Catatan Syawal

Ramadhan berlalu beberapa pekan lalu, berganti syawal. Ternyata saya belum bisa istiqomah menuliskan catatan Ramadhan di blog ini. Sebelum Syawal berlalu, ingin sedikit menorehkan sedikit catatan.

Ada kebahagiaan membuncah dengan Ramadhan, sedih ketika ditinggalkan. Kebahagiaan itu makin lengkap sebab di tahun ini Janitra sudah mulai latihan puasa. Alhamdulillah 29 hari full puasa bedhug, puasa duhur  lanjut Magrib. Saya sangat mengapresiasi, melihat begitu penuh warna dan kadang drama saat sahur. Mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali ia mau bangun sahur dengan keadaan seperti di bulan-bulan lain.

Bersyukur kegiatan dauroh Ramadhan membuat Janitra bertanya sekarang, kok nggak ngaji di Ya Bunayya lagi? Tanggal 2 Juni Janitra menutup kegiatan itu dengan semangat yang tidak surut. Siang itu panas, saya mengantar Janitra diiringi gumaman dendangannya. Panas yang terik tidak membuatnya mengeluh. Dia bahkan menyanyi keras dalam perjalanan di lokasi.

20180602_141131

semangat dauroh hari terakhir

 

Meninggalkan daurah, kegiatan yang dinanti-nanti lain adalah mabit pertamanya di TK. Penuh semangat dan sampai di rumah bilang, pingin mabit lagi. Alhamdulillah Janitra bisa mengikuti mabit dengan riang gembira.

20180608_201052

moment mabit yang ditunggu ternyata Janitra nggak berani menyalakan kembang api 😀

 

Jadi ingat bahwa setahun lalu, Ramadhan lalu Janitra harus mabit di rumah sakit sebab diberi ujian sakit. Rasanya haru mengingat itu, betapa banyak nikmat, kebahagiaan, dan kesehatan yang diberikan Allah saat ini.

mabit rsj

tempat mabit rumah sakit 😀

Begitu banyak pelajaran untuk ukuran bocah yang dilakoninya, tak heran jika saat Idul Fitri Janitra menyambutnya dengan buncah. Setiap moment silaturahmi diikutnya dengan riang. “Saya selalu semangat diajak badan (silaturahmi)” ucapnya selalu. Banyak keberkahan dan banyak rejeki yang anak-anak dapatkan di bulan Syawal ini.

Semoga pembelajaran ini dibawanya serta hingga bulan-bulan berikutnya. Aamiin


 

Iklan

[resep] Tahu Krispi

20180622_064252-01

Untuk makan di rumah yang homemade, Alhamdulillah kami sudah bisa move on dari tepung bumbu sekarang (lain jika jajan di luar). Semenjak ibu mertua divonis kanker dan harus operasi, makanan di rumah resmi bebas MSG, meski secara pribadi saya tidak pernah menggunakan MSG untuk memasak. Namun untuk bahan-bahan dari pabrik seperti tepung bumbu baru saya hentikan sejak ada rambu-rambu dari dokter ibu untuk lebih sehat dalam pola makan.

Beruntung, ada banyak inspirasi dari para food blogger dan foodstagramer yang berbagi foto makanan kece plus resepnya. Rajin stalking akun para suhu seperti Ayudiahrespatih, Mak Frida, dan Isna Sutanto bisa mendapatkan resep makanan sehat dan gampang. Salah satunya resep tahu krispi ini yang saya adopsi dari resep udang krispi dari akun Ayudiahrespatih.

Resep Tahu Krispi

Bahan:
Tahu diiris dadu  (satu iris atau 1/8 blabak tahu kalau di pasar Grabag)
2 siung bawang putih
Garam
1 butir telur, ambil putihnya
3–4 sendok munjung tepung terigu

Cara:
1.haluskan bawang putih dan garam. Sisihkan sedikit untuk adonan basah. Rendam tahu dalam bumbu agar meresap
2. Buat adonan basah dengan mengocok putih telur,1 sendok tepung terigu dan bumbu.
3. Masukkan tahu pada adonan basah
4. Gulingkan tahu pada 2 sendok  tepung terigu kering

Untuk ukuran tepung terigu sesuaikan dengan tahunya, jika suka bisa bumbu bisa ditambah merica 😄
Alhamdulillah langsung ludes.

 

Resep yang sama bisa digunakan untuk jamur krispi. Langsung ludes pula!

20180623_062835-01

 

Piala Dunia vs Deadline!

