[Review] Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan

“Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat,ke pada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah yang tak berbubuh noktah,tiada pesta yang tanpa bubar,tiada pertemuan yang tanpa perpisahan,tiada perjalanan yang tanpa pulang,” (hal.531)

Inilah safarnama. Inilah hidup penulis yang dituliskan dalam sebuah buku yang saya baca seperti membaca sebuah novel. Hidup Agustinus dengan perjalanannya itu seperti sebuah fiksi. Ini kisah nyata, saya berkali-kali menyakinkan diri ini nyata, saking terhanyutnya dibawa jalan-jalan kayak baca novel. Padahal ini buku ke-3 dari penulis yang saya baca, tapi ‘seperti tak percaya’ kalau buku yang saya baca adalah kisah perjalanan.

Berbeda dengan 2 buku sebelumnya yang sepenuhnya berisi cerita perjalanan, kali ini perjalanan Agustinus dibingkai oleh kecintaan pada sang mama. Safarnama penulis sejalan dengan perjalanan sang mama melawan penyakit kanker. Emosi yang saya dapatkan dari satu negara ke negara berpadu dengan emosi kisah perjuangan sang mama menghadapi penyakit.

Saya merasakan panjangnya perjalanan ke Tibet,Nepal, lelahnya melakukan pendakian Anapurna. Lalu masuk India, wajah bobrok kemiskinan, rasa muak dan kesakitan yang berangsur mencapai klimaksnya oleh keindahan. Didorong kemanusiaan menjadi relawan di Pakistan, Agustinus dengan kalimat-kalimatnya mampu membuat saya bisa merasakan ironi-ironi. Kehangangatan keluarga di Pakistan yang tulus menyambut orang asing seperti penulis, punya wajah berbeda ketika berbenturan dengan konflik agama. Kehangatan itu lenyap menjadi keberingasan misalnya ketika demonstrasi besar-besaran saat kasus kartun nabi mencuat. Atau wajah lain penuh simbah darah saat peringatan terbunuhnya Hussain di Karbala.

Terakhir adalah seperti mengulang kisah Selimut Debu. Perjalanan di Afganistan mengungkap wajah di balik perang. Di negara ini, ia sekaligus bisa mendapatkan pekerjaan yang sepadan dengan mimpinya, menjadi fotografer di sebuah kantor berita. Titik baliknya ia dapatkan dari negara ini, mengantarnya pulang ke hadapan sang mama.

Tak pernah bosan membaca kisah perjalanan dari Agustinus, paduan sejarah, lokalitas, dan keindahan beragam tempat diracik dalam kisah penuh makna. Kontemplatif dan inspiratif. Kita menemukan makna perjalanan dan kemerdekaan yang sebernanya.
“Perjalanan itu sesungguhnya adalah belajar untuk menatap cermin. Dalam perjalanan, memang pada pada awalnya kita belajar menghilangkan diri, tapi pada akhirnya kita justru menemukan diri dan menjadi diri. (Hal. 414)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s