Pagi . . . #4

Pada pepohonan pisang di kebun belakang rumah
halimun berbisik-bisik
membagi kisah pengembaraannya
dari gunung
sebelum matahari yang enggan itu memecah beku
meniup abu-abu menjadi biru

Pada tanah ia boleh bangga,
“akupun punya jejak wangi dalam ingatannya. Bukankah hujan sudah mulai gamang menembangkan derai?”
Nafasnya tak perlu memburu laju peluru, pelan saja mendenyutkan ragu

Iklan

19 pemikiran pada “Pagi . . . #4

  1. pada kabut yg kian memudar pada embun yg masih bertahan terjuntai di pucuk daunpada kebekuan pagi menjelangkutanyakan lagi berulang”bagaimana kabarnya dia?”jejaknya masih ternampak berbasah kabutkuraba, masih hangat pertanda dia pernah hadir lagikan kususuri sebelum terhapus kehangatan mentari merekahwkwkwkwk………secara tidak langsung zy dah balik ke mp neh. wong buka pesbuk kok di giring sama tautan ini hehehehe..pagi Yn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s