Di kelas, saya seringkali menemui masalah siswa yang gagal fokus. Harusnya belajar malah mengobrol, menggambar, membaca komik atau novel, atau melakukan kegiatan lain yang mengalihkan konsentrasinya dalam belajar. Bagaimana mengatasi masalah itu, jujur saya sendiri belum menemukan ramuan jitu untuk mengembalikan fokus siswa ke belajar 😀 Mengajak belajar lagi sih iya, tapi saya tidak menjamin seratus persen mereka fokus pada pelajaran.  Motivasi terbesar dan terbaik bukankah dari diri sendiri, sekalipun guru telah berusaha keras mengajak mereka kembali belajar dan memotivasi.

Jangankan siswa, saya sendiri termasuk dalam golongan yang susah fokus bahkan gagal fokus. Blog ini dan foto di bawah ini satu contoh kegagalan saya dalam fokus belajar.

20180623_191229-01 (1)

Suami sudah menyiapkan kopi. Jendela netbook sudah terbuka. Besok siang pukul 12.00 WIB tugas kuliah daring PPGDJ 2018 pertama harus sudah selesai. Tapi apa yang terjadi, saya malah sibuk mainan  foto, bahkan mendadak ngeblog. Sudah dua hari yang lalu niat nyicil tugas sudah ada, namun setiap buka komputer malah membuka file-file naskah, ide menyerang dan rasanya ingin menulis. Oh godaan emak! Dibanding tugas, saya malah asyik ikut lomba: menulis essay dan menyelesaikannya segera lalu sore tadi submit naskah. Setelah upload, maunya bisa lebih fokus.  Tapi sama saja.

Jadiii… jangankan salahkan siswa ya kalau sering gagal fokus!

Ah, tapi yang penting tanggung jawab itu ada kan, ya… tugas pasti selesai, belajar tetap meski disambi-sambi #pembelaan

Di ruangan yang sama,  kegiatan lain yang menggambarkan situsasi malam ini adalah foto ini

20180623_202532-01
Demam piala dunia mewabah. Tak bisa mengakses lewat tivi, gawai pun jadi. Malangnya, netbook suami rusak di speaker jadi video streamingnya bisu. Gawai jadi andalan. Menariknya pemandangan malam ini, gawai disulap jadi tivi flat dengan double tip di rak buku 😀 Sama dengan saya, suami pun sebenarnya juga punya tugas menumpuk yang harus segera diselesaikan sebelum ujian semester ini. Nah, kan!

Ah, guru juga manusia! #pembelaanlagi

Belajar pada usia emak-emak dan bapak-bapak memang banyak godaannya yaa… 😀

[Diary Ramadhan #4] Menu Takjil dari Dapoer Ibu Mertua

Ramadhan ke 4,5,6 dan 7 hari ini Alhamdulillah Janitra masih istiqomah belajar puasa bedhug. Lolos dengan tantangan yang sama: bangun sahur. Masih susah makan. Pada hari ke -4 Ahad lalu terbilang mudah, setelah sahur ceria banget. Hanya hari ini, pada hari ke-7 nangis dibangunin. Lama banget bangunnya. Jadi saya beri toleransi adzan subuh berkumandang masih makan. Pelan-pelan saja, untuk pembelajaran, bagi saya perlu menurunkan ekspektasi terhadap anak.

Setiap dibangunin sahur ditanya, mau puasa tidak, sambil merem pasti jawab puasa. Harus puasa sepertinya jadi prinsipnya, hanya untuk sahur perlu perjuangan.  Semangat ketika puasa siangnya selalu full.

Mulai Ahad lalu, Ramadhan ke-4, Janitra mulai mengikuti dauroh menghafal Alquran juz ke-30 di Yayasan Hidayatullah tempat ia sekolah TK. Kami antusias mendaftarkan Janitra untuk mendekatkannya pada Alquran sejak dini, mulai mengenalkan hafalan Alquran. Janitra antusias juga menyambut, ngaji di sekolah. Di hari-hari biasa ia mengaji TPQ di kampung, Ramadhan pun ia masih semangat. Ia bilang, ngaji dua kali. Asal anak semangat, kami tak mau menarget yang muluk-muluk. Asal mau belajar, capaian sesuai kemampuannya.

Ramadhan bulan mulia, bulan penuh pahala. Saatnya kita memberi kesan dan kegiatan positif untuk mendekatkan pada Allah, memperkenalkan keutamaannya.

