Hammock: Ayunan Hits Anak Zaman Sekarang

Tidak semua keinginan anak kami penuhi, tapi kalau keinginannya itu berkaitan dengan adventure dan barang-barang yang bisa digunakan dalam jangka panjang,kami dengan senang hati mengiyakan. Sebagai contoh, ketika Janitra minta tenda, kami penuhi dengan syarat pakai uang sendiri (lhoo…sama aja boong :D). Begitu pula ketika Janitra minta hammock, tidak lama keinginannya terkabul.  Dua barang itu bisa digunakan hingga Janitra dewasa, tak sekedar mainan biasa. Bahkan bapak ibunya bisa ikut pakai 😀

 

Mengapa ia minta hammock kami tidak pikir panjang mengiyakan?

Zaman saya kecil, bapak membuatkan sebuah ayunan di samping rumah di bawah pohon kelengkeng. Ayunan itu hanya terbuat dari seruas bambu yang di dalamnya dimasukkan seutas tali tambang lalu tali itu diikatkan di sebatang cabang pohon kelengkeng.

Bukan main senang  saya dan kakak memainkan ayunan itu. Duduk, berdiri, berayun-ayun sendiri atau diayunkan. Teman-teman yang datang ke rumah ikut main. Bahkan orang lewat di jalan setapak samping rumah pun ada yang berhenti lalu merasakan sebentar berayun-ayun.

Teringat pula saya pada  ‘hammock’ yang dibuat mas Agung, ponakan yang kreatif. Ia membuat jalinan dari rafia lalu memasangnya di samping rumah pakdhe. Benar-benar seru tiduran di atasnya.

Memberikan ayunan kepada anak pastinya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Melihat anak setiap hari berbahagia, orang tua tak kalah bersyukur. Pun kami sebagai orang tua sudah lama ingin memiliki ayunan buat Janitra. Namun tak terealisasi karena pertimbangan di mana membuatnya, bagaimana, dan mau pakai apa, ban bekas, atau bambu. Tapi yang pasti, pertimbangan lama karena ribet membuatnya.

Ketika Janitra minta hammock, kami anggap itu sebagai solusi jitu. Hammock adalah ayunan “portabel” yang simpel.  Harganya pun tidak begitu mahal dibanding memesan ayunan dari kayu atau besi permanen (ya iyalah, pasti jauuuuhhh beda harganya, si biru yang kami beli ini hanya 80an ribu). Hammock bisa dibongkar pasang sesuai keinginan. Mau dipasang di rumah, oke. Saat hujan bisa dilepas. Mau dipasang di dalam rumah, bisa selama bisa ngebor tembok dan memasang pengait. Pingin traveling ke pantai yang ada pohonnya atau ke hutan pinus bawa hammock, cocok sekali. Apalagi naik gunung, pas sekali bawa hammock.  Ini tentu saja buka soal lagi ngehits jalan-jalan lalu swafoto di atas hammock, tapi pengalaman merasakan buaian alam di atas hammock itu memang beda. Nggak percaya, coba saja! 😀

Begitu keinginan terealisasi, saat mudik ke rumah orang tua, kami bawa hammock dan memasangnya di bawah pohon kelengkeng yang tumbuh bersama masa kecil saya.

Kebahagiaan itu tidak hanya dinikmati Janitra seorang. Ia dan kakak-kakak sepupunya dengan terbahak-bahak berebut dan berayun di bawah pohon klengkeng. Hari itu membawa saya dan kakak bernostalgia masa kecil.

IMG_20180121_144453-02

IMG_20180114_085154_HDR-01

Saya dan suami, tentu saja sangat bahagia bisa berbagi senyum dan tawa. Pekan berikutnya, kakak-kakaknya nungguin Janitra datang lagi ke rumah nenek. Mereka ketagihan! 😀

hammoch

di hutan pinus Mangli, Ngablak, Magelang

IMG-20180417-WA0033

Menepi di Gunung Andong

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s