Buku dan Cantik

Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!”

Sok tahu banget kan?

Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan.

Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter.

Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget)

Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik?

Ada!

Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah.

Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen.

Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca?

Yogya, 2 Feb 2006

Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H

Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.

repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantik



akhir catatan:

Selamat Hari Buku Nasional
22 Mei

Teruslah membaca Indonesia!!!
Iklan

39 pemikiran pada “Buku dan Cantik

  1. miftamifta said: Saya ketika berada di toko buku atau bazaar buku disini sebenarnya jg pilih2 mb,pan ada yg udah kebeli jd harus diinget2 buku apa sj yg sdh kita punyai hehe

    hehehe, kalo itu sih wajib pilih. saya juga klo mau beli buku selalu pilih yang sesuai selera… tapi untuk baca, belajar gak memilih deh, hehehe asal bergizi, tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii… susah prakteknya 🙂

  2. miftamifta said: Saya ketika berada di toko buku atau bazaar buku disini sebenarnya jg pilih2 mb,pan ada yg udah kebeli jd harus diinget2 buku apa sj yg sdh kita punyai hehe

    iya mbak, malu, temen2 pada jago bgt nulisnya

  3. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    hehehe…kayaknya mulai sekarang harus merubah pemikiran 😀

  4. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    pintar buat diri sendiri, cantik saat mau dibawa ke calon mertua..halah 😀

  5. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    :))

  6. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @pengagumlangit:yukk. . . 🙂

  7. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    hukum newton 1 versi film CIN(T)A : “kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran”. hehehe.,…

  8. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @rhehnluvly:yok ah. . .selamat membaca! ^^

  9. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @ayanapunya:penting tuh, stju sma kamu 🙂

  10. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @ayanapunya:penting tuh, stju sma kamu 🙂

  11. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @ayanapunya:penting tuh, stju sma kamu 🙂

  12. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @fivefebruary:trims senyumya nana. . .:)

  13. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @yant165:weh,kok gtu? Film apa tuh? 😀

  14. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    film indie mbak.. ga tayang di bioskop. sy juga belum nonton. Kata teman bagus. walau ada bagian yang bikin gerah iman.. 🙂

  15. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    Cantik , pintar , cerdas , Subhanallah…Mauuuuuuuuuu ?ayuk BACA BACA BACA ^^

  16. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @yant165:udah dibilang gtu justru tambah penasaran ya. . .

  17. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @gadys89:Ayok ayok… Yang mau yang mau… Hehehe

  18. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    hmmm keren dah..tapi kalau mus tentunya harus diubah sedikit..buku dan tampan. repot kalau mengikuti judul tulisan ini..bisa2 mus jadi dobel kelamin.. eheheSABUDI (sastra budaya indonesia)mari kita jaga bersama!

  19. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    penelitiaannya boleh jg ni…mantaps….

  20. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @moestoain:hehe,iya deh Mus. . . Pasti tambah tampan wis. .. 🙂

  21. boemisayekti said: Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!” Sok tahu banget kan? Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan. Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter. Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget) Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik? Ada! Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah. Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen. Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca? Yogya, 2 Feb 2006 Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantikakhir catatan:Selamat Hari Buku Nasional22 MeiTeruslah membaca Indonesia!!!

    @mfanies:biar tambah mantabs yuk kita praktekin. . . 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s