jalur Pakis yang rutenya ekstrim (belokan, tanjakan, sempit, plus jalan bopeng sana-sini). Jalur Sawangan lebih lebar, jalan yang mulus dari cor-coran, dan minim jalan ekstrim.

Dari Ketep Pass kami turun menuju arah Pakis. Di sepanjang jalan, sudah terlihat beberapa kebun stroberi. Kebun pertama yang kami kunjungi hanya menyediakan buah stroberi petik. Stroberi di kebun telah habis. Begitu pula kebun kedua. Stok di kebun habis. Kami tidak menyerah. Masih banyak kebun stroberi yang menyediakan wisata petik.

Kebun Stroberi Inggit terlihat berpengunjung melihat penampakan tempat parkir. Sebelum memutuskan turun, suami bertanya kepada tukang parkir. Beruntung.  Masih ada tapi sedikit, begitu info yang kami dapat. Lumayanlah.

Ada dua petak kebun stroberi atas bawah. Sebelum masuk, ada tarif yang ditarik sebesar Rp5.000/orang. Kami mendapatkan keranjang kecil dan gunting sebagai alat petik.

“Dilarang makan di tempat ya. Satu ons stroberi dihargai Rp.15.000,” pesan ibu penjaga. Kami setuju.

Mulailah kami berburu stroberi. Berjalan di antara tanaman stroberi, memilih stroberi yang layak petik, nyatanya memang pengalaman yang seru. Selain kami, ada beberapa rombongan yang asyik dengan aktivitas mereka. Memetik dan berfoto-foto di sela-sela memetik. Stoberi yang ranum dan bunga yang imut juga bisa menjadi objek foto yang menarik.

 

 

 

 

IMG_20170820_151654

IMG_20170820_151508

 

 

 

 

 

 

IMG_20170820_152457

IMG_20170820_152015

IMG_20170820_154232

IMG_20170820_153916

Kalau dikalkulasi, tentu saja mendapatkan stroberi dengan petik langsung lebih mahal daripada membeli buah di dalam mika, di pasar maupun di lokasi. Tapi, pengalaman dan buah yang kami dapatkan tentu berbeda. Kalau kami sudah mengidentikan stroberi dengan buah yang kecut, tidak demikian dengan buah yang dipetik langsung. Kami bisa memilih buah yang terbaik dan tentu saja  rasanya lebih segar dan manis. Berbeda dengan stroberi yang selama ini kami dapatkan di pasar tradisional.  Jempol deh. Tambahan lagi, stroberi tergolong buah organik, jadi lebih aman dikonsumsi dan sehat.

IMG_20170820_153245

Ingin pulang membawa oleh-oleh olahan buah stroberi maupun suvenir berbentuk stroberi? Tempat itu menyediakan. Buah stoberi telah diolah menjadi aneka snack maupun selai yang variatif.  Pengunjung tinggal pilih. Menikmati makanan dan minuman hangat sembari menikmati panorama sekitar juga bisa menjadi pilihan di kebun itu.  Ada gazebo di tengah-tengah kebun maupun di depan lokasi.

Ngopi di Ketinggian Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat

“Sugeng rawuh,” sambut pria berblangkon dengan wajah full senyum begitu kami turun dari motor tepat di depan rumah.

“Siapa?”  Sapanya ramah sembari menyalami suami saya.

Pria tadi kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak Rohmat, menjawab pertanyaan balik saya setelah berkenalan dengan suami. Beliaulah pemilik kedai kopi menoreh yang tepatnya nylempit di ketinggian deretan Pegunungan Menoreh.

Sambutan hangat itu seketika membuat kami kerasan ngadem  di pekarangan rumah  yang kedainya berbentuk gazebo-gazebo lesehan maupun gazebo dengan meja kursi kayu ala warung.  Aroma kopi menyeruak begitu kami masuk, memilih  salah satu di antaranya.

IMG_20170704_132856[1]

IMG_20170704_120703[1]

IMG_20170704_133130[1]

IMG_20170704_133049[1]

 

Keramahannya tak hanya dalam bentuk sambutan, namun beliau berkeliling dari satu gazebo ke gazebo, melayani segala bentuk pertanyaan maupun berbincang akrab, termasuk menjelaskan daftar menu yang ada pada kami.