Mulai Senin sekolah sudah masuk, kegiatannya jadi full. Awalnya saya agak khawatir, melatih puasa sementara saya tidak seharian di rumah karena kerja. Nyatanya, puasanya tanpa hambatan di siang hari karena waktunya terisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Di rumah pun ia punya teman bermain kakak-kakak sepupunya yang tinggal serumah.

Karena kegiatannya full, saya wanti-wanti Janitra untuk terus terang jika merasa capek. Kami tidak mau memaksakan Janitra belajar. Ia harus riang melakukannya. Asal siang pulang sekolah mau tidur, pukul 4 pulang dauroh ia semangat sekali masuk TPQ. Hanya hari ini, Ramadhan ke-7 ia mengaku ngantuk karena tidak mau tidur siang. Kami tak memaksa ketika selesai dauroh ia minta pulang.

Setiap pulang dauroh, pasti ada takjil spesial yang dibawanya. Dengan biaya pendaftaran Rp.130.000 ia akan mendapatkan sertifikat, juz amma kecil full color di hari pertama,  dan free takjil setiap sore. Di TPQ juga ada takjil yang dibawa pulang.  Ibuk tak perlu mencari-cari takjil untuk Janitra, jadi menambah semangatnya berbuka. Seperti Selasa lalu, Ramadhan ke-6, ada menu spesial dari Dapoer Ibu Mertua: cocktail dan siomay.

IMG-20180522-WA0030

Coctailnya seger… cess di waktu berbuka. Sementara siomay selalu jadi makanan favorit kami. Siomay Dapoer Ibu Mertua terasa banget udangnya. Sambalnya juga enyaakk..

Teman-teman punya menu spesial apa?

[DiaryRamadhan #3] Buka Bersama Hajj Chicken

Tantangan terbesar mengajak anak berpuasa di hari ketiga ini masih sama: sahur. Hari ini masih mending, Janitra masih mau makan meski sedikit, tapi rewelnya sama. Gerakan tutup mulut untuk madu dan buah masih. Alhamdulillah semangat puasa bedhug-nya masih full.

Aktivitas pagi dimulai dengan mainan lego, bermain peran dengan kakak-kakak sepupunya (guru murid di sekolah), kemudian bermain pasaran.  Tanpa pengawasan  dari saya langsung karena ada acara pengajian di UPT, Janitra tetap istiqomah sampai duhur. Alhmdulillah.

Iming-iming ikut buka puasa di sekolah ibuk mau nggak mau membuat Janita tidur siang. Nah, tantangan kedua dimulai ketika bangun tidur hujan masih deras turun menjelang ashar. Hingga saya berangkat ke sekolah hujan semakin deras. Sifat manusiawi saya, mengeluh dengan datangnya hujan, sekalipun saya terus membesarkan hati, hujan adalah berkah, jangan mengeluh, tetap jalan meski hujan, ayo nikmati saja jangan menyerah.

Kadung janji mengajak anak, saya berinisiatif mencari becak. Becak tak ada karena sudah sore.  Alternatif  membeli ayam goreng crispi mendadak muncul sebagai pengganti buka puasa di sekolah agar ia mau tinggal di rumah. Ternyata, Janitra kukuh pada pendirian.

Ujian kesabaran dan keteguhan datang. Saya bisa saja pencet gawai  dan izin tidak bisa datang menghadapi cuaca yang begitu tak mendukung untuk keluar rumah. Kalau saya datang, sampai di sekolah pasti basah kuyup dan tidak nyaman berseliweran di pikiran. Syukur, pikiran ‘bijaksini’ itu masih terpinggirkan dengan amanah dipundak sebagai guru.

Jika pikiran bijaksini yang bermain, maka menyerah pada hujan akan membawa saya meminta izin tidak datang buka bersama. Bayangkan seandainya semua guru di sekolah saya berpikiran semacam itu: karena hujan deras tidak bisa datang ke sekolah. Apa yang terjadi di sekolah? Anak-anak yang orang tuanya rela menerjang hujan untuk mengantar anaknya ke  sekolah akan berada di sekolah tanpa bapak ibu gurunya. Beruntungnya, para guru selalu dituntun Allah untuk bijaksana bukan bijaksini.

Begitu tiba di sekolah dengan ojek, saya exited melihat anak-anak yang sudah duduk rapi dalam shaf-shaf di masjid. Melihat anak-anak yang ceria datang sekalipun banyak diantara mereka datang  dari rumah yang jauh, dari gunung, dari pelosok desa,  saya merasa beruntung datang ke sekolah berada di tengah-tengah mereka. Di belakang mereka, saya henti merapal istighfar pada Allah, atas keluh saya, atas pikiran-pikiran buruk di kepala, meminta agar Allah menerima puasa saya yang kotor oleh berbagai pikiran buruk.

