Tentang Sebuah Cerpen, Deadline, dan Secangkir Kopi

Rasanya gemas dengan perasaan yang berkecamuk semalam, tak terdeinisi, campur aduk. Saya yang jarang ngeblog, kali ini tak tahan pengen mengeluarkan uneg-uneg di sini. J

Seharian kemarin, kepala rasanya pening.  Beberapa kali saya keluhkan pada suami.

“Kenapa sih pusing?”

“Hari ini deadline giveaway.” Suami sudah tahu giveaway apa yang saya maksud.  Hadiahnya  buku-buku dari penulis favorit kami.

“Masak pusing bukan karena anak, bukan karena pekerjaan tapi cuma karena lomba.” Suami geli. Sebelumnya suami sudah sering mengingatkan soal itu, namun memang belum ada energi untuk menulis. Energi saya sudah terkuras dengan pekerjaan siang harinya.

“Itu jadi obesesi dan pengen menaklukan,”ujar saya sambil meninabobokan Janitra sementara suami berbaring di sebelah.  Ya, giveaway itu begitu ingin saya taklukan karena temanya berbicara mengenai sastrawan Indonesia yang karya-karyanya saya kagumi. Saya ingin menjadi bagian dari perayaan itu, ikut menulis untuk sastrawan besar itu.  Sementara soal hadiah, itu soal rejeki. Di luar sana, banyak penulis-penulis jago yang tulisannya berkelas juara.

Waktu penyelenggaraan giveaway itu cukup panjang, dua bulan.  Saya begitu berharap durasi lomba diperpanjang karena  peserta sepertinya baru sedikit, namun kemarin saya cek ternyata pengumuman masih sama. Sudah ada tulisan di komputer yang sedianya akan saya ikutkan. Satu tulisan fiksi akan saya kembangkan dari flash fiction lama. Nyatanya waktu dua bulan itu sudah tersita oleh pikiran persiapan akreditasi sekolah. Sampai rumah energi sudah habis.  Hari belakangan saya luangkan waktu untuk mengeksplorasi FF itu, tapi macet di pembukaan dan pada akhirnya saya malah berpikir kalau tema itu tidak cocok dengan ketentuan lomba.

Sejak pagi di angkot, sambil membaca Guru Gokil Murid Unyu karya J. Sumardianta saya terus mencari ide. Dalam buku itu tersebar banyak kisah-kisah penuh keteladanan yang humanis, bisa dikembangkan menjadi cerpen. Maka sepulang sekolah, di angkot lagi, saya lanjutkan membaca sambil terus berpikir. Buku hadiah milad itu sudah berhasil mencuri perhatian saya.  Terima kasih kepada kawan saya, Nurhid yang sudah menghadiahkannya.  Agaknya, saya memang membutuhkan banyak buku-buku semacam itu untuk dibaca.

Gambar

Bisakah saya menulis cerpen dalam hitungan jam? Pikir saya begitu sampai rumah dan disibukkan dengan pekerjaan domestik. Namun, keinginan untuk menaklukan tantangan itu begitu kuat. Saya tak ingin menyesal karena melewatkan deadline itu, begitu saja berganti bulan tanpa mengikutinya.

“Kalau saya ngopi tambah pusing nggak ya?” Tanya saya pada suami disela-sela mencuci piring dan menyeteril botol-botol susu Janitra setelah si kecil bobok.

“Pengen ngopi?”

“Yang pasti pengen ‘doping’ buat nulis,” tekad saya.

Maka tadi malam, suami mendadak menjadi ‘barista’ untuk saya, meracik kopi superduper spesial. Kalau soal kuliner, suami memang lebih telaten. Kopi sumatera oleh-oleh dari paklik saya yang menjadi trasmigran di pulau Arca di-mix  dengan susu UHT Ultra.  Kehangantan kopi tetap dijaga dengan memanaskan dulu susunya di atas air mendidih. Lalu jadilah secangkir kopi itu…. Rasanya teramat spesial, seger dan membuat ketagihan.  Maturnuwun buat Panda Janitra J

Begitu pekerjaan domsetik selesai, saya olah ide dari buku Guru Gokil Murid Unyu.  Ada kisah sebuah keluarga brayut di bagian Il Jardinero yang meninggalkan kesan mendalam.Tentang keluarga yang terselamatkan oleh jasa rentenir. Ide itu saya padukan dengan ide lain yang ekspolarsinya saya lakukan dengan berkali-kali melakukan dialog dengan suami.

Selama proses menulis, berkali-kali saya melirik jam dinding, berkejaran dengan waktu.  Saya belum terbiasa menulis cerpen, bahkan cerpen sekali jadi. Merasa belum piawai menulis cerpen, beberapa cerpen yang pernah saya tulis saya kerjakan dengan berkali-kali.  Pukul sebelas malam, cerpen selesai kemudian saya edit dari segi penulisan.  Dari segi isi, saya tidak tahu bagaimana rasa cerpen saya.  Karena ditulis untuk mengejar deadline, saya merasa belum bisa menghidupkan cerpen saya.  Mungkin garing, tanpa soul.  Saya tak mau membaca ulang cerpen saya, takut dengan banyak hal. Setengah dua belas, saya masih harus mengedit untuk tulisan nonfiksi.  Karena kopi mata saya masih menyala.  Tidak seperti hari-hari sebelumnya, saya bisa melewatkan malam dengan menulis.

Sembari mengedit, saya buka jaringan internet. Sempat khawatir karena koneksi tidak bisa saya lakukan.  Harusnya bisa karena pulsa sudah saya isi. Menyangka ada masalah dengan pulsa, rasa putus asa dan jengkel sempat hinggap. Untunglah 15 menit sebelum pergantian hari, masalah koneksi selesai. Cepat-cepat saya publish dan setor di komentar pengumuman giveaway, takut terdiskualifikasi karena kalah cepat dengan jarum jam.  Saya juga harus  menulis membuka Twitter untuk konfirmasi ikut lomba.  Semua sudah saya lakukan. Maka saya baca-baca ulang kembali pengumuman giveaway itu.  Hari sudah berganti. Saat itulah saya merasa seperti disengat.  Dengan huruf kapital,  tertulis bahwa deadline giveaway diperpanjang hingga  akhir Oktober! Kyaaa……  mendadak ada kecamuk di dada. Antara masgul, kecewa,  sesal, dongkol, ingin ngomel-ngomel, dan bersyukur!

Apapun perasaan yang berkecamuk, ada satu perasaan lega memenuhi dada, merasa menang karena  bisa membuktikan pada diri saya bahwa saya masih bisa menulis, saya bisa berusaha menulis cerpen dalam hitungan jam,  merasa menang  karena tantangan menulis di akhir September bisa saya taklukan, merasa menang karena saya bisa menaklukan tantangan mengikuti giveaway itu. Ada rasa percaya diri tumbuh, bahwa saya bisa!

  #foto hasil googling

Iklan

6 pemikiran pada “Tentang Sebuah Cerpen, Deadline, dan Secangkir Kopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s