IMG_20170704_121518[1]

IMG_20170704_121806[1]

 

Penyajian yang khas dari kedai itu adalah paketan kopi di atas baki yang terdiri dari kopi, 3 jenis pemanis yang terdiri gula jawa, gula pasir, dan sari jahe plus 4 jenis camilan yaitu geblek, kacang rebus, tahu isi, dan tempe mendoan. Mantab bukan? Untuk anak kecil seperti Janitra, tak perlu khawatir, ada kok jenis minuman lain.

IMG_20170704_122821[1]

IMG_20170704_125312[1]

IMG_20170704_124711[1]

salah satu paket menu makan besar

Kedai kopi itu menawarkan kopi yang langsung di produksi di tempat dengan perkebunan yang berjarak 200 meter dari kedai. Sayangnya, ketika kami berkunjung sedang tidak ada produksi karena persediaan masih banyak. Jika persediaan kopi di kedai habis, Pak Rohmat mempersilakan pengunjung untuk menyaksikan proses produksi. Untuk pengunjung yang ingin membawa pulang kopi, tersedia beberapa pilihan kopi kemasan.

Di sela-sela menikmati pekatnya kopi Arabika dan Robusta yang pahit kami bisa berbincang dengan pemilik yang merintis kedai dari 2014. Inspirasi datang dari seorang kota yang datang ke kediaman pak Rohmat. Hanya ngopi sembari berbincang di dalam rumah, sang tamu minta pak Rohmat membuat teras di pekarangan rumahnya. Setelah teras yang dimaksud jadi, datanglah sang tamu dengan komunitas moge berjumlah 70.

“Padahal waktu itu kami hanya memiliki baki seperti ini 10,” kenang Pak Rohmat sambil menunjuk baki di depan kami.

Kunjungan itu menjadi starting point berdirinya Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat. Beliau yang sebelumnya  hanya produsen kopi sejak 2010, meneruskan pengelolaan kebun kopi yang turun temurun diwariskan dari nenek moyang kini melayani tamu-tamu tak hanya lokal namun juga turis mancanegara.  Melayani para tamu yang menikmati kopinya di lokasi, produksi kopi juga terus berjalan untuk didistribusikan di kafe-kafe, restoran, hotel di Yogyakarta maupun luar daerah seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi. Distribusi kopi tak hanya dari kebun miliknya dengan luas 6000 meter persegi, namun beliau juga mengumpulkan dari petani-petani kopi sekitar.

Sebagian besar penduduk di sekitar kedai adalah petani kopi. Ada asosiasi petani kopi di sana. Ya, daerah tempat tinggalnya memang di kepung perkebunan kopi, tak heran jika wangi bunga kopi yang sedang mekar Juli ini menemani perjalanan kami menuju lokasi.

IMG_20170704_140044[1]

Suasana yang menyatu dengan perkebunan itulah yang membuat kami betah berlama-lama, menikmati kopi dan menu makan siang yang kami pilih.  Tak heran jika segala yang diberikan oleh alam di sekitar kedai, juga keterbukaan pemilik kedai membuat turis mancanegara tak cukup ngopi sekali waktu saja, namun juga sepanjang hari dengan menginap di lokasi. Karena memang tidak menyediakan  kamar, home stay ya di gazebo. Berbekal sleeping bag, para turis itu bisa langsung berdekatan dengan alam Menoreh. in pelayanan dua kali ngopi, sore dan pagi, serta satu kali makan besar, para turis asing cukup mengeluarkan kocek Rp.150.000.  Murah meriah bukan? Untuk turis lokal bagaimana?

“Kalau turis lokal, sejauh ini belum ada,” ujar pria yang sudah bercucu itu.

Nah, dengan segala kekhasan kedai kopi yang terletak di Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Yogyakarta pasti deh pengen balik lagi kesana. Tak peduli dengan rute berliku dan menanjak yang dilalui. Sebab rasa capek selama perjalanan akan terbayar dengan aroma dan keramahan. Ya, kami saja rela menempuh perjalanan selama 3 jam bolak balik dari rumah. Bagi kami, rutenya tak membosankan sebab hijau dan aroma ketinggian selalu membuat kami tak bosan melakukan perjalanan di pegunungan.