Selalu ada hikmah di setiap harinya kan ya?

Screenshot_2018-05-20-08-19-58

pinjam foto bu Annida Latifah

Lapar dan dahaga anak-anak terbayar ketika buka tiba. Menu kali ini pasti disukai anak-anak: Hajj Chicken!  Beruntung, di desa saya yang mulai menjamur aneka ayam goreng cripsi dari berbagai merk,  ada outlet Hajj Chicken yang bisa dijadikan pilihan pertama. Outlet yang pusatnya ada di Jl.Sorogenen 11 B Yogyakarta ini membuka cabang di Jl.K.H Shiraj Grabag.  Dijiwai oleh semangat 212, produk ini punya tagline Nikmatnya Berbagi Spirit 212. Sudah pasti dijamin halal, outlet ini tak hanya menawarkan menu ayam crispi dan geprek yang pedasnya mantab. Aneka menu favorit keluarga seperti steak, mie, nasi goreng, spageti, dan aneka minuman bahkan es krim menjadi menu pilihan yang bisa dinikmati bersama keluarga.  Halaman parkir yang luas membuat tempat makan ini nyaman digunakan sebagai tempat berkumpul bersama orang-orang terdekat.

20180519_214849-01

Untuk buka puasa kali ini, anak-anak senang, bapak ibu guru pun senang! 😀 Alhamdulillah, kami kembali ke rumah dengan hati tenang.

 

 

 

[DiaryRamadhan #2] Belajar dari Jajan

Hari ini Janitra lolos lagi puasa bedhug duhur lanjut magrib. Alhamdulillah…

 

Tapi, ternyata lolos dan mulus pada hari pertama bukan berbarti aman di hari ke dua. Tantangan hari kedua ini lebih berat dari hari pertama. Gara-gara tidur kemalaman nunggu bapak bawa martabak, jadinya bangun sahur dengan drama. matanya lengket buat melek, jadinya rewel waktu sahur. Setelah mimum susu dengan ogah-ogahan, Janitra hanya makan sepotong martabak sisa yang dibeli semalam.  Ia menolak makan nasi, buah, madu, dan sedikit saja minum air putih. Dipaksa malah nangis, dan mulutnya ditutup menolak minum madu. Haduhh… bapak ibunya jadi pesimis.

“Nggak usah puasa saja ya?” ujar bapak. Tanggapannya nangis. Ia tetap bersikukuh puasa.

Meski berusaha mendisiplinkan anak  untuk belajar, tapi kami tidak mau memaksakan anak di luar batas kemampuan. Mengingat riwayat sakit Janitra, saya trauma dan tidak mau terlalu tinggi memberikan standar pada Janitra.

“Ya udah, nanti sampai jam sepuluh, trus lanjut magrib ya.”

Janitra angguk-angguk.

Aktivitas pagi akan dimulai dengan membeli buku gambar. Saya juga sudah menyiapkan kain-kain flanel sisa-sisa, selama buku gambar belum terbeli. Eh, belum sampai beli kakak-kakaknya datang. Keberuntungan. Ini yang ditunggu-tunggu. Janitra akan lebih terkondisikan jika ada kakak-kakaknya. Jadilah mereka beraktivitas bareng. Mainan peran, baca buku cerita, dan tiduran. Sampai dua kakaknya yang sudah berpuasa magrib tertidur. Janitra enggan tidur.

20180518_121242-01

Ya sudah lah, ia menggambar hingga tiba waktu duhur. Alhamdulillah separoh jalan terlewati. Selesai buka, inisiatif sendiri mengulang mengaji.

Sepanjang siang berkativitas dengan kakaknya, main pasaran, dsb membuat ia enggan tidur siang. Akibatnya, masa—masa kritisnya datang selepas asar. Mulailah merengek-rengek lapar, dsb. Ia menagih janji buat jalan beli sup buah marjan. Dari kemarin pingin jalan-jalan dengan simbah beli sup buah.  Pengalaman tahun lalu pernah beli sup sirop marjan benar-benar melekat. Anak kecil puasa memang banyak ya permintaannya.

Saya penuhi permintaannya dengan berkata dalam hati sekali saja, besok nggak lagi. Proses belajar anak lebih mengena dengan pengalaman. Pun sore ini, saya ingin berikan pelajaran dari pengalaman jajan di pinggir jalan. Setelah pulang sampai rumah, menjelang berbuka dan mulai rengek-rengek lagi. Saya bacakan buku cerita.  Jeda lagi. Setelahnya saja ajak ngobrol

“Dik, jajanan tadi itu tidak sehat.”

“Kenapa?”

“Karena di pinggir jalan. Coba tadi ya, lihat kan, sup buah di pinggir jalan, trus ada motor lewat, asap dan debunya masuk di sup buahnya deh.”

Janitra paham  melihat dari reaksinya.” Trus, ada juga tletong,” lanjut saya

“Tletong itu apa?”

“Eek kuda, andong, ada tletong, trus kena-kena kedaraan. Berhamburan bisa masuk kan?”

Janitra paham.

“Nah, itu pelajaran IPA,” kata saya. Sebab Janitra sering bilang, “Mik mbok diajarin pelajaran IPA.” Yang saya tanggapi dengan, sehari-hari kita udah belajar IPA kan?

Saya yakin jajanan itu akan diminum sekali dua kali sudah sebab Janitra sebenarnya tipe anak yang tidak suka  jajanan di pinggir jalan, lidahnya terlalu pilih-pilih.

Pukul lima, semakin kritis saja. Setelah bosan nonton video Syamil dan Nadia, ia merengek-rengek. Saya tawarkan pingin apa? Cekrik-cekrik, jawab Janitra.

20180518_192824

Oke. Dari sampul kado yang tersisa dari kado ngendong  saya ajak memotong dan dijadikan karakter yang bisa berdiri semacam mini-minian. Selesai, masih sepuluh menit menjelang berbuka. Rengekannya semakin menjadi karena kantuk yang mulai menyerang.

Apapun yang terjadi, meski simbahnya nggak tega, saya kuatkan Janitra hingga semangatnya kembali menyala ketika waktu buka tiba.

Alhamdulillah, lolos.

Dan benar saja, baru sekali srutup, ini buat umik, nggak doyan,

“Nah, lebih enak susu kan?” Saya buatkan susu, Janitra semakin mengerti. Lebih enak makanan dan minuman di rumah kan, susu, kolak buatan simbah, kata saya.

Bagaimanapun, belajar dari pengalaman itu lebih bermakna ‘kan?

Ngabuburit, Pikir-Pikir Dulu!

 

20180515_054454-01-01

Jelang Ramadhan, salah satu pesan broadcast yang sering beredar adalah pencuri di bulan Ramadhan: TV, HP, dapur, dan pasar.  HP, gawai, adalah tantangan tersendiri.  Dikit-dikit sekarang buka HP ya?  Banyak sindiran, pernahkah dikit-dikit buka Alquran? Nah!

Ada satu artikel yang saya baca beberapa waktu lalu, lupa di mana. Saya merasa sangat diingatkan oleh artikel itu. Jelang buka puasa, adalah waktu mustajab buat berdoa (coba search soal ini, ada juga hadistnya). Ironisnya di Indonesia, stasiun TV berlomba membuat acara unggulan jelang berbuka. Perhatian masyarakat akan tersedot di sana, tercuri oleh TV. Belum lagi budaya ngabuburit, wah pasti deh ramai jelang berbuka. Ada yang sekedar jalan-jalan, ada juga yang mencari takjilan. Muslim di Arab punya budaya berkumpul jelang berbuka untuk berdoa. Mereka duduk berkumpul memperbanyak doa jelang berbuka.  Nah, sudah saatnya kita move on dari budaya ngabuburit yang tidak banyak manfaat, kecuali dengan majelis ilmu.

Sementara saya diingatkan tentang banyak doa jelang buka,  sayangnya hari pertama ini saya kecolongan oleh pasar dan dapur. Ketika di pasar tadi, saya tergoda membeli paket buah untuk sup buah. Hanya satu bungkus sih, tidak seberapa banyaknya, tapi jadinya mubazir karena 1 bahan tidak saya dapatkan: susu ultra plain  (kebiasaan kami membuatnya dengan susu itu).  Pada akhirnya, buahnya memang tetap bisa dimakan, tapi godaan pasar untuk masuk dapur itu yang jadi masalahnya, wong di rumah juga sudah ada stok buah. Istighfar dan dapat pengalaman berharga hari ini. Semoga esok saya akan selalu diingatkan sehingga tidak lalai.