 

Bonusnya, kami juga bisa foto-foto narsis dong ya… 😀

IMG_20170704_132650[1]

IMG_20170704_132706[1]

IMG_20170704_132949[1]

IMG_20170704_133352[1]

 

Malam Berpelangi di Monjali

Sejak    Desember  2011  halaman sekitar Monumen Jogja Kembali bertabur warna-warni pelangi saat malam. Ada puluhan lampion aneka warna dengan lampu di dalamnya sehingga memancarkan cahaya warna-warni. Sejak masuk lokasi, pengunjung sudah disambut dengan gerbang dari lampion. Sepanjang halaman di sekeliling monumen beragam tema lampion berselang-seling memancarkan keindahan.

img_20170215_193229

Karena kami datang sesaat setelah jam buka, yaitu pukul 17.0,   jadi kami bisa menikmati senja di taman pelangi. Lembayung langit di kejauhan indah berpadu dengan lampion yang mulai memancarkan cahaya lampu.

20170215_181114

20170215_180957

Ada aneka satwa purba, darat, udara, laut bersanding dengan taman dan pepohonan berwarna warni.  Tema ikon wisata dalam negeri seperti tugu Jogja, hinga ikon luar negeri seperti menara eifel, bangunan khas Cina dan Korea juga tersaji indah.  Presiden  Indonesia juga hadir dalam bentuk karikatur wajah yang apik, berjejaran dari presiden pertama hingga terakhir sekarang.

img_20170215_190342

img_20170215_190749

img_20170215_194503

img_20170215_190630

img_20170215_190204

img_20170215_185456

Merasa lapar saat jalan-jalan, jangan khawatir. Ada banyak food court di halaman belakang maupun depan yang terpusat.  Bangku-bangku dan meja kayu bersanding dengan lampion menambah kesan makan malam yang tidak biasa.

img_20170215_185609-1

makan malam di depan menara eifel?

Aneka wahana bermain anak terpusat di depan. Ada trampolin, kora-kora, bom-bom car, kereta mini,  mobil kayuh, becak mini, dunia balon, komidi putar, wahana air, bahkan rumah hantu pun ada bagi yang ingin uji nyali. Semua wahana permainan dikenai tiket sekitar 10 ribu hingga 20 ribu.

img_20170215_194107

Jalan-jalan ke taman pelangi bisa menjadi alternatif jalan-jalan malam yang lengkap bersama keluarga. Dengan htm sebesar Rp.15.000 kebersamaan dengan keluarga akan terasa semarak di taman ini.

img_20170215_190004

dijepret mas @argo_prasetyo

img_20170215_184555

img_20170215_184820

img_20170215_185021

 

Lampion di Monjali menambah semarak Yogyakarta. Yogyakarta punya seribu alasan untuk kembali. Ya… Jogja memang never ending Asia!

img_20170215_190946-1

Geliat Pagi di Pantai Pok Tunggal

Pagi di Pok Tunggal dimulai dari kelap-kelip yang bertebaran di laut. Ombak sudah surut. Banyak penduduk yang menjemput rejeki mencari keong laut dan binatang lain yang bernilai ekonomi. Para penghuni tenda pun mulai keluar. Selepas subuh, ketika langit berangsur terang, kami mulai turun ke bibir pantai. Berjalan di atas karang-karang, anak-anak yang paling senang. Mereka berburu binatang laut. Orang dewasa sibuk mengabadikan moment. Berfoto, selfi, dan merekam suasana sekitar.

20161231_052013

img_20161231_051633

20161231_052710-1

20161231_055429

img_20161231_055645

Semakin pagi, kami semakin seru bermain air. Bercanda dengan ombak menjadi aktivitas wajib yang anak-anak lakukan. Saya sendiri lebih suka menikmati suasana pagi.

img_20161231_060747

img_20161231_060608

20161231_055415

img_20161231_060814

20161231_054739-2

img_20161231_055413

20161231_055231

20161231_055334

Berdua dengan suami karena Janitra asyik bermain dengan kakak-kakaknya, saya mulai mengeksplor lokasi. Berjalan-jalan di sekitar karang sayang untuk dilewatkan. Naik tebing menjadi pilihan kami selanjutnya.  Dari ketinggian, kami bisa menikmati pantai dengan sudut pandang yang berbeda. Banyak gazebo yang disewakan di tebing-tebing dengan biaya Rp20.000.

img_20161231_070111img_20161231_070047

img_20161231_070811

img_20161231_070709

Semakin tinggi matahari, pantai semakin ramai. Payung-payung  mulai berdiri.Ijin pendirian tenda hanya sampai pagi hari.  Kami pun segera merapikan tenda dan bersiap melanjutkan perjalanan.

img_20161231_071623

img_20161231_082915